Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 561 : Mulyana 67


__ADS_3

Mulyana lalu mengejar Yoga dan memakaikannya baju, sementara Yoga masih memberontak, Mulyana terus membaca doa dan mengusap wajahnya terus menerus hingga tangannya terasa lelah, Yoga lalu pingsan dan akhirnya Mulyana serta Dirga sepakat untuk membawa Yoga ke rumahnya Yoga terlebih dahulu, mengumpulkan mereka semua pada satu tempat dan mungkin akan menelpon Polisi pada akhirnya, tapi sekarang, ada banyak hal yang harus Mulyana korek dari istrinya Yoga, seperti mungkin dia tahu di mana ayahnya Wulan berada, karena tetap saja, Wulan harus dipulangkan dan jika ayahnya ikhlas, mungkin Wulan bisa segera pulang pada Tuhannya.


Dan yang pasti, mereka semua akan dapat balasannya. Jangan kau pikir wanita yang diam saja dia tak mampu membalas, sekali membalas, maka musnahlah rumah tangga itu dan banyak hal lain yang mesti dikorbankan, hanya untuk membalas rasa sakit yang Yoga lakukan pada istrinya setelah ditipu dan diselingkuhi, maka seorang istri mampu membunuh ayah mertua dan suaminya tentu dengan senjata santet.


Sungguh malang takdir mereka.


“Kalian mau apa sekarang? Melaporkanku ke Polisi?” Istrinya Yoga yang tidak diikat, hanya dibiarkan saja duduk di hadapan mereka, di rumahnya sendiri, sementara Yoga sudah ditidurkan di tempat tidurnya. Dia tak boleh bangun, karena sekali dia bangun, maka Yoga akan kembali mengamuk.


“Mungkin pada akhirnya kami akan mengantarmu ke sana, kau bisa menikmati waktu bersama ibu mertuamu.” Dirga kesal jadi dia hanya asal bicara saja.


“Kau pikir aku bodoh! Untuk tuduhan apa kau akan memenjarakanku? Untuk tuduhan santet pada ayah mertua dan suamiku? Buktinya mana? Bukankah untuk memenjarakan orang kau harus punya bukti dan satu lagi, kalian siapa? Kalian tak punya hak untuk melaporkanku.


Orang terdekat Badrun dan Yoga, hanya aku dan ibu mertuaku, hanya kami berdua sebagai keluarga yang boleh mengajukan tuntutan, sementara mertuaku di penjara, dia saja sulit hidupnya, lalu kalian siapa berani sekali mengancamku akan melaporkan ke Polisi!” Istrinya Yoga ini rupanya pintar, dia paham bahwa hukum memang bisa dipermainkan dengan mudah, asal kau menguasai pasal dan juga mencari celahnya.


“Kami mungkin tak bisa melaporkanmu, benar kami bukan keluarga Badrun dan Yoga, benar juga kami tak punya hak untuk melakukan pelaporan, kami pun tak punya bukti.


Tapi Yoga, aku bisa saja membuatnya terlepas dari santet itu, buktinya aku bisa mengurung Wulan, sedang kau mengincarnya sejak lama dan butuh aku serta Dirga untuk membuatnya mau masuk ke dalam botol ini, maka kemampuanku sangat mumpuni bukan? Kalau Yoga tak bisa aku selamatkan, maka aku bisa saja membuatmu sakit, kau mau coba?” Mulyana kesal makanya dia mengancam akhirnya.


“Kau hanya mengancam, kau tidak akan bisa menyentuhku karena aku punya Aki Hagir yang bisa menghabisimu dan keluargamu! apalagi ayahmu yang lintah darat itu!”


