
Ritual lepas khodam Ganding akan segera dilakukan, setelah lepas dia butuh beberapa hari untuk pemulihan, karena orang-orang yang hidup dengan khodam di dalam dirinya, biasanya lebih kuat dan lebih pintar karena bantuan khodamnya. Setelah lepas khodam, maka seluruh tubuh dan fikirannya menjadi lebih lemah dari biasanya, karena dia berdiri sendiri untuk tubuh dan fikirannya.
Ritual tidak dilakukan di sungai tapi di bagian belakang gua, ada sebuah gentong raksasa yang terbuat dari tanah liat yang disiapkan Alka, dibawahnya ada kobaran api yang memanaskan gentong itu, Ganding akan dimandikan di sana dalam suhu sangat hangat lalu perlahan akan memanas. Alka mulai melakukan ritual dengan tembang seperti biasanya, setelah itu suhu akan semakin panas di dalam gentong, ini dilakukan untuk membuat khodam Ganding keluar dari tubuhnya, setelah itu khodam akan dialihtugaskan kepada Jarni, setelah menjadi milik Jarni, maka Ganding akan kehilangan semua kemampuannya, tidak bisa melihat, berbicara dan melawan ‘mereka’.
“Nding, panas ya?” Jarni bertanya, dia mengusap kepala Ganding yang terlihat kepanasan, keringat mengucur deras sementara Alka menembangkan sebuah langgam sunda yang sangat magis, aura mistis langsung kentara.
Ambuwaha Karuhun jangarsa
Bewah ngansun jagdi jajarna
Blarat blarat blarat ngansun jagdi
Aja gumunan kipat ajeg
Alka terus mengulang tembang itu dengan gerakan nari yang gemulai, tentu pakaian yang Alka kenakan adalah pakaian khas seorang penari. Khodam suka dengan tembang dan tarian, maka banyak ritual dilakukan dengan cara menembang dan menari.
Alka terus melakukan ritual hingga tubuh Ganding terlihat memerah karena gentong itu sudah semakin panas.
“Kak, ini Ganding udah tersiksa banget, gimana kalau dia malah celaka, khodamnya nggak mau nyerah, masih bertahan di dalam tubuh Ganding.” Jarni terlihat khawatir.
“Bisa diem nggak lu! Kakak lagi fokus, nanti kalau kamu gangguin malah makin lama.” Hartino marah.
Setelah satu jam memanaskan Ganding dalam gentong tanah liat itu, akhirnya khodam Ganding keluar, seseorang yang berwujud kakek-kakek bungkuk dengan tongkat keluar dari tubuh Ganding, Jarni dan Hartino buru-buru mengeluarkan Ganding dari gentong, Ganding terlihat sangat lemah, dia pingsan.
“Kau anak ingusan, berani sekali kau mengeluarkanku.” Khodam Ganding marah, dia berusaha untuk menyerang Alka. Tapi langsung di halau oleh Jarni dan Hartino, Mereka berhasil membuat khodam itu tidak dapat berkutik selain mengikuti mau mereka.
Walau jin itu sudah tua, tapi dua jin tua dan satu setengah manusia setengah jin memiliki kekuatan yang sepadan.
Tidak heran Ganding jauh lebih bijaksana, khodamnya sudah sangat tua.
“Sekarang apa Kak?” Jarni bertanya.
“Kita harus membawa Ganding ke gua, pulihkan keadaannya, aku takut dia besok harus interview ke tempat itu kondisinya harus benar-benar baik.”
Mereka lalu membawa Ganding ke gua dan memulihkan keadaannya.
...
Prasangka Alka tepat, ternyata email Hartino berkat membajak email Aditia dibalas oleh perusahaan itu. Ganding di panggil untuk interview.
“Nding kamu udah enakan?”
“Udah kok, walau aku ngerasa masih sedikit sakit kepala, tapi masih bisa ditahan.”
