Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 271 : Janur Kuning 5


__ADS_3

“Kenapa kita harus pulang sekarang, Dit?” Ganding bertanya, mereka sedang di gua Alka.


“Kita cuma punya waktu dua hari untuk membuktikan apa yang kita lakukan adalah perintah Tuhan, lelaki tua itu ilmunya sangat tinggi, kita tidak bisa mengusirnya begitu saja, yang harus kita lakukan adalah segera menemukan alasan yang meyakinkan lelaki itu bahwa yang kita lakukan benar dan yang dia lakukan salah.”


“Caranya?” Ganding bertanya.


“Kita cari tahu dulu, siapa dia.”


“Lelaki itu tua?” Jarni bertanya.


“Ya, sangat tua, mungkin lebih tua dari Abah Wangsa, satu yang pasti, dia punya ilmu yang tinggi, aku bisa rasakan.”


“Seperti Prabu?” Ganding penasaran.


“Tidak, tidak sekelam dia, tinggi tapi tidak kelam, tidak juga putih, kau tahu, aku sulit mendeskripsikannya.”


“Trus gimana cara kita tahu siapa dia Dit?” Alka kali ini yang bertanya.


“Ke markas dulu deh, cari apapun kitab yang berhubungan dengan kuburan, dengan selimut ghaib dan juga tugas-tugas jin.”


Mereka berempat akhirnya ke markas, sementara Hartino masih berada jauh di apartemennya, menikmati kehidupan pernikahan yang sangat indah.


“Istriku masak apa? emang udah kuat buat masak?” Hartino bertanya, dia kaget Alisha tidak ada di tempat tidur mereka, ternyata dia sedang memasak, Alisha memang pintar memasak.


“Sudah sayang, ini sudah cukup lama, jadi seharusnya aku sudah baik-baik saja.” Alisha memasak sarapan nasi goreng untuk Hartino, saat sudah selesai, Alisha menaruh makanannya di meja makan, berserta dengan kopi yang sudah dia siapkan untuk suaminya.


“Makan sayang.” Alisha minta Hartino duduk dan memakan sarapannya.


Hartino duduk dan makan nasi goreng buatan istri cantiknya itu.


Mereka asik berbincang sambil sarapan, hingga sarapan selesai, lalu Hartino minum air mineral dan setelahnya baru meminum kopinya, saat selesai meminum kopi, Alisha memegang tangan Hartino dengan sangat keras lalu ....


Dur barisahbardi jangdugtabak


Humsudak tabbradsadir


Dua baris mantra yang membuat Hartino tersadar, itu adalah mantra yang membuat seseorang terkena gendam dan mengatakan apapun dengan jujur apabila ditanya oleh orang yang memantrai, mantra ini tidak terlalu kuat, tapi kalau ditambah ramuan yang Alka buat, mantra ini bisa diucapkan oleh siapapun dan memiliki efek yang cukup tinggi, walau yang membaca mantra tidak punya khodam, karena ramuan Alka memang sangat ampuh. Dulu Alisha diberi ramuan ini untuk jaga-jaga jika perlu menginterogasi orang yang sulit berkata jujur dan mereka hanya punya waktu yang terbatas, tapi Hartino tidak menyangka Alisha menggunakan ramuan ini di dalam kopinya, Hartino benar-benar tertipu, dia pikir Alisha lupa dengan semuanya.


“Aku tahu kau mungkin akan membenciku setelah ini Har, tapi aku butuh tahu dimana adikku, dimana Rania!” Alisha ternyata tidak pernah sekalipun melepaskan Rania dalam hati dan pikirannya, setelah selama ini Alisha ternyata masih terus memikirkan Rania, seharusnya Hartino tahu, tapi Alisha terlalu hebat dalam memalsukan niat aslinya. Hartino telah dalam pengaruh mantra dan ramuan Alka.


“Nggak! jangan! percaya padaku sayangku, kau tidak perlu tahu!” Hartino bahkan memohon agar Alisha tidak bertanya, sekali dia bertanya, Hartino akan memberitahu dengan jujur.


“Apa yang terjadi dengan ....”


“Kalau kau bertanya, aku bersumpah, kau akan menyesal, aku mohon Alisha!” Hartino tidak bisa bergerak, ramuan Alka memang sangat kuat.


“Apa yang terjadi dengan Rania!” Alisha ternyata sangat teguh dan begitu ingin tahu keadaan Rania.


