Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 340 : Bangga 18


__ADS_3

“Jadi apa idemu?” Aditia bertanya.


“Ingat tanah kuburan yang kita miliki?” Alka bertanya pada kawanan, minus Jarni yang masih istirahat.


“Ya, tentu saja.” Aditia menjawab.


“Kalau begitu apakah kalian ingat tanah kuburuan ini memiliki fungsi apa?” Alka bertanya lagi.


“Ya untuk mengubur lah, apalagi?” Aditia tidak sabar sebenarnya dengan penjelasan Alka.


“Bukan itu, bodoh!” Ganding kesal dan mengambil alih jawaban, “tanah kuburan sering digunakan untuk media santet, karena saat membawa tanah itu, maka akan ada ruh yang mengikutinya. Ruh itu bisa digunakan untuk membuar target santet sakit, karena ruh yang mengikuti itu, membawa semua keburukan jasad yang terkubur di dalamnya. Media ini sungguh ampuh makanya selalu menjadi syarat dari si pemesan santet untuk disediakan.”


“Oh, tidak heran kalau … Ani, Bagus dan anak-anak lain melihat ruh anak yang mengerikan, karena kemungkinan tanah ini diambil dari kuburan anak-anak yang meninggal dunia?” Aditia menarik benang merahnya.


“Ya, benar, tepat sekali.” Alka Senang akhirnya Aditia mengerti.


“Hubungannya dengan idemu?”


“Adit!!!” Semua orang kesal karena dia tidak mengerti juga, maklum dia hanya jagoan lapangan, tapi soal teori tak ada yang bisa mengalahkan kehebatan Ganding dan Alka.


“Sorry, aku nggak paham.”


“Kita keluarkan Bagus dari kamarnya.”


“Kak! Itu terlalu berbahaya.” Hartino agak keberatan.


“Percaya padaku, dukun itu belum melepas Bagus, karena ruhnya sudah di sana, seperti rencana Aditia, bahwa kita harus menangkap calonya, mengintai di tempat dan waktu yang tepat, yang paling penting adalah, tempatnya! Jangan sampai gegabah hingga membuat orang ini babak belur.” Alka menunjuk Aditia, dia juga kesal, ternyata rencana Aditia tidak matang, padahal tadi saat dibisiki oleh Aditia rencana itu cukup matang. Tapi pada saat dilakukan sama sekali jauh dari sempurna.


“Trus setelah calo atau dukun itu datang, kita ringkus mereka?” Aditia berkata.


“Tidak bisa Dit, kalau kita terlalu dekat, dukun itu akan merasakan energi kita.” Ganding membantah.


“Trus abis dikeluarin dari kamar, Bagus mau dibiarin aja gitu sendirian?” Alisha kali ini penasaran, dia seperti suaminya, tidak suka kalau Bagus dijadikan pancingan.


“Ya, kita akan biarkan dia sendirian.”


“Kak!” kawanan marah.


“Kau tahu kan, kalau ruh Bagus akan kembali ke tubuhnya begitu tubuh itu dikeluarkan dari kamar itu, dia akan membawa sukmanya yang masih tertinggal di dalam tubuh koma itu lalu menghembuskan nafas terakhir setelah sukmanya terbawa sempurna oleh ruhnnya sendiri, benar begitu bukan?” Alka hanya memastikan.


“Ya, itu benar, Kak,” ujar Ganding.


“Maka saat Bagus kembali ke tubuhnya untuk mengambil sukma itu, aka nada ruh anak kecil yang mengerikan mendampinginya, semacam penjaga yang sengaja dikirim oleh dukun itu untuk mencelakai Bagus dan memastikan Bagus akan meninggalkan tubuhnya dengan sempurna.”


“Itu juga kemungkinannya besar.”


“Maka saat itu, kita bisa menangkap Bagus dan juga ruh anak yang tanah kuburannya diambil untuk dijadikan bahan kopi oleh dukun itu untuk diminum oleh Bagus. Kita tangkap keduanya, Bagus kembali ke tubuhnya, masuk lagi ke kamar yan sudah Bapak pagari dengan ilmu yang cukup tinggi dan sisanya, ruh anak itu … kita tawan untuk selanjutnya ….” Alka melihat ke semua orang dan semuanya mengerti.