“Yaudah, ada kamera kecil ya, gue pasang di kemeja lu, jadi kita bisa pantau apa yang terjadi sama lu.” Ada kamera klip on yang disematkan pada kemeja ganding, bisa merekam gambar dan suara, memang alat Hartino sangat canggih. Tidak heran, uang bisa membeli segalanya, kecuali persahabatan mereka.
Ganding lalu pergi ke kantor itu. Sementara kawannya menunggu tidak jauh dengan angkot Aditia, beberapa blok dari gedung kantor target mereka.
Ganding masuk, saat masuk dia takjub, kenapa sekarang kantor itu terlihat sangat berbeda, terlihat bersih dan ada resepsionis segala. Kemarin kantor ini terlihat usang dan kotor, tidak ada orang selain setan berwajah hancur itu.
Sementara kamera merekam semua yang terjadi, tidak ada yang mereka lihat selain gedung kantor yang kumuh dan tidak ada orang. Ganding ngomong sendiri, dia sudah masuk wilayah makhluk yang mereka namai Ratu.
Ganding berjalan entah kemana, dia lalu menunggu, dalam penglihatan Ganding, di sini banyak orang bekerja, ada juga beberapa orang yang ikut ujian, Aditia mengalami ini sebelumnya. Hanya saja karena Aditia bisa ‘melihat’ mereka, jadinya dunia yang diciptakan Ratu menjadi kabur, itu menjelaskan kenapa Aditia sesekali melihat wujud asli kantor ini, wujud asli ruang ujian dan wujud asli orang-orang yang ikut ujian.
Semua hanya tipu muslihat Ratu.
Sementara Ganding tertipu sempurna karena dia telah ‘kosong’ tidak memiliki khodam lagi. Dalam penglihatannya dia sudah naik lift, lalu ke lantai dua, masuk ruang ujian dan ikut ujian, Hartino berbicara pada Ganding melalui headset, karena Ganding memakai headset yang tidak terlihat di dalam lubang kupinngnya.
[Nding, lu lagi ngapain?]
[Gue lagi isi soal ujian.]
__ADS_1
[Di mana?]
[Di lantai dua.]
[Banyak orang?]
[Banyak banget, kayak kantor biasa aja.]
[Lu mau tahu nggak apa yang kita lihat?] Hartino berkata.
[Apa emang?] Mereka masih berkomunikasi melalui headset yang dihubungkan dengan jaringan satelit.
[Lu masih di lantai satu, lu duduk di bawah, natap kosong ke depan, itu yang lu lakuin.]
[Oh, pantes pada ketipu, beda banget soalnya ama apa yang gue liat di sini.]
“Ganding, ayo ikut saya, kamu lulus ujian.” Seperti biasa Ibu Ningsih memanggil Ganding untuk bertemu Pak Broto, dia adalah orang yang menentukan seseorang diterima atau tidak di kantor ini.
[Lu liat Har? ada si Ningsih?] Ganding berbisik.
[Ada tuh, rapih kayak cewek kantoran, tapi memang aneh juga. Macam lu, tatapan kosong dan dia seperti robot hanya jalan ke segala ruangan, mirip orang kesurupan.]
[Kasian banget.] Ganding iba.
[Ngapain kasian, dia budak setan!] Jarni tiba-tiba protes, ada nada cemburu dari perkataan Jarni, Ganding terdiam, dia tidak mau iba lagi, takut Jarni marah.
Ganding berbicara pada Pak Broto dan katanya harus kembali besok untuk mulai kerja, tapi mereka tidak mau menunggu, jadi Ganding minta hari ini juga kerja, Pak Broto terdiam, tentu Broto ini adalah salah satu ruh tawanan itu.
“Baiklah selamat bekerja.” Lalu Ningsih datang dan mengajak Ganding ke ruang kerjanya, di titik ini Aditia dulu juga merasa ramai, sama seperti yang Ganding rasakan.
Lalu dia diberikan company profile, peraturan perusahaan dan dia harus membaca semua itu. Bisa dibilang, Ganding sudah mulai bekerja.
[Nding, udah sejam nih, elu ngapain kok nggak ngomong apa-apa, nggak ada orang nih.] Hartino menghubungi Ganding.
