Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 155 : Aditia 15


__ADS_3

"Bagaimana kalau sifat asliku begini. Aku adalah anak jagat? dan selama ini sikapku hanya pura-pura?"


Walau sedikit gemetar, Psikiater itu masih berusaha menjawab, "Tidak mungkin, karena anak kecil tidak mungkin mampu bersikap pura-pura. Yang kau maksud itu dirimu yang dulu masih kecil kan?"


"Kamu dan ayahku selalu bilang kalau aku orang yang istimewa bukan? Lalu kalau sikapku ternyata di luar batas tidak seperti anak-anak kecil lain. Kemungkinan itu selalu ada bukan?"


"Apa yang menjadi asumsimu?" Psikitaer ini sudah sangat biasa menghadapi anak-anak kritis seperti Aditia, Ganding dan Hartino. Kalau Jarni adalah tipikal yang sulit berkomunikasi dulu.


"Mungkin saja aku memang sakit? bukan seperti yang kalian pikirkan bahwa aku istimewa." Aditia masih dengan tangan terikat tertawa cengengesan.


"Tidak, aku diperlihatkan oleh tipe anak-anak seperti kalian sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan bahkan berpikir akan melewatinya. Jadi aku tidak akan salah diagnosa lagi."


"Oh ayolah. Kau terlalu percaya ayahku."


“Baiklah sesi ini akan berakhir di sini, karena seperti yang kau tahu, aku dan ayahmu bekerja sama hanya agar ibumu tenang dan menyembunyikan yang sebenarnya agar ayahmu fokus menyembuhkanmu. Aku memang percaya ayahmu dan akan terus begitu."


“Menyembuhkanku? Berarti benar aku sakit bukan?”


“Ya, tapi bukan sakit medis.”


Lalu Mulyana dan istrinya kembali masuk ke ruangan Psikiater itu dan menerima keputusan bahwa Aditia harus dirawat di rumah sakit seperti dahulu untuk satu minggu dahulu, lalu dilihat perkembangannya.


Mulyana dan istrinya pulang, setelah mengantar istrinya Mulyana kembali ke rumah sakit untuk menjemput Aditia.


“Yah, kau tahu, aku suka diriku yang ini.” Aditia berkata saat mereka berkendara ke suatu tempat.


“Dirimu yang ini, maksudnya?” Mulyana msaih menanggapi dengan tenang.


“Yang bebas, bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa takut.” Aditia yang tangan dan kakinya sudah diikat lagi setelah sebelumnya ikatan kaki dibuka, tidak bisa kabur atau bersikap seenaknya.


“Yang ini, aku bisa bebas bereksperimen menggigit burung dan ayam itu,” Aditia tertawa seperti senang dengan apa yang dia lakukan sebelumnya, “kalau tidak ketahuan, sebenarnya aku ingin menangkap kucing dan anjing untukku cabik lehernya dengan kuku. Tapi itu rasanya akan lama, karena aku perlu memanjangkan kukuku terlebih dahulu bukan Yah?” Aditia bertanya seolah itu bukan perkara yang luar biasa.


“Ayah heran, sebenarnya apa yang merasukimu sehingga kau menjadi mengerikan seperti ini, apapun itu, sungguh dia sangat hebat, karena tidak terlihat sama sekali.”


“Ini yang aku katakan sebelumnya ke Dokter itu, bagaimana kalau aku memang sakit, sakti mental. Sedang dulu aku baik karena berpura-pura, seharusnya kalian semua bangga padaku saat ini, karena aku berani jujur. Tidak lagi berbohong dengan sikapku.”


“Omong kosong kau anak muda, tidak ada yang mengenal dirimu lebih baik dari aku.” Abah Wangsa mengambil alih tubuh Mulyana, dia telah sangat geram melihat anak cucu yang akan menjadi tuannya berulah seperti ini.


“Kau siapa?” Aditia menyadari betul kehadiran Karuhun Mulyana.


