
Kawanan kembali ke markas, tanpa Pak Dirga, karena dia harus kembali ke rumah, sedang kawanan akan fokus merawat Ganding dan Jarni.
Begitu sampai, Dokter Adi sudah di markas, dia dan beberapa perawat yang juga pemilik Khodam dan Kharisma Jagat sedang mempersiapkan alat penunjang hidup bagi orang koma, untuk dua orang, biasanya dia hanya harus menyiapkan untuk Malik saja atau satu orang, tapi sekarang, dia harus menyiapkan untuk dua orang, sulit tapi bukan berarti tak mampu.
“Maaf Dok, aku tidak bisa membawa mereka ke rumah sakit, karen akan bahaya bagi mereka jika ke rumah sakit, akan banyak pertanyaan dari keluarga dan mungkin kepolisian soal ini, ditambah tubuh mereka tubuh istimewa pemilik Khodam, akan banyak jiwa yang suka tubuh-tubuh itu, makanya aku meminta pertolonganmu, Dok.” Aditia meminta maaf menyusahkannya.
“Santai saja, kayak baru pertama kali aja kau merepotkanku.” Dokter Adi masih sibuk dengan semua peralatan ini.
Jarni dan Ganding sudah dibaringkan di tempat tidur dengan alat penunjang kehidupan.
“Bagaimana keadaan mereka, Dok?”Aditia bertanya.
“Mereka stabil, kalian sedang menghadapi apa sih?” Dokter Adi bertanya, dia dan Perawat sudah selesai memasang semua alat itu dan membiarkan Jarni serta Ganding tertidur di sana.
“Entah apa yang kami hadapi, kami tidak tahu, Dok.” Alka berkata.
“Ini kasus apa?”
“Kasus terowongan Dok, terowongan itu menelan korban, banyak terjadi kecelakaan di sana.”
“Lalu apa masalahnya, Dit?”
“Kami tidak bisa masuk ke sana, jadinya kami tidak tahu kasus apa ini sebenarnya, pesugihan kah? Sekte sesat kah, Jin atau iblis laknat kah, setiap kami mendekati terowongan itu, badan kami lemas.”
“Lemas? Badan kalian lemas setiap kali mendekati terowongan itu?”
“Iya Dok.”
“Sudah baca kitab kasus yang ada di sini? bukankah Pak Mulyana menyusun kitab untuk setiap kasus?”
“Iya, tapi tak ada, kami sudah mencarinya.”
“Kalau kalian mental, berarti energinya bersinggungan, tapi kalau kalian lemas berarti energi itu berasal dari tempat yang sama dengan energi milik kalian, tapi memiliki tingkat yang lebih tinggi.”
“Apakah berarti ini ulah Kharisma Jagat juga?” Aditia bertanya.
“Kharisma Jagat tertinggi itu Ayi Mahogra, setelahnya keluargamulah yang menempati kelasnya, jadi kalau itu memang Kharisma Jagat juga, sangat tidak mungkin bisa melemahkanmu, karena tingkatan ilmumu, tepat di bawah Ayi Mahogra.”
“Lalu siapakah dia?”
“Aku tidak tahu, tapi aku akan coba bantu mencari informasi, jika saja ada yang diketahui oleh orang yang ada di AKJ.”
“Baiklah Dok, terima kasih.”
“Lalu soal Jarni dan Ganding, kalian akan melakukan apa?”
__ADS_1
“Kami akan tetap mencoba menerobos masuk.”
“Kan tidak bisa, kalian harus tahu dulu identitasnya sosok ini agar bisa tahu kelemahannya.”
“Kami paham itu Dok, tapi kami tak punya cara lain selain menerobos, makanya kami berusaha terus agar bisa masuk.”
“Aku akan tetap mengunjungi kalian secara intens, untuk memastikan tubuh Jarni dan Ganding stabil. Aku tidak tahu apakah ini bisa membantumu atau tidak, dulu saat tubuh Malik di tahan oleh para pembelot yang membenci Ayi Mahogra dan Ayi baru saja membuka segelnya, Ayi mendatangi tempat di mana Malik di tawan, maksudku jiwa Malik bersama Pak Hanif kakaknya Malik dan juga kekasih jinnya, mereka berhasil mengambil kembali jiwa Malik.”
“Tapi Ayi tidak lemas saat mendekati tempat di mana Kak Malik ditawan, Dok?”
“Tidak, Ayi saat itu menggunakan teknik Asih Kalungguhan, ini adalah teknik menjinakkan Karuhun milik orang lain, secara teknis hanya Ayi yang bisa melakukan ini, tapi mungkin bisa kau gunakan.”
“Aku menarik sosok di dalam terowongan itu untuk menjadi Karuhunku?”
“Bukan, kau tarik khodam Jarni atau Ganding, hanya untuk tahu apa yang terjadi di dalam.”
“Dok! kalau aku ambil khodamnya untuk dijadikan Karuhun, siapa yang menjaga Jarni dan Ganding di sana?”
“Kalau kau kelamaan, mengambil jiwanya, maka tubuh itu takkan ada gunanya lagi kita jaga!”
“Setelah di ambil khodamnya, apakah kita bisa kembalikan lagi khodam milik Ganding atau Jarni itu Pak?”
“Prinsipnya begini, dulu Karuhun Malik diambil Pak Hanif dengan cara menunjukkan siapa yang terkuat, karena pada dasarnya Karuhun atau Khodam lebih suka tubuh yang kuat, makanya dulu Karuhun milik Malik dibuat membelot dengan berpindah tuan ke Pak Hanif, tetap tidak kembali ke Malik karena Pak Hanif memang lebih kuat, sedang Malik kelemahannya adalah Ayi.
