Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 252 : Pabrik Seragam


__ADS_3

“Din, section bahan udah pada pulang, elu masih aja jahit, ngapain sih?” Temannya Erin bertanya, mereka dua sahabat yang bekerja di satu pabrik tapi berbeda seksi.


Mereka bekerja di pabrik seragam di Bandung, pabrik yang cukup besar, mereka memiliki dua ratus karyawan yang terbagi beberapa seksi, ada seksi bahan yang tugasnya memotong bahan sesuai dengan hitungan yang telah diberikan orang kantor agar bahan itu kelak bisa dipergunakan dengan efisien, ketika digunakan kelak tidak banyak terbuang.


Setelah seksi bahan, ada seksi pola, orang-orang ini yang akan memotong bahan sesuai pola yang dibutuhkan, selesai pola dibuat, maka pola-pola itu akan diantarkan ke seksi jahit, di sinilah baju seragam muali terlihat bentuknya.


Selesai jahit, seksi packing, baju yang telah dijahit akan dirapihkan, dipasang tag yang mencantum merk dan terakhir dimasukkan ke dalam plastik bening.


Terakhir seksi stok, orang-orang ini yang akan mengendalikan stok dari bahan untuk akhirnya di distribusikan untuk dijual oleh divisi penjualan.


Sementara Dinda berada di seksi jahit dan Erin seksi Pola. Memang yang paling sering lembur adalah seksi jahit karena di sanalah baju paling lama diproses.


“Belum kelar Rin, kenapa? kalau mau balik, balik aja duluan.” Dinda terganggu dengan rengekan sahabatnya itu. Mereka berdua adalah dua orang yang masih berumur dua puluhan, belum menikah apalagi punya anak. Untuk Dinda bekerja dengan baik adalah salah satu tujuannya bekerja di sini, makanya dia selalu jadi karyawan teladan.


“Besok aja lagi, target lu udah kelar kan?” Erin sepertinya tahu bahwa Dinda sedang mengejar insentif lemburan.


“Iya, tapi gue butuh uangnya buat bayar kuliah, jadi gue mesti kelarin lebih banyak biar dapat insetifnya.” Dinda memohon pengertian Erin.


“Masalahnya kalau gue sekarang pulang duluan, gue bakal melewati seksi Packing dan stok sendirian, lu tahu kan, kalau ....”


“Sstt, jangan diomongin, ini udah malam, jam dua belas, kalau gitu tungguin gue, satu jam lagi aja, abis itu baru kita pulang.”


Pabrik ini memang hanya dua shift, yaitu shift pagi dan siang, pagi dari jam delapan sampai jam lima sore, lalu yang siang dari jam dua sampai jam 11 malam. Jadi Dinda mengejar dua jam lemburnya dengan banyaknya baju yang dia jahit pun, harus lebih banyak.


Teman-teman kerjanya sudah pulang sejak satu jam yang lalu, bisa dibilang dia memang selalu yang pulang paling terlambat.


“Satu jam ya, janji!” Erin mengingatkan, karena tempo hari mereka bahkan pernah pulang jam dua malam, walau besoknya masuk siang, tapi tetap saja, pulang terlalu larut sebenarnya terlalu bahaya buat dua orang perempuan muda ini.


“Iyaaa, Dinda lalu berkutik dengan jahitannya lagi.”


Erin menunggu Dinda yang sedang menjahit di sampingnya sembari main telepon genggamnya.


Karena haus, Erin akhirnya ke dapur, semua seksi memiliki dapurnya dan toiletnya sendiri, karena setiap seksi itu berada di ruang yang berbeda-beda dengan bentuk memanjang, pabrik ini memang dulunya adalah lahan perkebunan yang luas, lalu di gundulkan untuk dijadikan pabrik yang luas.


Erin melangkah ke dapur, tidak disangka ternyata ada security yang sedang membuat kopi.


“Pak, lagi buat kopi?” Erin menyapanya.


“Iya Mbak, belum pulang?” Tanya security itu, dia berhenti mengaduk kopinya.


“Belum, itu si Dinda biasa lembur,” Erin menjawab.


“Bilangin sama temannya, jangan selalu pulang malam.” Security itu berkata.


“Hah? kenapa Pak?” Karena kurang jelas mendengarnya, Erin bertanya lagi.


