
Selly dan suaminya tidak naik motor untuk pulang seperti biasa, karena keadaan Selly yang mengkhawatirkan, dia terlihat masih lemas dan mungkin akan bahaya jika pulang dengan motor.
Mereka berdua naik taksi, motor suaminya di parkir di hote dulu.
Selly naik taksi, taksi jalan dan entah kenapa Selly tidak sengaja menoleh ke gedung hotel bagian atas, dari kejauhan dia melihat ada tirai jendela salah satu kamar hotel terbuka, lalu terlihatlah wajah mengerikan itu dari tirai jendela.
Selly berteriak dan menutup lagi wajahnya, suaminya memeluk dia dengan erat, tubuh Selly kembali gemetaran.
“Ada aku kok, kamu tenang ya.” Suaminya Selly memeluk Selly. Itu bisa membuatnya sedikit tenang.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah, suaminya memberi minum dan meminta Selly mandi, dia bukannya tega, tapi mandi juga sebagai media pembersihan, dia tahu bahwa Selly sedang diganggu makhluk ghaib.
Suaminya sudah merasakan ada yang salah dengan hotel itu sejak hari pertama mengantar Selly untuk interview, tapi berhubung Selly tidak peka dengan hal itu, dia tidak membicarakan sama sekali.
Suami Selly bisa dibilang orang yang ‘bisa melihat dan merasakan mereka’ dia bukan dukun, orang pintar atau ustad, apalagi Kharisma Jagat, tapi dia orang yang hanya peka saja, jadi mampu merasakan hotel itu tidak baik.
“Sudah mandinya?” Suaminya mengizinkan Selly membuka pintu kamar mandi ketika dia mandi, dia hanya ingin membuat Selly merasa aman.
Selly berpakaian dibantu suaminya, setelah bersih suaminya menyeduhkan daun bidara yang dibawakan oleh Teddy dari hotel, ternyata minuman itu adalah daun bidara yang sengaja Teddy siapkan saking ... seringnya pegawai kesurupan di hotel itu.
“Selly, istriku sayang, kamu berhenti aja ya dari hotel itu, cari kerja tempat lain, Mas kan juga kerja, masih bisa penuhi kebutuhanmu, jadi kamu berhenti saja dulu ya.” Suaminya tidak ingin menahan lagi membicarakan hal ini.
“Tapi Mas, Selly lebih suka kerja, kita juga belum punya anak kan? jadinya Selly mau isi waktu dengan kerja aja dulu. Nanti kalau udah hamil, Selly baru berhenti kerja ya?” Selly masih tidak mau resign padahal telah bertemu hal mengerikan.
“Sel, kamu boleh kerja, tapi jangan di hotel itu ya, terlalu jelek auranya.” Suaminya lagi-lagi membujuk.
“Memang Mas lihat apa sih?” Selly penasaran, apakah yang dia lihat sama dengan yang suaminya lihat.
“Sel, Mas nggak bisa lihat secara jelas, tapi dari awal Mas antar kamu untuk interview, mas melihat setiap sudut dari hotel itu ada bayangan hitam, artinya kemungkinan pemilik hotel memakai sesuatu yang ghaib untuk membuat hotel itu laris.”
“Penglaris Mas? bukannya kalau kayak gitu di restoran ya? kok hotel pakai gituan?” Selly bingung.
“Bukan cuma restoran, warung, butik, bahkan hotel sekali pun bisa saja pakai penglaris agar hotel yang biasa aja itu, terlihat nyaman di mata orang-orang yang berniat mencari penginapan. Jadi penglarisnya mengelabui mata orang yang akan menginap. Padahal hotel itu adalah hotel yang biasa saja, bahkan terlihat kotor, tapi masih saja ada yang menginap kan? itu karena penglaris yang dipakai.”
“Mas udah ah, jangan begitu. Hari ini Selly lagi apes aja makanya ketemu begituan, besok-besok pasti biasa lagi. Yang lain juga gitu, mereka biasa aja tuh denger Selly di ganggu, kayaknya gangguan semacam itu mungkin cuma cara mereka untuk berkenalan.”
“Memang kamu mau berkenalan dengan mereka?”
“Mas! jangan ngomong aneh-aneh deh.”
“Yaudah, pokoknya Mas udah bilang ya, kamu harus hati-hati, kamu itu jangan sampai sakit, karena orang sakit gampang dirasuki.”
