
Ganding dan Aditia telah menemui beberapa orang yang lumayan sulit ditemui, seperti dugaan Ganding bahwa mereka semua ternyata bermasalah dengan pernikahannya. Ada yang bercerai ada juga yang hanya berpisah saja. Aditia mulai menyadari sesuatu.
“Jadi, maksudmu, tujuan lelaki tua itu baik?” sudah sangat larut, Aditia dan Ganding mampir di salah satu warung kopi di pinggi jalan, sebelum mereka berdua akan pulang. Alka dan Jarni masih di markas, mereka belum mengabari apapun.
“Memisahkan pernikahan memang baik, Dit? Bukannya itu tugas iblis, sebagai serangkaian pembuktian bahwa manusia itu nggak berhak dibela oleh Tuhan? Ini salah salah satu janji iblis kan? kalau katanya iblis minta ditangguhkan kematiannya, agar mereka bisa menggoda kita dan membawa sebanyak-banyaknya manusia ke dalam neraka, bersama mereka. Lalu bagaimana mungkin tujuan memisahkan pernikahan itu sebagai sesuatu yang bisa dibilang baik, Dit? Bukankah pernikahan adalah jodoh yang Tuhan pilihkan?”
“Kau benar Nding, tapi aku masih tidak yakin, bahwa keyakinan jin lelaki tua itu sebagai sesuatu yang buruk, mengingat Beni yang sangat serakah dengan uang dan tidak perduli dengan Sasa. Mungkin memang lebih baik mereka terpisah.”
“Dit ... kalau Kakak yang sakit, apakah kau akan meninggalkan dia?”
“Kau tahu jawabannya.”
“Kau tidak akan pernah meninggalkan Kakak, karena kau begitu mencintainya dan begitupun sebaliknya, cinta kalian terlalu dalam untuk cobaan dangkal seperti yang Beni dan Sasa alami, tapi berapa banyak manusia yang mencintai dengan dalam dan akhirnya bertahan dalam keadaan apapun Dit?”
“Jadi apa kesimpulanmu?” Aditia akhirnya bertanya pada orang paling jenius dalam kawanan.
“Begini Dit, bisa jadi ....”
Ganding menjelaskan apa yang ada dalam pemikirannya, Aditia mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Sementara di tempat lain Alka dan Jarni menemani Sasa makan malam, Sasa sudah lebih tenang, dia merasa setelah memasuki markas, jiwanya jauh lebih tenang.
Setelah makan, Sasa di bawa ke ruang tamu, Alka akan bertanya apa yang dia rasakan sebenarnya.
“Ada apa Bu Sasa? Apa yang kamu rasakan setelah keluar dari kuburan itu?”
Sasa memeluk Jarni, karena diingatkan tempat itu lagi oleh Alka.
“Aku takut, sangat takut.”
“Kami ingin membantu, bicarakan saja agar jiwamu sembuh Bu.” Jarni membujuk.
“Pada malam itu sebenarnya aku ragu untuk masuk, tapi karena tidak enak pada Beni yang sudah berputar-putar dan terlihat kelelahan, akhirnya aku masuk saja. Lalu terjadilah hal yang mungkin Beni sudah ceritakan pada kalian sebelumnya. Satu hal yang aku belum ceritakan pada Beni dan pasti dia juga takkan cerita pada kalian, yaitu tentang mereka yang mengerikan yang kami lihat malam itu, semua wajahnya adalah wajah ... Beni yang hancur!”
“Jadi kau melihat wajah suamimu, Bu?” Alka bertanya.
“Iya, dalam balutan kain kafan dengan wajah-wajah rusak itu, aku sadar setelah pagi kami ditanya oleh warga yang menemukan. Aku baru sadar bahwa wajah-wajah itu adalah wajah-wajah hancur Beni. Sejak itu aku selalu ketakutan saat di dekat Beni, sangat ketakutan sehingga aku tidak nyaman bersamanya.”
“Jadi selama ini kau ketakutan oleh suami sendiri?” Alka bertanya lagi.
“Iya, tapi aku tidak ingin dia pergi, karena aku butuh dia, aku takut sendirian tapi aku juga takut bersamanya.”
“Lalu apakah Pak Beni juga melihat wajahmu yang mengerikan di wajah setan-setan itu, Bu?” Alka bertanya lagi.
“Aku juga tidak tahu, karena kami jarang sekali berkomunikasi setelah kejadian itu, aku selalu ketakutan.”
“Apakah Pak Beni suami yang baik, Bu?” tanya Jarni.
“Dia ... kenapa kalian menanyakannya?”
“Jarni hanya ingin tahu apa alasan sebenarnya kalian diundang ke sana, karena jika kita ketemu alasannya, bisa jadi kami mudah menemukan obat untuk membuat ibu sembuh dari rasa takut saat melihat Pak Beni.” Alka mencoba mendapatkan kepercayaan Sasa.