Security itu diam lalu melanjutkan mengaduk kopinya.


Erin tertegun sedetik kemudian bahunya di tepuk dari belakang, Erin kaget dan menoleh seketika dia terkejut bahkan sedikit melompat.

__ADS_1


“Loh Pak!” Erin kaget karena security yang baru saja berbicara dengannya, tiba-tiba ada di belakangnya.


“Jangan bengong Neng, udah malam ini.” Security itu berbicara.


“Pak, bukannya tadi buat kopi?” Erin berkata dengan gemetar. Tubuhnya mundur karena tidak percaya dengan penglihatannya.


“Neng ....” Erin mendengar suara dari belakangnya, dia bergegas menoleh dan ... security tadi ternyata masih mengaduk kopi.


Erin buru-buru menoleh ke arah security yang menepuk bahunya dari belakang tadi, tidak ada kosong, tidak ada security yang menepuk bahunya tadi.


Dia menoleh kembali ke security yang mngaduk kopi, kosong. Tidak ada orang di dapur itu! tidak jadi mengambil air, dia berlari kembali ke Dinda, tapi ....


Gelap ... ruang seksi jahit menjadi gelap, Erin mencoba mencari pegangan, dapur pun gelap, semua terlihat gelap.


Erin mulai panik, dia berlari, entah kemana, tapi dia mencoba berlari saja, saat berlari, anehnya dia tidak terhalang benda apapun, seharusnya saat berlari, dia tersandung barang-barang karena begitu banyak meja serta benda-benda yang biasa digunakan untuk kebutuhan menjahit.


Tapi kenapa dia berlari begitu lancar, tidak tersandung atau menabrak sesuatu. Tapi ada satu yang aneh, saat dia berlari, seperti begitu banyak orang di sini, orang itu tertawa, berbisik dan bahkan ada yang bersenandung, entah siapa, karena seharusnya saat ini semua ruang kosong, Erin terus berlari, dia bahkan lupa sebenarnya sedang menunggu Dinda.


Sementar Dinda masih terus menjahit, di ruang jahit yang terang benderang.


“Rin, udah ambil airnya?” Erin hanya mengangguk dan duduk lagi di samping Dinda. Kali ini Erin tidak main dengan telepon genggamnya. Dia hanya duduk menghadap kosong ke depan.


Dinda masih saja terus melanjutkan jahitnya.


“Udah sejam nih Rin, yuk kita pulang.” Dinda membereskan meja jahitnya, Erin lagi-lagi mengangguk saja. Setelah membereskan mejanya, Dinda lalu mengambil tasnya yang ada di loker seksi jahit, sementar Erin terus mengikutinya dari belakang.


“Rin, takut ya?” Dinda menoleh padanya, Erin tersenyum aneh dan dia mengangguk saja sambil terus menatap Dinda. Dinda tidak terlalu perduli soal ekspresinya, dia lalu menarik tangan Erin agar mereka bisa mulai keluar dari pabrik.


Pertama yang mereka harus lewati adalah seksi packing, saat membuka pintu untuk melewati seksi itu, Dinda tertegun, kenapa masih banyak pegawai, mereka semua sedang packing.


“Kok, masih ada orang? pada lembur kali ya?” Dinda bertanya pada Erin yang tangannya masih dia pegang, mereka bergandengan.


Erin kembali hanya mengangguk.


“Pulang duluan ya.” Dinda mencoba ramah pada orang terdekat yang dia lewati, karena banyaknya karyawan, Dinda tidak terlalu kenal, divisinya saja sudah ada lima puluh orang, jadi wajah jika dia tidak terlalu kenal seksi lain.


Tapi orang yang dia sapa tidak menjawab, sibuk dengan pekerjaannya.


“Rin, kenapa pada aneh ya? kok mereka kayak diem aja gitu, biasanya pada ngobrol kalau kerja.” Dinda yang masih berjalan menyusuri tempat seksi packing berbicara pada Erin. Mereka hampir sampai ke pintu keluar seksi itu, tiba-tiba Erin berhenti. Dinda terkejut, karena itu membuat langkah Dinda tertahan.


“Kenapa?” Dinda melihat ke arah Erin yang menunduk, dia bingung karena Erin tiba-tiba berhenti.


