
“Aku juga tak melihat siapapun, tapi aku merasakan energi kelam dari pesepeda itu, kemungkinan ini calon korban.” Aditia masih terus mengejarnya.
Tapi sayang masih tak terkejar, pria itu makin dekat dengan jalan masuk terowongan ....
“Aku akan mengejarnya.” Alka merubah wujudnya menjadi jin, setelah berubah total, dia keluar dari angkot jemputan dengan cara melayang.
Setelah keluar dari angkot itu, dia lalu melesat dan menahan sepeda dari pria itu, pria yang mengendarai sepeda jatuh dan seperti baru tersadar.
Aditia menghentikan angkotnya dan berlari mengejar pria itu.
“Pak, Bapak nggak apa-apa?” Aditia bertanya.
Lelaki itu linglung, Aditia memapahnya dan memintanya masuk angkot, Alka merubah wujudnya lagi agar bisa dilihat oleh pria itu.
Aditia lalu mengendari angkotnya menjauhi terowongan dan setelahnya dia, juga Alka duduk di bagian belakang angkot, di mana pria itu tadi dipapah masuk oleh Aditia.
“Kenapa tadi jatuh Pak?” Aditia bertanya.
“Saya ... tidak ingat.”
“Apakah ada seorang wanita yang mencoba untuk meminta bantuan dan diantar ke suatu tempat sebelum Bapak jatuh tadi?”
“Perempuan? Tidak, tidak ada perempuan yang minta tolong, saya hanya ... apa ya tadi, perasaan mau pulang ke rumah, tapi kenapa saya lewat sini ya? padahal rumah saya nggak di sini, kok saya bisa ke sini ya?” Pria itu tampak bingung.
“Jadi tak ada yang minta tolong, Pak? tidak ada yang meminta bapak lewat jalan sini?”
“Tidak ada, saya hanya ingin pulang, tapi ... oh ya! agak ngantuk sebentar, makanya saya mungkin tadi nggak sadar belok ke sini, ngendarain sepeda sambil ngantuk, makanya malah ke terowongan itu, padahal itu bukan jalan ke rumah saya.”
“Yasudah, kalau begitu kami antar ya, sepedanya juga udah rusak tuh, saya bantu benerin mau Pak?” Alka menawarkan diri.
“Oh, terima kasih sekali ya, untung ada kalian, kalau tidak mungkin saya celaka di dalam sana, karena mengendarai sembari ngantuk itu akan sangat berbahaya, kan?” Pria itu yang mungkin seumuran dengan supir taksi itu berkata dengan penuh syukur.
“Iya Pak, lain kali kalau malam hari, jangan pergi pakai sepeda lagi ya, hati-hati.”
“Iya, banyak begal ya, emang di sini tuh banyak kejadian kecelakaan ya? gelap sih,” Pria itu berkata.
Alka dan Aditia hanya mengangguk, pria itu duduk dengan Alka di bagian belakang angkot, Aditia menyetir sendirian di depan.
Setelah mengentar pria itu sampai rumahnya, tidak mampir dan hanya langsung berpamitan, Alka dan Aditia kembali berkendara ke arah terowongan itu lagi.
“Kita dijebak ya?” Alka membuka omongan setelah tadi menahan diri untuk bicara, karena takut pria itu curiga.
“Sepertinya, kau merasakan juga energi itu kan, Ka?” Aditia bertanya lagi, untuk memastikan.
“Ya, aku langsung merasakannya begitu terbangun, makanya aku merubah wujud, takut terlambat.
“Dia tak memunculkan diri pada pesepeda itu, dia hanya memanggilnya untuk berbelok, mengelabui kita, dia ingin melihat energi kita, bukan?” Aditia kembali mengemukakan asumsinya.
“Ya, aku pikir begitu, ngantuk macam apa yang tidak kaget mendengar klakson kencang darimu dan teriakan dari kita. Mata dan telinganya ditutup, dia dipanggil dengan bisikan ghaib, hingga akhirnya berbelok ke arah terowongan itu, dia jelas sedang mempermainkan kita, Dit.”
“Kita dengan senang hati masuk jebakannya.” Aditia tertawa sinis pada dirinya sendiri.
