
“Kalau bayarannya sesuai, kau mau?” Manager itu gigih.
“Berapa memang?” Mudah sekali meruntuhkan ketakutan wanita petugas vila itu hanya dengan nominal.
Manager itu mengambil kalkulator dan mengetik angka yang sangat tinggi, lalu menunjukannya pada wanita itu.
“Kau gila Pak! itu banyak sekali!” Wanita itu tercengang.
“Maka kau mau?” Manager itu membujuk lagi.
“Aku ... ya! aku mau.” Wanita itu terbujuk dan bersiap menjebak kawanan.
Pagi tiba, kawanan baru saja bangun, Alisha dan Hartino sudah tidur bersama lagi, sedang Ganding bersama Aditia dan Jarni bersama Alka serta Gea.
“Gea bagaimana sekarang, apakah kau merasa baikan?” Alka bertanya, semua orang ada di meja makan.
“Aku tidak tahu, membaik atau tidak, aku hanya merasa kosong, rasanya kami baru saja bulan madu, tapi suamiku sendiri yang mencelakaiku, lalu adikku hilang, katanya sudah meninggal, tapi bagaimana dengan tubuhnya? Apa kalian bisa bantu? Maaf aku tidak tahu diri, selalu saja menyusahkan.” Gea bertanya dengan memelas.
“Kami akan coba melacak keberadaan terakhirnya, aku akan ke kantor Polisi, aku akan mencari tahu di mana lokasinya adikmu dijadikan tumbal itu.” Ganding berkata dengan tulus.
Terdengar suara telepon, Ganding melihat telepon pintarnya, dia terlihat ragu untuk angkat telepon itu, karena nomornya tidak dikenal, tapi akhirnya dia angkat juga.
[Dengan Pak Ganding?] terdengar suara dari sebrang sana.
[Ya, ini dengan siapa?] Ganding bertanya.
[Saya dari kepolisian, apakah Pak Ganding bisa bertemu dengan kami? Karena ada yang harus kami sampaikan terkait dengan pelaporan saudara Ganding terhadap saudara Anto.]
[Saya kan memang mau ke sana Pak.] Ganding bingung, kan kemarin dia bilang memang mau balik ke kantor polisi lagi pagi ini dan ini masih terlalu pagi untuk ke sana.
[Tapi mungkin anda ke rumah sakit saja Pak, karena ....]
[Rumah sakit? kenapa saya harus ke rumah sakit, Pak?] Ganding bingung, yang lain langsung melihat ke arah Ganding karena dia terlihat bingung.
[Karena ... Pak Anto semalam meninggal dunia.]
[Apa! Anto meninggal dunia?! Semalam? Meninggal karena apa?” Ganding terkejut, karena semalam kondisinya sangat amat sehat.
[Pak Anto bunuh diri, dia menyayat tangannya dengan sikat gigi yang dia patahkan, sikat gigi itu milik tahanan lain yang sudah keluar, dia menggunakan gagang sikat gigi yang dipatahkan untuk melukai nadi di pergelangan tangannya, saat pagi kami sudah menemukan dia tewas di sana.]
Ganding terdiam mendengar ini, dia sulit percaya.
Lalu telepon ditutup.
“Nding, Anto meninggal?” Aditia bertanya.
“Iya Dit, Gea maaf.”
“Aku tidak peduli lagi padanya, memang sudah seharusnya dia mati, tapi bagaimana dengan nasib adikku sekarang?”
“Untuk itu kami tidak bisa berbuat banyak karena waktu kami di sini juga tidak banyak, sedang masalah kami masih belum selesai, soal adikmu, kami pesimis bisa bantu Gea.” Ganding berkata dengan hati-hati.
