Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 235 : Petuah 6


__ADS_3

“Ini sudah dua hari dan kau tidak melakukan apapun!” Aditia akhirnya bertanya, sedang yang lain hanya tetap menunggu.


“Jangan kasar!” Hartino kesal karena Aditia tiba-tiba membentak Alka.


“Aku tidak bermaksud kasar, tapi kau hanya sibuk membuat ramuan tanpa berbuat apapun, nyawa orang taruhannya. Apakah kau yakin saat kita kembali, Ramdan masih hidup!”


Alka seolah tidak mendengar, dia terus saja mengaduk ramuan yang dibuat.


“Dit, bisa keluar dulu nggak, biat gue yang ngomong sama, Kakak.” Ganding meminta Hartino membawa Aditia keluar, termasuk Jarni dan Lais.


Begitu hanya ada mereka berdua di dalam gua, Ganding akhirnya terpaksa bertanya soal apa yang dia khawatirkan selama dua hari ini.


“Kak, apa dia menawarkan sesuatu?” Ganding langsung fokus pada apa yang ingin dia tanyakan.


“Kau tidak percaya padaku?” Alka ebrhenti mengaduk dan meliha Ganding dengan tatapan tajam.


“Aku selalu percaya padamu, apapun keputusan dan perintahmu aku akan percaya dan lakukan. Tapi jika berhubungan dengan Lanjomu, aku tidak bisa diam saja.”


“Kau pikir Lanjo sedang menguasaiku?” Alka bertanya lagi, tapi marahnya telah reda dan dia mulai mengaduk ramuan kembali.


“Itu yang aku khwatirkan.”


“Kalau aku bilang aku menerima tawaran Margayu gimana?” Alka bertanya dengan wajah yang tidak bsia ditebak.


“Tawaran apa?”


“Mendapatkan apa yang aku inginkan.”


“Kak!” Ganding mulai resah hingga dia memegang paksa tangan Alka yang membuat Alka berhenti mengaduk ramuan.


“Aku tidak bercanda, aku sedang membuat ramuannya, lalu Margayu akan memberikan mantra itu padaku.”


“Ramuan apa, mantra apa!” Ganding masih memegang tangan Alka dengan kasar.


“Mantra menaklukan tuan.”


“Kak! Kau mau menaklukan Aditia?” Ganding bertanya.


Kau keluar, aku harus mempersiapkan semua.


“Kak!”


“KELUAR!!!” Alka berteriak dan membuat Ganding pindah lokasi dari gua ke luar bersama dengan yang lain.


“Nding, dilempar sama kakak?” Hartino bertanya.


“Kok?” Jarni berlari hendak masuk ke gua.


“Jangan!” Ganding menahan Jarni, dia tahu, kalau Alka sedang dikuasi oleh Lanjonya. Dia akan menjadi kejam, karena prioritasnya adalah tuannya.


Jarni mengerti kekhawatiran Ganding, makanya dia tidak jadi masuk.


“Turuti saja semua yang dia perintahkan, kalian harus bergerak sesuai yang aku arahkan. Seperti perjanjian kita sebelumnya, kalau kakak sedang tidak bisa memimpin, berarti aku yang bertanggng jawab pada kelompok ini.” Ganding berkata dengan tegas.


“Aku bukan bagian dari perjanjian itu.” Aditia menolak dan hendak masuk ke dalam.


“Sorry, Dit.” Ganding memukul Aditia secara tiba-tiba dan membuat dia jatuh pingsan.


Setelah Aditia ditidurkan di angkot, semua orang berdiskusi di mobil angkot Aditia bagian belakang penumpang pada angkot itu.


“Lanjonya kambuh?” Hartino bertanya, Lais hanya mendengar dan semua orang berasumsi siapapun boleh tahu soal Lanjo Alka, tapi tidak Aditia.


