
“Kak, ada email dari kantor, katanya pembangunan gedung yang akan kita gunakan untuk markas tidak bisa diteruskan karena ada masalah dengan perusahaan konstruksinya.” Kawanan sedang berada di gua, Alka sudah kembali ke gua itu, dia sudah membaik, sudah seminggu sejak Alka keluar dari rumah sakit.
“Kenapa perusahaan itu?” Alka bertanya, dia sibuk sedang meramu obat.
“Katanya kepala proyeknya sakit.”
“Kalau begitu tunggu sampai sembuh Nding. Jangan memecat orang hanya karena dia sakit, itu namanya musibah.”
“Iya Kak, aku udah bilang begitu, tapi katanya mereka akan mencari penggantinya secepat yang mereka bisa.”
“Kasihan, kita tunggu saja sampai orangnya sembuh.” Alka masih tidak ingin mengganti orang.
“Kak, katanya dia mungkin sulit sembuh karena penyakitnya aneh.” Ganding akhirnya masuk ke intinya.
“Aneh? Santet? Pelet? Atau apa?” Alka tahu bahwa penyakit aneh di indonesia adalah penyakit yang disebabkan oleh hal ghaib.
“Entah, katanya dia tidak dapat bangun dan selalu dalam keadaan melotot.”
“Ada apa?” Aditia yang baru saja datang setelah pulang kuliah, siang itu dia langsung mampi ke gua.
“Ini Dit, kepala proyek perusahaan konstruksi yang lagi bangun gedung baru buat kita sakit, makanya pembangunan gedung itu ditunda. Katanya orang itu sakitnya aneh.” Ganding menjelaskan, sementara Jarni hanya mendengar, Hartino dan Lais sedang keluar untuk menyelidiki beberapa kasus dari buku bapak, untuk dipilih mana yang paling darurat.
“Ada fotonya? Biar Alka lihat, siapa tahu bisa ketahuan dia kenapa.” Aditia melontarkan ide cemerlang.
“Aku sih nggak ada foto, tapi bisa minta ke pegawai kita. Apakah boleh aku mengarang alasannya? Kenapa kita harus meminta foto orang itu?” Ganding bertanya pada Alka.
“Berbohonglah, kita kan sudah biasa.” Alka berkata tanpa ekspresi.
“Yasudah, aku akan telepon salah satu pegawai kita dan membuat alasan agar mendapatkan foto itu.” Ganding lalu keluar dan menelpon pegawai mereka yang tentu tidak tahu kehidupan lain bosnya.
Jarni tertidur seperti biasa. Aditia menggunakan kesempatan ini untuk bicara, pembicaraan yang tertunda begitu lama.
“Ka, aku boleh ngomong?” Aditia bertanya.
“Ya, kenapa?” Alka masih mengaduk gentong ramuannya.
“Manimung siapa?” Aditia bertanya langsung pada intinya.
“Jin yang menyandera anak kecil di rumah sakit itu?” Alka bertanya.
“Ya, dia.”
“Kenapa kau bertanya padaku?” Alka menghentikan mengaduk gentong dan duduk di samping Aditia.
“Karena, aku melihatnya memakai cambuk yang mirip denganmu.” Aditia memberikan alasan yang membuat dia penasaran.
“Menurutmu, dia siapa?” Alka bertanya balik.
“Sosok yang kau kenal.” Aditia hati-hati mengatakannya.
“Ya, kau benar, dia sosok yang aku kenal.”
“Kau sengaja memintaku ke luar mengurus kasus, kau ingin aku yang menghajarnya bukan?” Aditia menebak.
“Aku merasakan kehadirannya sejak di rumah sakit ini, memang perasaan persaudaraan tidak akan pernah bisa luntur bagi kami sebagai makhluk jin ciptaan Tuhan. Aku gusar dan gelisah, takut dia mencelakai orang lagi dan lagi. Tapi aku lemah untuk menyelesaikan misi ini, makanya aku paksa kau ke luar malam itu untuk membeli makan, benar saja, Manimung mencium baumu makanya dia keluar dengan tubuh anak kecil itu, dia bersembunyi dalam jiwa anak yang dia ikat, makanya tak heran kau tidak bisa mendeteksi kehadirannya. Karena dia tertutupi oleh jiwa anak kecil.
