Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 270 : Janur Kuning 4


__ADS_3

Aditia menghampiri wanita yang kesurupan itu, Ganding bangun, Alka dan Jarni juga keluar dari kamar, mereka melihat rumah telah di kelilingi si kain putih lusuh dengan wajah hancur.


“Dit! Bukan muhrim!” Alka mencegah Aditia mengeluarkan jin dari tubuh wanita itu.


Aditia menahan langkahnya dan memilih mundur, Alka maju dan menarik leher wanita itu, menyudutkannya di dinding, lalu mengucapkan mantra.


Wanita itu melotot dengan leher masih dicekik oleh Alka dengan satu tangan, mulutnya perlahan terbuka dengan cukup lebar, istri Budiman seperti ingin muntah, Alka melepaskan cekikannya dan akhirnya wanita itu terjatuh dengan memuntahkan angin, jin yang menyusup keluar dari tubuh istrinya Budiman dan buru-buru lari, ketakutan melihat gerombolan manusia yang memiliki energi mengerikan bagi mereka.


“Pak, istrinya dibawa dulu ke kamar, Jarni buat pagar di kamar mereka biar nggak ada yang bisa masuk saat kita menangani yang lain.”


Aditia meminta Pak Budiman memapah istrinya, lalu Jarni memagari, semua orang bisa melihat betapa banyaknya pocong di luar rumah yang mengelilingi rumah itu.


Budiman dan istrinya sudah di kamar, Jarni memagari kamar mereka dari dalam.


“Dit, ini kenapa pada ngumpul di sini?” Ganding bertanya.


“Tidak tahu, kita bertahan mala mini saja, jangan menyerang, tadi ada yang menemuiku, tapi Abah Wangsa melarangku mendekatinya, besok dia akan jelaskan, sementara mungkin saat ini dia bernegosiasi dengan orang itu dulu.


Pantas ayahku hanya memberi judul tanpa keterangan di kuburan ini, ternyata memang bukan yang bisa dihadapi.” Aditia merasa mungkin dulu Abah juga mencegah ayahnya untuk masuk ke sini dan ikut campur.


“Selama mereka tidak mencoba masuk dan mengganggu, kita  takkan juga melawan.” Ganding setuju.


“Itu masalahnya, bisakah saat mereka menyerang, kau hanya menghindar, kasihan, mereka hanya antek, jangan buat masalah dulu sebelum aku mendapatkan jawaban dari Abah.” Aditia memperingatkan, kehilangan Alisha dan Rania membuat Aditia lebih hati-hati sekarang, dia sudah menganggap Alisha bagian dari kawanan, walau tahu dia menipu sahabatnya, tapi Alisha melakukan itu karena cinta, seperti yang Aditia dan Alka lakukan.


Pintu rumah terbuka dengan kasar, tidak ada orang, tentu saja ini pergumulan antara manusia dan jin.


Jendela rumah terbuka tertutup seolah sedang menertawakan kawanan yang tidak diperbolehkan melawan oleh pimpinan mereka, karena saat ini Alka telah sepenuhnya menyerahkan tampuk kepemimpinan pada Aditia, karena tahu, memang sedari awal, kawanan ini dibentuk untuk mendampingi sang Kharisma Jahat yang masih belum siap dulu, sekarang berbeda, Kharisma Jagat itu telah menjadi seorang lelaki tegas dan juga humoris.


Seorang wanita berambut panjang hingga kakinya tanpa wajah terlihat, berjalan perlahan masuk ke dalam rumah, dia terlihat berjalan terseok, kakinya tidak menapak, terlihat sedang menakuti kawanan.


Saat sudah masuk dia memperlihatkan wajahnya yang hancur dan bau busuk menyeruak, bau busuk dan wangi melati serta kamboja, semua sangat sempurna membuat seseorang bisa muntah.


“Kau bau sekali.” Ganding nyeletuk, biasanya dia serius, tapi entah kenapa dia malah bercanda kalia ini, atau tidak, karena memang sebenarnya bau itu membuat indera penciumannya sangat terganggu makanya dia bicara kasar begitu, Jarni dan yang lain tertawa, merasa diabaikan, setan wanita itu semakin mendekat.


“Percayalah, kau mendekat, maka habislah kau!” Jarni memperingatkan.


“Jar! Ingat, jangan dimusnahkan, hanya dipukul mundur saja.” Aditia mengingatkan.


“Tapi dia bau, aku nggak mau pukul, takut tanganku bau.” Ganding kesal karena dia memang si perfectionist yang sangat benci kotor dan bau.


“Aku juga tidak mau pukul, bau.” Jarni mundur dan membiarkan Alka yang menangani kasus jorok seperti ini.


Alka maju melewati setan wanita itu, menarik rambutya yang dekat kaki dan menariknya mundur, setan itu kaget, bagaimana mungkin dirinya tak punya harga diri, rambutnya ditarik agar keluar, dai mencoba melawan, tapi pukulan dan cakarannya tidak mempan ke Alka, tentu saja Saba Alkamah bukan manusia biasa, bodohnya mereka.

__ADS_1


Setelah mengeluarkan setan wanita itu, Alka lalu menutup pintu dan berteriak.


“Kalau mau masuk mening ketuk deh, daripada aku hajar!” Alka memperingatkan, Aditia dan yang lain tertawa, ini benar-benar seru.


Tidak ada yang berani mendekati, semua pocong dan beberapa kuntilanak hanya berdiri di luar, mereka di sana berjam-jam tanpa bergerak, Aditia dan kawanan sangat kesal karena tidak diizinkan tidur, mereka lelah, hingga subuh tiba, mereka ambil wudhu dan hendak izin tidur.


