Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 352 : Zerata Tamat (Kemala 1)


__ADS_3

“Seperti biasa, Aditia hanya butuh waktu saja.” Hartino memecah keheningan.


“Kak, jadi kenapa sekarang Zerata ikhlas untuk dikubur? Sedang dia sekarang sudah menjadi bengis, lalu kenapa sekarang dia mau dikubur?” Hal yang membuat Ganding bingung sejak Alka menceritakan tentang pertemuan dirinya dengan Zerata.


“Mungkin … dia sudah lelah menjadi sapi perah, tak kah kau lihat tubuhnya sudah sangat lemah seperti itu? dia juga diseret dengan kasar oleh kumpulannya saat kita kejar? Terlebih, mengambil jiwa anak-anak kecil itu perlahan membunuh jiwamu dan membuatmu hampa. Kami tidak pernah berbicara sebelum ini, tapi aku pikir itu yang membuatnya menyerah, pada akhirnya.”


“Soal penglihatan Ganding, aku pikir juga aneh, maksudku, penglihatan yang kadang-kadang muncul untuk membantu kita itu, biasanya selalu proyeksi masa depan untuk membantu, tapi kenapa untuk Ganding berbeda?” Hartino kali ini yang berkata.


“Apa yang Ganding lihat tidak sepenuhnya bohong, seperti yang kalian bilang ketika aku pingsan, kalau kejadian dalam mimpinya Ganding benar-benar terwujud bukan? Semua orang melakukan hal yang persis seperti yang ada dalam mimpi Ganding, hampir saling membunuh, tapi … Ganding hanya diperlihatkan sebagian, dia tidak diperlihatkan keseluruhan, kalau ternyata dirinyalah yang membuat mimpi itu tidak berakhir tragis, itu alasannya kenapa Ganding  yang dimimpikan, agar dia menjadi lemah dan tidak menyelamatkan kita, karena dialah kunci keselamatan kita, seperti masa depan yang seharusnya terjadi bukan? beruntung, Ganding cepat sadar, kalau saja dia masih lemah dan tidak sadar, dia mungkin akan mengurus pemakaman kita.” Alka menjelaskan, lagi-lagi ini hanya asumsi.


“Ya, saat Aditia akhirnya membuatku pingsan, Jarni berusaha membangunkanku, dia menampar wajahku berkali-kali, sakit Jar.”


“Salahmu, kenapa kau bodoh sekali. Aku ingin ikut bertarung, tapi kau malah asik tidur.”


“Aku pingsan tuan putri yang cantik jelita!” Ganding kesal tapi tetap hanya bisa berkata keras dengan kata-kata yang indah.


“Lalu?” Hartino mengingatkan Ganding, bahwa dia belum selesai cerita.


“Setelahnya aku sadar karena ditampar itu, pada saat bangun aku dan Jarni sepakat untuk mencari jalan keluar, memilik kemungkinan lain menghadapi Biksa Karma, butuh waktu 10 menit akhirnya untuk tersadar, bahwa … selama ini kita selalu mencari cara melawan anak-anak, bukannya malah berada di pihaknya, bukankah anak-anak akan sama, baik yang telah menjadi ruh maupun hidup, mereka selalu suka lagu, suka hadiah, maka kami berdua sepakat untuk mengambil alat pengeras suara, lalu aku ingat kalau kau, Har,  itu penimbun camilan, kau selalu punya camilan di tas dan juga sengaja menaruh camilan di angkot untukmu.


Kami sita semua camilan itu dan membawanya ke halaman dukun itu, kejadian selanjutnya seperti yang kalian ketahui, bahwa aku akhirnya apa yang kalian lakukan berhenti, kalian berhenti untuk saling membunuh diakibatkan dikendalikan dari jauh oleh Zerata. Ularnya Jarni memakan boneka santet yang digunakan Zerata untuk mengendalikan kalian dari jauh.”


“Yang aku heran, kenapa dia bisa menyantet kita dengan boneka sederhana, sedang dia harus punya rambut, kuku dan barang pribadi yang kita miliki, seperti potongan kain dari baju yang sering kita pakai.” Hartino bingung.


“Aku yang salah, aku dulu pernah memberikan itu padanya, seperti yang sudah aku ceritakan pada kalian, aku dulu sering menghilang untuk mengabdi pada Darhayusamang, salah satu bukti aku mengabdia padanya adalah memberikan rambut, kuku dan barang yang kalian sering pakai pada Zerata untuk kelak bisa mengendalikan kalian jika saja aku memberontak, aku suka rela memberikannya karena mabuk pada kada sakral keluarga bahagia. Maafkan aku …,” Alka berkata.