Aku tahu bahwa kau orang yang bisa aku andalkan untuk menghabisi ... kakakku.” Saba tersenyum getir, dia sangat sakit hati karena Manimung berani sekali hendak mencelakai Aditia.
__ADS_1
“Kakakmu?!” Aditia terkejut.
“Ya, Manimung adalah kakakku, dia memiliki cambuk yang sama persis sepertiku, bedanya, dia disayang ayahku karena dia ibunya juga jin yang cukup masyur tapi meninggal ketika melahirkan dia. Sedang ibuku adalah manusia serakah yang akhirnya mati dalam nestapa, bersama ayahku.
Manimung adalah anak kesayangan ayahku, dulu saat membantu peperangan melawan Ayi itu, aku selalu disisihkan oleh ayahku, padahal kemampuanku di atas Manimung, tapi ayahku tetap lebih sayang padanya karena dia bukan aib, Manimung jin sejati.
Sejak ayahku meninggal, dia selalu menyalahkanku yang tidak berada di sisinya. Padahal aku sudah menawarkan bantuan, tapi dia menolak, katanya dia tidak ingin berada di sisi pengkhinat sepertiku karena aku mengejar maaf Ayi.”
“Aku tidak tahu kalau kau punya kerabat.” Aditia menyesal telah menghajar Manimung.
“Aku juga tidak tahu dulu, aku tidak marah padamu karena telah menghajarnya dan mengurungnya di botol lalu melemparnya ke laut. Itu yang terbaik untuk dia. Aku hanya menyesalkan satu hal, satu-satunya kelaurgaku tidak bisa berada di sisiku karena kesalahannya.”
“Tapi kau kan punya kita, adik-adikmu dan aku.”
“Ya, kalian adalah hidupku, seluruh hidupku, kalau kalian kenapa-kenapa, aku takkan bisa hidup.”
“Termasuk aku?” Aditia tersenyum, matanya berbinar-binar.
“Tidak, tentu saja tidak, kau hanya orang bagiku.”
“Alka!” Aditia kesal.
Jarni yang terlihat tidur hanya tersenyum sendiri melihat kelakuan dua orang yang jatuh cinta dalam diam itu. Kisah cinta yang cukup membuatnya ingin menulis sebuah novel romansa.
Ganding masuk dan memperliahtkan foto lelaki yang bernama Ramdan, kepala proyek perusahaan konstruksi itu, dia sedang terbaring dengan mata melotot, sesekali berkedip tapi tidak sadarkan diri.
Saat melihat foto dari telepon pintar milik Ganding, Alka menutup mata, berusaha merasakan energi yang mungkin terpancar dari wajahnya.
Butuh waktu beberapa saat sebelum akhirnya Alka membuka mata lalu memberitahu apa yang dia dapat.
…
Lima sekawan muncul ditambah Lais tentunya, mereka akan memberitahu informasi apa yang mereka dapatkan.
Hartino mulai duluan, “Aku dan Lais mengunjungi sumur yang katanya selalu mengeluarkan bau anyir dan airnya berubah menjadi darah setiap dikampung itu ada perzinahan, sehingga seluruh kampung akan gempar, mencari kambing hitam yang akan ditumbalkan untuk menenangkan penghuni sumur. Ada legenda tentang sumur itu, seorang perempuan yang diperkosa telah dibunuh dan mayatnya dibuang ke sumur itu. Mayatnya tidak ketemu sampai sekarang, sehingga ruh wanita itu tidak tenang, menjadikan sumur itu sebagai sarangnya.”
“Kau sudah memastikan mitos itu benar?” Alka bertanya.
“Sudah, aku sudah pastikan, mitos itu benar, tapi apakah sumur itu benar dihuni oleh perempuan itu, aku dan Hartino tidak mau ambil keputusan, kami hanya mencari informasi seperti yang kau katakan.” Lais kali ini yang menjawab.
