Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 154 : Aditia 14


__ADS_3

Mulyana pulang seperti biasa, dini hari. Yang berbeda, istrinya masih bangun dan lamgsung menyambut suaminya.


"Kok Ibu masih bangun?" suaminya bertanya.


"Iya, Ayah mau dibikinin apa?"


"Teh aja, udah makan tadi di jalan."


Istrinya ke belakang dan membuatkan teh manis permintaan Mulyana.


Saat kembali ke ruang tamu, suaminya sudah ganti baju. Biasanya Mulyana akan mandi saat waktunya solat subuh.


"Ada apa?" Seperti sudah tahu ada yang ingin istrinya katakan hingga menunggunya pulang.


"Yah, Aditia kambuh lagi kayaknya."


"Maksudnya?" Mulyana tidak mengerti.


"Dia bersikap aneh lagi."


"Sikap apa?" Mulyana memastikan.


"Makannya lebih banyak dari biasa, dia jahat ke Dita dan kasar ke Ibu."


Mulyana menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat.


"Hubungi Psikiater yang dulu Yah, yang pernah bantu Adit sembuh beberapa tahun lalu."


"Ya, besok kita atur jadwal dulu."


Perkataan Mulyana membuat ibunya Aditia lega.


Pagi tiba, Aditia bangun telat, aneh. Dia lewatkan solat subuh. Ayahnya pergi duluan ke masjid tapi Aditia tidak nyusul-nyusul.


"Dit, makannya pelan-pelan." Mulyana mengatakannya dengan penuh penekanan.


Satu keluarga sedang sarapan di meja makan.


"Ini enak." Aditia menjawab dengan marlya melotot dan mulut penuh dengan nasi serta lauk.


"Ya, tapi penal-pelan ya. Nanti kamu kesedak." Mulyana memperhatikan. Dia tidak melihat Aditia kerasukan seperti dulu. Tapi jelas sikapnya aneh.


"Makan saja repot, sukamu tuh, merintah-merintah aja." Aditia menggeser piringnya dengan kasar dan beranjak pergi. Dia bilang tidak ingin masuk sekolah.


Ibunya kesal melihat Aditia kurang ajar pada ayahnya. Saat akan menegur Aditia, ayahnya memegang tangan istrinya dan melarang.


"Kurang ajar, Ayah!" Ibunya masih kesal.


"Itu bukan Aditia, kita harus membawanya ke psikiater itu lagi ya. Kamu jangan terlalu terbebani ya. Ingat, masih ada Dita yang butuh kita."


"Ya Ayah." Ibunya akhirnya lebih tenang. Dita yang dari tadi mendengar hanya terdiam saja, dia takut oleh kakaknya lagi seperti sebelumnya.


...


Mulyana bertemu dengan psikiater yang dulu pernah menangani Aditia.


"Aku harus bertemu anakmu lagi Pak?" Psikiater itu memgernyitkan dahi.


"Iya Dok. Minta tolong ya, biar istri saya tenang."


"Pak masalahnya anak bapak itu tipe yang paling mengerikan!" Psikiater yang kerap membantu Mulyana karena akhir sadar bahwa beberapa anak tidak benar-benar sakit jiwa tapi mendapatkan berkah.


Seperti Jarni, Ganding dan Hartino yang dulu sempat salah penanganan olehnya. Meminum obat yang jelas tak ada efek.


Sampai Dokter itu menemukan kenyataan bahwa ada dunia lain yang tidak bisa dilihat olehnya tapi bisa dilihat oleh anak-anak istimewa itu.


Mulyana beberapa tahun lalu datang meminta bantuan juga. Bukan untuk konsultasi anaknya tapi untuk meredam ketakutan istrinya akan perubahan sikap Aditia seperti sekarang ini.


Mulyana memang selalu kesulitan menyembuhkan Aditia karena dia berbeda dari semua orang yang dia tolong. Ironisnya, Mulyana banyak membantu orang dan berhasil. Tapi membantu anaknya jauh lebih sulit.


"Ya sudah, tapi Pak, ini yang mengenai Aditia apakah sama dengan kejadian beberapa tahun lalu?"


"Belum tahu Dok. Saya jujur belum nemu masalahnya."

__ADS_1


"Aduhhhh Pak! yang kemarin sudah jelas aja mengerikan sekali, apalagi ini. Bilangin aja sih Pak ke istrinya kalau ini kasus yang berbeda." Psikiater itu kesal, karena untuk membuat istrinya tenang Pak Mulyana membuat hidup Psikiater itu jadi tidak tenang saking mengerikannya kejadian Aditia dulu itu.