“Tapi bolehkah saya bertanya? Kalian siapa?” Budiman rupanya melihat betapa beraninya mereka menghadapi pocong-pocong itu, mereka tak gentar dan Alka bahkan mempermainkan pocong itu, karena Budiman mengintip saat kejadian itu terjadi.


“Pak, izin tidur dulu, kami semalaman tidak tidur.” Aditia meminta agar kawanan diizinkan tidur.


“Baiklah, tapi  tak apa kalian tidur di sini?” Budiman bertanya.


“Bapak keberatan? Kalau keberatan, kami tidur di angkot saja.”


“Tidak, justru saya takut kalian nggak nyaman.”


“Tidak apa-apa Pak, kami biasa begini kok, kami bahkan pernah tidur di tanah beratapkan langit, kami bukan orang seperti pada umumnya.” Aditia lalu tiba-tiba tertidur saat sedang berbicara itu.


Mereka kelelahan.


...


"Assalamualaikum." Seseorang menyapa dengan salam. Aditia terbangun, sangat silau, dia smapai harus menutup matanya karena silau itu.


Aditia terbangun dan mencari sumber suara, perlahan dia melihat ada sebuah curug, semakin maju melangkah, dia semakin bisa melihat curug itu dengan jelas. Ada seorang kakek berpakaian serba hitam, celana komprang dan ikat kepala khas orang Sunda jaman dahulu.


"Waalaikum salam." Aditia menjawab karena dia percaya lelaki tua inilah yang mengucapkan salam sebelumnya.


"Duduk sini Cu." Lelaki tua itu meminta Aditia duduk di sampingnya, di batu besar yang juga menjadi tempat lelaki tua itu duduk. Suara air terjun sedang menemani suasana curug yang asri dan sedikit mistis.


"Ari Aki saha (kalau kakek siapa)?"


"Saya bukan siapa-siapa, bukan juga apa-apa, saya bukan orang soleg bukan juga orang tidak soleh, bukan jin, bukan juga manusia, bukan yang harusnya kamu temui."


"Kalau begitu, kenapa kita bertemu saat ini?" Aditia bingung, dia tahu telah dipanggil ke suatu zona ghaib. Saat ini dia pasti telah tertidur.


"Saya sudah bicara dengan Wangsa semalam, aku minta kalian semua pulang. Jangan ke tempat kami, kami bukan musuh, bukan juga teman. Kami hanya menjalankan takdir, bukan ganggu."


"Tapi Ki, kenapa banyak korban?"


"Mereka bukan korban, itu takdir yang kami harus jalani, begituoun dengan takdir mereka."


"Apa mencelakai orang itu takdir? Bukankah semua makhluk diberi akal untuk bisa memilih?"

__ADS_1


"Kau anak muda yang pintar dan sok tahu, kau tahu kan bahwa aku bukan tandinganmu, kalau kau masih memaksa, mungkin kita memang sudah ditakdirkan untuk bertarung."


Aditia merasakan energi lelakibtua ini sangat besar, dia takut dan juga mawas diri. Jadi dia hanya terdiam tidak menerima tantangan itu.


"Sekarang kau tentukan sendiri, saat terbangun, ingin pergi atau menetapkan hari pertarungan kita?"


"Kenapa kita harus bertarung? Bukankah kita bisa berdiskusi?"


"Cu, ini wilayahku, aku dan wargaku punya pekerjaan sendiri, kalau tujuanmu ingin kami berhenti, kami tidak bisa, kau harus mundur, atau kami yang maju. Terserah yang mana, tapi kau harus cukupnilmu untuk menghadapiku."


"Apa pekerjaan kalian? Apa kalian iblis yang mengganggu manusia?"


"Tidak semudah itu menggolongkan kami, Cu. Kau harus lebih mendalami agar tahu bahwa kami bukan golongan yang termasuk dari apa yang kau katakan."


"Apa pekerjaanmu perintah Tuhan?"


"Cu, sudah kubilang tak ada yang sesederhana itu, apa pekerjaanmu juga adalah perintah Tuhan?" Lelaki tua itu bertanya.


"Tentu saja, kami menolong orang."


"Dengan? Memusnahkan jiwa-jiwa di pabrik itu? Membunuh banyak jin lain? Memelihara jin lainnya? Seyakin itu kau benar-benar melakukan perintah Tuhan?"


"Ki, hampura(maaf), kami hanya niatkan menolong tidak yang lain."


"Darimana kau tahu menolongmu itu jalan terbaik? Bagaimana kamu pikir manusia lebih berarti dibanding jin dan jiwa yang tersesat? Kau selalu mengorbankan bangsa jin dan jiwa tersesat untuk menyelamatkan manusia. Seolah kalianlah yang paling berharga."


"Ki, tapi ...."


"Pulanglah , aku beri waktu tiga hari, datang lagi ke sini kalau kau punya jawaban akan pekerjaanmu, jika aku bisa terima, maka aku akan beritahu pekerjaan kami, yang membuat Mulyana juga mundur dari membubarkan kami."


"Ayahku? Apa dia ...."


Aku memukul dada Aditia dengan sangat kuat, padahal hanya telapak tangan, Aditia merasa kesakitan lali tersadar, semua orang mengelilinginya.


"Akhirnya bangun juga!" Alka terlihat lega.


"Kenapa aku?" Aditia yang sudha bangun dari mimpi nyatanya, bertanya.


"Kau sudah tidur dua hari, kami bangunkan tapi tidak bangun-bangun, sepertinya ada yang emmbawa sukmamu, tapi Kakak saja tak bisa mendeteksi kemana sukamamu pergi." Ganding menjawab, Alka memberi minum Aditia teh hangat dan mengusap keringat di kening lelaki yang paking dia cintai.


"Pulang sekarang nanti aku ceritakan."


Yang lain bingung tapi tetap patuh.

__ADS_1


__ADS_2