“Nggak! nggak!” Hartino berusaha menahan untuk tidak menceritakan apapun tentang Rania, tapi sebagai gantinya, Hartino merasa tubuhnya terbakar dan tulang-tulang di tubuhnya seperti patah, sakit sekali.

__ADS_1


“Jawab Har, jawab, kau akan kesakitan.” Alisha memohon karena tidak tega melihat Hartino kesakitan.


“Nggak! nggak!” Hartino menahan sakit itu dengan sekuat tenaga, dia takkan pernah membuka mulutnya walaupun sangat kesakitan.


“Hartino aku mohon sayang, jawab pertanyaanku, jangan tahan sakitnya!” Alisha lupa bahwa Hartino punya pendirian yang sangat kuat, Alisha menyesal karena Hartino kesakitan.


“Nggak!” Hartino masih menahan mulutnya dan tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Rania.


“Har!” Alisha melihat Hartino terus mengerang kesakitan.


Hartino masih menggeleng, matanya berubah menjadi merah, peluh di kening dan wajahnya semakin banyak. Hartino masih terus berusaha untuk menahan rasa sakit itu.


“Baik! baik! aku tidak perlu tahu soal Rania, kau tidak perlu menjawab!” Alisha menyerah, melihat Hartino masih bertahan untuk tidak menjawab.


Setelah itu Hartino langsung pingsan, rasa sakitnya berhenti, tapi tetap memiliki efek setelahnya.


Alisha memapah Hartino kembali ke kamar, pasangan ini benar-benar familiar dengan rasa sakit.


...


“Dit, aneh nggak sih, kita cari apa juga nggak tahu, maksudku, cluemu terlalu lebar, aku tidak mengerti apa yang harus kami cari.” Ganding protes setelah lima jam mereka mencari data, tidak ada yang didapat, semua tentang penjaga kuburan itu saja, tidak ada yang aneh.


“Dit, lalu apa benar kita harus punya jawaban tentang pekerjaan kita yang memang perintah Tuhan, kau sudah katakan soal niat, niat kita kan nolong?” Alka bertanya.


“Ya, sudah kukatakan, tapi dia malah menyalahkanku karena selalu memilih manusia dan mengorbankan jin dan jiwa tersesat, dia marah karena kita menganggap manusia derajatnya lebih tinggi dibanding jin dan jiwa tersesat.” Aditia menjelaskan kembali.


“Dit, dia ... anak cucu iblis?!” Alka terlihat khawatir, karena kalau benar, ini pekerjaan yang mustahil.


“Iya sih, tapi, cara bicaranya seolah dia benar mengemban tugas dari Tuhan.” Alka protes karena merasa ada yang janggal dari cara mereka cari data, buta dan seperti pakai kaca mata kuda.


“Dit, bentar deh, kenapa kita nggak tanya korban terakhirnya? apa sih yang dia liat sampai mereka dapat ‘undangan’ dan akhirnya masuk ke sana, kenapa mereka diundang dan akhirnya dijerumuskan.


“Loh, ide bagus tuh Dit, kenapa kita nggak pernah mikir buat nemuin korbannya?” Alka bersemangat kembali, karena mencari data diantara tumpukan yang begitu banyak tanpa petunjuk yang jelas.


“Ok, aku telepon Pak Budiman dulu, aku akan tanya apakah dia nyimpen nomor telepon orang yang dia tolong terahir kali itu.”


“Ya betul Dit, cepat telepon.” Ganding tidak sabar.


Aditia menelpon, tapi ternyata Budiman tidak punya telepon sepasang orang yang kemarin terjeak dikuburan, Sasa dan Beni, tapi Budiman pernah dengan daerah rumah Sasa dan Beni saat mengobrol kemarin, apa boleh buat, dapat nama daerah rasanya lebih baik daripada tidak dapat apa-apa.


Mereka mencari Sasa dan Beni hanya bermodalkan nama daerah mereka tinggal, tapi ternyata tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan alamat pasti mereka, karena setelah Sasa dan Beni terjebak di tempat ghaib itu, mereka cukup terkenal, karena cerita tentang mereka sudah menyebar di daerah tempat mereka tinggal, tapi ada satu yang membuat Aditia dan kawanan cukup heran.


“Jadi gini Pak Beni, kami ini punya majalah online horor, kami biasa menaruh cerita kisah nyata orang di situs kami, kalau bapak bersedia cerita detailnya, kami akan memberikan konpensasi yang cukup.” Aditia berbohong, karena tujuan asli mereka takkan pernah diberitahu.


“Berapa nominalnya?” Beni bertanya.