“Dia sudah mengenali energi kita, akan sangat percuma kalau kita menjaganya, dia pasti tidak akan lagi membawa korban ke terowongan itu, bukan? dia pasti bersiaga dan takut kita tangkap. Dia tidak sekuat kita, kalau dia percaya diri, dia akan keluar dan menantang kita dengan keluar bukan? berarti dia tidak begitu tinggi ilmunya.”
“Jangan terlalu percaya diri dulu, tidak semua makhluk yang berilmu tinggi akan menantang musuhnya, karena berilmu tinggi dan cerdar, akan menghitung langkah lawannya dulu untuk melawan dan memastikan dia menang, ingat, tidak semua orang memiliki karakter seperti kau dan Alisha.”
“Maksudnya? Kenapa dengan aku dan Alisha!” Aditia kesal disamakan dengan istrinya Hartino.
__ADS_1
“Sama-sama nekat, nggak mikir panjang, cerdas padahal.”
“Ka!”
“Itu kenyataannya, bisa saja agent itu seperti Ganding bukan? selalu menghitung langkah dulu baru dia akan melakukan sesuatu, memastikan bahwa kita akan menang, baru dia akan bertindak.”
“Ya ya ya, kau puji saja itu adikmu!”
“Kau marah?”
“Tidak! lihat saja, wajahku terlihat senang bukan?”
“Dit, kita nggak balik ke tempat itu lagi?” Alka baru sadar mereka sepertinya akan kembali ke markas.
“Percuma, dia akan gencatan senjata dulu kan, dia pasti akan cuti dari mencari korban karena sudah tahu sedang kita awasi.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja Ka, dia takkan mengambil korban untuk malam ini, besok Ganding dan Jarni akan berjaga, mungkin energi mereka tak akan terlihat, kau tahulah, kalau pagar Jarni jauh lebih mampu dibanding pagarku.”
“Jangan terlalu merasa diri kerdil, kau juga memiliki pagar yang cukup kuat, buktinya tadi dia harus menjebak kita agar mau keluar dengan memancing korban lain, tapi ternyata hanya korban coba-coba.” Alka kesal mengingatnya.
“Kau memujiku karena merasa bersalah kan, tadi sudah menghinaku.”
“Tidak, aku tidak menghinamu, hanya menyampaikan pendapatku tentang sifatmu, itu saja.”
“Tapi terburu-buru atau nekat itu kan, sifat yang buruk.”
“Sudah tahu, lalu kenapa masih selalu dilakukan?”
“Namanya juga manusia, Ka.”
“Jadi aku istimewa ... di matamu.” Aditia tersenyum nakal saat mengatakannya.
“Di mata semua orang yang bisa melihat Karuhunmu, kau istimewa.”
“Di matamu bagaimana?”
“Kau tahu kan jawabannya? Kenapa aku harus jawab?”
“Aku tidak tahu.”
“Berkendaralah dengan fokus, kau mau kita celaka?” Alka mengingatkan.
Tak lama mereka sampai di markas, semua kawanan sedang di ruang tamu dengan wajah yang sendu.
“Ada apa?” Aditia dan Alka khawatir.
“Korban supir taksi sudah meninggal dunia, aku sempat menemui istrinya sebelum supir taksi itu meninggal dunia. Padahal kondisinya stabil ketika aku temui, tapi ... aku dapat kabar dari istrinya barusan, aku hendak menanyakan tentang keadaan suaminya, tapi dia malah menangis, ini sudah hari ketiga kematian suaminya, mereka sedang tahlilan.” Ganding menjelaskan, karena dia dan Jarni kemarin yang menemui istri supir taksi itu.
“Apa katanya?” Aditia bertanya.
“Katanya kondisi suaminya stabil lalu tiba-tiba kritis dan meninggal dunia.”
“Lalu apa lagi?”
“Ada yang aneh katanya, sebelum dia meninggal dunia, istrinya merasa melihat suaminya itu berjalan di luar ruangan ICU, istrinya mengejar, lupa bahwa suaminya masih terbaring, tapi aneh, suaminya tidak menoleh walau dipanggil berkali-kali, hingga akhirnya dia sentuh bahunya, bahunya dingin, dari situ si istri baru sadar kalau suaminya mungkin telah tiada dan yang dia lihat saat ini adalah ruhnya. Makanya dia jatuh lalu setelah itu suaminya meninggal dunia.” Ganding menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
“Apa yang kau dapatkan pada saat pertama kali menemui istrinya supir taksi itu?”