“Dari kita semua, tidak ada yang bersih Kak, aku melakukan kesalahan, Hartino juga, Alisha sama, Jarni pun pernah tidak mengikuti perintah, kita semua bukan orang bersih, tapi semua yang kita lakukan selalu bermuara pada kata, melindungi, selama yang kita lakukan untuk melindungi, maka aku pikir itu bisa dimaafkan, soal Aditia, kita hanya perlu memberinya waktu, dia itu bukan orang yang sulit didekati, namanya Pemimpin, pasti ada darah dominasi yang mengalir, sehingga ketidakjujuran akan dianggap sebuah pemberontakan baginya, nanti kalau hatinya sudah tenang, dia akan datang pada kita.” Ganding menenangkan Alka dan semua orang.



Aditia keluar dari markas Ghaib dengan kesal, dia mengemudikan angkotnya dengan perasaan yang tak karuan, pengkhianatan Ganding, ketidakjujuran Alka, sungguh membuatnya kecewa, disakiti orang terdekat memang tak ada tandingan atas rasa sakitnya.


Dia tidak langsung pulang ke rumah tapi, tapi dia memutar jalan, entahlah, tidak ada tujuan, dia hanya ingin menjernihkan pikiran saja.


Lalu tiba pada suatu jembatan, jembatan yang tidak terlalu besar, terbuat dari semen yang kokoh dengan tiang yang tegak sempurna, tapi jarang dilewati, padahal untuk sampai ke desa sebrang hanya ada jembatan ini sebagai  penghubungnya, orang lebih suka memutar, karena katanya ini adalah jembatan putus cinta, setiap pasangan yang berani melewatinya, pasti pasangan itu akan putus, Aditia tidak berharap putus dari siapapun, tidak dari Alka maupun kawanan, tapi dia hanya butuh tempat sepi untuk menenangkan diri.


Aditia memarkir angkotnya di dekat jembatan, lalu keluar dari angkot itu dan  berjalan ke arah tengah jembatan, gelap, dia melihat ke arah lampu yang dipasang di sana, tidak berfungsi, rusakkah? Aditia bingung, karena kalau memang rusak, tapi kenapa tampilannya terlihat baru? Aditia tidak peduli, dia hanya ingin menyendiri di tempat sepi.


Lalu saat sudah semakin ke tengah jembatan, Aditia melihat seseorang sedang berdiri di sana, dia memakai pakaian berwarna serba hitam. Hampir tak terlihat karena tersamarkan dengan gelapnya malam tanpa penerangan, untung penglihatannya masih sangat tajam.


Aditia tidak bermaksud ikut campur, tapi entah kenapa, dia merasa orang ini hendak bunuh diri. Makanya Aditia berlari, dia ingin mencegahnya, begitu makin dekat, dia melihat seseorang ini ternyata wanita! Dia seorang wanita.


Orang ini memakai pakaian serba hitam, kemeja hitam, rok hitam, jilbab hitam sampai sepatunya.


Aditia menambah kecepatan larinya, karena di detik itu dia melihat wanita itu henda memanjat jembatan.


Kaki kanannya sudah naik ke bagian bahu jembatan, tapi karena dia memakai rok panjang, maka dia kesulitan untuk naik, Aditia berlari lalu menahan badannya.


Dia menarik wanita itu hingga mereka berdua terguling.


“Kau gila! Kau mau bunuh diri!” Aditia kesal melihat wanita ini yang melepas kasar pelukan Aditia lalu terduduk diam di aspal jembatan dengan menatap kosong pada bahu jembatan.


Aditia Memperhatikannya, dia terlihat menangis tanpa suara.


“Kenapa? ada apa?” Aditia mendekatinya, wanita itu masih menatap kosong bahu jembatan.


Hening, gelap yang ada di sana, semakin membuat udara terasa dingin.


“Aku hanya ingin tahu rasanya, ketenangan macam apa yang dia dapatkan dari, mati di bawah jembatan ini.” Wanita itu berkata, dia akhirnya bicara.


“Maksudnya?”


“Aku tidak bermaksud bunuh diri, bunuh diri itu dosa, aku hanya ingin tahu, apa yang dia rasakan ketika mencicipi kematian dengan cara pintas.” Wanita itu bicara hal yang membingungkan bagi Aditia.