“Iya mbah dukun.” Istrinya sering meledek karena suaminya kerap dimintai tolong tetangga, teman kerja bahkan orang yang baru kenal untuk bantu menyembuhkan orang yang kesurupan. Suaminya Selly biasanya menolong tanpa tarif, karena dia memang tulus membantu.
“Aku bukan dukun, aku rambutan.”
“Emang aku ngomong duku! Kamu becanda aja ah!” Selly kesal.
“Jangan tidur sekarang ya, kita tahajud dulu, biar tidur tenang.”
“Iya Mas.”
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya solat berjamaah, Selly mencoba untuk khusuk.
“Allahuakbar.” Suaminya mengimami.
Selly masih berusaha mengikuti gerakan solat suaminya, hingga tiba ketika akhirnya Selly merasa bahwa dihadapan suaminya ada sekelebat bayangan hitam, bayangan itu terlihat semakin lama semakin dekat, lalu menembus tubuh suaminya hingga muncul dihadapan wajahnya. Selly menunduk agar bayangan itu tidak terlihat lagi, tapi gagal, tiba-tiba bayangan itu terasa menyentuh pipinya, dingin ... Selly terus berusaha khusuk tapi gagal, dia menangis menahan takut.
Selly masih terus mengikuti gerakan solat suaminya, sampai solat selesai, suaminya langsung memeluk Selly, dia melihat juga bayangan itu tapi memilih melanjutkan solat.
“Dia tidak akan berani merasuk tubuh orang yang beriman. Selly dengar, jangan sampai telat solat dan juga tambah amalan seperti solat sunah dan dzikir, yang tadi entah datang dari mana. Tapi yang pasti, dia sangat ingin merasukimu, aku marasakan itu. ‘Dia’ bahkan berani mengganggu kita yang sedang solat, artinya ini tidak main-main.”
“Mas, aku takut.”
“Makanya, kamu berhenti kerja ya.” Suaminya mulai memaksa,
“Boleh Selly cuti aja dulu, mungkin setelah cuti Selly akan lebih baik.”
“Sel!”
“Mas, Selly mohon.”
Suaminya mengalah karena dia tidak ingin Selly semakin ketakutan dan kalut, walau dia merasa sangat khawatir, tapi dia tidak bisa memaksa Selly untuk berhenti.
...
“Sel, udah masul lagi, elu hebat sih masih mau masuk. Soalnya nggak pernah ada yang diganggu separah elu sebelumnya.” Seorang housekeeper yang ikut istirahat bersama dengan Selly berkata, Selly kebetulan sedang shift pertam shift pagi, selama satu bulan ini, Teddy sengaja memberikan shift satu untuk Selly agar dia bisa kerja dengan tenang.
Mengingat resepsionis hanya tinggal dua orang saja, Teddy tidak ingin membuat Selly yang baru masuk ikut keluar juga.
“Ya di berani-beraniin lah. Emang mbak pernah diganggu juga?” Selly penasaran, dia sedang istirahat dengan beberapa orang, mereka sedang makan siang, walau telat jam dua baru bisa makan.
“Kalau gue waktu beresin itu kamar, kita biasanya beresin kamar itu bertiga, nggak berani berdua.”
“Kok bertiga, sebenarnya berdua aja cukup kan? yang penting nggak sendiri.”
“Kata siapa?”
“Emang apa yang terjadi Mbak?” Selly semakin penasaran.
“Jadi waktu itu gue sama temen gue ditugasin bersihin 713 itu, kami berdua, kayak biasa aja. Pas masuk kamar aja, rasanya udah beda, udaranya terasa pengap, entah kenapa terasa sesak banget saat masuk kamar itu, berasa berada di tempat sempit yang banyak orang.
Trus, dingin banget, padahal AC nggak nyala. Yaudah kita mulai bersihin aja tuh, pintu kami buka supaya gampang gapai troly barang buat ambil bedcover sama yang lainnya.
Trus ....”
“Apa Mbak?” Selly semakin mendekat.
“Saat kita hampir selesai, aku keluar mau ambil pembersih di troly, kami emang nggak pernah masukin troly untuk bebersih, biar nggak sempit. Pas baru aja ambil pembersih, tiba-tiba pintu kamarnya kebanting, tertutup gitu aja. Temenku masih di dalam ....