“Aku kelak akan menjadi Karuhunmu dan aku tidak akan mau menuruti perintah dari anak bejat sepertimu.”


“Oh aku tahu, jangan-jangan sakit mentalku berasal darimu Ayah, karena kau sekarang juga sedang membual dan omong kosong! Karuhun apa itu, anak cucu? Tuan? Ah, kau ternyata segila itu Ayah. Aku makin senang menerima diriku seperti ini.”


Mulyana yang telah kembali mengambil alih tubuhnya berhenti di suatu tempat, rumah kosong terbengkalai.

__ADS_1


Ini adalah salah satu properti miliknya yang telah diwariskan oleh keluarganya. Properti ini tidak terurus sama sekali, karena rumah tiga lantai ini tidak diurus oleh Mulyana karena Mulyana tidak suka rumah yang terlalu besar. Membuat jarak yang jauh antara satu orang dan orang lain dalam keluarga.


Seperti keluarganya dahulu, Mulyana bahkan tidak tahu ayah atau ibunya ada di rumah karena saking luasnya rumah mereka, tidak tahu kakak dan adiknya masih hidup atau tidak karena saking cueknya satu sama lain. Rumah yang besar, uang yang banyak dan kebutuhan yang terpenuhi, membuat orang lupa bahwa ada sikap kekeluargaan yang harus tetap dijaga, seperti makan bersama, ngobrol keluarga dan lainnya.


Tapi di keluarga Mulyana, hal seperti itu dianggap membuang waktu, karena menghambat jadwal binis mereka yang padat.


Makanya Mulyana meninggalkan keluarganya, walau tetap diharuskan mengurus perusahaan. Dia memilih mengurus perusahaannya dari jauh, dia mengambil semua deviden untuk membuat yayasan dan membantu membiayai proyeknya dalam membantu orang terkait sakit yang aneh.


Kelak Aditia hanya tahu bahwa yayasan yang dia kenal, adalah milik kolega ayahnya, padahal yayasan itu milik ayahnya sebagai ketua maupun penyumbang terbesar.


Tidak lama, jeep datang ke rumah itu juga, tentu Dirga, siapa lagi?


“Kambuh Aditia Yan?”


“Nggak ngerti gue, bantu gue bawa masuk dia dulu ya.” Mulyana meminta bantuan Dirga untuk mengangkat Aditia masuk ke gedung tiga lantai itu, gedung yang gerbangnya di gembok walau telah terbengkalai, agar mencegah gelandangan atau pencuri menggunakan rumah itu untuk tempat maksiat.


Mereka sudah masuk di lantai satu, ada meja besar yang berbentuk bulat dan bangku yang mengelilinya.


Aditia didudukkan pada salah satu bangku di meja bulat besar itu.


“Kenapa elu bilang nggak tahu?” Dirga bingung.


“Gue nggak lihat apapun di dalam Aditia, nggak ada jin jahat yang merasuki, nggak ada santet dan sukmanya Aditia masih aman di dalam tubuhnya, masih lengkap.”


“Pak Dirga, aku tidak berbuat apa-apa, aku hanya berusaha jujur dengan diriku senditi.” Aditia yang menjawab.


“Lah kok anak jujur elu ikat?” Dirga jadi semakin bingung.


“Jujur macam apa yang menggigit ayam dan burungku dan menyiksa mereka dengan cara merobek lehernya dengan gigi, melepasnya saat leher itu setengah terkoyak? Dia ingin melihat penderitaan binatang itu hingga ajal menjemput. Lalu menyalahkan Tuhan karena menakdirkan mereka mati, katanya, kalau tidak ditakdirkan mati, tentu ayam dan burung itu akan sembuh. Jadi semua salah Tuhan makanya uanggasku mati!” Mulyana kesal, dia memang belum sempat memberi tahu Dirga detail tentang kambuhnya Aditia.


