
“Kau sudah memperbaharui perjanjian bukan?” Alka bertanya dengan wajah sangat serius.
Aditia dan yang lainnya kaget, darimana kesimpulan itu berasal, bagaimana Alka tahu, apa itu karena Alka keturunan Jin?
“Dimana kau menanamnya? Di sini? di lift itu?” Apakah Alka hanya asal ucap? tapi kenapa dua makhluk itu seprti ketakutan, seketika Jarni dan Ganding langsung berlari, mendekati lift itu.
Sementara Alka menahan kedua makhluk itu agar tidak menghalangi Jarni dan Ganding.
Aditia menghunus kerisnya pada si Kuntilanak Merah, dia kepanasan, sementara Ganda Ruwa menghampiri yang kemungkinan adalah kekasihnya.
Ganding berteriak, “Mustika Anuman, Kak!” Alka tersenyum. Benar seperti yang Alka duga.
“Mustika Anuman, wah pertukaran yang luar biasa. Hajar Dit, musnahkan!” Alka bersiap, Ganding dan Jarni pada posisi, Hartino berada dibelakang Alka untuk memastikan bahwa kalau Alka jatuh, tidak ada celah untuk mereka berdua kabur.
Hanya butuh waktu satu jam bagi mereka untuk menghancurkan jin kafir ini. setelah mereka teringkus, Aditia menghunuskan keris dan Alka memusnahkan mereka dengan senjata yang tidak pernah dia keluarkan sebelumnya.
Cambuk api. Cambuk itu dia dapatkan saat sedang melakukan pertapaan di suatu gunung, dia dapatkan dari seorang kakek yang katanya adalah leluhurnya, kakek itu bilang, cambuk ini hanya bisa digunakan apabila dia bertemu dengan jin laknat yang kafir, jika jin itu melanggar perintah utama Tuhan, maka cambuk itu akan berguna.
Begitu cambuk itu mengenai tubuh kedua makhluk laknat itu, seketika tubuh astral mereka hancur dan tidak bersisi.
Aditia, Jarni, Ganding dan Hartino jatuh karena kelelahan, tidak mudah mengusir mereka.
Aditia melihat Alka mengusap tangannya, ada yang tidak beres sepertinya, tapi nanti saja dia tanya, Alka sepertinya menyembunyikan itu.
Semua orang keluar gedung itu, Mustika Anuman diambil oleh Jarni, Mustika itu akan disimpan di tempat biasa, sebuah museum mini dibawah kamar Jarni, tidak ada yang mampu mengendalikan semua benda ghaib itu selain Jarni.
Jarni memiliki tingkat kemampuan mengendalikan benda ghaib yang tinggi.
Semua orang sudah di angkot Aditia, mereka memutuskan untuk ke warung dekat kuburan, warung tempat mereja nongkrong.
Begitu sampai, mereka memesan kopi dan menuntut penjelasan dari Alka.
"Gimana kamu tau kalau ada mustika anuman di sana?" Aditia bertanya, yang lain ikut mendengar sembari makan gorengan, anak orang kaya tapi sangat sederhana dan loyal terhadap keluarga Pak Mulyana.
"Awalnya aku tidak tau, makanya aku memancing mereka dengan perjanjian baru, mereka menolak, tentu saja, tujuan mereka berarti bukan hanya tumbal, tapi sesuatu yang lebih besar.
__ADS_1
Sebenarnya aku merasakan energi tinggi saat masuk, energi itu melemahkanku sekaligus menguatkanku, karena aku keturunan dua alam, makanya efeknya bolak-balik, aku agak ragu ketika merasakannya, makanya aku berusaha mencari jawaban saat itu, satu-satunya yang mungkin menjadi pertukaran besar, hanya mustika Anuman."
"Bagaimana kau yakin itu Mustika Anuman, kan Mustika banyak, Ka." Aditia masih bingung.
"Ingat apa yang Pak Abdul katakan? Dia bilang bahwa Dukun itu tidak berhasil mengusir Jin itu dari tanahnya, padahal dia menggunakan teknik tertinggi dalam pengusiran, teknik yang digunakan orang Persia dalam menaklukan tanah Jawa yang belum ada manusia, tapi penuh dengan jin jahat, teknik ini selalu berhasil. Karema tingkat ilmu yang digunakan sangat tinggi.
Tapi, pada kenyatannya, Dukun itu mati. Dia tidak berhasil, kalau tidak berhasil, berarti ada penangkalnya."
"Dan penangkal ilmu tertinggi, harus sesuatu yang tinggi, Mustika Anuman, tidak diragukan lagi." Aditia melengkapi jawaban.
"Gila! Kalau nggak ada Kak Alka, kita pasti udah jadi bulan-bulanan tuh jin kali ya." Hartino menanggapi sambil makan mie rebus.