“Apa tidak masalah kalau Bagus dikeluarkan?” Ayahnya Bagus bertanya, dia agak takut, karena saat ini kondisi anaknya stabil.


“Kemungkinan kenapa-kenapa dan tidak itu selalu berdampingan Pak, tapi satu yang bisa kami janjikan, kami nggak akan menyerah untuk menyelamatkan anak Bapak, karena Pak Mulyana menitipkan amanah untuk menyelesaikan kasus ini,” Aditia berkata.

__ADS_1


Aditia dan Alka  ada di rumah sakit di mana Bagus dirawat.


“Aku tidak mau menyesal lagi, bahkan beberapa waktu ini kami berpikir bahwa … apa seharusnya kami melepas semua alat bantu hidup ini hingga Bagus … bisa pergi dengan tenang, kami ingin Bagus tidak sakit lagi.”


“Pak! Pantas saja Bagus kritis sebelumnya, ini pasti karena dia merasakan bahwa orang tuanya sudah mulai putus asa, kalau anda berdua sebagai orang dewasa menyerah lalu bagaimana dengan anak kalian yang bahkan masih menggantungkan harapan akan dijemput oleh kalian suatu hari nanti, anak itu lemah dan dia masih berpegang teguh dan percaya bahwa ayah dan ibunya akan selalu menantinya kembali atau bahkan menjemputnya!” Alka marah.


“Kami tahu kalau ini mungkin jahat, tapi … kami takut, sangat takut kalau sebenarnya kami menyiksa anak kami yang seharusnya sudah tiada.”


“Bu, kalau ibu bicara begitu, ibu sudah yakin bahwa Bagus mati padahal jantungnya masih berdetak, anda ini ibu macam apa! lupa anda bahwa Bagusi ni dulu hanya seorang bayi yang tidak bisa apa-apa dan tidak berdaya, tapi anda percaya dan yakin bahwa anak anda kelak akan menjadi anak yang hebat, anda mengurusnya, mengajarinya dan bersabar atas setiap tingkah lakunya yang mungkin membuat anda kesal. Lupa Anda?!”


“Aku … aku ….”


“Kalau selama beberapa tahun ini anda bisa bertahan, maka bertahanlah lagi untuk beberapa hari saja, bertahanlah! Kami akan berjuang untuk mengembalikan Bagus, kuatkan hati anda, kumpulkan keyakinan anda lagi, kuatkan diri anda untuk bertahan untuk menunggu Bagus pulang kembali.” Alka memaksa, walau dia juga tahu, tak mudah bertahan pada sesuatu yang tidak pasti.


“Rencananya akan kami jalankan malam ini, tapi kami tidak akan ada di sana, di kamar baru itu. Bagus akan kami pindahkan.”


“Loh kok bisa begitu Dit?” Ayahnya Bagus bertanya.


“Kalian berdua yang akan menunggui anak kalian, sementara kami akan jauh dari sini. Dukun itu hebat, mereka bisa merasakan keberadaan kami Pak, karena kami sudah berusaha mengejarnya, tapi sayang, dia terlalu licin.


Makanya sekarang, hanya kalian berdua yang akan menjaga anak kalian di kamar baru, ini mungkin akan berat, karena bisa jadi kamar itu akan mencekam, tapi percayalah, kami takkan jauh.”


“Walau tidak jauh, tapi apakah akan aman? Bagaimana kalau ternyata dukun itu lebih cepat dari kalian dan membawa Bagus untuk selamanya?” Ayahnya Bagus khawatir.


“Kami tidak akan jauh, percayalah!” Aditi menjelaskan.


Akhirnya kedua orang tua Bagus setuju, Jarni yang sudah pulih, Ganding, Hartino dan Alisha sudah mempersiapkan kamar itu, karena ini rumah sakit milik mereka, di mana ketua yayasannya adalah pegawai perusahaan mereka, maka mereka bisa lebih mudah melakukan pengaturan di rumah sakit itu.


