
“Gimana Jarni, Kak?” Ganding bertanya. Alka sudah kekamar para lelaki berkumpul, Alisha juga masih di sana, tangannya sedang di obati oleh Hartino.
“Dia sedang istirahat, tadi sudah siuman, lukanya cukup banyak, memarnya juga langsung kentara, aku sudah mengobatinya dengan ramuan, anak-anak itu benar-benar sudah dikendalikan oleh dukun itu.”
“Aku mau lihat Jarni boleh?” Ganding bertanya.
“Lagi tidur tapi, Nding.”
“Lihat saja.” Ganding memaksa.
“Ya, tapi jangan berisik, aku ingin dia mengumpulkan energi. Saat ini dia lemah sekali, seharusnya dia tidak memaksakan diri tadi.”
“Dia hanya ingin melindungi kita.” Aditia meminta Alka untuk lebih tenang dan tidak marah, Aditia tahu, itu adalah karena dia Alka sangat khawatir pada adiknya. Tapi, Aditia bisa memaklumi tindakan Jarni, daripada semua orang terluka dengan dibukanya pagar ghaib yang dia ciptakan tadi, lebih baik hanya dia saja yang terluka. Jarni memang terkadang melakukan hal yang melebihi kemampuannya jika untuk melindungi kawanan.
“Alisha, bagaimana tanganmu?” Alka mendekati Hartino dan Alisha yang sedang mengobati tangan Alisha yang terluka lepuh itu.
“Udah nggak sakit kok, santai aja kamu.” Alisha berusaha menenangkan Alka, dia tak mau kena semprot karena dia juga ngeyel seperti Jarni tadi. Memaksa untuk meminjam cambuk Alka.
“Jangan bercanda, cambukku bukan senjata yang mudah ditaklukan.”
“Kak ….” Hartino merajuk agar Alka berhenti marah.
“Kita harus segera mencarikanmu senjata pusaka agar kau tidak membahayakan dirimu sendiri dengan memegang benda pusaka orang lain.”
“Aku setuju.” Alisha langsung menjawab.
“Aku juga.” Hartino ikutan.
“Tapi ini semua buat kalian ya,” walau Ganding dan Jarni tidak ada di sini, Alka tetap ingin bilang …, “apapun yang terjadi, keselamatan diri kita itu jauh lebih penting dari apapun.”
“Nggak dong, nggak gitu konsep keluarga kita. Apapun yang terjadi, keselamatan kawanan jauh lebih penting dari apapun!” Aditia memandang Alka dengan tajam, dia ingin Alka berhenti marah. Alka melihat Aditia yang begitu tegas langsung menunduk. Aditia tidak suka kalau Alka berlebihan khawatirnya, hingga melupakan kalau kawanan adalah satu kesatuan.
“Dit, gimana nih, kita belum menemukan tempat dukun itu, tapi dia sudah menemukan kita, dia menyerang secara langsung, kita harus apa?”
“Kita harus menemukan calo itu, kita tangkap dia dan menemukan tempatnya.”
“Ya aku tahu tapi ….”
“Aku akan jalan sendiri, karena kalau beramai-ramai energi kita terlalu tinggi, pantas saja dukun itu bisa menemukan kita dengan cepat, dia merasakan energi yang lebih besar darinya … mungkin.”
“Kau yakin, tidak bisa seperti itu, tadi kau marah ketika kakak nggak mau kita mengorbankan diri, sekarang malah begini!”
“Aku punya rencana, tapi aku mau kalian semua mendengarkan dengan baik apa-apa yang akan aku katakan.” Aditia meminta mereka mendekat dan dia membisiki sesuatu.
“Kau yakin?” Hartino bertanya.
__ADS_1
“Ya, aku yakin. Hanya itu cara terbaik.” Aditia menjawab dengan yakin.
“Kalau begitu kita mulai saja.” Alka terlihat setuju.
Aditia bersiap dan dia pergi ke tempat tujuannya.
…
Aditia mengintip pada setiap rumah yang menjadi korban itu, dia telah menyebar ular Jarni, setelah meminta izin pada Ganding karena Jarni masih tidur, untuk mengambil semua ularnya. Ular itu dikendalikan Aditia melalui izin Ganding, karena efek ajian wahita yang dulu sempat dipindahkan dari raja jin ke Ganding dengan cara ritual rukat srabat, dimana ajian itu dulu membuat Jarni jatuh cinta pada raja jin yang buruk rupa dan tubuh itu.
Hingga Ganding memiliki seluruh apa yang menjadi milik Jarni. Termasuk ular-ular mini itu, dia mematuhi perintah Ganding.
Aditia menyebar ular itu untuk jadi pembisik atau istilahnya jaman sekarang adalah cepu, si pengaduan.
Jika ular itu melihat energi yang sudah Aditia perkirakan sebagai energi jahat dukun itu, yang melekat di tubuh calonya, maka ular itu akan langsung membisiki Aditia di mana lokasinya.
Aditia yakin, calo itu akan bergerak hari ini, mengingat bahwa dukun itu tahu keberadaan kawanan, dukun itu pasti menyerang untuk melakukan persiapan kabur dan tetap ingin mendapatkan tangkapan atas korban-korban yang belum meninggal sebagai budaknya kelak.
Setelah dua jam menunggu, Aditia mendengar bisikan yang cukup nyaring dari salah satu ular Jarni, dia berlari, mencari asal suara bisikan itu, bisikan yang berdesis.