"Andai bisa semudah itu Dok."


"Ya sudah besok saya luangkan waktu kita pakai script seperti biasa ya? Jadi Adit itu menderita Skizofrenia yang membuat dia berhalusinasi. Tidak perlu minum obat tapi harus dirawat di sini tanpa kunjungan. Begitu?"


"Ya Dok, kayak dulu aja."


Kenyataannya Aditia tidak akan menginap di rumah sakit itu tapi akan ke tempat lain.


Bukan markas ataupun gua Alka, karena dua tempat itu akan tetap berbahaya bagi Aditia.


Mulyana pulang memberitahu istrinya untuk besok membawa Aditia bersamanya ke Psikiater. Istrinya akan tenang setelah ini dan Mulyana punya alasan membawa Aditia tanpa ketahuan. Karena istrinya akan menyangka Aditia dirawat di rumah sakit.


Mulyana harus memandikan Aditia dulu dengan air yang diambil di tujuh mata air yang berasal dari curug dengan ketinggian ganjil.


Untuk menghilangkan energi jahat yang mungkin bersembunyi tanpa bisa dilihat Mulyana karena ilmu yang tinggi dari si pengirim energi jahat.


"Aditia sekarang dimana?" Mulyana bertanya.


“Dia lagi dibelakang Yah, dari tadi di sana, ada kali sejam lebih.” Ibunya terlihat kesal dengan kelakuan anaknya yang biasanya sangat baik dan ramah itu.


Mulyana lalu ke belakang rumahnya, di sana ada lahan yang tidak terlalu besar, tidak di pagari atau di tembok, di san Mulyana memelihara ayam dan burung.


Mulyana ke belakang melihat Aditia yang sedang berjongkok di depan kandang burung membelakangi ayahnya.


“Dit, lagi apa?” tanyanya.


Aditia hanya diam saja, dia tidak menjawab masih berjongkok menghadap kandang burung dan membelakangi ayahnya.


Mulyana akhirnya berjalan mendekati Aditia dia menepuk bahu Aditia dan ....


“Astaga!” Mulyana kaget, dia melihat Aditia telah memasukkan unggas yang sebesar kepalan tangan itu kedalam mulutnya hidup-hidup! Terlihat karena kakinya yang masih di bagian luar mulut Aditia itu bergerak-gerak.


“Keluarkan! Keluarkan!” Mulyana menarik unggas itu dari mulut Aditia, Aditia hanya tertawa terbahak-bahak saja.


“Siapa kamu!” Mulyana tetap bertanya, walau dia tidak melihat sedikitpun bayangan gelap atau jin lain dalam tubuh Aditia.


Mulyana melihat sekeliling, ayamnya tiga ekor dan burungnya sebanyak tiga ekor semua tergeletak tak bernyawa di tanah.


Semua unggas itu mati dalam keadaan sama, lehernya robek, seperti digigit asal-asalan lalu dikeluarkan lagi.


“Kau yang membunuh mereka semua?”


“Aku? mati itu urusan Tuhan Ayah. Kalau Tuhan tidak berkehendak, maka ayam dan burung itu takkan mati, tapi karena Tuhan sudah menakdirkan mereka mati, ya matilah mereka! jadi bukan aku yang membunuh, yang membunuh mereka adalah Tuhan.”


“Adit!” Mulyana kesal dan hampir saja memukul anaknya.


“Pukul saja, toh aku anak lelaki Yah, aku harus kuat bukan, pukul sini pukul!” Aditia menampar-nampar wajahnya sangat keras, Mulyana melihat itu langsung kembali ke dapur dan keluar membawa tali tambang.


Lagi-lagi Aditia harus diikat agar tidak mencelakai semua yang dia ingin bunuh dengan dalid takdir!


Aditia tidak melawan, dia malah tertawa terbahak-bahak sambil terus mengoceh.


“Kau masih tidak percaya Tuhan yang melakukannya! Dia menggerakkan hatiku dan membuatku melakukan itu!”


“Tuhan tidak akan pernah salah memilihkan takdir, yang salah adalah orang-orang sepertimu! Berlindung dibalik kata takdir padahal hanya ingin bersenang-senang.”