“Iya, dia dan Margayu melakukan perjanjian, Margayu rupanya memberikannya mantra pengikat aura, itu biasa membuat tuan dari Kharisma Jagat bertekuk lutut, berlaku juga bagi khodam dan tuannya.  Kakak setuju dan dia akan membuat ramuan serta melakukan mantranya dalam waktu dekat.”


“Bagaimana dengan Ramdan?” Hartino bertanya lagi.


“Tak tahu! Aku sudah memintanya memikirkan Ramdan, tapi saat ini kakak tidak bisa diganggu.”

__ADS_1


“Kalau begitu, kita harus menemui Margayu dan membujuknya berhenti, karena kalau kakak akan lebih sulit untuk ditangani. Kalau Margayu, aku tidak segan membunuhnya.”


“Har!” Lais kesal mendengar Hartino mudah sekali mengucap kata membunuh.


“Aku tidak ingin kakakku celaka karena Lanjo itu!” Hartino kesal.


“Maka dari itu, kita harus menemui Margayu sekarang.” Ganding akhirnya mengemudikan angkot jemputan dan datang ke rumah Suteja.


Begitu sampai, mereka disambut oleh penjaga lelaki itu, mereka meminta izin bertemu dengan Margayu, Ganding tidak perduli jika tak diizinkan pun, dia akan tetap masuk ke kamar itu.


Suteja dan keluarganya memang telah lama meninggalkan rumah ini, mereka tinggal di apartemen karena akan segera membangun ulang rumah ini, makanya rumah dalam keadaan kosong.


“Pak Tono, kami harus ke kamar itu.”


“Silahkan, saya akan bukakan pintunya.” Ternyata Tono si penjaga rumah tidak keberatan membuka pintu kamar itu.


Mereka semua masuk, Margayu masih di sana, dia duduk bersila tapi mengambang tidak menyentuh tanah.


“Kalian ramai-ramai hendak tawuran?” Margayu terlihat tenang.


“Apa yang kau tawarkan pada kakakku?” Aditia bertanya.


“Tentu saja, makanan untuk Lanjonya, kau pikir selama ini dia menahan semuanya dengan mudah? dia menahan banyak hal selama ini, itu sangat menyaktikan, makanya aku menawarkan obat baginya. Dan bagi tuannya, obat itu takkan menyakitkan sama sekali, tuannya hanya akan mencintai balik Karuhun yang menjaganya.”


“Kau benar-benar jin tak tahu diri, kembalikan Ramdan sekarang!” Hartino marah, dia hendak mengeluarkan senjatanya.


“Tidak akan, anak muda itu harus diberi pelajaran karena tertarik dengan sarangku dan membuat aku jauh dari kamar ini. Kamar dimana kami memadu kasih.”


“Margayu!!!” Ganding dan Hartino mengeluarkan senjata dan berlari ke arah Margayu, sedang Lais dan Jarni bersiap di belakang mereka untuk menghajar secara bergantian tanpa jeda kelak.


Tapi dalam jarak beberapa langkah, Ganding dan Hartino mental.


“Pagar ghaib!” Ganding lupa bahwa jin ini tentu saja bisa membuat pagar ghaib, apalagi mereka di sarang Margayu, maka energinya pasti lebih besar dari energi mereka, mengingat tempat ini sudah dipenuhi oleh kekuatan Margayu. Maka, energinya akan sangat besar di sini.


“Tahan Lais, Jarni. Kita takkan bisa menembusnya.” Ganding menahan langkah dua gadis yang hendak menyerang itu, dia takut mereka akan mental juga.


Tapi Lais tidak mendengar dia berlari dan menghunuskan pedangnya ke arah pagar ghaib, seperti yang mereka sangkakan, Lais mental tapi tidak jatuh, karena saat jatuh, dia menggunakan pedangnya sebagai tumpuan, Lais memang sangat mahir menggunakan pedang itu.


Ganding dan Hartino saling melirik dan bersiap menyerang lagi, Lais menangkap rencanya itu dan hendak bergabung.


Mereka menyerang bersamaan dengan senjata yang mereka miliki dan akhirnya sama saja ... terpental, bahkan kali ini Lais jatuh dengan cukup keras.


