Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 503 : Mulyana 8


__ADS_3

“Sudah beberapa hari ayah, tapi kenapa jarang sekali yang lewat sini, dia tak punya korban sehingga kita tak bisa menangkapnya.” Mulyana kesal karena sudah 3 hari tak ada satu pun binatang yang datang ke jalan itu, tentu saja, sejak terakhir kali kuda itu mengamuk dan hampir saja membuat tuannya terinjak, tak ada lagi yang berani lewat.


“Kalau tidak ada yang mau datang, seharusnya kita datangkan saja.” Drabya berkata pada anaknya.


“Maksudnya, Yah?”


“Kenapa tak kau ciptakan korbannya sendiri?”


“Aku? Maksudnya aku yang ciptakan korban? Maksudnya aku yang bawa kudanya?” Mulyana mengerti, tapi tak tahu harus berbuat apa atas perkataan ayahnya.


“Iya.”


“Aku bawa kuda ke sini gitu?”


“Memang kau bisa menunggangi kuda?” Drabya bertanya.


“Tidak, lalu kita bawa apa? kucing? Katanya kucing bisa melihat mereka yang tak terlihat ayah.”


“Itu benar, kau mau coba?” Drabya bertanya pada anaknya.


“Menurut ayah gimana?”


“Terserah padamu, kau kan yang tak sabar menunggu.”


“Yasudah, aku akan cari kucing sekarang, tapi aneh ya, kok dari tadi taka da kucing yang aku lihat?”


Mulyana berkata sambil berlalu, dia akan masuk ke perumahan, siapa tahu ada kucing.


Drabya menunggu sekitar satu jam, lalu Mulyana kembali, ada yang aneh dengan penampilannya.


“Kenapa wajahmu kusut begitu?” Drabya bertanya.


“Aku berhasil menangkap beberapa kucing, tapi kucingnya selalu kabur begitu aku ebrjalan mendekat ke sini, mereka langsung ketakutan dan mencakar wajah, tangan dan juga dadaku, sakit ayah.”


Drabya tertawa dengan kencang mendengar itu. Karena Dia sudah tahu ini akan terjadi, bukankah dia sudah memberitahu anaknya tentang sifat kucing yang memang binatang yang hidup di dua alam, bukan amphibi tapi, alam ghaib dan alam manusia. Jadi, mereka akan lebih peka pada tempat yang jelas, ada makhluk ghaib dan dia tahu, kalau makhluk itu mungkin mengancam jiwa mereka.


Tapi Drabya ingin anaknya belajar, tidak apa-apa disuapi tanpa mencerna dan menganalis.


“Jadi, menurutmu, kenapa dia begitu?”


“Dia takut ke sini, Yah. Dia menyerangku karena dia takut diserang di sini.”

__ADS_1


“Itu dia! sekarang, kira-kira kita bawa apa untuk bisa menjebak makhluk itu?” Drabya bertanya.


Ini adalah waktu siang haru, mereka sengaja menunggu dari pagi hingga malam selama 3 hari ini, tak heran Mulyana sangat kesal karena tidak dapat apa-apa dan hanya mengintai saja.


“Aku tidak tahu, kalau anjing gimana?” Mulyana bertanya.


“Bisa saja, kamu coba cari anjing gih.”


“Susahlah nangkapnya, nanti bukannya aku bisa membawa mereka ke sini, tapi malah mereka membawaku ke alam baka, karena digigit. Mereka kan galak, lagian ... anjing itu mirip seperti kucing, binatang yang peka terhada alam ghaib.


“Kucing tidak, anjing tidak, lalu apa lagi Mulyana?” Drabya mencoba untuk membuat Mulyana mau berpikit.


“Hmm, oh aku tahu, sebentar, kita harus ke rumah dulu. Ayo pulang.” Mulyana terlihat bersemangat.


“Kenapa kita harus ke rumah dulu?”


“Karena di rumahlah binatang itu ada.”


“Kau yakin?”


“Ya, aku yakin, ayo ayah kita ambil dulu binatangnya, supaya bisa memancing makhluk itu keluar.” Mulyana menarik Drabya agar mereka bisa pulang dulu.


“Gimana, kasusnya sudah selesai?” Aep bertanya.


“Belum, ini aku mau ke belakang, aku butuh umpan.” Mulyana langusng berlari ke belakang rumah.


Aep sedang libur sekolah, sekolah di rumah maksudnya, saat ini dia terus belajar untuk masuk sekolah yang setara dengan SMA. Setelah itu baru dia akan masuk kuliah. Ibunya masih di rumah nenek, makanya dia tak harus belajar bersama ibunya.


Tak Lama Mulyana keluar dengan menarik sesuatu, talinya sudah ada di tangan dia dan dia kesulitan menarik binatang itu.


“Mulyana! Kau memilih kambing sebagai binatangnya?” Drabya terlihat terkejut, karena tak menyangka anaknya akan mengambil kambing di belakang rumah, mereka memang punya kandang kambing yang tidak terlalu bersar di rumah ini.


