Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 567 : AJP TAMAT


__ADS_3

Jin yang masuk adalah jenis jin paling kuat, tentu saja Aep kesakitan karena jin itu memaksa jiwanya diterima oleh jiwa Aep yang sedang lemah, beruntung tubuh muda itu yang dirasuk oleh Sabdah, tak terbayang jika masuk ke dalam tubuh Drabya, mungkin tubuh Drabya akan langsung tercabik.


Mulyana melihat Aep kesakitan dengan terus menggeliat berteriak ...”Lawan Ep! Tundukkan dia Ep, dia sudah masuk ke dalam tubuhmu, lawan Ep, kunci dia ke dalam tubuhmu!” Mulyana berteriak dengan sisa  energi terakhirnya, Drabya yang baru sadar kalau Aep berhasil memasukkan ruh Sabdah ke dalam tubuhnya, dia berusaha untuk bangun, dia harus mengunci jiwa Sabdah yang sudah masuk itu, dia harus membantu anaknya mengunci Sabdah.


Drabya dan Mulyana menarik tubuh mereka dengan posisi tengkurap karena tak bisa bangun lagi, mereka terus menyeret tubuh mereka sendiri agar bisa mendekat pada Aep yang masih terus menggeliat kesakitan, hingga mereka bertiga akhirnya sudah saling dekat dan ....


Drabya menempelkan tangannya dalam keadaan masih tengkurap karena tidak mampu bangkit lagi, begitu juga dengan Mulyana, dia menempelkan tangannya pada dada Aep yang sedang meraung, mereka berdua membaca mantra pengunci khodam, agar Sabdah bisa tenang sesaat dan tertidur di dalam tubuh Aep, setelah tertidur dan tubuh Aep pulih, penaklukan bisa dilanjutkan lagi.


Mulyana dan Drabya terus membaca mantra pengunci khodam sampai akhirnya Aep tidak lagi mengerang dan pingsan.


Setelah Aep pingsan, Abah Wangsa yang lemah keluar dari tubuh Drabya, dia keluar dari tubuh itu dan masuk ke tubuh Mulyana.


Di titik ini, dia tahu, kalau waktu ayahnya sudah tiba, maka dari itu dia harus menyerahkan keris dan juga Wangsa pada dirinya. Mulyana mendapat sedikit energi dari masuknya Wangsa ke dalam tubuh, dia jadi bisa duduk dan meraih tubuh ayahnya.


“Yah, kita ke rumah sakit ya.” Dengan polos dan pura-pura tak tahu kalau ayahnya sudah sekarat, Mulyana menangis memohon agar ayahnya bisa bertahan.


“Kau kan tahu, kalau aku sekarat, tidak akan sampai sana aku sudah tiada. Yan, sampaikan pada ibumu, katakan padanya kalau aku sangat mencintainya dan semua yang kulakukan bukan untuk keluarga ini hancur, aku ingin keluarga ini terlindungi, tapi memang caraku salah, jangan ikuti jalanku seperti yang aku katakan padamu sebelumnya.


Aku mendorong keluarga ini pada kehancuran, pada akhirnya anak-anakku tetap menjadi korban.


Yan, tetaplah jadi Kharisma Jagat yang lurus, aku melihat seorang pemuda yang mirip sepertimu, dia akan jadi pemuda yang hebat kelak, kau akan meneruskan warisan Karuhun padanya, tapi percayalah, uang takkan pernah bisa mendidik orang menjadi baik, nilai jiwa yang bersih dan tuluslah yang mampu pemgarahkan jiwa lain, maafkan aku karena tidak mampu menjaga jiwa yang bersih dan menjadi busuk, sebusuk para dukun itu, aku berharap kau mampu menjaga kemuliaan Kharisma Jagat agar karuhunmu tetap menjadi jin yang tawakal.”


Setelah mengatakannya, Drabya mengehembuskan nafas terakhir, Mulyana menangis sejadinya, Aep masih pingsan.



“Bu ….” Mulyana melihat ibunya di meja makan, ini hari ke lima setelah pemakaman ayahnya, ibunya masih tidak bisa makan, hanya masak untuk melupakan kesedihan untuk anak-anaknya dan tetap tak bisa makan.