“Astaga Aditia! Kau menakutkan sekali!” Dirga kesal karena ditipu anak kecil.


“Pak, tapi aku berusaha jujur ke ayah, kalau aku seperti itu, semengerikan itulah aku. Daripada aku pura-pura baik terus, lebih baik aku jujur kan Pak?”


“Itu bukan jujur, tapi itu tindakan gila yang kau plot kejujuran, itu namanya tindakan tak bertanggung jawab yang kau klaim sebagai tindakan terbuka dan berusaha kelihatan menerima dirimu apa adanya sembari memaksa orang menerima sikap aroganmu. Itu semua soal keegoisan Dit, kau egois memaksa orang menerima sikap burukmu padahal hidup itu punya aturan. Seperti Tuhan yang memberimu akal dan pikiran untuk memikirkan semua prilakumu, lalu dibalut dengan hati nurani, agar semua pilihan sikapmu dilakukan dengan dasar hati nurani, karena manusia punya empati. Hanya Psikopat yang tidak punya empati, tapi aku yakin, kau bukan Psikopat. Kau hanya sedang dipengaruhi sesuatu. Kau itu keponakanku yang paling baik dari yang terbaik. Rasa tanggung jawabmu dan rasa empatimu tinggi sekali, ini bukan dirimu!”


Aditia terdiam, kata-kata ini cukup mengena, tapi tidak cukup membuatnya sadar.


“Aku akan melakukan ritual Binting Caya, inia adalah ritual pelindung bagi Kharisma Jagat. Jika ada yang merasukinya tapi dengan tingkatan ilmu tinggi yaitu merasuki tanpa berada di dalam tubuhnya tapi mengendalikan dari jarak jauh, ritual ini bisa menendang makhluk itu meski jaraknya sangat jauh dan terpisah pulau.”


“Caranya gimana Yan?”


“Lu bawa yang gue minta?”


“Ya, daun bidara, kelor, bambu kuning lima senti terakhir mawar.”

__ADS_1


“Ya kita akan menghancurkan semua tanaman itu menjadi bubuk dengan menumbuknya, ditabur berbentuk lingkaran di sekita tubuh anakku, lalu akan ada Japa yang akan dibacakan. Japa itu berisi ayat yang dibuat oleh para tetua Kharisma Jagat yang memiliki kata-kata magis hingga membuat jin jahat di tubuh seorang Kharisma Jagat akan kepanasan jika ada penyusup masuk ke dalam tubuh tapi tanpa berada di dekatnya.”


“Yan sorry, gue pusing dengernya, elu lakuin aja ya,” ini alasan Mulyana malas menjelaskan apa yang dia lakukan pada sahabatnya, karena sahabatnya sangat awam dengan hal ini, “eh tapi Yan, satu lagi, kenapa mawar? Gue tau lah, soal bidara, kelor, bambu kuning. Itu tanaman khas mengusir jin jahat, tapi kenapa mawar?” Dirga bertanya.


“Mawar itu untuk pembersih, bagi banyak orang mawar itu hanya wangi, tapi satu yang orang tidak tahu, bahwa mawar memiliki sebuah rahasia dalam kelopaknya.”


“Wah, rahasia apa itu Yan?”


“Mawar itu selain wangi, tapi dia juga bisa menyerap energi negatif dalam tubuh seseorang jika diletakkan di dekat orang yang sedang mengalami gangguan jin. Cara mengetahui seseorang dalam gangguan jin adalah, taruh mawar di dekat orang itu tidur, jika mawarnya layu lebih cepat maka, kemungkinan ada energi jahat di dalam tubuh orang yang berada di dekat mawar itu. Karena mawar menyerap energi negatif itu secara terus menerus. Mencoba membersihkan tubuh orang di sekitarnya yang memiliki energi negatif.”


“Wah baru tahu aku, aku pikir mawar mahal karena indah dan wangi serta modal untuk meromantiskan suatu hubungan. Ternyata lebih dari itu ya Yan.”