Hartino buru-buru bangun dan membantu Lais bangun, ada darah yang keluar dari sudut bibir Lais.


“Kau baik-baik saja.” Hartino bertanya.


“Aku baik-baik saja.” Lais menyeka darah itu dan bangun dibantu Hatino.


Mereka bangun, sementar Jarni tidak bisa melakukan apapun, dia tidak punya senjata tajam sepeti dua kawanannya.


Mereka merasa buntu, bingung harus apa. Saat itulah seseorang tiba-tiba datang.


“Kakak!” Ganding bingung karena tiba-tiba Alka datang.


“Untuk apa kalian ke sini?” Alka terlihat acuh.


“Kak!” Hartino mendekati Alka.


“Mundur atau kau kukembalikan ke rumah dalam sekejap.” Alka mengancam. Hartino mundur.


“Buka pagarnya, aku sudah siap dengan ramuan yang kau minta buatkan.”


“Mana tuanmu?” Margayu bertanya.


Alka menjentikkan tangannya, lalu Aditia muncul di sana, berdiri tegak dengan tersenyum.


“Aku sudah memberitahunya tentang Lanjoku, dia setuju untuk dimantrai, sekarang kau bsia sebutkan mantranya agar aku bisa merapal ulang mantra itu dan meminumkan ramuan ini kepada tuanku.” Alka tersenyum, begitu juga dengan Aditia.

__ADS_1


“Kak! Dit, kalian harus ingat pesan Bapak, Bapak tidak akan setuju dengan cara ini.”


“Diam kau, Ganding. Kalian ingin aku hajar satu persatu?!”


“Kak! Kau pasti kuat, kau itu wanita hebat, aku mohon, kau harus menjaga amanah bapak.”


“Untuk apa aku menjaga amanah orang mati? dia sudah tiada, aku dan Aditia saling mencintai, jadi untuk apa kami menunda lagi?”


“Kalau kalian saling mencintai, kau tidak butuh mantra itu Kak!” Hartino ikut mendekati Alka.


“Aku butuh mantra itu agar Aditia selamanya jadi milikku, jadi kelak Lanjoku takkan tidak akan pernah hilang dan kami akan saling mencintai selamanya.” Alka tersenyum dengan cara yang sangat menakutkan.


Aditia hanya terdiam, dia mengikuti saja yang Alka katakan, seperti sapi dicucuk hidungnya.


Margayu maju mendekati Alka, dia membuka pagar ghaibnya dan merapal mantra.


Mantra Pengikat Aura


Jarbahwe dur saktirah sarjah


Sandi tak jadibu abhipraya


Hanasta Gantari rahayu


Janji sakda himpi


Setelah mengatakan itu, Alka tiba-tiba memegang Margayu dan meminum ramuan yang dia buat, seharusnya, Aditialah yang meminum ramuan itu setelah Alka mengucap ulang mantra yang diajarkan oleh Margayu.


Tapi Alka malah meminum ramuan itu sambil memegang tangan Margayu, Margayu tersadar bahwa dia sedang dijebak.


“Kau, wanita tidak tahu diuntung!” Margayu seketika berganti tuan, tuan yang semula adalah Eyang Imah, menjadi memiliki tuan seorang Saba Alkamah, karena tepat setelah mantra itu diucapkan Margayu, Alka memegang tangan Margayu sambil meminum ramuan sebagai pelengkap mantra itu berlaku.


Saat kepindahan tuan itu, tiba-tiba kamar yang semua terlihat indah, telah berubah menjadi kamar yang sangat gelap dan bau, persis seperti penjaa jaman dahulu.


Saat kamar berganti menjadi ruangan yang lebih menakutkan, terlihatlah seorang wanita yang sangat cantik sedang dirantai di bagian dalam kamar yang berubah menjadi penjara pengap itu.


Wanita itu bukanlah seorang manusia, dia adalah ... jiwa yang harus dipulangkah.


