
Aditia kesakitan, apakah benar dia akan kalah, lalu kemana keberanian dan kepercayaan diri itu. Aditia berusaha bangkit, walau ini adalah sisa dari harga diri atas keberaniannya yang nekat itu, dia tetap harus bertahan. Ayahnya mengajarkan untuk selalu bertanggung jawab atas setiap keputusan, walau itu sulit dan berat.
Aditia bangkit perlahan, dengan sisa kekuatannya, walau terhuyung karena sakit di sekujur tubuh, tapi dia tetap memaksakan diri, memegang pisau hendak menyerang Yahnaweja, tapi tentu serangan ringan seperti itu tidak akan membuat Yahnaweja kalah.
Aditia jatuh sempurna, dia tidak lagi sanggup mengangkat tubuhnya, seketika semua gelap ....
Yahnaweja hendak memplokamirkan kemenangan dengan menghabisi Aditia, dia akan membuatnya lupa pada hidup sesungguhnya, menjadi budak dari desa Gupata Kawadaka itu.
Yahnaweja memegang kepala Aditia dan ....
Ctasss!!!
Yahnaweja memegang rambutnya, tidak ada, seketika rambut itu hilang, hanya tersisa akar dari gelungan yang dia buat, rambut panjang itu menjadi rambut cepak layaknya lelaki.
Yahnaweja berteriak dengan sangat keras, dia histeris karena gelungan rambutnya hilang, dia melihat ke arah belakang, ada sesosok yang aneh.
Badan sosok itu terpenuhi dengan sisik, tidak memiliki telinga, matanya putih sempurna tanpa kelopak, rambutnya tergerai berwarna putih, wajahnya sangat putih dan pucat, alisnya menonjol dan berwarna senada seperti rambutnya, matanya begitu dalam selaras dengan hidungnya yang begitu mancung.
Gigi taringnya terlihat lebih tajam dan menonjol dibanding gigi lainnya, tangannya begitu putih, kuku menjadi panjang dan runcing, dia tidak mengenakan baju karena bajunya adalah sisik tebal berwrna hijau itu.
Dia melayang persis seperti Yahnaweja.
“Ka-ka-Kau siapa!” Yahnaweja msaih histeris karena rambutnya yang menjadi sumber kekuatan dan keindahan yang dia junjung tinggi hilang begitu saja dalam hitungan detik.
Sosok itu tidak menjawab, dia hanya mengeluarkan api dari tangannya dan membakar rambut Yahnaweja tanpa ancaman, tanpa aba-aba. Yahnaweja mulai kepanasan, dia mencoba menyerang sosok aneh itu, tapi tanpa tekhnik seperti sebelumnya dengan Aditia. Karena panas dan putus asa sedang menghinggapinya.
Sosok itu masih terus menyerang Yahnaweja tanpa ampun, dia ternyata memotong rambut Yahnaweja dengan keris yang berukuran sedang, dia menyerang Yahnaweja dengan keris itu juga, tubuh Yahnaweja panas dan penuh dengan luka karena tusukan keris sedang itu.
“Panas!!! Pasan!!! Tolongggggg!” Yahnaweja meminta tolong pada semua orang, tapi semua orang menghindar, bahkan ada yang menendangnya dan membuat dia semakin ketakutan.
Diantara sisa nyawa terakhirnya, sosok itu mendekati Yahnaweja lalu berkata dengan sangat pelan, hingga tak ada yang bisa mendengar apa yang dia katakan.
“Aku dan tuanku adalah satu. Aku atau dia yang mengalahkanmu, maka sama saja. Aku karuhun dari tuanku, maka kekalahanmu menghapus semua perjanjian dan menjadikan pertaruhan tuanku sebagai kemenagan yang harus di penuhi.”
Yahnaweja mati, sebagai jiwa yang jahat, Yahnaweja musnah tanpa sisa.
...
Aditia bangun, dia tidak tahu sudah berapa lama pingsan, saat bangun mendadak dia ingat semua yang kemarin dia lupa, ayahnya, ibunya dan tentu Dita. Adik kesayangan yang sempat ia lupa keberadaannya.
Dia ingat terakhir kali dia sedang mencuci piring dan mendengar suara tangisan seorang anak kecil, lalu sesudahnya dia masuk ke desa Gupata Kawadaka ini.
Aditia bangun, dia sudah berada di sebuah dipan tanpa kasur. Semua orang tampak sedang menunggunya bangun.
“Kau sudah bangun?” Kepala desa bertanya, dia terlihat lega.
“Ya, aku kalah? Apakah aku akan menjadi penduduk di desa Gupata Kawadaka ini?”
“Kau bicara apa!”
“Kenapa?” Aditia bingung karena dia dimarahi.
“Kau menang!”
“Kenapa bisa aku menang?”