Alat bantu hidup Bagus sudah di pasang di sana, CCTV juga sudah di pasang pada setiap sisi di kamar itu, total ada 5 kamera yang di pasang oleh Hartino. Kamer itu ada di empat sudut kamar dan yang terakhir ada di kamar mandi. Kamera ini khusus, karena kamera yang digunakan telah Alka mantrai, kamera ini akan mendeteksi kehadiran entiti lain seperti jin dan ruh.


Semua peralatan ini akan membantu kawanan dalam menjaga agar Bagus tetap bisa dijangkau mesikipun kawanan tidak berada di dekat mereka.


Setelah persiapan sudah selesai, Bagus pun dipindahkan, saat dia dikeluarkan dari kamar itu, terasalah angin yang cukup kencang, Aditia dan Alka bergegas, karena mereka tahu, Bagus diintai dan tidak mungkin mereka akan datang dengan frontal, hanya memastikan bahwa waktunya tepat.


Setelah Bagus sudah di kamar barunya, seluruh alat penunjang hidupnya dipasang kembali, kawanan kembali ke tempat mereka, berbeda gedung dengan rumah sakit itu, mungkin butuh sekitar 10 menit untuk mencapai lokasi kawanan kalau dari rumah sakit itu.


Orang tua Bagus menunggui Bagus di kamar, mereka seperti biasa mengbrol dan bersantai di kamar itu.


“Kamera sudah menyala semua.” Hartino berkata, dia memperhatikan kamera di monitor yang sudah mereka siapkan.


“Har, mereka sudah terpantau di kamera? ini masih sore, kemungkinan mereka takkan datang sekarang. Dukun itu maksudku.”


“Iya Nding, sudah terpantau di kamera, aku yakin mereka akan datang malam hari.”


Waktu berjalan terus tanpa terasa sudah malam, waktu ini sudah pukul sepuluh malam, Ganding, Jarni, Alisha dan Hartino masih terus berjaga-jaga.


“Ada pergerakan!” Hartino berteriak.


“Dimana?” Ganding bertanya, dia tidak mencoba cari apa yang dikatakan oleh Hartino.


“Itu lihat, energi berwarna ... kuning! Ini adalah energi ruh penasaran bukan?” Hartino menebak.


“Seharusnya begitu, berarti ini kemungkinan Bagus atau ruh anak yang diambil tanah kuburannya bukan?” tanya Ganding lagi.

__ADS_1


“Iya kau benar, lihat dia semakin mendekati tubuh Bagus, kita harus segera ke sana!” Semua orang berlari dari tempat mereka berada, butuh waktu untuk sampai ke sana.


Sementara di kamar itu ....


“Dekati ragamu, bawa seluruh sukmamu!” Ruh anak itu memerintah, Bagus terlihat sangat pucat dan lemah.


“Aku rindu ibu dan ayahku.” Bagus hendak mendekati orang tuanya.


“Nggak boleh!” Ruh anak itu memerintah lagi, tapi Bagus tetap saja hendak mendekati orang tuanya, saat dia hampir sampai, tiba-tiba masuk seseorang.


“Kakak!” Bagus makin senang dengan kedatangan kakaknya, tapi kesenangan itu hanya bertahan sebentar saja.


“Ayah ngapain sih mindahin Bagus ke ruangan ini? bukannya kita udah nyerah ya? bukannya kita bakal lepas semua alat penunjang hidup Bagus?”


Langkah Bagus terhenti, apa yang dia dengarsungguh menusuk jiwanya.


“Diam kau!” Ayahnya berkata dengan tegas.


“Mau sampai kapan kita nunggu? Ini udah  beberapa tahun, mau sampai kapan? Kalau dia bangun pun, dia pasti akan cacat, bukan seperti orang normal. Trus kalau nanti dia dewasa dan kalian semakin menua, siapa yang akan menjaganya! Aku?” Kakkanya terlihat sangat kesal dan memuntahkan semua amarahnya, tidak heran, beberapa tahun ini oranga tuanya selalu fokus pada Bagus, hingga lupa memperhatikan kakaknya, tapi kan dia sudah cukup besar untuk menjaga dirinya sendiri, perasaan iri memang bisa menghinggapi siapapun, termasuk seorang kakak yang sudah dewasa.


“Diam kau!” Ibunya berteriak dan menunjuk kakaknya Bagus untuk diam.