“Ya ... ya ... itu dia ayah! Kau tahu betul betapa menyenangkannya membunuh bukan?” Aditia memperlihatkan wajah yang menyeringai.


“Masuk kau!” Mulyana menarik anaknya yang telah terikat di tangan.


“Yah, Aditia diikat?” Ibunya walau kesal dan sedih dengan perubahan sikap Aditia, tapi dia tetap tidak tega melihat Aditia terikat begitu, dimana mulutnya mengeluarkan darah, dia pikir Mulyana menghajarnya, padahal itu adalah darah unggas-unggas yang dibunuh dengan dalil takdir.


Mulyana menyeret anaknya ke kamar dna mengkita kakinya, tali itu lalu dihubungkan ke tempat tidur Aditia, dengan begini, Aditia tidak akan bisa kabur dan melakukan hal mengerikan seperti tadi.


Mulyana hendak mengunci pintu kamar Aditia tapi urung karena ....


“Bagaimana kalau kita sayat tubuh Ibu atau Dita, pasti menyenangkan melihat mereka berdua kesakitan, lalu darah perlahan menetes dari tubuh mereka, itu rasanya sangat menyenangkan.”


Mulyana kembali lagi mendekati anaknya, mencekik leher Aditia dan berkata dengan berbisik, takut istrinya mendengar.


“Aku tahu bahwa anakku tidak seperti ini, kembalikan Aditiaku yang baik, sopan, ramah dan soleh, kau bukan dia. Siapapun kau, akan kupastikan akan keluar dari tubuh anakku.”  Mulyana mengancam dengan wajah sangat marah, karena ‘dia’ menggunakan tubuh Aditia untuk melakukan hal jahat.

__ADS_1


“Bukankah kau tigak melihat apapun selain diriku di sini? kau itu orang yang memiliki ilmu cukup tinggi bukan? lalu kenapa kau masih ragu bahwa aku adalah anakmu!” Aditia menatap ayahnya tanpa ragu dengan tatapan yang menghujam karena tajam.


“Tidak! anakku itu anak soleh yang tidak mungkin membunuh binatang seperti tadi, dia juga sangat sopan pada semua orang, sayang ibu dan adiknya. Tidak mungkin dia bertingkah sepertimu.”


Mulyana masih memegang leher Aditia dengan kencang.


“Mungkin saja selama ini aku hanya sedang berakting, supaya kalian percaya aku baik, ini adalah aku yang sebenarnya. Aku sangat suka mencium bau darah. Aku suka ketika unggas itu mengerang kesakitan, lalu di akhir hidupnya, erangan semakin lama semakin lemah. Detak jantung yang tadinya begitu cepat, perlahan menjadi sangat lamban, lalu menghilang sepenuhnya. Rasanya seperti kau mendapatkan sebuah kepuasan yang tidak akan kau dapatkan dengan makan, minum atau melakukan kegiatan apapun, dimana pun!”


“Kau itu jahat. Anakku tidak pernah berlagak sepertimu, setiap langkahnya begitu teratur, terkendali. Walau dia masih muda dan kadang ceroboh, tapi dia paling takut kalau sampai membahayakan orang lain untuk yang dia lakukan, walau yang dia lakukan itu bermanfaat, tapi Aditia akan memilih resiko korbannya paling kecil, kalau perlu dia yang akan berkorban menggantikannya.”


“Siapa yang kau sebut barusan? Kenapa aku tidak mengenal orang seperti itu ada di dalam diriku?” Aditia kembali tertawa, Mulyana sudah melepas cekikannya, karena tahu, kalau sampai terlalu lama mencekiknya, bisa jadi Aditia akan celaka.


“Kau istirahatlah, besok kita akan ke Psikiater lagi, kau akan mendapatkan pelajaran setelah ini.” Mulyana keluar kamar Aditia dan menguncinya dari luar.


“Adit gimana Yah?”


“Masih sama, jangan buka kamarnya ya, kalau kau buka, dia bisa membahayakan kamu dan Dita, mengerti?”


“Ya, aku mengerti, tidak akan kubuka pintu itu.”


“Walau dia berteriak kelaparan, terluka atau bilang ada api. Kau tetap tak boleh buka pintunya, mengerti?” Mulyana ingin istrinya tidak goyah mengurung anak mereka.


“Ya Yah, aku tidak akan buka, aku kapok. Terakhir kali aku melakukan itu, Dita yang jadi korban.”


“Ya, kita harus melindungi Dita, kalau perlu, kau titip dulu anak bungsu kita itu.”