Padahal kawanan tahu, adiknya Gea sudah ditumbalkan, sudah tidak ada harapan, kemungkinan tubuh dan jiwanya sudah berkelana dari satu tempat ghaib, ke tempat ghaib lain, sulit melacaknya, dibutuhkan waktu yang sangat lama, sedang kawanan masih ada pekerjaan dan tidak boleh lama-lama di Bali. Maka memang adiknya Gea tidak bisa ditolong.
“Aku juga pesimis apakah bisa menjalani hidup lagi setelah ini?” Gea tertunduk.
“Ada orang tua yang menunggumu di sana, kau harus kuat.” Alka menenangkannya.
“Lalu apa yang harus kujelaskan pada orang Anto dan juga pada keluargaku tentang adikku, mereka akan menyalahkanku.”
“Kau harus jujur Gea, mau tidak mau, suka tidak suka, karena mereka harus tahu yang sebenarnya, kau juga korban.” Alka berkata dengan lembut.
“Aku korban juga, tapi aku selamat, apa pandangan mereka?”
“Kami punya bukti bahwa suamimu adalah dalang dari segalanya, soal adikmu, maaf ... kami sulit membantumu,” Alka berkata.
“Kami sudah membelikan tiket pulang untukmu, kamu akan dijemput oleh orang kami nanti di kotamu, lalu orang-orang kami akan membantumu brbicara dengan dua keluarga sekaligus, menyertakan bukti-bukti, ada rekaman dari adikmu dan rekaman dari CCTV vila ini, kami sudah mengamankannya, walau mesin perekamnya ada di kantor vila ini, tapi Hartino sudah mencuri file rekamannya, jadi semua akan melihat semua kejadiannya dengan jelas.
Mungkin keluargamu akan sangat marah pada keluarga suamimu, makanya orang kami akan bantu kau mencegah pertumpahan darah lagi, karena keluargamu pasti tidak akan pernah rela adikmu ditumbalkan.” Ganding menjelaskan, karena kawanan tidak akan mungkin bisa menemani secara langsung, tapi mungkin bisa meneyertakan orang-orang mereka.
“Siapa yang akan rela kalau anaknya ditumbalkan, apakah tidak ada harapan untuk adikku?” Gea bertanya lagi.
“Tidak ada, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk adikmu.” Ganding menjawab dengan tegas. Lalu Gea akhirnya setuju untuk pulang.
Gea dijemput oleh orang kepercayaan kawanan, mereka orang-orang yang biasa membantu kawanan untuk mengurus hal-hal administrasi.
__ADS_1
Seperti ini, atau seperti dulu harus tiba-tiba membeli rumah di dekat hotel pada kasus hotel atau keperluan dokumen lain, tentu orang-orang kepercayaan ini adalah anak didik yang juga memiliki khodam, mereka dipekerjakan karena di dunia nyata terkadang kemampuan mereka dijadikan olokan, padahal mungkin mereka adalah orang-orang istimewa.
Setelah berpamitan pada Gea, kawanan berkumpul lagi di meja makan, mereka suka bekerja di meja makan karena meja dari ruang meja makan itu cukup tinggi, sehingga bisa menaruh laptop atau proyektor, seperti ruang kerja dadakan.
“Sudah tanyakan pada Jajat soal adiknya Gea?” Aditia memulai, dia selalu menjadi pemimpin kawanan.
“Masih dalam tahap pencarian, di ditinggal di hutan dengan para jin, dia tersesat, jiwa dan tubuhnya masih bersatu, terasa energinya.” Hartino menjawab, karena saat ini dia adalah penanggung jawab untuk pencarian adiknya Gea.
“Apakah cara kita menyembunyikan ini dari Gea sudah benar?” Tiba-tiba Jarni bertanya, karena dia kurang setuju kalau Gea tidak diberitahu, soal adiknya yang kami masih cari.