“Ok, kalau Kau Ganding?” Kemarin Ganding sibuk mencari informasi tentang Ramdan yang fotonya telah diperlihatkan kepada semua orang, walau tidak bisa secara detail memberitahu apa yang terlihat, tapi kawanan bisa merasakan energi gelap dalam foto itu.
Kemarin aku ke tempat dia tinggal, kostan nya. Aku mewawancarai teman-teman Ramdan yang tinggal di sana juga.”
LOKASI … INDEKOS RAMDAN.
“Ya, saya adalah pegawai yang diutus perusahaan untuk melihat keadaan Ramdan, saya sudah lihat keadaannya, beliau sudah seperti itu sejak kapan?” Ganding mengumpulkan teman-teman indekos Ramdan untuk mencari informasi.
Ada Deny, Tia dan beberapa orang lain, mereka katanya saksi saat terakhir Ramdan sadar lalu pingsan.
“Sejak tiga hari lalu Pak, apakah dia akan dipecat?” Deny bertanya.
“Belum ada keputusan, makanya saya ke sini untuk melihat lebih jauh, ini kartu nama saya, saya HRD di perusahaan.” Ganding memberikan kartu namanya, tentu saja itu kartu nama palsu, dia bukan pegawai, tapi pemilik perusahaan rekanannya Ramdan.
“Iya Pak, jangan dipecat, kasihan, dia di sini aja kost tuh, bukan rumah sendiri, tiga hari ini kita yang jaga, orang tuanya belum kita hubungi, kasihan sudah pada tua, adiknya juga mondok. Kita sih rencananya seminggu ini mau lihat keadaan dia dulu, kalau masih tidak membaik, baru akan hubungi keluarganya.” Tia kali ini yang bicara.
“Ya, bisa ceritakan kronologi kejadian sebelum dia pingsan lalu akhirnya dia seperti ini?” Ganding mengulang.
__ADS_1
“Jadi begini Pak, tiga hari lalu, sebelum Ramdan seperti ini, kami mengalami kejadian di luar nalar, Ramdan pulang kantor, dia katanya langsung ketiduran, lalu setelah ketiduran itu, dia merasa mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya, dia pikir, itu saya, karena memang saya suka iseng mengetuk kamarnya dengan kencang. Tapi sumpah demi Tuhan Pak, itu bukan saya, tapi Ramdan ngotot itu saya, karena katanya saya menjawab dari kamar saya. Padahal saya tidak di kamar saat kejadian.
Dia menceritakan kejadian ini keesokan paginya saat kami sarapan. Ramdan bahkan kekeh itu saya, tapi saya punya banyak saksi kalau saya tidak di kamar.”
“Lalu? Sudah itu saja kejadian anehnya?” ganding menyelak.
“Tidak Pak, nah pas sarapan itu, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan, lalu Ramdan setelah makan ke dapur, menaruh piring mungkin, kami tidak terlalu memperhatikan. Kami juga setelah makan ke kamar belakang, kamarnya dia nih.” Deny menunjuk kamar temannya yang memang terletak paling belakang, di dekat dapur.
“Iya kami beberapa orang ke kamar saya Pak.” Teman itu mengiyakan dengan serius.
“Yang lain ke kamar masing-masing, saya sama mereka main PS. Nggak lama kemudian, kita liat Ramdan lewat, saya panggil dia, saya ajak main PS, dia nggangguk, lalu balik ke kamar, kami pikirnya, dia itu mau ambil stick PS dia, karena kalau dia main PS, selalu pakai stick sendiri.
Tapi kok, dia nggak balik-balik, setengah jam kami tunggu. Akhirnya saya inisiatif ke kamarnya, penasaran aja, kenapa dia kok bisa lama. Saya ketuk pintunya, dia buka pintu. Lalu saya tanya, kok dia lama banget nggak balik-balik ke kamar belakang. Tapi dia malah bingung, dia nggak merasa ke dapur dan mengiyakan ajakan saya main PS, dia bilangnya, setelah makan dia memang membawa piring, tapi langsung ke kamar, lalu ketiduran. Tapi Pak, ini saksinya banyak, kami semua lihat dia ke dapur. Lalu setelah itu dia pingsan, sebelum pingsan dia nunjuk-nunjuk gitu, tapi nggak tahu nunjuk apa, kami lau bawa dia kekamar, keadaannya langsung seperti sekarang ini, melotot terus dan seperti orang ketakutan.