“Beni bukan suami yang jahat, dia lelaki yang baik, dia sangat melindungiku dan juga bertanggung jawab.”
“Apa benar begitu, Bu?” Alka heran, karena sikap serakahnya yang kemarin sunggguh membuat mereka berpikir Beni bukanlah suami yang baik.
“Ya benar begitu, memang kenapa dengan dia?”
“Baiklah, setelah ini ibu Sasa istirahat aja dulu ya, kita ada beberapa hal yang harus dikerjakan.” Jarni memapah Sasa untuk masuk ke kamar lagi dan beristirahat, sementara Ganding dan Aditia akhirnya sampai ke markas, mereka berempat langsung berdiskusi.
“Jadi apa yang kalian dapatkan?” Alka bertanya pada dua orang yang izin pergi berdua saja sebelumnya.
“Aditia bilang bahwa jin tua itu sebelumnya mengatakan bahwa pernikahan adalah awal dari akhir, aku berpikir bahwa mungkin memang ada hubungannya antara tempat itu dengan pernikahan, bisa jadi memang tujuannya buruk ....”
“Atau baik Nding, ingat jangan terpaku pada satu keyakinan.”
__ADS_1
“Kau yang terjebak Dit, kau sedang goyah.”
“Nding, ini bukan karena aku menghormatinya, atau aku berpihak padanya, aku hanya memikirkan bahwa mungkin saja memang dia baik, bermaksud untuk membantu pernikahan seseorang menjadi baik atau berpisah karena memang tidak baik.”
“Dit!”
“Cukup! Mau bertengkar atau berdiskusi? Kalau mau bertarung aku siapkan lapangan belakang, tapi aku pastikan setelahnya kalian aku tendang dari kasus ini.” Alka kesal karena sudah malam, lelah dan terjebak oleh banyaknya informasi, tapi Aditia dan Ganding bukannya fokus malah ribut berdua.
“Baiklah, kalau kalian berdua, apa yang kalian berdua dapatkan?” Aditia akhirnya bertanya balik.
“Sasa bilang Beni orang baik, suami yang pelindung dan bertanggung jawab, tapi yang kita lihat berbeda. Apakah ini karena Sasa orang baik sedang Beni jahat, kadang orang baik memang sulit membedakan melihat mana yang jahat, karena dirinya teralihkan oleh pemikiran baiknya. Jadi dia tidak bisa membedakan baik dan benar.” Alka memberikan asumsinya.
“Nah, ini dia maksudku Nding, bisa jadi Beni bukan orang baik, sehingga dia bermaksud untuk memisahkan Beni dan Sasa karena Beni bukan orang baik, dia memang bertujuan baik, makanya dia berani bertanya tentang tugas kita. Bisa jadi dia adalah pelajaran bagi kita semua, maksudnya ....”
“Dit, kenapa tidak kau jadikan jin tua itu khodammu saja menggantikan abah Wangsa? Kenapa kau sangat memuji lelaki itu!”
“Nding sebentar, intuisi Aditia itu hampir tidak pernah salah, kau tahu dia Kharisma Jagat, bisa jadi dia benar.” Alka membela karena memang biasanya begitu. Bukan karena Alka mencintainya, tapi benar-benar pada kenyataannya, intuisi Kharisma Jagat jarang meleset.
“Berlaku bagi Ayi, tapi Aditia, masih harus banyak belajar!”
“Aku takkan marah Nding, aku akan menahan hinaanmu, tapi mari kita buktikan, hingga jika salah satu dari kita salah, maka yang lain benar, sehingga kita bisa memiliki rencana cadangan.”
“Aku suka cara kalian berdua menyelesaikan perbedaan pendapat.”
...
Ganding tentu setim dengan Jarni, sedang Aditia akan bersama Alka, mereka berdua akhirnya mengumpulkan seluruh data yang dibutuhkan untuk menjawab atas pertanyaan jin tua itu.
“Assalamualaikum.” Aditia meminta Budiman menjemputnya di depan gang, karena dia sampai saat ini tidak bisa menemukan gang yang menjadi pintu kuburan itu, karena masih terselimuti oleh selimut ghaib.
“Pak Budiman, akhirnya datang, Pak bisa tolong ceritakan soal hitungan yang Bapak pernah ceritakan pada kami sebelumnya Pak? karena saya perlu memanggil jin tua itu untuk meminta dia mengirimkan undangan, saya dan teman-teman akan datang ke sini besok dengan undangan. Saya perlu tahu apa yang bapak maksud dengan hitungan dan juga undangan itu.”
“Sebentar, beberapa waktu lalu kalian diundang, kalian bilang memang dapat undangan, tapi kenapa sekarang kau malah bingung soal undangan, kalian bohong?” Budiman baru sadar telah dibohongi oleh anak muda ini.”