“Eyang Imah!” Semua berteriak karena pernah melihat wajah itu di foto keluarga yang ada di ruang tamu sebelumnya, satu-satunya foto yang masih ada dan belum disingkirkan dan diperkenalkan pleh Tono si penjaga rumah sebagai Eyang Imah.


“Bebaskan Eyang, kita harus membawanya pulang.” Alka memerintah kawanan untuk membawa Eyang yang jiwanya disekap selama ini setelah kematiannya, jiwa itu terlihat sangat cantik walau nama eyang telah tersemat di depan namanya.


Eyang terlihat sangat lemah, karena jiwanya sudah ditahan sangat lama oleh Margayu.


“Kalaupun dia telah bebas, setidaknya aku telah memilikimu sebagai budakku!” Margayu hendak menarik Alka dan membawanya pergi, tapi Alka sama sekali tidak bergeser dari tempat berdirinya.


“Kau meremehkan Lanjoku?” ALka tertawa, kau pikir untuk apa aku minta waktu dua hari? Aku memang membuat ramuanmu, ramuan itu mudah sekali, bahkan dalam waktu dua jam aku bisa membuatnya, tapi aku butuh dua hari untuk membuat Lanjoku kambuh, ramuan dan mantra itu mematahkan hubunganmu dengan Eyang Imah, tapi tidak membuatku menjadi budakku, karena kau tahu, walau setengah wujudku manusia dan bisa dijadikan budakmu yang bisa saja menjadi khodamku, tapi kau lupa, bahwa setengahnya lagi wujudku adalah jin dan seorang Karuhun yang memiliki penyakit Lanjo, Lanjoku menang dari mantra dan ramuanmu, karena sisi manusiaku lebih lemah, tepatnya, aku melemahkan sisi manusiaku selama dua hari ini dan membuat Lanjoku kuat. Maka Lanjo itu memakan energi yang baru saja kau salurkan padaku dengan mantra dan ramuan pengikat aura yang katanya bisa membuat manusia yang memiliki khodam menjadi budak.” Alka tertawa terbahak-bahak.


“Kakak!” Kawanan berteriak karena Alka ternyata sedang menjebak semua orang.


“Aku jelaskan nanti, sekarang fokus pada Ramdan, karena aku tetap tidak bisa menemukan lokasinya.” Alka mengeluh, dia memang menyadari keberadaan Eyang Imah saat masuk ke kamar ini, makanya Margayu tidak mau melepas kamar ini, ini adalah penjara bagi cinta mereka yang dipaksakan.


Tapi Ramdan masih belum diketemukan.


“Jarni ikat jin ini dan taruh dibotol kaca kita, akan ada interogasi selanjutnya di gua, kita akan bikin dia babak belur karena berani menyentuh adik-adikku.” Alka setelah memerintahkan itu keluar.


“Dit, jadi elu udah tahu soal Lanjo?” Ganding bertanya saat Jarni sedang sedang menyekap Margayu di botol kaca andalan mereka.


Aditia terdiam saja.


“Dit!” Ganding menepuk bahu Aditia karena Aditia tidak merespon, saat ditepuk Aditia tiba-tiba terjatuh lemas.


“Dit!” Ganding memegang tubuh Aditia.


“Nding, ini di mana?” Aditia bertanya, dia terlihat linglung.


Melihat Aditia bersikap seperti itu, semua mengerti, bahwa seorang Kharisma Jagat sudah kena sirep oleh seorang Saba Alkamah, pantas saja dia tadi hanya berkata sedikit sekali.

__ADS_1


Ganding tertawa kecil dan berkata, “Udah ditangkep tuh Margayu.” Ganding dan yang lain meninggalkan Aditia yang kebingungan.


Semua orang merasa benar-benar bodoh karena kakak mereka sengaja menjebak entah karena apa, pasti setelah ini mereka akan dijelaskan, walau Aditia tidak akan pernah mendapatkan jawaban itu.


__ADS_2