“Hanya pernyataan biasa, Dit. Tidak ada firasat, suaminya memang biasa narik sampai larut, karena jam malam biasanya penumpang mau jika diantar tanpa argo, walau itu melanggar peraturan kantor, tapi sering dilakukan supaya dapat uang lebih, mereka masih punya beberapa anak yang masih sekolah dan tentu saja, suaminya adalah satu-satunya tulang punggung keluarga.”
“Kita akan menemui istrinya nanti, kita harus memberinya santunan, supaya dia bisa melanjutkan hidup.” Aditia ingin menolong dengan tulus. Dia tahu dengan jelas, betapa menakutkannya kehilangan kepala keluarga, apalagi Aditia mau tidak mau harus jadi kepala keluarga, melihat ibunya begitu kerja keras untuk menutupi kebutuhan keluarga, Aditia jadi iba mendengar apa yang dialami oleh istrinya supir taksi itu.
Walau setelahnya Aditia baru tahu kalau dia adalah pewaris tunggal seluruh kekayaan ayahnya, karena dia satu-satunya anak kandung dan ayahnya yang menyembunyikan kekayaan tahu dengan jelas, harga warisan di tangan Aditia akan aman, karena dia sudah dididik dengan baik dan tidak serakah untuk menjaga ibu dan adiknya, walau ibunya tak pernah tahu apapun soal asal usul suaminya hingga saat ini.
“Kita akan ke sana Dit, aku juga ingin membantunya, kasihan dia.” Hartino mau ikut juga.
“Oh ya, kenapa kalian pulang? Bukankah shift kalian berakhir pagi nanti?” Ganding baru tersadar karena tadi mereka sibuk memikirkan supir taksi itu.
“Ya, kami dijebak hingga akhirnya dia tahu jati diri kami.” Alka menjelaskan.
“Kok bisa! Tumben Kak?” Ganding bertanya pada Alka, karena Alka orang yang paling sulit dijebak, intuisi dan kecerdasan dalam strategi, membuatnya tangguh untuk mengenali banyak jebakan ghaib, apalagi dia punya tubuh jin yang paling tidak bisa membaca gerakan lawan, tapi kenapa sekarang mereka berdua tertipu dengan mudah?
“Dia memancing dengan orang yang kami kira korban berikutnya, taunya kami salah, dia hanya orang yang dipanggil untuk masuk ke terowongan itu, bukan target utama korban, hanya korban coba-coba, mungkin kalau akhirnya masuk akan dijadikan korban, kalau tidak masuk, agent itu akhirnya tahu, siapa yang mengintainya. Karena mau tak mau, aku dan Alka keluar dari persembunyian untuk mencegah pria pesepeda itu masuk.” Aditia menjelaskan dengan rinci.
“Oh aneh ya, kalau dia bisa panggil korbannya, trus untuk apa yang lain dia repot-repot harus keluar dari terowongan itu? kan dia bisa panggil korban yang lain juga tanpa harus keluar dari terowongan dan terancam terlihat oleh orang-orang yang indigo seperti Pak Arifin?” Ganding mulai kritis.
“Karena radius pemanggilan tidak terlalu jauh, sedang korban yang dia inginkan mungkin jaraknya sangat jauh.” Alka jadi punya teman diskusi yang sepadan, yang lain bersiap mendengar dua orang bijak mulai memperlihatkan kecerdasannya.
“Butuh popcorn nggak? diskusi bakal panjang nih.” Alisha membuat semua orang memelototinya, karena dia akhir-akhir ini sering sekali makan, sepertinya perut itu tidak pernah kenyang, “Sorry, hanya menawarkan saja.”
“Kalau radiusnya memang tak panjang, kemampuan pemanggilannya sangat pendek, hingga dia harus keluar, makanya kalian mengambil kesimpulan dijebak, tapi pertanyaannya, kenapa dia harus memilih pesepeda? Kenapa bukan orang yang mengendarai motor saja? Karena kemungkinan kalian keluar menyelamatkan korban dengan motor itu tetap ada hingga dia bisa deteksi energi kalian tapi bisa tetap dapat korban selanjutnya juga, karena laju motor lebih cepat bukan? karena mengejar motor itu mustahil, kenapa dia seperti sengaja ....”