Seketika mendengar ayahnya dihina, Mulyana sangat kesal dan dia mencekik istrinya Yoga bahkan tanpa memegangnya, dia menggunakan tenaga dalam, memegang ruh wanita itu dengan sukmanya, hingga wanita itu tercekik, Dirga berusaha untuk membantu wanita itu dan membaritahu Mulyana kalau dia sudah keterlaluan, tapi Mulyana sepertinya tak mampu mengendalikan amarah, dia terus saja mencekik ruh wanita itu hingga matanya terlihat memerah karena oksigen terhambat masuk ke dalam kepalanya, Dirga terus berteriak memanggil Mulyana agar dia berhenti, tapi Mulyana tidak juga menggubris, lalu tiba-tiba Mulyana jatuh pingsan.

__ADS_1


Dirga tak tahu kenapa Mulyana jatuh, tapi saat dia sedang bingung karena dua orang itu pingsan, tiba-tiba ada cahaya dari arah depannya, perlahan cahaya itu semakin jelas, berdirilah seorang kakek tua yang berpakaian serba putih, wajahnya sangatlah bijaksana.


“Ka-ka-kau hantu?”


“Assalamualaikum, saya Wangsa, Karuhun milik keluarga Mulyana, sejak nenek moyangnya saya mengabdi.”


“Hah? Wangsa? Anda itu jin Karuhun ya? Anda ... beneran hantu!” Dirga ketakutan, walau wujud abah tak mengerikan tapi tetap saja, mengetahui bahwa abah adalah jin yang tak kasat mata, mentalnya menjadi ciut.


“Saya ingin anda membantu Mulyana, saya tahu anda adalah Dirga, sahabat setia, saya melihat ketulusan pada sukma di dalam tubuh anda, sadarkan Mulyana, jauhkan perempuan ini dari sisi Mulyana, selidiki di mana ayahnya Wulan tanpa Mulyana, karena dia mungkin tak bisa menahan emosi jika berhadapan dengan perempuan ini, jika saja saya terlambat, perempuan ini pasti sudah mati dibunuh Mulyana dan Mulyana akan dihukum oleh dua dunia, pengadilan dua dunia sangatlah kejam, apalagi ada para tetua dari Kharisma Jagat yang memang mengincar keluarga Mulyana akibat jodoh adat yang ayahnya Mulyana tak lakukan.”


“Hah? gimana? jodoh adat? Maksudnya?” Dirga bingung.


“Lakukan perlahan apa yang aku katakan, pertama, saya akan membawa Mulyana pergi, lalu kedua kau harus tetap interogasi wanita ini hingga mendapat lokasi ayahnya Wulan, dia pasti tahu di mana lelaki itu, karena ayahnya Wulan pasti jadi target juga oleh wanita ini, Hagir pasti melacak lelaki itu, karena dia perlu menuntaskannya, paham!”


Lalu tak lama kemudian abah menghilang, begitu juga dengan Mulyana, Mulyana dibawa abah secara ghaib, mungkin kita bisa menganggapnya ilmu teleportasi, berpindah tempat dengan kekuatan pikiran, kalau pada Karuhun dan Kharisma Jagat, dengan kekuatan ghaib. Ingat ... kalau pada kawanan, apa kalian ingat, siapa yang bisa membawa kawanan melakukan teleportasi?


Begitu abah dan Mulyana menghilang, Dirga langsung mencoba menyadarkan istrinya Yoga, tak lama kemudian istrinya Yoga terbangun dan langsung ketakutan, dia waspada pada sekitar, seolah baru saja dipukuli, dia sangat ketakutan.


“Lihat kan, temanku memang hebat, dia bahkan bisa mencekikmu tanpa menyentuh, aku menolongmu, hampir saja kau mati, sekarang kau mau beritahu keberadaan ayahnya Wulan atau ingin dicekik lagi?” Dirga bertanya.


“Ti-tidak! tidak! aku akan beritahu lokasinya, kami menyekapnya di luar kota, alamatnya akan aku beritahu.”

__ADS_1


“Hah! untuk apa kau menyekapnya?”