“Tidak mau! aku capek diam terus! Kalian memperhatikan anak yang sudah tak bisa apa-apa lagi ini secara berlebihan, dia sudah seperti orang mati, tapi kalian masih saja berusaha memperhatikannya. Sedang aku yang masih hidup, kalian abaikan, aku yang butuh kalian!” Kakaknya Bagus berteriak lagi.


“Lihat, keluargamu tidak menyukaimu, dia ingin kau MATI ....” Ruh anak itu berbisik, Bagus menangis dan sangat sakit hati, mata bagus berubah menjadi merah dan lama-lama kehitaman, dia lalu putar badannya dan bersiap untuk mendekati tubuhnya yang telah begitu lama dia tinggalkan.


Bagus memegang kepala dari tubuhnya sendiri, dia hendak menarik sukmanya dari kepala, ruh anak itu terlihat senang karena mampu membuat Bagus akhirnya mau menarik semua sukmanya dan mengabdi pada dukun biadab itu.


Perlahan tapi pasti, Bagus menarik sukmanya, pertama lepas dari telapak kaki, lalu ke betis, ke paha, perut, dada dan sebentar lagi sempurna! Sukmanya tertarik semua. Sempurna! Bagus berhasil menarik semua sukmanya dan ... dia sesak nafas, seperti orang yang sedang sakaratul maut.


Ruh anak itu semakin tertawa lebar, akhirnya  tugas yang diberikan si mbah dia bisa penuhi setelah ditunda selama beberapa tahun karena Bagus masih tidak rela meninggalkan tubuhnya.


“Sekarang kau ikut aku, kau akan lebih bahagia berasama kami, kita akan bersama selamanya, bersama si mbah dan teman-teman, mereka bukan orang baik, mereka mau membunuhmu, sudah biarkan tubuhmu mati, kita sekarang akan bersama selamanya!” Ruh anak itu membujuk lagi agar Bagus segera pergi dari tempat ini, sementara tubuhnya sedang menghadapi kematian.


Kawanan masih terus berlari, mereka belum juga sampai.


“Bagus ....” Ruh anak itu terus saja membujuk, sementara Bagus yang sukmanya sudah terkumpul sempurna, masih berat meninggalkan orang tua dan juga kakaknya, sebagian dirinya ingin tetap bersama keluarganya, tertawa bersama, makan bersama dan bersenda gurau bersama. Di tempat itu Bagus tidak suka, gelap dan tidak menyenangkan, walau ada Ani yang baik hati, tapi tetap saja, tidak sebanding dengan keluarganya.


“Aku ingin bersama mereka.” Bagus ragu lagi.


“Mereka yang tidak mau bersama denganmu, makanya mereka mau kamu ... MATI.” ruh anak itu mencoba untuk memperdayai Bagus lagi.


“Mereka mungkin lupa saja, kalau aku bangun, mungkin mereka akan ingat dan mau bersamaku lagi, aku mohon.” Bagus memohon, sementara tubuhnya masih saja kejang-kejang.


“Tidak akan, kau lupa ibumu memaksamu keluar rumah padahal kau lelah, dia memang inginnya kau pergi, sudah ikut aku sini mana tanganmu!” Ruh anak itu kesal karena Bagus masih saja ngeyel tidak mau ikut.


“Aku ingin bersama ayah dan ibuku. Kau tidak ingin bersama orang tuamu?”


“Tidak, mereka bukan orang baik, aku dibuang ke panti asuhan, lalu aku mati karena disiksa, kau mau sepertiku? Mereka ingin kau tiada, si anak yang tidak membanggakan buat ibumu, makanya dia ingin kau pergi. Kakakmu saja ingin kau pergi.”


“Apa aku benar-benar tidak bisa kembali pada keluargaku?” Bagus bertanya lagi.


“Tidak bisa, ayo pegang tanganku, kita harus bergegas.” Ruh anak itu merasakan energi kawanan yang semakin kuat, dia harus cepat pergi, makanya dia terus meminta Bagus mengulurkan tangan.

__ADS_1


“Baiklah, kalalu begitu aku akan ikut denganmu. Ayah, ibu dan kakak, selamat tinggal.” Bagus meraih tangan ruh anak itu.


__ADS_2