“Ada sesosok, bagaimana ya kami menyebutnya? Sosok yang cukup ... aneh, dia berbentuk seperti ... ada yang ingat dia berbentuk seperti apa?” Kepala desa tidak bisa mengingat bentuk jin yang menolong Adiia, entah kenapa semua penduduk juga tidak bisa mengingat bentuk sosok dengan wujud jin itu.
“Lalu sosok itu yang menghabisi Yahnaweja?” Aditia menngambil kesimpulan.
“Ya, dia menghabisi Yahnaweja.”
“Tapi, kalau begitu, berarti aku tetap kalah, karena bukan aku yang menghabisinya.”
__ADS_1
“Tidak, kata sosok itu, ketika kau bangun, kau akan melihat pintunya, karena kau telah memenangkan pertarungan ini.” Kepala desa memberikan jawaban.
“Hah?” Ya, kami menunggu kau bangun, karena kami ingin keluar dari sini, kami benar-benar lelah menjadi budak dari kejahatan dukun dan suruhannya itu.”
“Baik, kalau begitu, ayo kita cari pintunya.”
Aditia bangun dan berjalan ke depan, dimana dia ingat kalau dia telah masuk dari arah sana sebelum lupa semua ingatan.
Dia melihat anak perempuan yang telah memancingnya ke tempat ini, dia mengulurkan tangan mengajak anak itu ikut keluar dari sini. Anak itu menggapai uluran tangan Aditia dan mereka berjalan paling depan.
Aditia berjalan dengan penduduk yang ada di belakangnya mengikutinya, pergi tanpa satupun bawaan, seperti mereka dipaksa masuk ke tempat ini dan tidak kembali ke Tuhan.
Dari jauh Aditia melihat sebuh gapura, gapura yang tidak pernah dia lihat sebelumnya saat masuk ke sini lalu lupa.
Gapura itu bertuliskan desa Gupata Kawadaka tapi dengan huruf terbalik seperti melihat sebuah cermin.
Aditia tersenyum, benar kata sosok itu, Aditia bisa melihat pintu keluar.
“Apa kalian ada yang melihat gapura itu?” Aditia menunjuk ke depan.
“Tidakkk.” Semua berteriak tidak melihat.
Aditia lalu berjalan perlahan dan mengawali memasuki gapura itu dengan kaki sebelah kanan dulu, aneh, kakinya masuk tapi tidak terlihat lagi, seolah kaki itu hilang ditelan gapura walau masih sempurna berada di tubuh Aditia.
“Benar! Ini jalan keluarnya.” Aditia meminta semua orang untuk saling berpegangan tangan dan mengikutinya masuk ke dalam gapura itu.
Aditia memasuki gapura diiringi oleh semua penduduk dan mereka hilang ....
Gelap, mereka keluar di sebuah hutan, suasana sangat gelap tidak seperti sebelumnya terang benderang di desa Gupata Kawadaka itu.
Aditia sangat senang, semua jiwa yang telah bebas itu juga senang, sekarang mereka bukan budak lagi dan siap kembali ke tempat semestinya.
“Adit!!! Adit!!!” Aditia mendengar banyak suara memanggilnya, Aditia mencari arah suara.
“Dit, sampai di sini kita sekarang pisah jalan ya.” Kepala desa menggenggam tangan Aditia, dia merasakan dinginnya tangan itu, seperti tidak ada kehidupan dari tangan itu.
“Kalau begitu, kita berpisah di sini ya.” Aditia kembali menggenggam tangan kepala desa dengan ekdua tangannya.
“Titip anak ini ya Pak, kau pasti tidak akan kesakitan lagi karena dijadikan budak oleh wanita itu, sekarang kau akan hidup di taman surganya Tuhan.” Aditia menitikkan air mata, anak baik yang mengajarkan hidup di desa Gupata Kawadaka itu, kalau bukan karena anak perempuan ini yang memberitahu air sungai dan juga buah berukuran ceri itu dan memakannya dalam jumlah ganjil, Aditia pasti sudah kelaparan, karena dia sudah beberapa hari di sana dan sulit bertahan jika tidak makan apa-apa sama sekali, mengingat betapa teh Yahnaweja terasa sangat busuk sekali.
“Tidak Dit, dia tidak ikut kami, anak ini bukan seperti kami.”
“Apa maksud Bapak?”
“Anak ini ... anak yang sudah diculik dari dunia kalian dan akhirnya menjadi budak dari setan Yahnaweja.”
“Apa? dia sepertiku?”
“Iya benar, dia tersesat di hutan dan diculik untuk dijadikan budak.”
“Kasihan, kalau begitu, mari kita pulang ke rumah sekarang, orang tuamu pasti mencarimu selama ini.”
Anak perempuan itu tersenyum dan mengangguk.