“Iya benar, Pak. Sebenarnya tujuan kami ke sini adalah karena amanah ayah saya yang sebelum meninggal, meminta kami menyelidiki kasus dikuburan ini, jujur Pak, kami ini orang yang biasa berhubungan dengan hal ghaib, bukankah Bapak juga sudah tahu kalau kami semua bisa menangani mereka ketika di rumah bapak beberapa waktu lalu itu?” Aditia memaksa.
“Jadi dulu sekali, saat saya pindah ke kuburuan ini, saya sudah diberi banyak wejangan oleh orang sebelumnya, kebetulan orang sebelum saya yang menjaga kuburan ini adalah paman saya, adik dari bapak saya, beliau sudah sangat tua dan tidak mampu lagi bertanggung jawab menjaga pemakaman ini.
Makanya dia memberikan tanggung jawab itu pada saya, kami digaji oleh pemerintah daerah, karena ini tempat pemakaman umum, ada biaya operasional yang menjadi anggaran daerah, gajinya cukup untuk makan kami dan juga pendidikan anak saya.
Awal tinggal di kuburan ini, istri saya sangat ketakutan, hampir setiap malam kami kedatangan tamu, awalnya kami pikir beneran tamu, taunya mereka penghuni kuburan ini yang memberi salam, istilahnya perkenalan.
Mereka datang dalam wujud yang baik dan tidak menakutkan, memperkenalkan nama dan juga sekedar berbasa-basi, keesokan harinya kami menemukan nisan dari yang bertamu tersebut dan sudah meninggal bertahun-tahun sebelumnya.
Akhirnya setelah seminggu penuh perkenalan, saya bicara yang sejujurnya pada istri saya, bahwa makam di sini, bukan makan biasa, makam di sini penuh peraturan karena terkenal sangat angker, saya memohon pada istri saya untuk menerima nasib kami untuk tetap tinggal di sini, karena saya tidak punya pekerjaan lain, di sini rumah gratis dan kami digaji, itu semua cukup.
Kami hanya perlu untuk menjaga semua peraturan yang pamanku berikan.
Yaitu mengenai hitungan hari di mana undangan itu disebar, aku dan keluargaku tidak diperkenankan untuk keluar, kalau kami sampai keluar, maka kami akan menjadi korban. “
“Bagaimana hitungannya?” Aditia bertanya lagi, dia juga menyeruput kopi yang sdang dia minum serta mengambil goreangan yang tersaji di sana.
“Hitungannya adalah begini, bagi kami orang sunda, hari itu memiliki hitungannya sendiri, Aditia tahu?”
“Ya tentu saja, saya juga orang Sunda tapi tidak begitu paham soal hitungan tersebut, bisa jelaskan Pak?”
Budiman mengangguk, lalu mulai menjelaskan, “Begini hitungannya, Lungguh agar menjadi Sri, tidak diperkenankan Dunya, Lara adalah awal hingga menjadi Pati. Pernah dengar itu?” Budiman bertanya.
“Tidak, aku tidak pernah mendengar kata itu Pak.”
“Sri artinya 1, lungguh artinya 2, dunya artinya 3, lara artinya 4 dan pati artinya 5. Itu semua adalah nama penyusun angka utama dalam hitungan sunda. Ketika kau ingin melakukan suatu hajat apapun, kau harus memperhatikan angkat ini, angka 1, 2 & 3 adalah angka baik, tapi angka 4 dan 5 tidak diperkenankan mengadakan hajat.
Karena di hari lara dan Pati lah mereka mengadakan hajat, di sini, di pemakan ini, yaitu, pada tanggal 4 dan lima.”
“Setiap bulannya?” Aditia bertanya.
__ADS_1
“Ya, setiap bulannya, bahkan diangka belasan atau puluhan yang ada angka empat dan lima, ‘mereka’ mengadakan hajatan, pada waktu itu biasanya, rumah kami diketuk oleh tanpa wujud malam sebelumnya, lalu ada setengkai bunga kamboja yang menjadi pertanda bahwa esok hari setelah maghrib, kami tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah. Kami mengerti, maka kami akan diam di rumah setelah sehari sebelumnya mempersiapkan semua kebutuhan yang kami butuhkan untuk makan. Hanya malam hari kami tidak diperkenankan keluar, walau kami mendengar teriakan, jangan harap kami akan keluar.
Keselamatan kami jauh lebih penting dari orang-orang yang ‘mereka’ undang.”
“Menarik, sri, lungguh, dunya, lara dan patih, lalu apa lagi Pak? apa bapak tahu nama lelaki tua, atau jin tua yang menjadi pemimpin mereka?”