“Ya, begitulah, banyak hal yang kita tidak tahu di dunia ini ternyata punya manfaat lebih besar dari yang kita pahami.”


“Yaudah sekarang kita mulai tumbuh deh semua bahannya.”


Mulyana dan Dirga menumbuk bahan untuk melakukan ritual Binting Capa dengan membacakan Japa sebagai ayat pelindungan dan pembersihan.


Setelah bahan siap, Mulyana dan Dirga mendudukkan Aditia di tengah ruangan dan mengelilingi bangku yang dia dudukkan itu dengan bahan yang telah ditumbuh hingga menjadi bubuk.


Aditia hanya pasrah saja, tidak ada perlawanan sama sekali.


“Aku akan mulai membacakan Japanya, bantu aku Dirga, ketika dia kepanasan dan mungkin mengamuk, bantu aku untuk mengendalikan tubuhnya.”


“Ya, akan aku jaga supaya dia tidak mengamuk.”


Mulyana memulai ritual, dia membaca Japa terus menerus tanpa henti, Aditia hanya memperhatikan Mulyana, dia tidak terlihat bereaksi sedikitpun, dia hanya terus memandang Mulyana dan tidak merasa kepanasan atau mengeluarkan bau busuk jika memang ada yang menyusup dari jarak jauh, atau merasuki melalui benda atau lebih dikenal santet boneka, Aditia sama sekali tidak menunjukan gejala dikerjai orang lain dari jarak jauh.


Mulyana mulai kelelahan setelah satu jam penuh terus membaca Japa dan Aditia hanya tenang saja.


Mulyana berhenti, Dirga juga terlihat kelelahan karena hanya bisa bersiap saja dari tadi, memilih tidak duduk agar bisa spontan memegang Aditia jika dia mengamuk seperti dulu saat kerasukan jin jahat beberapa tahun lalu.


“Sudah kubilang. Aku tidak seperti yang kalian sangka, aku tidak istimewa atau luar biasa. Itu hanya perasaan berlebihanmu saja Ayah, kau berharap aku menjadi hebat, tapi sebenarnya aku hanyalah anak yang buruk seperti ini.” Aditia tertawa.


“Diam kau!” Mulyana mulai terpancing, karena sebenarnya dia juga buntu, baru kali ini dia tidak punya jawaban atas masalah ghaib yang anaknya alami.


“Ayah! Terimalah, anakmu ini hanya sampah. Karena jika kau tidak menerimaku apa adanya, kau harus mengurungku bahkan memasungku agar aku tidak berbuat jahat pada hewan, hingga sampai di titik aku mulai bosan dan beralih mencelakai manusia. Bagaimana? bukankah hidup kita terlalu seru hanya untuk selalu menjadi baik?”


Mulyana mendekati Aditia dan menamparnya.


“Kau tidak jahat! Kau anak baik, aku tidak sedang berharap berlebihan karena aku tahu kamu seperti apa, entah apa yang merasukimu, tapi aku takkan menyerah seperti saat aku menolong orang lain. Kau adalah anakkku, jika memang benar kau seburuk itu dan aku salah, maka aku tidak akan memasungmu agar tidak mencelakai orang lain, tapi mungkin aku akan menghabisimu, karena aku jauh lebih takut kau menjadi monster dan membahayakan manusia di dunia ini!”


“Aku suka kau yang seperti ini ayah. Rasanya menjadi anak yang dibunuh ayahnya sendiri terdengar keren. Kau seharusnya mulai menyiksaku dulu bukan?” Aditia tertawa terbahak-bahak.


Dirga yang melihat kelakuan Aditia jadi merinding. Setan yang sangat kejam dan bejat telah memasuki tubu Aditia, tapi kenapa Mulyana tidak bisa melihatnya, apalagi mengusirnya.

__ADS_1


__ADS_2