Pada gang ketiga dia semakin mendengar desisan itu, dia berlari terus dan tidak jauh lagi dia melihat seorang perempuan dengan pakaian gamis terlihat sedang berlari dari suatu rumah, dia sepertinya menyadari kehadiran Aditia, makanya dia pank dan hendak berlari.
Tapi terlambat, karena Aditia langsung menangkapnya, Aditia memegang tangan wanita itu, dia lalu menarik wanita itu untuk ikut dengannya, tapi ….
Mantra itu dia ucapkan berulang untuk menghimpun kekuatan, dia terus membacanya walau tubuh telah dipukuli, setelah merasa cukup, maka dia memukul tanah, seketika semua orang terdiam dengan tatapan kosong, dia berusaha menggendam tanah yang dipijak oleh semua orang yang sekarang sedang memukulnya, tanah yang mereka pijak membuat mereka tergendam dan terdiam karena itu perintah mantranya.
Sejenak Aditia terbatuk dan muntah darah … mantra ini terlalu tinggi untuk diucapkan sendirian, makanya tubuhnya langsung bereaksi atas ilmu yang terlalu tinggi di keluarkan itu.
Tapi Aditia berusaha untuk bangkit lagi dan menarik ibu-ibu berpakain gamis dan jilbab yang tadi berlari darinya dan berteriak rampok, dia menarik ibu yang kena gendam juga, dia ingin membawanya ke tempat yang jauh lebih sepi.
Setelah mendapatkan rumah kosong yang terlihat tak berpenghuni, Aditia memanggil Alka dan Hartino untuk datang, dia memberikan lokasinya, mereka datang tak beberapa lama.
“Ini calonya?” Alka bertanya.
“Ya, kemungkinan.”
“Sebentar! Kenapa wajahmu babak belur?” Alka bertanya.
“Ada insiden tadi.”
“Apa?” Alka terlihat sangat khawatir.
“Fokus ke kasus aja ya.” Biasanya Alka yang berkata seperti ini.
“Kamu yang membawa semua orang itu ke tempat dukunnya?” Hartino bertanya.
__ADS_1
Aditia telah mengikat dan melepasnya dari gendam.
“Kalian siapa? Kalian mau culik saya?” Ibu itu bertanya.
“Kau kan antek dukun itu! menjadi calo kopi susu tanah kuburan itu!” Aditia membentak.
“Antek dukun? Calo kopi susu tanah kuburan? Kalian nih siapa? Aku tidak mengeri dengan pertanyaan kalian, aku ini bukan orang kaya, aku orang miskin, kalian percuma culik aku.” Wanita itu ketakutan.
“Lalu kenapa tadi kau lari saat melihatku?” Aditia bertanya lagi.
“Aku? Kapan? Aku tidak berlari saat melihatmu, kenal kau saja tidak.” Perempuan itu terlihat benar-benar bingung.
“Jangan pura-pura!” Aditia membentak lagi.
“Aku benar-benar tidak tahu, Demi Tuhan, aku tidak tahu.” Wanita itu semakin ketakutan.
“Dit, Har, sebentar, aku mau cek sesuatu.” Alka meminta Aditia dan Hartino untuk berhenti sesaat.
Dia lalu memegang tangan wanita itu dan ….
“Sial! Bukan dia!” Alka berteriak di wajah Aditia.
“Kau yakin?”
“Lebih tepatnya, dia tapi bukan dia! Dia kerasukan!” Alka berteriak lagi.
“Jin! Jin yang melakukan ini?”
“Sebentar aku telepon dulu ibunya Bagus, aku akan mengirimkan foto wanita ini, kalau dugaanku benar, berarti memang dia hanya ditumpangi saja sebagai jasad yang bisa dikendalikan untuk mempengaruhi tetangganya.”
Alka mengirim foto wanita itu lalu tidak lama kemudian setelah memastikan bahwa foto itu sudah diterima ibunya Bagus, dia lalu menelponnya.
“Gimana, apa jawaban ibunya Bagus?” Aditia bertanya setelah Alka menutup teleponnya.
“Bukan, bukan dia, kata ibunya Bagus, dia bahkan tidak mengenalnya. Aku memang merasakan jejak gelap jin dalam tubuhnya, aku pikir itu adalah energi dukun, tapi ternyata bukan, itu adalah jin yang mungkin memiliki waktu yang tepat untuk kabur saat kau berusaha menangkapnya.”
“Ah! Sial!” Aditia berteriak, dia gagal lagi menangkap calonya dan kali ini dukun itu pasti kabur karena tahu sudah diintai di daerah itu.
Alka membereskan keributan yang Aditia buat, dia membuat wanita ini lupa tentang apa yang terjadi sebelumnya, mengantar pulang lalu semua orang kembali ke hotel, tapi dalam perjalanan Alka mengatakan sesuatu.
“Aku pikir rencanamu sudha cukup matang, tapi mungkin belum sempurna saja, kita ulangi besok Dit.”
“Tidak mungkin Ka, dukun itu pasti bergegas kabur, karena dia sudah tahu kita awasi di daerah itu.” Aditia lemas.
“Dit, ada satu hal yang belum aku beritahu pada kalian, ayo kita ke kamar, aku akan ceritakan tentang rencanamu yang akan sempurna setelah dilapisi dengan ideku.” Alka berkata dengan misterius lalu mereka bergegas kembali ke kamar hotel.
__ADS_1