“Berapa yang Pak Beni butuh?” Ganding melempar kembali.


“Saya butuh lima juta, karena ....”

__ADS_1


“Kenapa Pak?” Ganding bertanya, ada yang salah sepertinya.


“Untuk merawat istri saya, dia sakit setelah kejadian itu.” Pantas saja istrinya tidak terlihat, ternyata dia sedang sakit.


“Sakit apa. Pak?” Ganding bertanya.


“Entah, semenjak kejadian itu kami sudah ke Dokter tapi malah disuruh ke Psikiater, karena istriku bersikap seperti orang gila.”


“Sepeti orang gila?” Ganding dan yang lain bingung.


“Ya, dia jadi sering ketakutan, dia bahkan katanya masih merasa tertinggal di kuburan itu, di lain waktu bahkan dia sempat bilang bahwa kami tidak seharusnya pergi malam itu, padahal itu undangan sahabatnya Sasa, bukan sahabatku. Dia selalu menyalahkanku untuk banyak hal karena kejadian itu, aku lelah, aku kadang ingin menyerah saja dan meninggalkannya, tapi ... aku sangat mencintai Sasa.”


“Baiklah, kami akan berikan konpensasi sepuluh juta, apa itu cukup?” Ganding bertanya dan itu membuat mata Beni menjadi berbinar, mungkin karena haru.


“Malam itu sebenarnya kami sudah berputar beberapa kali, tapi tidak ketemu juga gedung pernikahan temannya Sasa, tapi akhirnya kami masuk ke gang itu, entah gang itu muncul darimana? Tiba-tiba terlihat dan membuat kami ingin masuk, walau gang itu terasa sangat panjang dari gang biasanya, kami tetap kekeh masuk ke dalam gang itu.


Akhirnya kami sampai di ujung gang, ternyata tempatnya memang seperti dugaan kami, gedung resepsi yang cukup besar, gerbangnya saja sangat besar.


Aku dan Sasa memakir motor lalu menghampiri meja Security, kami tanya apakah ini gedung perniakahn teman kami, Security itu menunjuk bagian dalam gedung tanpa berkata apapun, kami jujur saat itu merasa bodoh sekali, kenapa tidak sadar dengan perangai Security itu, seharusnya ramah, tapi kenapa dia malah memiliki penglihatan yang datar dan tidak berbicara satu katapun, tapi entah apa yang menutupi pikiran kami saat itu hingga tidak terlalu peduli.


Kami masuk dan ternyata gedung pernikahannya sangat ramai, amat sangat ramai.” Beni bercerita.


“Ramai oleh apa?” Aditia bertanya.


“Ramai oleh orang yang berkerumun ingin bersalaman dengan pengantin.”


“Apakah pengantinnya teman kalian?” Tanya Aditia lagi.


“Tidak terlihat De, karena sangat banyak kerumunan itu. Makanya kami memutuskan untuk makan dulu dibanding mengantri untuk bersalaman.” Beni menjelaskan.


“Apa yang berkerumun itu berpasangan juga?” tanya Aditia.


“Hmm, sebentar ... ya! benar, mereka yang mengantri itu berpasang-pasangan, aku baru ingat, karena mereka semua ... bergandengan tangan dengan seragam, sekarang saya baru merasa aneh, saat di situ saya hanya melihat dan tidak merasa ada yang aneh.”


“Baik, berarti yang mengantri juga berpasangan, lalu setelah itu kalian makan?”  lanjut Aditia.


“Ya, kami makan dengan lahap, saya dan Sasa merasa makanan itu enak sekali hingga kami berkata hal yang tidak baik.”


“Apa itu?”


“Kami bilang bahwa makanannya enak dan rasanya mau mati karena makanan itu enak banget.”


“Itu perkataan yang sangat salah.” Ganding merasa kesal mendengar Beni yang sudah cukup umur tapi masih tidak bisa menahan perkatannya.


“Ya saya tahu dan kami menyesal, setelah itu lampu mati dan kami sadar bahwa semua yang ada di sana adalah ‘mereka’.” Beni terlihat ketakutan dan tidak ingin mengucapkan namanya.


“Baiklah, satu hal yang ingin saya tanyakan, apakah kalian, mengambil sesuatu di sana?” Aditia tiba-tiba bertanya.


“Kami ... kami ... sebenarnya bukan mengambil, tapi kan biasa ya, mengambil souvenir saat pernikahan.”

__ADS_1


Aditia dan Ganding saling pandang. Biasa kalau pernikahan manusia!


__ADS_2