Ningsih terlihat memperhatikan Ganding, tapi dia tidak menaruh curiga dan tidak memeriksa tubuh Ganding, karena kalau dia periksa, pasti akan menemukan kamera tersembunyi.
“Ganding udah masuk Zona gelap ya?” Alka bertanya pada Hartino yang memperhatikan Ganding pada tablet canggihnya.
“Iya kayaknya Kak, dia nggak jawab lagi.”
Aditia mengalami hal ini, dia lupa makan siang karena sebenarnya dia sudah di tarik ke zona gelap, tapi karena dia memiliki ilmu, maka dia mampu menarik dirinya kembali dan tersadar tepat jam lima sore untuk pulang.
Tapi karena sudah ditarik ke zona gelap berkali-kali, energi baiknya diserap perlahan dan akhirnya ruh Aditia lepas raga.
Kalau Ganding mungkin akan seperti orang-orang yang masuk ke Zona gelap itu, hanya butuh waktu satu sampai tiga hari hingga lepas raga, lagi-lagi karena Ganding dan yang lain ‘kosong’.
Mereka terus menunggu, setelah dua hari, tiba-tiba Ningsih dan Nita menarik tubuh Ganding, mereka menyeret tubuh itu dan keluar gedung, tentu kamera yang ada di tubuh Ganding masih nyala. Mereka menyeret tubuh Ganding ke belakang gedung, ternyata ada pintu yang menuju bawah tanah, pintu itu terletak di tanah dan ditutupi rumput elastis dan kalau mau dibuka, arahnya ke atas.
Masih melihat melalui kamera, Ganding dilempar dan di antara itu banyak tumpukan tubuh manusia, Ganding tidak bergerak.
“Kak, gimana? Bergerak sekarang?” Hartino bertanya.
“Nanti, kita sudah tahu lokasi tubuh itu berada, berarti Ganding sudah terjebak bersama Aditia, mereka akan bertemu. Setidaknya Aditia tidak sendirian.”
“Jadi kapan kita bergerak?” Hartino bertanya lagi.
“Tunggu sampai malam, aku ingin pertemuan waktu itu, supaya kita bisa menyelamatkan mereka berdua.”
Jarni dan Hartino setuju, mereka berdua akhirnya menunggu.
Tepat jam satu malam, mereka masuk ke gedung itu, setelah sebelumnya seperti biasa membekuk security dengan menggendamnya, dia tertidur di dalam pos.
__ADS_1
Alka, Jarni dan Hartino setelah memarkir angkot dan pergi ke bagian belakang gedung untuk membuka pintu itu, pintu ditutup oleh pagar ghaib sehingga rumput sintetis itu terlihat samar. Alka masih bisa membukanya karena letaknya bukan di ruang ghaib milik Ratu, tapi di dunia nyata. Setelah pintu bawah tanah itu terbuka, astaga, bau sekali, mereka langsung menutup hidungnya, lalu masuk ke dalam. Ada puluhan tubuh yang terlihat tertidur atau mati, entahlah, ditumpuk begitu saja.
“Di dunia jin juga ada iblis psikopat ya.” Hartino kesal melihatnya.
“Tapi manusia tetap saja lebih kejam, karena jin dan manusia berbeda jenis, bukan saudara. Sedang manusia, sesama saudaranya bisa saling membunuh dan membantai.” Alka memang masih menyimpan sakit yang dirasakan akibat dari perlakuan jahat manusia.
“Mereka memeriksa semua orang, ada yang mash bernafas termasuk Ganding dipisahkan dengan yang sudah tiada. Mereka lalu membawa Ganding terlebih dahulu untuk keluar, tapi saat mereka keluar dari pintu ruang bawah tanah tersebut, ada angin besar yang membuat mereka jatuh, seketika udara menjadi dingin dan terasa hampa.
“Cepat!” Alka meminta mereka untuk berlari, lalu ketika sampai angkot, udara menjadi kembali seperti biasa.