“Aku butuh dia untuk membuat ruh Wulan mau melakukan apa yang aku perintahkan, ruh itu hanya luluh pada dua orang, ayahnya dan suamiku, aku tak sudi melihat kemesraan mereka, makanya aku menyekap ayahnya agar dia bisa mengikuti perintahku dan melakukan apapun tanpa berontak, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.”


“Astaga, kalian nih keluarga kaya raya loh, kenapa sih masih pada serakah, kalau kau memang semarah itu pada suamimu, tinggalkan, ceraikan! Jangan kau malah balas dendam dengan menjadi pembunuh!” Dirga merasa dititik ini, masalah keluarganya sama sekali tak ada apa-apanya, walau ibunya sempat dalam bahaya.


“Anak kecil sepertimu tahu apa?! kalian tak paham bahwa kami berusaha sejauh ini hanya agar kekayaan kami bisa bertahan selamanya, kami butuh uang itu untuk kekuasaan dan banyak hal, kau pikir rumah sebesar ini tak butuh uang untuk merawatnya? Begitu juga dengan kekuasaan yang butuh uang untuk membuatnya tetap berpihak pada kita.”


“Sudahlah, aku tak paham, tapi bukan karena aku anak kecil, tapi karena aku punya hati nurani, jadi tak paham tentang yang kalian kejar, tapi sekarang, aku tak peduli lagi, Yoga akan sembuh, Mulyana akan membuatnya sembuh, kau harus menjauh dari suamimu karena Mulyana akan datang lagi, pergilah dari rumah ini, karena kalau ibu mertuamu tahu kaulah pembunuh suami dan juga bermaksud membunuh anaknya, kau akan diburu banyak orang, pergilah yang jauh, mulai hidup baru dengan uang ayahmu, jangan lihat kebelakang dan jangan sampai bertemu Mulyana lagi.”


Dirga setelah mendapatkan alamat di secarik kertas langsung bergegas ke tempat itu, melihat ayahnya Wulan dipasung di suatu tempat, hanya dijaga oleh seorang wanita yang mengantar makan untuknya setiap hari, Dirga lalu melepaskan ayahnya Wulan dan membawanya pergi dari tempat penyekapan itu untuk bertemu Mulyana.


“Pak ... kau harus merelakan Wulan agar dia pulang pada Tuhan. Kasihan Pak, ruhnya bisa digunakan sebagai pion untuk mencari kekayaan, ruhnya akan celaka selamanya, kau tidak kasihan pada anak perempuanmu itu?” Dirga menyetir sembari berkata dengan lembut, agar mengena ke hati ayahnya Wulan.


“Aku akan merelakannya.” Akhirnya ayahnya Wulan setuju.


“Pak, aku mau tanya sesuatu, tapi mungkin ini kita berdua saja yang akan saling tahu, jangan sampai Mulyana tahu aku bertanya, apakah ... pak Drabya memang benar telah menarik upeti pada semua dukun dan juga termasuk bapak? dan dia ada ketika bapak sedang melakukan ritual pembangkitan Wulan?” Dirga memberanikan diri.


Ayahnya Wulan diam, Dirga tak memaksa karena ini memang bukan urusannya.


Tapi sekitar lima belas menit kemudian, ayahnya Wulan berkata ... “Apa yang terlihat di mata, belum tentu apa yang ada di hati, Drabya memang orang baik, tapi dia juga ... sangat menyukai kekuasaan, caranya mendapatkan kekuasaan adalah dengan mengendalikan banyak orang, melalui apa? upeti, agar semua orang tunduk dan takut padanya, menjadi sekutu karena tak ingin dihabisi lalu akhirnya, Drabya jadi gila kekuasaan. Sayang sekali, aku melihat energi yang sangat besar pada anaknya, energi yang berbeda dari Drabya, energi yang sangat putih dan murni, sayang sekali, dia memiliki ayah yang serakah.”

__ADS_1


Dirga terdiam, dia tidak mampu lagi berkata apapun, dia tak tega kalau sampai Mulyana tahu ....


__ADS_2