"Emang apa sih Kak, yang buat Mustika Anuman segitu hebatnya?" Ganding bertanya.
"Aku nggak tau secara pasti, tapi ini legenda dari mulut ke mulut ya. Jadi katanya, Mustika Anuman ini adalah tempat bersemayam Khodam Raja Kera Putih Ghaib, Raja Kera itu pada masanya membantu banyak Raja-Raja manusia dalam kekuasaannya.
Di kalangan Jin, Raja Kera memiliki posisi yang sangat tinggi, ditakuti bahkan disegani oleh Ratu Kidul.
Oleh karena itu, ketika kematiannya terjadi, banyak yang menjadi saksi, bahwa Khodamnya menempati batu-batu Mustika lalu tersebar ke segala penjuru dunia."
"Wah, berarti Mustika ini ditakuti dan disegani, bahkan hingga sekarang, tapi apa yang menajsi relasi antara Mustika itu demgan Kunti Merah dan Ganda Ruwa?" Ganding bertanya.
"Betapa menakutkannha ya Ka, dunia ghaib itu." Ada nada ngeri dalam ucapan Aditia.
"Apa yang kita ketahui, hanya sedikit yang Tuhan ijinkan untuk kita ketahui,itu daja udah luas banget Dit, makanya dari semua kejadian, kita harus selalu ambil hikmahnya."
"Terakhir Kak Alka," Hartino menghabiskan mienya sebelum akhirnya bertanya lagi, "kenapa Kak Alka, akhirnya yakin bunuh mereka ketika tahu Mustika itulah penyebab tanah itu dikuasai."
"Eh iya tuh, kenapa tuh?" Ganding dan Aditia setuju dengan pertanyaan yang sebenarnya sangat membuat penasaran. Kenapa juga baru kepikiran menghabisi mereka begitu tahu Mustika itu penyebabnya, kenapa nggak dari kemarin?
"Karena aku tahu, aku pasti menang." Alka tertawa terbahak-bahak.
"Hah?" Jarni yang biasanya diam saja ikut kaget.
"Mustika Anuman itu salah satu kekuatannya, mampu menangkal energi jahat, saat Mustika itu di tangan si Kunti Merah dan Ganda Ruwa, Mustika itu menjaga mereka, tapi jika mereka menghadapiku, maka mustika itu akan memberikan efek balik, karena aku memikiki cambuk yang terbuat dari Mustika itu. Cambuk api."
__ADS_1
"Oh pantas, Mustika itu berpihak pada kita, ternyata ada pasangannya di cambukmu, sungguh aku semakin takjub denganmu Alka." Aditia memujinya.
Alka memerah karena hanya Aditia laki-laki satu-satunya yang selalu memuji Alka.
Karena memang cuma Aditia yang berani, yang lain mana berani memuji Kakaknya.
Setidaknya gedung itu sudah aman, mereka harus memberitahu Pak Abdul dan pemilik barunya, gedung itu bisa segera operasional seperti biasa lagi.
Seseorang datang dengan berlari, dari kejauhan orang itu berteriak, tolong … tolong ….
Alka dan Aditia seketika menoleh.
“Siapa tuh Ka?” Aditia bertanya.
“Nggak tahu.”
“Apa sih?” Hartino bertanya.
“Lah itu, si Bapak teriak lari-lari minta tolong. Nggak kedengaran?” Aditia tertawa.
“Hah? Enggak, lu denger Nding?” Hartino bertanya pada Ganding.
“Enggak, orang nggak ada apa-apa kok, mana yang teriak? Jar, lu liat?” Jarni hanya menggeleng.
“Teh, liat nggak?” Aditia bertanya pada penjaga warung.
“Sepi ini, apaan sih.” Si teteh malah ketakutan.
“Wah, apalagi ini?” Aditia melihat Alka, jadi, hanya Alka dan Aditia yang melihat lelaki yang meminta tolong itu.
“Ka, kita bantuin?” Aditia bertanya.
“Iyalah, orang cuma kita berdua yang lihat, siap-siap semua. Ini kayaknya bakal berat lagi.” Lalu mereka kawanan yang sedang makan itu menghentikan kegiatan makannya dan mengikuti perintah Alka. Kakak sulung yang mereka paling hormati, jadi dalam keadaan apapun, jika Alka bilang bersiap, mereka akan tinggalkan.
“Wah, baru kelar udah ada aja lagi.” Ganding berkata.
__ADS_1
“Napa lu? capek?” Aditia meledek.
“Capek? Gue malah semangat, ya nggak Tin, Jar?” Ganding berjalan duluan mengikuti Alka, mereka memang sekawanan yang rada sinting.