“Dit, kami pamit, terima kasih karena mau berjuang untuk kami ya.” Kepala desa dan semua penduduk akhirnya pamitan dan mereka berjalan ke arah kanan, semakin lama semakin menghilang, wajah-wajah bahagia itu membuat Aditia ikut bahagia.
“Adit! Aditia!!” Suara itu lagi, banyak suara yang memanggilnya.
Aditia mengejar suara yang memanggilnya masih dengan menuntun anak perempuan itu.
“Ki Adit di sini!” Aditia berteriak, dia tahu salah satu suara yang memanggilnya adalah suara Aki Dadan.
“Adit!” Aki Dadan mendekatinya dan begitu menemukan Aditia dia langsung memeluknya.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja Ki.”
“Alhamdulillah kami akhirnya menemukanmu.” Aki Dadan terdengar lega.
“Dit!” Aris murid Aki Dadan juga memeluknya begitu melihat dia.
“Kau tahu, kami sudah dua minggu mencarimu!”
“Apa?! dua minggu?”
“Iya, kami setiap malam menyusuri hutan ini, mengulang pencarian dan akhirnya sekarang menemukanmu di sini. Padahal areal ini sudah kami susuri berkali-kali.” Aris menjelaskan secara singkat.
“Tapi, aku baru beberapa hari di sana.”
“Dit, kita kembali dulu ke rumah ya.” Aki Dadan menarik Aditia untuk kembali ke tempat pelatihan.
Semua orang disuruh beristirahat,kecuali Aditia, walau dia terlihat kelelahan, Aki Dadan harus meminta penjelasan baru mulai menetralkan tubuh Aditia.
“Jadi kau di mana?” Aki Dadan bertanya.
“Aku di desa Gupata Kawadaka, awalnya aku mendengar suara anak ini, lalu aku memasuki sebuah pohon kembar yang ternyata pintu yang diciptakan Yahnaweja untuk masuk ke desa Gupata Kawadaka itu, aku masuk ke sana dan perlahan mulai lupa dengan jatidiriku.”
“Desa Gupata Kawadaka! Astaga, desa itu ternyata benar adanya?”
“Ya, Aki belum pernah melihat pintu itu?”
“Belum, katanya hanya yang diizinkan masuk saja yang bisa melihat pintu itu, karena pintu itu dikendalikan oleh seorang anak dukun yang sudah menjadi pembantu iblis, Yahnaweja.”
“Betul dia orangnya yang ternyata mengizinkanku masuk, dia ingin aku menjadi budaknya.”
“Beruntung kau bisa keluar lagi.”
“Ya, karena aku menantangnya bertarung dengan perjanjian.”
“Kau menang dari pembantu setan yang berumur ratusan tahun itu?” Aki Dadan kaget, karena dia saja belum pernah melihat desa itu, hanya tahu bahwa ada energi hitam yang besar di hutan sehingga dia enggan masuk ke hutan itu, padahal letaknya di belakang rumah.
“Tidak tahu, aku pingsan, lalu saat bangun kepala desa bilang aku menang karena ada sosok yang membantu, lalu pintu keluar keliatan.”
“Oh begitu, kalau kau bisa melihat pintu keluar, berarti kau benar menang, apakah pintu keluar itu sebagai taruhannya?”
“Ya, benar Ki.”
“Lalu, apa yang kau pertaruhkan untuk pintu itu?”
“Aku mempertaruhkan diriku, tapi ... dia tidak mau. Dia mau orang tuaku.”
“Apa! jangan bilang kau menyanggupi, karena tumbal dengan makhluk hidup pasti membuatnya semakin kuat dan membuat mereka akan serakah sehingga menggunakan berbagai cara untuk menang.”
“Aku menyanggupinya Pak, aku setuju pertukarannya adalah orang tuaku.”
“Kenapa kau berani sekali! Bukankah sudah kuperingatkan!”
“Pertama, karena aku yakin menang, kedua, karena ayahkulah pertukarannya, kau tahu ayahku kan, dia akan menang melawan jin yang akan mengambil jiwanya yang telah tergadai, jin itu mungkin akan tobat setelah bertemu ayahku.” Aditia tertawa.
“Aku suka rasa percaya dirimu, untung kau menang, dasar anak nakal!” Aki Dadan memuku dengan lembut kepala Aditia. Walau kesal, dia sangat bahagia karena Aditia berhasil mengalahkan setan perempuan itu.
“Ki, bantu aku antar anak ini dulu ya, kasihan orang tuanya pasti mencarinya, karena anak ini diculik oleh Yahnaweja.”
“Anak ... ini?” Aki Dadan terlihat terkejut.
“Ya, anak ini.”
Aki Dadan menghela nafas dan mengangguk.
__ADS_1
Kelak jika Aditia tahu, dia pasti akan sangat sedih.