“Memberikan harapan pada orang yang sedang terluka akan jauh lebih kejam Jarni, kau tahu kan, itu akan membuat dia semakin jatuh dalam penderitaan, kalau memang kita berhasil, kita tinggal mengantarnya pulang, kalau tidak? Gea akan selalu berharap dan mungkin sulit melanjutkan hidup, jika saja kita benar-benar tegas tidak memberikan harapan, dia akan bisa menjalani hidup, menganggap bahwa dua orang lelaki yang dia cintai telah meninggal dunia.
Yang satu lelaki jahat dan yang satu lelaki baik.” Alisha memberikan pendapatnya, dia menjelaskan sembari menari.
“Sha, bisa diem nggak sih? nggak capek kami nari terus?” Alka mulai terganggu dengan kebiasaan Alisha menari.
“Hanya ini yang dia minta, kalau akut tidak berikan, kalian mau menanggung akibatnya? Lagian menari itu sehat, tubuhku nanti jauh lebih bagus.” Alisha terlihat menikmati, tarian. Tentu saja, Esash justru jauh lebih menyiksa, permintaannya selalu menyiksa tubuh Alisha. Perkara menarimah terlalu sepele untuk diperdebatkan, Alisha juga orang yang selalu suka olahraga, karena dia mementingkan penampilan.
“Ngomong-ngomong soal para lelaki Gea, soal Anto bagaimaan Nding?” Aditia melanjutkan meeting dadakan mereka, di ruang meeting darurat atau meja makan.
“Aku tidak yakin itu adalah bunuh diri, yakinku ... ini pembunuhan.”
“Siapa yang mungkin melakukannya?” Aditia bertanya lagi.
“Siapa lagi kalau bukan pemilik vila, dia takut Anto buka mulut, maka mungking dia akan diusir dari Bali dan nasib bisnis propertinya akan berantakan.”
“Dit, pembuat sketsa wajah sudah dekat vila ini, Jarni kau harus menemuinya di luar, pagari jiwanya, karena aku takut begitu masuk vila ini jiwanya akan disusupi parasit dan membelah, lalu membentuk tubuh lain yang serupa.” Hartino berkata dengan was-was.
“Aku akan keluar untuk memegari jiwa orang itu.”
“Aku temani, sayang.” Ganding mengikuti Jarni untuk bertemu pria pembuat sketsa itu.
Tidak lama kemudian mereka datang dari luar, Aditia dan Hartino sudah di ruang tamu, sisanya masih di meja makan, Jarni dan Ganding juga pergi ke meja makan untuk memberi ruang pada Adiia dan Hartino fokus memberikan ciri-ciri anak dan ibu itu, agar sketsanya bisa akurat.
“Aku akan langsung menyebutkan ciri-ciri anak dan ibu itu ya,” Aditia berkata.
“Ya, kau bisa memulainya sekarang.”
“Aku akan mulai dari perempuan kecil itu ya.
Lalu matanya bulat dengan lipatan kelopak yang tegas, bentuk wajahnya oval, rahangnya tidak tegas tapi dagunya tegas, dia perempuan kecil yang sangat cantik. “
“Bagaimana dengan pipinya? Apakah maju ke depan? Kita menyebutnya chubby.”
“Tidak, pipinya tidak maju ke depan.” Aditia menjelaskan sembari mengingat.
Sepanjang Aditia menjelaskan, pelukis sketsa wajah ini juga menggambar, setelah orang itu selesai menggambar, dia lalu memberikan sketsa yang dia buat. Waktu yang diperlukan adalah kurang lebih satu jam untuk mendapatkan hasil sketsa itu.
“Apakah sepert ini?”
“Betul, ini sangat mirip.” Aditia puas dengan hasil sketsanya, orang ini memang biasa bekerja dengan kepolisian saat dibutuhkan, jadi kemampuannya tidak dapat di sepelekan.
“Kita akan masuk ke wajah ibunya.”
“Baiklah, dia wanita denga nbentuk wajah yang sangat tirus, dahinya cukup lebar, rambutnya belah tengah tapi saat aku melihatnya dia sedang menggunakan konde pada kepalanya, tapi konde itu juga menggerai rambut panjangnya.