“Ya Ayah, aku akan menitipkannya ke rumah orang tuaku.”


“Ya itu akan lebih baik.”


...


Mulyana dan istrinya membawa Aditia yang masih remaja itu ke Psikiater betulan tapi dengan diagnosa bohongan untuk membantu Mulyana meyakinkan istrinya agar melepas Aditia untuk diobati ayahnya sendiri secara diam-diam.


“Baik, kalau begitu, bisa tinggalkan saya dan Aditia berdua dulu. Seperti biasa, saya akan tetap melakukan interview dulu walau Aditia bukan pasien baru, tapi sudah beberapa tahun ini dia tidak ke sini, makanya kita harus memetakan ulang penyakit yang mengenai mentalnya.”


“Tolong anak saya Dok, dia masih sangat muda dan sangat tampan. Aku takut kalau dia seperti ini terus, masa depannya akan buruk.”


“Bu! Jangan bicara macam-macam!” Mulyana menegur istrinya, lalu Mulyana dan istrinya keluar rumah. Aditia masih diikat di bagian tangan yang ditutupi dengan kain ketika tadi keluar dari angkot Mulyana agar tidak membuat keributan ataupun menjadi pusat perhatian. Mulyana benci kedua hal itu.


“Kalau begitu kami keluar dulu ya Dok, saya sangat berharap Dokter akan bisa membantu Aditia, saya mohon!” Istrinya Mulyana memohon dan akhirnya mereka keluar meninggakan anaknya di sana, masih dengan tali terikat.


“Halo Dok, ketemu lagi.” Aditia tertawa, dia mempelihatkan tangannya yang telah diikat itu.


“Adit kok bisa begini lagi, waktu itu bukannya sudah ayahnya usir ya, jin jahat yang merasuki Aditia, lalu kenapa sekarang Aditia kerasukan lagi?” Dokter itu tidak benar-benar interview, dia hanya mengambil waktu agar akting dia dan Mulyana terlihat natural di depan istrinya.


“Aku kerasukan Dok? Aku tidak kerasukan!” Aditia menyangkal.


“Kalau begitu, kenapa Aditia menjadi seperti ini?”


“Dokter kapan pertama kali bertemu aku?” Aditia bertanya.


“Hmm ... sudah lama ya, beberapa tahun lalu, ketika itu katanya kau suka berhalusinasi dan perubahan sikap yang ekstrim, makanya aku membuat diagnosa bahwa kau itu terkena Skizofrenia.”


“Lalu kenapa kau bertanya seolah aku orang yang berbeda dengan yang kau kenal dulul. Bukankah dulu pertama kali kita bertemu, sikapku sudah seburuk itu? lalu berubah karena telah di tolong ayahku. Kenapa kau berpikir aku berubah, padahal dari awal kita bertemu, aku sudah bermasalah?”


“Aku tahu kau anak yang baik, dari dalam hatimu kau tahu itu juga.”


“Kau gila! katanya kau Psikiater, tapi kau gila! sejak kapan Dokter lebih meyakini suara hati ketimbang fakta yang harusnya kau ungkap di interview ini?”


“Fakta apa yang kau ingin katakan yang kau yakini sebagai fakta?” Dokter menantang, seharusnya dia tidak terbawa emosi hingga kena jebakan permainan kata Aditia.


“Fakta bahwa aku memang jahat, aku memang buruk hati.” Aditia tertawa dengan keras.


“Kau tidak begitu.”


“Kenapa aku tidak begitu? padahal begitu inginnya aku merobek lehermu itu dengan pecahan kaca dari papan namamu yang terbuat dari kaca itu? Kau tahu sejak masuk ke ruangan ini, yang aku inginkan adalah, memecahkan papan nama itu dan merobek lehermu, melihat seberapa banyak darah yang bisa mengalir dari robekan itu. Harum darah yang baru keluar dari tubuh itu sungguh tidak ada bandingannya.”


Dokter mundur dan dia buru-buru mengambil papan namanya yang terbuat dari kaca yang cukup tebal.


Dokter itu tahu, bahwa hal mengerikan beberapa tahun lalu yang dia alami saat membantu Mulyana mengelabui istrinya tentang penyakit Aditia itu tidak ada apa-apanya dengan yang dia hadapi sekarang.


Aditia yang ini, sungguh Aditia versi terburuk sisi paling busuk manusia.

__ADS_1


__ADS_2