“Mengejek kami ... itu kan Nding?” Alka terlihat kesal dan baru saja menyadarinya.
“Dia sedang mengejek kita dan sengaja menjadikan pesepeda itu hanya umpan saja? Memang bukan bagian dari korban karena ....” Aditia juga baru sadar, beberapa kepala memang sangat bermanfaat dibanding dua kepala saja, apalagi kepalanya Ganding, maksudnya isi kepala Ganding.
“Karena kalian bukan targetnya, jadi dia tak ingin menghabisi pesepeda itu sejak awal, dia hanya ingin bermain dengan kalian!”
“Brengsek!” Aditia baru sadar setelah Ganding mengemukakan pendapatnya.
“Apalagi alasannya selain itu? masa di jalan yang sama pesepeda itu lewat tak ada motor sama sekali, pasti ada, tapi dia sengaja memanggil yang paling lemah dari setiap jenis kendaraan aygn ada, hanya untuk bermain-main dengan kalian, dia hendak melihat wujud kalian, mempermainkan kalian sekaligus menghitung untuk memastikan mampu melawan kalian.” Ganding membuat kesimpulan.
“Maka seperti yang aku bilang Dit, dia bukannya tidak memiliki ilmu, bahkan kita dipermainkan saja tidak sadar, sungguh sebelum Ganding mengatakan itu, aku tidak sadar telah dipermainkan oleh agent brengsek itu!” Alka kesal hingga harus mengeluarkan umpatan.
“Wah lawan kita kali ini cerdik seperti kancil, semoga saja tidak sekuat dewi iblis di Bali itu juga, karena pasti akan sulit menghadapinya.” Hartino sudah yakin mereka akan kurang tidur dan makan lagi.
“Kalian beneran nggak mau popcorn? Yang asin dan manis gitu, enak loh itu.” Alisha masih kekeh dengan popcornnya, apa dia pikir kawanan sedang nonton layar tancap hingga butuh popcorn, tapi kan layar tancap tak cocok makan popcorn, cocoknya minum bajigur dan pisang rebus, kopi hitam juga boleh.
“Nggak makasih.” Jarni menolak dengan kesal, kelakuan Alisha sungguh berbeda dari dia yang dulu anggun dan menjaga sikap, sekarang dia cenderung bersikap sangat menyebalkan, terkadang jadi pelawak, terkadang jadi penari malah terkadang jadi orang yang suka makan.
“Dit, aku harus mengabarkan satu kejadian yang memilukan lagi.” Hartino yang tadi sedang sibuk dnegna layar ponselnya tiba-tiba mengatakan itu, dia memang selalu suka baca berita apapun di ponselnya, makanya dia paling update soal berita.
“Ada apa!” Aditia terlihat sangat khawatir.
“Kalian ingat soal korban tukang becak yang pernah aku infokan kemarin itu?” Hartino berkata lalu melanjutkan, "ini yang kejadiannya dua hari yang lalu itu, tukang becak paruh baya yang ditemukan meninggal dunia, dengan mengenaskan, katanya serangan jantung, ditemukan dalam keadaan memegang dada dan mata terbelalak, matanya sempat tidak bisa ditutup, dia sepertinya meninggal dalam ketakutan, satu lagi, dia dari keluarga yang sangat kekurangan.
Ada informasi terkini soal istrinya, katanya istrinya ditemukan pingsan karena kelaparan, Dit. Mungkin menunggu suaminya pulang untuk bisa makan.” Hartino sedih mengatakannya.
“Sungguh keterlaluan!” Alka geram, semua orang juga, termasuk Alisha yang cengengesan sedari tadi.
“Kita gempur aja sekalian apa?! kita hancurkan terowongan itu kalau perlu!” Aditia kembali dengan sifat nekatnya.
“Tidak! tetap pada rencana.” Alka menolak dan yang lain setuju pada Saba Alkamah dibanding kasep. Akan berbahaya kalau mereka asal gempur, kalau yang diterowongan banyak dan berilmu tinggi bagaimana? bisa habis kawanan.
__ADS_1
“Aku sungguh tak sabar ingin mencincang tubuh agent itu!!!” Aditia masih saja marah dan tidak sabar, yang lain mencoba menenangkannya.
Siapa yang tidak marah mendengar ini? yang tidak marah, dia pasti sesama iblis.