Kami selama tiga hari ini memanggil ustad, kiai bahkan dukun. Taka da yang bisa bantu Pak, mereka bilang dia disantet, ada juga yang bilang dia dipelet karena dia sering nolak perempuan, ada juga yang bilang dia ketempelan. Kami juga melakukan beberapa ritual selama tiga hari ini dan bergantian tidur di kamarnya, tapi semua nihil, dia tetap begitu.” Deny menjelaskan cukup panjang, Ganding mulai menangkap apa yang terjadi.
Ganding masuk kamar setelah mendengar penjelasan itu, Deny dan Tia ikut, yang lain menunggu di luar.
“Cari apa Pak?” Ganding yang memang berpakaian rapih terlihat lebih dewasa makanya dari tadi di panggil bapak.
“Cari benda yang mungkin berbeda, apakah kalian liaht benda yang tidak pernah dia punya, tapi tiba-tiba dia punya?” Ganding bertanya pada Deny dan Tia.
“Hmm, nggak ada Pak, kan kejadiannya cepet, jadi kami nggak perhatikan.” Deny menjawab.
“Terakhir kali kalian bertemu dia dalam keadaan sadar, dia dari kantor ya?”
“Iya, eh sebentar, dia sempet bilang hari sebelumnya, kalau dia mau bantu bosnya pindahan rumah, makanya kemarin dia tuh capek banget dan cepet marah, karena sibuk bantu bosnya pindahan rumah, Pak.”
“Kalau begitu, boleh saya lihat tas kerjanya?”
“Boleh Pak, sebentar, biasanya ada di atas meja kerja dia.” Deny menghampiri meja kerja Ramdan dan mengambilkan tas punggung milik Ramdan. Begitu mendapatkan tas itu, Ganding membuka tasnya dan … tubuhnya mental menimpa dinding kamar.
Keluar darah dari mulutnya, Deny dan Tia melihat itu langsung berlari membangunkan Ganding, mereka bingung dan menarik Ganding keluar.
“Ada apa Pak? Kenapa bisa jatuh kayak dilempar gitu?” Deny khawatir.
Tas yang dipegang Ganding tadi juga sudah terlempar, jadi masih di dalam kamar, pintu kamar tiba-tiba tertutup sendiri dengan sangat kencang.
Semua orang melihat itu langsung kabur ke kamar masing-masing, sementara Deny dan Tia serta Ganding masih di sana, mereka heran dengan apa yang terjadi.
“Kemarin dukun, kiai dan ustad nggak sampai gini Pak, kenapa sekarang jadi begini?” Deny bingung.
“Tidak apa-apa, kami ada orang sendiri untuk menangani kasus seperti ini, kalian tenang saja, besok saya akan bawa beberap orang untuk membantu Deny, boleh minta tolong kosongkan lantai ini, bisakah semua orang untuk sementara waktu tidak di sini besok, karena akan bahaya kalau sampai ada yang masih di sini, takutnya ….”
“Kena imbas ya Pak?” Tia menimpali.
“Ya, bisa dibilang begitu.”
“Kami akan aturkan itu Pak, paling saya sama Tia temenin ya Pak?”
“Boleh tapi nanti dipilhkan satu kamar, supaya kalian aman.”
“Ok Pak baik, Bapak nggak apa-apa?” Deny bertanya lagi.
“Nggak apa-apa.” Ganding menyeka mulutnya yang masih berdarah karena tumbukan tadi, lalu dia pamit.
Tentu saja yang lain tak apa-apa, mereka tidak punya energi yang mengancam isi tas itu, begitu Ganding yang buka, langsung di serang. ‘Dia’ tahu kalau Ganding bukan orang sembarangan seperti sebelumnya.
__ADS_1