“Iya, ayah tahu kan, sejarah kambing dan makhluk halus?”


“Apa itu sejarahnya?” Drabya sebenarnya tahu, dia hanya ingin memastikan, bahwa anaknya meyakini sesuatu yang benar, bukan yang salah, makanya dia bertanya.


“Aku pernah membaca tulisan tentang pemujaan setan di surat kabar ayah, mereka bilang orang-orang pemuja setan itu menyembah kepala kambing, siapa tahu, kalau kita membawa kambing, ternyata jin ini juga pengikut aliran sesat itu, lalu dia mau keluar.


Drabya menahan ketawanya, di sungguh merasa betapa menggemaskannya Mulyana.


“Baiklah, ayo kita bawa kambing ini dan kita buktikan, apakah bisa dia membuat makhluk hitam di jalan itu keluar?” Drabya tidak langsung menolak, dia hanya ingin memberikan kesempatan pada Mulyana untuk mencari masalah dan penyelesaiannya pada kasus ini sendiri.

__ADS_1


Mereka kembali lagi ke tempat itu, ternyata waktu sudah sore, Mulyana membawa kambing itu dengan cara memasukkannya ke mobil carry.


Begitu sampai, Mulyana terlihat sangat bersemangat, dia ingin segera membawa kambing itu untuk bertemu setan.


Dengan susah payah Mulyana yang tidak meminta bantuan pada ayahnya menurunkan kambing, lalu menariknya ke jalan itu.


Mulyana berjalan ke titik yang sudah ditandai Drabya, dia berjalan dengan perlahan agar kaki kambing itu ditangkap, tapi aneh ... mereka baik-baik saja, begitu juga dengan kambingnya, baik-baik saja.


Mulyana terus berjalan mondar-mandir, terus saja berjalan, tapi tidak ada yang terjadi.


Drabya lalu menghampirinya, “Apakah mereka temenan makanya dia tak mau menangkapnya? Kau bilang di surat kabar itu dikatakan mereka memuja kambing, jangan-jangan setan di bawah itu suka masuk ke dalam kambing dan dipuja-puja.” Drabya meledeka anaknya.


“Ayah!” Mulyana kesal, karena tahu ayahnya sedang meledek saja.


Mulyana lalu menarik kambingnya untuk dikembalikan ke mobil Carry, tapi belum juga dia maju beberapa langkah dnegan posisi dia berada di depan kambingnya dan menarik leher kambing yang terikat tali sebagai tali ikatan untuk menariknya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Tiba-tiba tubuhnya jauh ke depan, dia merasa ada yang menendangnya, kambing itu mengamuk, Mulyana melihatnya bukannya takut atau merasa kesakitan tapi malah tersenyum.


“Aku berhasil!” Mulyana berteriak, dia lalu melihat, ada tangan hitam yang menahan kaki kambingnya, Drabya menarik anaknya dan memberikan dia busur serta panah.


“Serang dia dari jauh, aku akan menangkapnya.” Drabya memang ingin kasus ini diselesaikan oleh Mulyana, tapi bertarung dengan makhluk yang belum diketahui apa jenisnya akan sangat tidak bijak jika dilakukan oleh seorang anak kecil.


Drabya mengeluarkan keris mininya, dia lalu mulai menyerang tangan yang menarik kambing itu, kambing yang seketika mengamuk.


Tangan itu masuk lagi kembali ke dalam tanah.


Drabya masih dengan ancang-ancangnya, Mulyana terus membidik agar ketika dia keluar, anak panah Mulyana bisa langsung mengenainya.


Makhluk itu tidak kembali, dia masih di dalam tanah, kesal sekali Mulyana karena makhluk itu tidak keluar lagi.


“Dia tak keluar ayah!” Mulyana berteriak, saat ini sudah malam, suara mereka takkan terdengar, karena ini adalah jalan angket yang tidak ingin dilewati siapapun, makanya mereka berani untuk berteriak.


Makhluk hitam itu keluar dari dalam tanah, setelah tubuhnya keluar sempurna, dia melayang, tidak mengincar Mulyana dan Drabya, tapi mengincar kambing itu.


Dia mengejar kambing yang tidak jauh jaraknya, lalu setelah tertangkap, kambing itu diangkat tinggi-tinggi, lalu dia mulai menarik kepala kambing pada tangan kanan dan kaki kambing pada tangan kiri.


Makhluk itu dengan gagah beraninya menarik dengan kencang lagi kepala dan kaki kambing, dia berhasil memisahkan kepala kambing dari tubuhnya melalui tarikan itu.


Melihat itu, Drabya melirik ke arah Mulyana, dia lalu memelototinya, karena membuat kambing peliharaan ayahnya mati sia-sia dengan cara yang mengenaskan.


“Maaf ayah.” Mulyana berkata dan ayahnya sudah bersiap kembali untuk bertarungdengan iblis ini, dia mengambi ancang-ancang dan ....

__ADS_1


__ADS_2