Matanya besar, sangat besar, karena saat menari dia melotot, hidungnya tidak terlalu mancung, rahangnya tegas, walau wajahnya tirus, dagunya juga tegas.”
“Apa begini?” Untuk sketsa ibu juga selesai setelah Aditia mendeskripsikannya, waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan sketsa ibu kurang lebih sama seperti mendapatkan sketsa anak perempuan itu.
“Aku rasa, bibirnya jauh lebih tebal.” Aditia mengoreksi.
Lalu pembuat sketsa itu membuat bibirnya jauh lebih tebal.
“Ini terlalu tebal.” Aditia kembali mengoreksi.
Lalu pembuat sketsa itu kembali merevisi sketsanya.
“Ini?”
“Cukup mirip.” Aditia merasa masih ada yang kurang, tapi ini sudah cukup, mereka bisa gunakan untuk mencari identitasnya.
“Aku akan scan foto ini, lalu sebar di internet, kita akan segera mendapatkan identitasnya Dit.” Hartino telah bergabung di ruang tamu dan mengambil hasil sketsanya.
...
__ADS_1
“Maaf saya mengganggu, tapi ini mendesak.” Seorang petugas vila datang, dia adalah orang yang menanyakan tentang masa perpanjangan sewa vilanya.
“Apa yang begitu mendesak, sedang sejak kemarin kami meminta anda untuk datang, tapi anda menolak.” Kawanan semua berkumpul.
“Ini soal vila yang sekarang kalian emua tempati.”
“Ada apa dengan vila ini?”
“Saya bekerja di vila ini sudah 10 tahun, saat saya masuk, vila ini masih dalam keadaan baru dibangun, baru hotel yang selesai, hotel di depan itu. Saya masuk bekerja di sini saat usia saya masih 20 tahun.
Bekerja di tempat ini sangat menyenangkan, karena pemiliknya baik dan royal pada para pegawai, pemiliknya suka mmeberikan bonus, makanan berlebih dari hotel atau jalan-jalan.
Kami semua betah di sini.
Hingga saat itu tiba, satu persatu pegawai kami sakit, lalu meninggal dunia, sakitnya wajar, bisa karena serangan jantung, asam lambung dan berbagai penyakit lain, orang-orang bilang bahwa kami bekerja terlalu keras di sini.
Tapi saya tahu, bahwa ada yang aneh dengan hotel dan vila itu, karena setelah vila selesai, kami memang sibuk, tapi tempat kami ini tidak terlalu dekat kota, pun sekitar tempat ini dulu tidak banyak tempat wisata, jadi ketika itu kami merasa aneh, kenapa vila ini terlalu ramai pengunjung.
Ditambah banyak pegawai sakit, lalu meninggal, kami percaya pemilik vila ini sengaja menumbalkan kami agar hotel dan vila laku keras.
Beberapa orang resign, beberapa bertahan, aku orang yang bertahan, orang-orang sepertiku bertahan karena uang, rumah kami dekat dari sini, lagian aku baru saja menikah dan belum berencana punya anak, makanya aku bertahan dan berbekal berdoa pada Tuhan saja.
Tujuanku datang kemari karena aku ingin mendukung kalian merobohkan vila ini, mungkin benar vila inilah sumber masalahnya. Aku melihat foto sketsa yang kalian sebar, foto itu adalah istri dan anak pemilik vila ini.”
“Kau yakin?” Aditia bertanya.
“Ya, sangat yakin, karena mereka sering datang ke hotel dulu, saat menjemput pemilik vila dan hotel ini.”
“Kalau begitu, berikan alamat rumah mereka, aku perlu bicara pada mereka.” Aditia senang karena akhirnya wanita dan anak perempuan itu ketemu.
“Aku bisa memberikan alamat rumah mereka, tapi mungkin kalian tidak akan bisa bertemu dengan wanita dan anaknya itu.”