__ADS_1


“Kalau kau jatuh bagaimana?”


“Maka itu takdir, sedang aku tak berniat mati.”


“Kau mendekatinya.”


“Tidak, aku tidak mendekati kematian, aku hanya ingin tahu apa rasanya, hampir mati, agar aku bisa memahami apa yang dia rasakan. Aku selalu bisa memahaminya, tapi pada hal akhir, aku malah tidak bisa tahu apa yang dia rasakan, aku kecolongan, kalau saja aku mengerti, tentu aku akan menceraikannya. Jika saja aku tahu pernikahan ini tidak membuatnya bahagia.”


Aditia terdiam, pantas dia memakai pakaian serba hitam, ternyata ada alasannya, Aditia menyimpulkan suaminya bunuh diri di sini, makanya wanita itu hendak merasakan apa yang suaminya rasakan, apakah dia bisa menemukan ketenangan di sana.


“Aku antar pulang.”


“Tidak patut bagi seorang janda diantar pulang seorang lelaki tengah malam, apalagi belum genap 40 hari suaminya tiada.”


“Kalau begitu kau mau aku antar kemana?”


“Tinggalkan saja, aku ingin sendiri.”


“Aku tidak mau membaca surat kabar esok hari, kalau ada seorang wanita bunuh diri dari jembatan, kau tahu kan, di bawah itu kali yang sangat deras, arus airnya tidak pernah tenang.”


“Aku takkan bunuh diri.”


“Siapa yang tahu? Tadi saja kau berusaha naik ke bahu jembatan, jika saja tak aku cegah, kau mungkin sudah lompat.”


“Asumsi, tidak bisa dibuktikan kebenarannya bukan?”


“Fakta jika hal buruk sudah terjadi atas asumsi tersebut. Lalu menghadirkan rasa bersalah, itu yang aku hindari. Kalau kau bicara takdir, mungkin takdirku bertemu kau di sini dan akhirnya mencegah.”


Wanita itu akhirnya berdiri, menatap sekali lagi ke bahu jalan dan berjalan, menjauhi Aditia, untungnya dia berjalan ke arah angkotnya Aditia.


“Aku antar ya.” Aditia mengikuti perempuan itu, wajahnya di bawah lampu yang menyala, setelah melewati jembatan membuat wanita itu terlihat dengan jelas, kecantikan yang sangat menawan, Aditia sempat terkagum dan memuji dalam hatinya. Bagaimana tidak, wajah itu putih bersih, tanpa noda satu titikpun, bibirnya kemerahan, pipinya merona, walau dia tak menggunakan riasan sama sekali dan terlihat jelas di matanya, kalau dia sedang depresi, tapi wajah cantiknya tidak pudar sama sekali. Wajah yang sangat lembut dan teduh.


“Aku tidak ingin dijadikan bulan-bulanan para lelaki yang melakukan ronda di komplek rumah, aku pulang sendiri saja.”


“Bukankah itu lebih menakutkan? Kau tidak jadi bunuh diri lalu setelahnya jadi korban begal atau lebih parah lagi.”


“Kenapa kau berpikir begitu?” Aditia bertanya.


“Mengancam adalah cara orang-orang terdahulu membujuk orang agar mau mengikuti maunya, seperti aku adalah anak kecil saja, yang tidak mau makan lalu diancam agar mau makan, dibilang kalau tidak mau makan, aku akan mati.” Wanita itu tersenyum.


“Aku tidak mengancam, aku hanya sedang mencoba membantu saja.” Aditia malu karena terlihat sangat agresif, terbiasa menolong membuatnya tidak bisa melepas seseorang yang jelas dalam bahaya jika ditinggalkan.


“Aku naik angkotmu saja kalau kau merasa tidak tenang meninggalkanku sendirian, aku tahu rasa bersalah itu bisa menghantui. Tapi aku akan bayar, angkot dari mana ini? Kok bisa sampai nyasar, apa kau juga hendak bunuh diri?” Wanita itu berjalan ke angkot Aditai sembari berkata dengan cepat dan duduk di samping Aditia, bangku samping kemudi.


Aditia lalu masuk angkot dan mulai mengemudikan mobilnya.


“Kau terbiasa narik angkot? Tapi kenapa cara bawa mobilmu sungguh lembut, tidak seperti supir angkot lainnya? Angkotmu juga terlihat sangat bagus, tidak seperti angkot lain?”