“Izinkan aku tetap menghormatinya sebagai suami walau kau tidak suka dengan semua yang dia lakukan untuk keluarga, tapi dia adalah suamiku yang baik, ayah yang hanya memikirkan kebaikan dan perlindungan untuk anaknya dan dia adalah satu-satunya orang yang menjaga keluarga ini.”


Sikap ibunya pada Mulyana memang menjadi sangat kasar setelah kematian Drabya, ibunya marah karena merasa Mulyana berlaku tidak adil pada ayahnya dengan memusuhi, seharusnya Mulyana bisa paham dan mencoba membujuk, bukan meninggalkan ayahnya berjuang sendirian, hingga akhirnya sudah diujung tanduk, Drabya harus memohon agar Mulyana mau membantu.


Ibunya tahu itu sebelum akhirnya dia pergi ke rumah orang tuanya untuk bersembunyi, tempat yang sekarang ditinggali oleh Mulyana dan kakaknya Aep.


Aep masih tidak mampu mengendalikan Sabdah Zaid, dia masih sering kehilangan kesadaran, bukan pingsan tapi mengamuk. Hingga, Mulyana harus memasungnya sementara waktu hingga akhirnay kelak Aep bisa mengendalikan Sabdah, di malam ini Aep bisa makan bersama, serangan telah selesai lebih singkat dari hari-hari sebelumnya, semakin hari, Sabdah semakin nyaman dengan tubuh Aep.


“Maafkan aku ibu, kalau bisa menebus semua kesalahan, aku ingin ayah bisa bertahan hidup lebih lama.”

__ADS_1


“Untuk apa dia hidup kalau akhirnya disalahkan oleh anak yang bahkan tak paham bagaimana ayahnya memilih jalan berlumpur hanya untuk memastikan jalan anak-anaknya bersih. Untuk apa dia hidup kalau harus ditinggalkan anak yang paling dia banggakan dan dia selalu merasa kau jauh lebih hebat darinya, setelah Aep bisa mengendalikan dirinya, kau pergilah, aku tak tahan melihat wajahmu, jangan lagi kembali ke rumah ini, tutupi jati dirimu sebagai anak dari Drabya, pergi yang jauh seperti kau pergi dari rumah kami saat itu, bahkan tanpa pamitan yang benar padaku.


Aku akan biarkan kau di sini karena masih masa berkabung, tapi setelah ini, jangan pernah lagi datang ke sini, anggap aku sudah mati, Aep akan menjadi urusanku, setelah dia bisa mengendalikan khodamnya, aku akan mengurusnya dan kelak, biarlah dia yang mengurusku, kau urus dirimu dan prinsipmu yang mulia itu, aku tak akan ikut campur.”


Ibunya masuk ke dalam kamar tanpa makan, Mulyana melihat punggung ibunya, ibu kandungnya yang telah membuangnya, walau Mulyana tahu bahwa yang dia lakukan benar, prinsipnya lurus, tapi hati ibunya juga tak salah, marah karena pria yang dia cintai telah meninggal dunia akibat pertarungan besar ini, marah karena sempat ditinggalkan anak kandungnya dan marah karena anak yang membuatnya mau menikah sekarang menjadi anak yang dicap gila oleh para tetangga karena sering mengamuk.


Mulyana masih di sana hingga Aep bisa mengendalikan Sabdah dan juga dirinya sendiri, kabar kematian Hagir juga terdengar oleh mereka, Hagir bunuh diri karena Sabdah telah berpaling darinya, masuk ke tubuh pria yang lebih muda dan sangat kuat, Hagir gantung diri dan berita ini membuat dukun pengikutinya menjadi semakin marah pada Mulyana dan Aep, keturunan Drabya yang mencetus peperangan ini.


Maka sejak saat itu, Mulyana dan Aep benar-benar menutup jati diri mereka di manapun mereka berada dan asal kalian tahu saja, Mulyana dan Aep bukanlah nama sebenarnya, nama yang kalian kenal, adalah nama alias yang membuat jati diri asli mereka tertutupi dan tidak bisa dikenali siapapun.