“Kenapa?” Aditia bingung, yang lain penasaran.
“Karena mereka sudah meninggal dunia, mereka meninggal bersamaan dengan para karyawan yang jatuh sakit dan meninggal juga. Makanya isu tentang pesugihan itu semakin merebak, lalu tiba-tiba pemilik vila bilang dia akan merubuhkan vila itu.
Kami percaya dia menyesal, karena apa yang dia lakukan membuat anak dan istrinya meninggal dunia. Makanya dia memutuskan merubuhkan vila ini, vila yang sekarang kalian tinggali.
Satu minggu kemudian, vila hilang, hanya tersisa tanah lapang yang kosong, kami semua kaget karena, begitu cepat vila itu dirubuhkan dan menyisakan tanah kosong saja, vila itu bahkan tidak ada sisa, kami bahkan bercanda soal vila itu, kami bilang, vilanya hilang, vila yang kalian tinggali ini hilang dalam sekejap.
Lalu semua hal aneh itu juga hilang, tidak ada lagi pegawai yang sakit, tapi ya ... pengunjung kami juga tambah sepi, tidak seramai dulu, hingga pemilik vila dan hotel ini harus memangkas biaya perawatan pada setiap sudut properti, termasuk meminimalis pegawai.
Konsekuensi bisnis yang mungkin dulu bosku hindari adalah, bangkrut, kami tidak bangkrut, tapi kami harus mengalami kesulitan keuangan, walau perlahan membaik.”
“Kalau begitu, beri kami alamatnya, alamat dari pemilik vila.”
“Ya, aku memang bermaksud memberikan alamat itu pada kalian, tapi bosku tidak tinggal lagi di dekat sini, pemilik vila dan hotel ini sudah pindah ke daerah yang cukup terpencil di Bali, dia memilih untuk keluar dari hiruk-pikuk bisnis dan membiarkan orang-orang kepercayaannya saja yang mengendalikan hotel dan vila, adik dari pemilik vila yang sekarang mengambil bisnis ini, dia tidak tahu menahu soal seluk-beluk vila dan hotel.
Kalau kalian mau tahu apa yang terjadi di vila ini dan apapun yang kalian coba cari, kalian harus ke sana, ke rumah bos kami itu, tempatnya lumayan jauh, perlu 4 jam perjalanan dari sini.”
Petugas hotel itu memberikan alamatnya lalu pamit.
“Kita ke sana.” Aditia meminta semua orang bergegas.
“Kau yakin, Dit?” Alka bertanya, semua orang yang tadinya hendak bersiap, jadi berhenti karena tumben sekali Alka ragu.
“Kenapa aku harus tidak yakin?”
“Perempuan itu ... apa kalian percaya dia?” Alka bertanya.
“Entahlah, aku hanya ingin mengikuti semua informasi yang kita dapat saja.”
“Dit, apa tidak sebaiknya kita menunggu informasi yang lebih valid? Perasaanku tidak enak soal tempat ini.” Alka tidak setuju mereka ke sana.
“Setiap tempat yang kita datangi, bukan tempat baik yang membuat perasaanmu menjadi enak, Ka. Kita akan datangi tempat ini, apa yang perlu kau takuti, kita kan bersama-sama.” Aditia terlihat yakin dan mencoba membujuk Alka.
“Kalau kalian?” Alka mencoba meminta dukungan dari para adiknya.
“Aku setuju dengan Adit, Kak. Kita harus coba datangi tempat ini untuk bicara dengan pemiliknya, Sak Gede harus kita kendalikan dan mungkin seperti yang Alisha bilang, Ayi butuh Sak Gede.” Ganding mewakili yang lain, karena yang lain terlihat setuju dengan pendapat Ganding.
“Baiklah, kita akan ke sana.” Alka akhirnya menyerah dan mereka bersiap ke sana.
_____________________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Kalian percaya nggak dengan petugas hotel itu?