“Ini angkot peninggalan ayahku, makanya aku jaga dan tidak serampangan dalam menggunakannya.”


“Oh, pantas. Orang memang begitu, kalau menyukai sesuatu dengan sangat, dia akan menghargai, lain hal jika tidak terlalu suka, akan tidak terlalu menghargai.”


“Kau akan kemana?” Aditia bertanya, karena dia sudah mengemudikannya cukup jauh dari jembatan.


“Turunkan aku, di tempat yang menurutmu aman dan kau bisa tenang meninggalkanku.” Wanita itu berkata dengan tenang, walau wajahnya terlihat pucat dan depresi, tapi dia tetap bisa tenang dalam berkata-kata.


“Baiklah.” Aditia mengemudikan dengan berkonsentrasi, hingga tak ada pembicaraan lagi setelahnya.


Setelah berkendara selama 45 menit, Aditia membangunkannya dengan menepuk bahu wanita itu, tepukan yang lembut dan sopan.


“Kita sudah sampai?” Wanita itu bertanya.


“Iya.”

__ADS_1


“Di mana ini?”


“Rumahku.”


“Hah? kenapa kau bawa aku ke sini?”


“Kau bilang turunkan di tempat yang membuatku merasa aman, di sini menurutku tempat teraman.”


“Kau gila! Apa kata orang nanti.”


“Tak ada yang mengenalmu, mereka hanya akan menggosipkan aku.”


“Lalu kau akan menanggungnya?”


“Tentu saja.”


“Kok bisa? Kita bahkan tidak saling mengenal.”


“Bisa saja kalau pilihannya malu atau merasa bersalah karena ada nyawa yang dipertaruhkan, aku memilih malu.”


“Aku tidak habis pikir dengan pemikiranmu, anak muda.”


Aditia tersenyum, wanita ini tidak terlihat segitu tuanya, tapi masih saja merasa Aditia adalah anak muda, aneh.


“Cepat turun, mau kubukakan pintu?”


“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Wanita itu turun dari angkot dan mengikuti Aditia dari belakang.


Saat masuk, dia melihat ibunya ke luar dari kamar, kaget kenapa Aditia membawa seorang wanita ke rumah, tengah malam begini, wajar, bukan kebiasaan anaknya.


“Bu ini … siapa namamu?” Sungguh perkenalan yang aneh.


“Kemala, panggil Mala saja.”


“Loh, kalian belum kenalan?”


“Anak ibu membawa saya ke rumah karena dia pikir saya akan bunuh diri, padahal dia salah paham, saya tertidur diangkot sehingga tidak tahu kalau dibawa ke rumah, kami hanya orang yang bertemu secara tak sengaja saja, kalau ibu keberatan saya di sini, tak masalah, saya bisa cari tempat pulang dan memesan taksi, maafkan saya merepotkan.”


“Nggak, nggak apa-apa, menginap saja di sini, bisa tidur di kamar Aditia, nanti Adit tidur di sofa, aku tidak keberatan, hanya sedang bingung saja.”


“Aku tahu sekarang, darimana darah kebaikan itu mengalir di tubuh anak ibu, terima kasih karena sudah mengizinkanku untuk bermalam, besok aku akan pulang.”


“Tidur saja yang nyaman, sudah makan?”


“Sudah.”


“Bohong Bu, pasti belum, ada makanan lebih?” Aditia menyanggah perkataan Kemala.


“Ada kok, makan dulu biar aku siapkan.”


“Tidak perlu Bu, anak ibu memang suka berasumsi, saya akan siapkan sendiri, maaf merepotkan, di sana kan dapurnya?” Kemala lalu langsung ke dapur dan menyiapkan makanan yang memang sudah ada di sana, hanya perlu disiapkan ke meja makan saja, dia terlihat ahli urusan rumah tangga.


“Temani, ibu tidur dulu ya, besok harus siapkan pesanan kue.”


“Iya Bu, makasih ya udah bolehin nginep.”


“Iya, kamu makan dulu ya baru tidur.”


Aditia lalu duduk di meja makan, mereka berdua makan dengan tenang, wanita itu tidak bicara sepatah kata pun, dia makan dengan anggun dan tenang, Aditia tersenyum melihat Kemala begitu tenang, padahal dia terlihat sangat kalut beberapa saat lalu.


__________________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Boleh nggak aku jodohin Kemala ama Aditia?


Nanya aja ….


__ADS_2