Karena nama palsu ini, mereka bisa hidup dengan tenang, tanpa harus diserang membabi buta oleh para dukun sekutu Hagir, tapi tentu saja para Tetua teatp bisa mendeteksi keberadaan Mulyana karena dia Kharisma Jagat, energinya sangatlah familiar bagi para tetua, tapi karena Mulyana dikenal Kharisma Jagat yang lurus dan menjalankan tugasnya dengan baik, maka dia dilepas oleh para tetua dan bahkan menjadi orang kepercayaan raut laut, karena semua kebaikannya dan pertolongan pada manusia yang terkena masalah ghaib.


Tapi tentu saja, keberpihakan tetua akhirnya berakhir saat Mulyana menikah dengan wanita biasa, bukan dengan jodoh adatnya, keberpihakan ini membuat Mulyana kembali dimusuhi secara diam-diam oleh Tetua, yang salah satu anggotanya adalah Mudha Praya, saat itu dia hanya seorang Kharisma Jagat biasa dengan kelas yang tidak terlalu tinggi, berbeda dengan Mulyana yang memang memiliki kelas yang tinggi karena keturunan dari Ayi Mahogra dan juga Kharisma Jagat Agung sebagai nenek moyang, maka menjilat tetua dan menjalan segala kebohongan tentang jodoh adat adalah hal yang satu-satunya bisa dia lakukan agar naik ke tingkat jajaran para tetua.


Tapi walau Mulyana menyembunyikan pernikahannya, tetap saja para Tetua mengincarnya, bahkan ketika Aditia lahir, dia harus segera menjadi Kharisma Jagat yang berkaruhunkan Saba Alkamah agar bisa diakui dan tidak dijadikan target untuk penghukuman pernikahan di luar jodoh adat, bukankah kalian mengetahui ceritanya saat aku menceritakan tentang Aditia secara utuh?


….


Pada suatu malam, di rumah neneknya Mulyana, dia baru saja memasung Aep yang lagi-lagi mengamuk, malam ini, bulan terlihat sangat indah, Mulyana menyeruput kopi dan bala-bala buatan ibunya, walau ibunya masih sangat membencinya, tapi untuk makan dan semua keperluan, ibunya tetap sediakan, ibu adalah ibu, biarpun kesalahan sebesar apapun, baginya anak tetap harus diurus, walau itu menyiksa dirinya yang ingat, betapa Mulyana berlaku buruk pada akhir hidup Drabya.


“Bah, kira-kira kenapa Sabdah lebih memilih Aep dibanding diriku atau ayah? Secara ilmu, Aep sangatlah rendah, bahkan dulu saat dia masih menjadi calon Kharisma Jagat, ilmunya jauh sekali dariku, aku bertanya bukan karena iri, aku hanya bingung saja, kenapa Sabdah memilihnya, bukan aku atau ayah, bahkan Hagir saja dia pilih, dengan umur yang sangat tua itu. Ayah masih lebih muda daripada Hagir, tapi kenapa Sabdah tak memilihnya, di antara kami, ayahlah yang paling tinggi ilmunya.”


“Cairan hitam pekat yang panas itu? Membuat tubuhku terasa terbakar saat cairan itu mengenai tubuhku?”


“Iya cairan itu.”


“Aku tidak tahu, darimana itu berasal?”


“Dari jiwa-jiwa pekat yang berhasil dia *****, jiwa-jiwa yang tuan-tuannya yang diberikan pada Sabdah sebelum Hagir, bahkan Hagir membunuh istrinya untuk dapat Sabdah, hingga jiwa yang diberikan Hagir pada Sabdah, adalah jiwa yang paling pekat darinya, jiwa yang diperuntukkan untuk pengabdian yang paling buruk.


Jiwa yang pekat berasal dari keserakahan, kemarahan, dendam, kekecewaan, ambisi dan terakhir, cinta yang besar dengan jalan yang buruk.


Sabdah tidak suka orang yang berilmu tinggi, tapi berhati bersih, itu membuatnya akan kesakitan saat memasuki tubuh orang tersebut, jika dia memasuki tubuhmu, dia akan mati, karena jiwa murnimu yang lurus, adalah ibarat air jernih yang disiramkan pada tubuh terbakarnya, dia akan mati kesakitan, karena makanannya adalah jiwa yang pekat karena amarah.