Maka kalau kau ambil Khodam Ganding atau Jarni, kemungkinan khodam itu setelah resmi jadi milikmu, mendampingi Abah Wangsa, karena kita sama-sama tahu, kalau seorang Kharisma Jagat bisa memiliki beberapa Karuhun, bukan? maka sudah bisa dipastikan khodam yang kau rebut, pasti takkan mau ke tuan lamanya, di mana dia tahu, ilmumu jauh lebih tinggi.”
“Alisha bisa buktinya, sebelum kalian ke Bali, Alisha hanya manusia biasa tanpa Esash, kan? sekarang dia memiliki Rangda.”
“Tapi dia begitu karena Esash iblis, bukan khodam pelindung, sedang aku, kau suruh untuk merebut Khodam milik saudaraku sendiri!”
“Kau masih tidak ingat kalau Pak Hanif dan Malik satu darah, karena memiliki ayah yang sama? Khodamnya direbut loh.”
“Tapi ada cerita di balik itu bukan? dulu Pak Hanif belum paham dan hendak balas dendam, sedang aku? aku menyayangi mereka! aku tidak mau jadi dibenci karena itu.”
“Aku juga tak setuju, khodam milik Jarni dan Ganding sudah ada sejak mereka kecil, maka mungkin sulit untuk direbut, kalau pun bisa, aku yakin pasti kembali, tapi aku tidak yakin bisa direbut.” Alka menolak.
“Kalau aku sih setuju aja, kalau memang khodam itu bisa menjadi jalan keluar agar kita tahu apa yang terjadi di dalam, aku bisa kok tetap berada di kawanan walau tanpa khodam.” Alisha setuju dengan jalan keluar Dokter Adi.
“Aku tidak setuju, aku tidak ingin Ganding ataupun Jarni tidak memiliki khodam lagi, kalau pun mereka selamat, apa kau yakin bisa menanggung rasa bersalah dan melihat salah satu diantar mereka dengan kepala tegak, Dit?” Hartino tidak setuju dengan istrinya.
“Aku hanya memberi kalian saran dan kalian yang putuskan, baiklah, aku pamit ya, hubungi aku kapan pun kalian butuh, aku akan datang, karena kawanan dan AKJ jauh lebih penting dari apapun bagi kami.”
Dokter Adi pamit dan pergi bersama perawatnya.
“Dit, apa yang akan kau lakukan?” Alka bertanya.
__ADS_1
“Entah, apa yang Dokter Adi sarankan itu akan menjadi opsi terakhir, aku masih berharap Pak Arif bisa bantu kita, besok kita akan temui dia.” Aditia mengingatkan kalau mereka masih bisa berharap pada Pak Arif.
...
Pagi tiba, mereka sudah berkumpul di ruang perawatan Pak Arif, masih di markas besar yang sedang mereka bangun. Ada banyak kamar perawatan bagi pemilik khodam atau karuhun yang memiliki keadaan lemah.
“Pak, bagaimana, apakah kau bisa mengingat malam itu apa yang terjadi, siapa yang kau lihat bersama Pak Dino?” Aditia bertanya.
“Aku masih belum bisa ingat, maafkan aku.” Pak Arif menunduk karena ternyata terapinya begitu sulit dan menyakitkan baginya yang sudah cukup berumur, kawanan juga sulit untuk memaksanya.
“Tapi saya dengar saat saya masuk alam bawah sadar, saya bisa mendeskripsikan beberap jin yang saya lihat secara kabur dengan jelas, apakah kita bisa melakukan sesi terapi seperti itu? mirip seperti hipnoterapi yang dilakukan saat tak sadarkan diri.”
“Baiklah, mari kita coba.” Hartino memanggil Dokter khusus yang juga merupakan indigo, yang merawat Pak Arif selama ini.
“Dok, apa mungkin kita bisa melakukannya? Katanya kau berhasil membangunkan ingatan dari waktu yang lampau?” Aditia bertanya, Dokter itu merupakan Psikiater.
“Ya, kita bisa coba.” Psikiater itu menyiapkan beberapa hal untuk masuk ke alam bawah sadar pak Arif.
Setelah semua alat siap, Pak Arif ditidurkan di tengah-tengah, lalu semua orang mengelilinginya, untuk hanya untuk memberikan energi tambahan dan memastikan Pak Arif takkan tersesat dalam terapi ini, karena masuk ke alam bawah sadar itu juga cukup menakutkan, apalagi dia memang penakut dan harus menghadapi lagi apa yang dia dia takuti dan dia pikir sudah berakhir, tapi sekarang dia malah mendekati hal itu lagi.
Terapi di mulai, Psikiater itu mulai dengan pertanyaan yang utama.
“Malam itu kau sedang apa?”
Pak Arif sudah masuk fase tidur, dia juga sudah masuk alam bawah sadar, sedang Dokter mulai bertanya.
“Sedang duduk dan memperhatikan sekitar.”
“Kau lihat Dino sedang apa?”
“Dino ... dia sedang berbicara.”
“Dengan siapa?” Psikiater itu bertanya lagi.
“Dengan ... bayangan hitam yang pekat.”
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Coba perhatikan lagi.” Dokter itu meminta Pak Arif untuk lebih fokus lagi.
“Sosok hitam itu pekat.”
“Kau harus melihatnya lebih tajam lagi, perhatikan sekali lagi.” Dokter itu memaksa.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mendekatinya.” Pak Arif memaksakan diri mendekati Sardino, walau malam itu tidak seperti itu, tapi dia mencoba mendekati ingatannya dan ....
“Dia seorang wanita! dia berkerudung hitam dan ... sangat cantik namun mengerikan!”