“Yang lain gimana Kak?” Jarni khawatir, karena mereka baru menyelamatkan Ganding saja.
“Tunggu dulu, Jarni, lakukan sekarang, kita harus segera masuk ke ruang ghaib yang Ratu ciptakan.”
Jarni mengangguk.
...
Sementara di ruang ghaib Ratu, Ganding terbangun, dia sadar telah pindah alam. Dari duduk bersila, dia berjalan, dia melihat banyak sekali ruh-ruh sedang berebut makanan busuk, menjijikan sekali, Ganding mencoba mencari Aditia, dia berteriak.
“Dit! Dit! Dit!” Tidak ada jawaban.
“Itu Ganding kawanku, dia bisa masuk.” Aditia yang melihat Ganding di antara kerumunan ruh itu mencoba mendekatinya dan memintanya untuk diam, karena teriakannya bisa memancing ratu mengambilnya.
“Nding ... Nding ....” Aditia memanggil dengan bisikan, tapi Aditia terlalu jauh, makanya Ganding tidak mendengar.
Saat sedang memanggil, tiba-tiba tubuh Ganding tersedot ke arah tengah kerumunan ruh yang sedang berebut makanan busuk.
“Bodoh sekali dia, kenapa berteriak, dia tertangkap.” Ucap wanita yang wajahnya buruk itu.
“Dia mencariku, makanya dia berteriak, di antara semua kawanku, dia yang terbijaksana, dia tidak akan melakukannya kalau saja ada cara lain. Aku yang salah, seharusnya tadi aku berlari menghampirinya.”
Ganding berada tepat di depan Ratu, dia melihat wajah itu, tubuhnya mengambang karena terbawa energi yang dibuat oleh Ratu.
Ganding menatap Ratu lekat dengan sedikit khawatir, karena melihat ruh-ruh yang sedang dia tarik dengan energi jahatnya terlihat sangat lemah dan beberapa hampir hilang sepenuhnya. Rupanya ini cara dia bertahan hidup, dia menghisap sukma seseorang untuk tetap hidup, makanan dia adalah sukma manusia.
“Aku harus menolong Ganding.” Aditia Berdiri.
“Jangan, kau itu orang berilmu yang berhasil dia tarik ke sini, energimu sangat kuat, kau makanan terlezatnya.”
“Makanan? Bukankah kau bilang hanya budak? Kenapa sekarang makanan?”
“Ya, maksudku, budak laparnya dia, dia akan memakan sukmamu perlahan, lalu setelah itu sukmamu akan semakin lama semakin menghilang akhirnya musnah, tidak akan pernah kembali ke tubuhmu atau di sini, entah kemana.” Wanita itu mengatakan dengan ketakutan.
“Tapi, aku takkan biarkan Ganding menjadi santapannya!” Aditia lalu berlari hendak menembus kerumunan itu untuk bertemu dengan ratu.
Satu persatu dia singkirkan kerumunan ruh yang kelaparan sedang memakan bangkai yang ratu sediakan, rupanya sebelum dimakan, mereka dibuat kenyang dulu, dengan kotoran itu.
Sudah dekat, Aditia mendorong ruh terakhir yang menghalanginya dari melihat Ganding, setelah itu dia melihat Ganding sudah sangat dekat.
“Nding!” Aditia berteriak, dia hendak menggapai Ganding, tapi begitu sudah sangat dekat tubuh Ganding tidak menghalangi Aditia lagi untuk melihat Ratu, saat melihatnya, Aditia terkejut, dia lalu terjatuh dengan wajah yang ketakutan.
“Nita ....”
_________________________________________________
Catatan Penulis “
Semalem mau Upload, tapi netbookku mati, eh ngadat nggak mau dinyalain lagi, jadi baru upload sekarang.
Tetep dukung kami ya para AJP Addict, jangan lupa vote, isi bucket hadiah atau tips. Yang belum add akunku, add dong, supaya kalau ada novel baru dariku kalian bisa dapat notifnya.
__ADS_1
Terima kasih selalu untuk dukungan kalian.