Aku tidak tahu ini, Drabya juga, kami hanya tahu jika saja Khodam berpaling, pasti karena tuan barunya lebih kuat, tapi bagi Sabdah berbeda, mungkin banyak jin seperti Sabdah, hidup dalam kubangan lumpur membaut jin itu semakin menjadi iblis yang menakutkan.


Maka ketika dia melihat Aep, jiwa muda yang penuh marah, dendam dan kalut, dia tahu, kalau tubuh yang baru itu, jauh lebih nikmat dibanding tubuh Hagir yang hanya memiliki jiwa serakah, tentu saja Aep menang dalam keburukan jiwa saat itu, akibat dendam yang menancap pada jiwanya, menjadikan jiwa itu hitam pekat, sesuatu yang paling disukai oleh Sabdah, bagi Sabdah, mungkin, Aep adalah jiwa hitam terbaik, jauh lebih baik dari Hagir, makanya dia hanya mendengar suara Aep, karena dipanggil jiwa hitamnya, sedang kau … jiwamu bukan memanggilnya, tapi mengusirnya.”

__ADS_1


“Maka jiwa ayah juga mengusirnya kan, Bah?” Mulyana kembali ingat ayahnya.


“Dia bukan orang yang jahat, tapi keadaan membuatnya menjadi gila kekuasaan, aku membenci jiwa yang itu, tapi sisanya, dia adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab pada keluarganya.


Tapi untuk jadi Kharisma Jagat yang agung, kau tidak bisa hanya menjadi pria baik dalam keluarga, tapi kau harus menjadi Kharisma Jagat dalam segala aspek, bahkan terkadang, keluarga harus kau korbankan untuk menjaga kemuliaannya.


Aku tidak membenci Drabya, aku hanya tidak bisa mentoleransi sikapnya dalam melindungi kalian, dia mencintai kalian berlebihan hingga lupa siapa dirinya yang sebenarnya.”


“Bah … apa aku mampu menjadi Kharisma Jagat yang mengemban tugas dengan baik?”


“Bukan hanya kau, tapia nak keturunanmu, akan mampu menjaga status kalian dengan baik, aku melihat begitu banyak kebaikan yang akan kau lakukan ke depannya, lakukan apapun yang kau pikir baik, aku akan selalu di belakangmu dan seluruh keturunanmu.”


Lalu setelahnya mereka menghabiskan malam dengan sendu mengingat kematian Drabya dan kondisi Aep, serta masih banyak dukun yang membenci mereka.


ANGKOT JEMPUTAN TAMAT


SAMPAI JUMPA DI LAIN WAKTU.


_____________________________________________


Catatan Penulis,


Kaget kan aku tamatin? Ya … AJP tamat ya guys sampai part Mulyana, dari awal, Part Mulyana memang akan jadi part akhir AJP, sedih ya? Pasti aku abis ini dihujat, karena kalian sangat merindukan kawanan, ya kan?


Oh ya, yang udah jawab bener, keren banget sih, hampir semua reader aku udah bisa nebak kenapa Sabdah bisa memilih Aep, ya karena Aep memiliki jiwa yang hitam karena amarah, dendam, cinta yang kelam dan juga kekecewaan mendalam, jiwa sempurna untuk ditinggali Sabdah yang begitu menyukai jiwa yang busuk.


Aku takut ih, kalian udah pada hebat, udah bisa baca polaku, udah pada cerdas, kebersamaan kita dengan AJP yang udah 2 tahun ini terasa sangat hebat, bagiku kalian reader yang hebat karena mampu menemani imajinasiku dan menjadi reader yang setia.


Maka untuk itu aku memberikan kalian hadiah judul novel baruku ….


PASUKAN KHARISMA JAGAT.


Novel itu adalah gabungan Karuhun season 2 dan juga kisah Kawanan yang berlanjut.


Sekarang udah nggak sedih lagi kan? tapi sabar ya, dalam 2 hari ini aku masih harus memperbaiki banyak hal untuk judul baru itu, aku sudah mempertimbangkannya berminggu-minggu, karena seharusnya aku masuk ke judul baru tentang kisah lain, tapi aku korbankan karena melihat kalian yang sangat rindu pada kawanan dan juga Ayi Mahogra Seira dan Malik. Maka sampai jumpa pada judul baruku PKJ.


Love you all.

__ADS_1


Terima kasih untuk semua dukungan kalian pada AJP.


__ADS_2