“Ada pemimpinnya?” Budiman bingung, karena dia tidak pernah bertemu semacam yang Aditia tanyakan.
“Berati Bapak belum pernah bertemu dengan jin tua itu.” Aditia mengambil kesimpulan.
“Jin tua? Tidak tahu, kami hampir tidak pernah melihat mereka dalam wujud mengerikan seperti malam ketika kalian datang, makanya kami heran kemarin kenapa mereka marah sekali tapi tidak berani masuk ke dalam rumah.”
“Pak, jadi bapak dapat hitungan ini dari paman Pak Budiman yang dulu bekerja di sini, di pemakan ini?”
“Ya, beliau sudha bekerja di pemakaman ini selama tiga puluh tahun, dia bekerja sangat lama dan tidak menikah, bisa dibilang mengabdikan hidupnya menjaga makam ini, tapi sayang, beberapa bulan lalu beliau meninggal di kampung, beliau dijaga oleh kerabat kami.”
“Pak Budiman, apakah bapak tahu, saat hajatan, ‘mereka’ ngapain sih?” Aditia penasaran.
“Nggak tahu lah Dit, orang saya aja nggak keluar rumah, cuma nih ya, dari para korban, rata-rata sama, mereka sebenarnya akan menghadiri pernikahan teman atau kerabatnya, tapi entah kenapa mereka malah masuk ke pemakaman ini dan menyangka bahwa ini adalah tempat pernikahan teman atau kerabat yang mereka tuju, ketika paginya mereka saya temukan, pasti dalam keadaan linglung, bahkan meninggal, tapi yang meninggal itu, sudah kedua kalinya ‘diundang hajatan’, yang pertama selamat, yang kedua dia meninggal.”
“Hah, kedua kalinya, kemarin bapak nggak cerita.”
“Iya maaf, saya lupa, namanya juga kejadiannya nggak beruntun. Saya baru ingat pas kamu tanya tadi.”
“Jadi tidak selalu dihitungan itu ada korban Pak?” Aditia bertanya lagi.
“Tidak selalu, kadang ada, kadang enggak.”
“Yang meninggal itu juga suami istri?”
“Tidak, yang meninggal hanya istrinya.”
“Innalillahi ... lalu Pak?”
“Ya begitu aja.”
“Bapak nggak ada niat pindah dari sana? Aditia bertanya tiba-tiba.”
“Nggak lah Dit, sudah terbiasa, selama mereka tidak jahat dan kami juga tidak ganggu, kami hidup berdampingan saja.”
“Ya, mereka perlu orang menjaga makam agar tetap bersih, makanya mereka tidak terlalu mengganggumu Pak.”
“Mungkin.”
“Satu lagi Pak, apakah memang selalu orang yang diundang itu berpasangan ya?”
“Iya, kan kemarin pas kamu dan dan temenmu nanyain korban, kalian udah saya beritahu, kalau yang ‘diundang’ itu selalu pasangan.”
“Baiklah Pak, terima kasih, mari kita ke depan gang lagi, say tidak bisa melihat gang itu karena kami memang tidak diizinkan melihat pintu masuknya, saya butuh undangan agar besok kami bisa masuk dengan leluasa.”
“Memang besok hitungannya, harusnya hitungannya lusa.”
“Oh iya, lusa tanggal 4 ya, kalau begitu, aku akan meminta ‘undangan’ lusa saja.” Aditia baru ingat kalau datang di hari hitungan akan lebih baik, sekalian lihat hajatan dan makan enak.
“Cara dapat undangannya gimana?” Budiman bertanya.
“Dengan mantra.” Aditia bangun, diikuti oleh Budiman setelah sebelumnya membayar makan dan minum mereka, tentu makan dua bakwan, bilangnya dua, tidak satu.
Saat sudah di depan gang masuk pemakaman, Aditia bertanya, di mana pintu gang itu, Budiman cukup heran, karena Aditia dan kawan-kawannya, dari kemarin tidak bisa melihat pintu masuk itu, padahal Budiman dan yang lain mungkin bisa melihat seperti biasa.
“Ini di sini.” Budiman menunjuk pintu masuk gang, dalam penglihatan Aditia itu adalah dinding semen yang tertutup.
“Baiklah, kalau begitu sebentar ya.” Aditia memegang dinding tak kasat mata itu, mengucapkan mantra bahasa sunda yang artinya adalah salam untuk kedatangan, tidak lama kemudian, muncul bunga melati rocean di sana, bunga melati itu kelak akan dikalungkan ke leher Aditia, untuk menjadi petunjuk pintu masuk mereka, ketika lusa akan datang untuk memberikan jawaban atas pertanyaan jin tua itu.
________________________________________
__ADS_1
Catatan Penulis :
Ada yang tahu hitungan di atas? eh ini hari kamis ya, malam jumat dong. merinding nggak?