Awalnya aku pikir temenku bercanda, aku ketuk, karena kartu pintu dia yang pegang. Aku ketuk lembut sembari bilang dia jangan bercanda, walau itu siang, aku nggak suka dia bercanda di 713. Tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Lama-lama jantungku berdetak, ketukanku semakin kencang. Masih tidak dijawab juga. Akhirnya aku buru-buru hubungi Pak Teddy, aku minta dia naik, membawakan kartu cadangan, aku merasa khawatir dan takut karena sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Ini pasti bukan bercanda, tapi kami dikerjai.”
__ADS_1
“Serem amat waktu itu ya Mbak.” Seorang pramusaji yang ikut makan bersama dan tahu kejadian itu ikut nimbrung dan mengingat kejadian sudah lama itu.
“Trus!” Selly tidak sabar untuk tahu nasib temennya housekeeper itu.
“Pas Pak Teddy sampai di 713, dia buru-buru buka kamar itu dan udah bawa teh daun bidara Sel, setelah pintu terbuka, temenku ternyata ada di kamar mandi, dialagi ngeringkuk di bawah wastafel.
Pak Teddy menarik dia keluar dan memintaku tetap menahan pintu sampai mereka berdua keluar.
Setelah mereka keluar Pak Teddy meminta aku menutuppintu itu dan menabur daun bidara di depannya.
Aku ikutin aja, trus kami berdua memapah temanku untuk turun. Pak Teddy membawa kami ke pantry.”
“Temen Mbak kenapa di dalam, kok dia meringkuk di bawah wastafel kamar mandi?”
“Jadi kata dia gini Sel ... Pas pintu ke tutup, dia panik, dia gedor-gedor tuh pintu manggil-manggil aku, tapi katanya aku nggak jawab.
Padahal aku diluar juga gedor-gedor pintunya.
Tapi katanya hening, nggak ada suara sama sekali.
Trus, dia melihat tiba-tiba ruangan itu terasa sangat dingin, hingga dia menggigil, karena sangat takut, dia akhirnya pergi ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandinya dan meringkuk dia bawah wastafel karena ketakutan.
Saat dia meringkuk itu, dia mendengar suara kamar mandi di gedor-gedor, awalnya gedoran seperti dari satu orang, tapi kemudian gedoran itu semakin kerasa seperti ada beberapa orang yang menggedor-gedor, saat dia merasa hampir frustasi dan menangis, ternyata pintu berhasil di dobrak dan yang masuk itu Pak Teddy.
Dia lega, karena Pak Teddy yang ternyata menggedor pintu itu.
Tapi ini aneh.”
“Aneh kenapa Mbak?” Tanya Selly semakin penasaran.
“Pak Teddy nggak gedor-gedor pintu kamar mandi, dia tidak melihat temanku di sekitar kamar Pak Teddy langsung tahu kalau dia pasti di kamar mandi yang tertutup, Pak Teddy mencoba buka pintu tapi tidak bisa, jadi dia langsung mendobrak pintu itu, nggak pake gedor-gedor pintu Sel!”
“Nah, jadi yang gedor pintu sebelum Pak Teddy dateng, siapa tuh?” Celoteh salah satu Pramusaji.
“Sel, lu harus lebih berani ya, yang sabar kalau kerja di sini, suasananya enak, temen-temen kerja juga asik. Tapi ya itu, lingkungannya ... hihhhh!” Housekeeper itu bergidik mengingat itu, dia merasa bersyukur bukan dia yang terkunci.
“Trus gimana housekeeper yang tadi terkunci itu Mbak? masih kerja?”
“Nggak! dia resign seminggu kemudia, dia nggak kuat soalnya. Sejak itu kami selalu membersihkan 713 bertiga, karena yang satu orang lagi, bertugas menjaga pintu, jadi kami bisa tenang bebersih dan pintu dijaga agar tidak dibanting lagi.”
“Serem ya Mbak.”
“Iya, tapi nggak ada yang seserem yang kamu alami sih, melihat langsung.”
Selly mulai ragu, apakah dia perlu tetap bekerja di hotel itu?
___________________________________________
Catatan Penulis :
Mau kasih tahu kalian, AJP masuk list rekomendari ya, statusnya sedang dipromosikan oleh noveltoon.
__ADS_1
Terima kasih dukungan kalian bener-bener buat aku dan AJP semakin banyak dikenal.