“Din, di sini aja yuk?” Erin berkata masih dengan menunduk.


“Apaan sih Rin? Kan elu yang tadi minta pulang, sekarang kenapa malah beda, mau di sini, kerjaan gue juga udah kelar.” Dinda kesal karena Erin malah bermain-main.


“Disini aja ya, main sama kita.” Erin akhirnya mengangkat wajahnya, aneh, wajahnya pucat dan senyumnya menyeringai.


“Rin, jangan aneh-aneh, yuk!” Dinda mencoba meraih tangan Erin, tapi ditepis, Erin malah berlari, dia berlari kembali ke arah pintu masuk seksi jahit.

__ADS_1


“Rin!” Dinda berteriak, saat itu tiba-tiba suasana hening, semua orang berhenti bekerja, tidak ada suara sama sekali, orang-orang yang tadi bekerja itu tiba-tiba terdiam menatap ke depan, menatap kosong.


Lalu saat Dinda sibuk memperhatikan semua keanehan itu, orang-orang yang tadinya bekerja secara kompak menatap ke arahnya.


Tatapan itu bersamaan, sehingga membuat Dinda kaget, spontan dia membuka pintu keluar seksi packing dan berlari di seksi stok, dia berlari tanpa perduli di belakangnya.


Berhasil mencapai pintu keluar seksi stok, dia langsung bisa melihat security yang sedang merokok di dekat pintu.


“Pak! tolong teman saya Pak! tolong!” Dinda meminta tolong pada security itu.


“Kenapa temannya Mbak?” Security bertanya.


“Itu teman saya aneh, tadi minta pulang, pas mau pulang dia malah lari lagi ke dalam, itu juga orang-orang di seksi packing aneh, mereka tuh kayak ... kayak kesurupan semua, aneh!” Dinda mencoba menjelaskan sebisa yang dia mampu jelaskan.


“Orang-orang packing? Udah nggak ada buruh lagi di dalem Mbak, cuma mbak jahit doang yang masih ada, mbak ini mbak jahit ya?” Security itu bertanya.


“Iya, ada satu lagi Pak, temen saya, namanya Erin, dia orang pola.”


“Oh yang orang pola? Udah pulang, sepuluh menitan yang lalu lah, saya juga sapa dia pas dia keluar, tapi dia pergi aja nggak noleh, mungkin capek kali ya, jadi nggak nanggapin saya.” Security itu mencoba menjelaskan.


“Hah? nggak kok Pak, Erin tadi mau keluar sama saya, cuma ... ya ... itu, tangannya dingin sih, trus aneh.”


“Oh, berarti bukan orang itu.” Enteng sekali dia berkata, membuat Dinda terkejut, dia juga akhirnya pergi keluar, tapi sepanjang perjalanan, dia menelpon Erin terus, tapi tidak diangkat.


Dinda khawatir, tapi dia juga tidak berani masuk lagi ke dalam pabrik, security itu juga bersikeras kalau Erin sudah pulang, Dinda jadi bingung, makanya dia memutuskan pulang saja dulu.


Besok kalau ketemu Erin, Dinda akan tanyakan apakah benar dia pulang duluan, lalu siapa yang bersamanya kemarin, yang tangannya dingin itu?


...


Esok harinya, Dinda terbangun cukup siang, karena memang dia kelelahan, semalam pulang cukup larut.


Hal pertama yang dia lakukan saat bangun adalah, dia membuka telepon genggangmnya, ada begitu banyak pesan di sana dan juga telepon tak terjawab.


Dinda buru-buru menelpon balik, itu adalah telepon supervisornya.


[Din! Kok baru telepon?] Suara di sebrang sana langsung berteriak, Dinda yang baru bangun jadi pusing.


[Kenapa Mas?] Dinda bertanya.


[Temenmu Erin! Si Erin anak pola!]


Dinda terdiam, jantungnya berdebar, dia benar-benar ketakutan.


[Erin kenapa Mas?] Dinda bertanya dengan hati-hati sambil ketakutan.


[Erin ... ditemuin udah nggak bernyawa pagi ini ama anak shift pagi di ruang packing! Badannya udah membiru, katanya serangan jantung!]


Dinda lemas, telepon genggamnya terjatuh, dia seketika pingsan.

__ADS_1


__ADS_2