Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 292 : Tukang Bubur 3


__ADS_3

Hari sudah mulai pagi, Pak RT dan juga para Security memberanikan diri untuk keluar pos, sudah pasti si tukang bubur setan taka da lagi, karena ini sudah pagi.


Saat keluar, mereka melihat alat pemukul kentongan bambu yang biasa ada di pos ronda, jatuh, padahal sekencang angin apapun, takkan bisa membuat pemukul itu jatuh, karena pemukul itu berat.


“Pak, kok ini jatuh, kalau jatuhnya semalam, pasti kita dengar, tapi ini kenapa pas jatuh kita nggak ada yang bangun ya?”


“Udah jangan banyak mikir, sekarang kita pulang aja, mungkin semalam kita ketiduran terlalu lelap, jadinya nggak dengerpas kentungan ini jatuh.” Pak RT mencoba menenangkan Security yang merasa aneh dengan jatuhnya barang yang cukup berat tanpa sebab itu.


“Yaudah, kita pulang ya Pak.”


Lalu semua orang akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


Sementara di tempat lain, Surti tetap mengerjakan tugasnya sebagai Asisten Rumah Tangga, walau dia kesulitan saat harus bicara, tubuhnya baik-baik saja, tapi dia tidak bisa bicara saja, sudah ke Dokter, katanya hanya radang dan akan sembuh dalam beberapa hari, tentu saja, medis akan selalu bersebrangan dengan hal-hal ghaib kan.


“Kamu tunggu di sini dulu ya, nanti masuknya bareng aku, aku ke kamar mandi dulu.” Hartino pamit pada Alisha, mereka sedang kontrol rutin, untuk memastikan keadaan Alisha.


Alisha memang jadi jauh lebih pendiam, tapi dia menepati janjinya, tidak akan pergi, sejenak Ganding ke kamar mandi, Alisha ternyata dipanggil untuk masuk ke ruang periksa, Alisha pikir tidak masalah jika dia masuk ke sana sendirian, toh hanya periksa kondisi saja, bukan berobat.


Akhirnya Alisha masuk dan bertemu dengan Dokternya.


Seperti pada general checkup pada umunya, Alisha menjalani serangkaian pemeriksaan, ketika akhirnya hampir selesai, Alisha tiba-tiba bertanya ….


“Dok, sudah lama sekali aku tidak haid, sejak terakhir aku di rawat di rumah sakit ini, apakah aku bisa sekalian dijadwalkan untuk periksa kehamilan? Karena aku khawatir kalau aku hamil dan tidak menyadarinya.” Alisha bertanya pada Dokternya.


“Sebentar, tapi berdasarkan catatan medis anda, bahwa … anda tidak memiliki rahim, di sini tercatat seperti itu jadi ….”


“Sebentar Dok, apa anda salah, apa anda salah membaca hasil laporan orang lain?”


“Saya adalah Dokter Anda, saya membaca rekam medis anda sebelum menangani, di sini tertulis jelas bahwa anda tidak memiliki rahim.”


“Dok! Apa maksud anda saya tidak memiliki rahim? Maksudnya saya tidak memiliki rahim? Saya tidak mungkin hamil? Dan itu alasan saya tidak haid lagi selama ini!” Alisha gemetar, bicaranya mulai tidak jelas, karena dia tenggelam dalam pikirannya, sementara Har akhirnya masuk ke ruangan, dia lama karena tadi harus menerima telepon dari kantor dulu, setelah dari toilet, dia pikir daftar antrian Alisha masih lama, tapi ternyata karena ada satu pasien tidak datang, Alisha didahulukan.


“Ada apa ini!” Har marah pada Dokternya.


“Pak, Ibu Alisha menanyakan soal kehamilan dan saya membacakan berdasarkan rekam medis, bahwa beliau tidak memiliki rahim, jadi saya tidak merekomendasikan untuk cek kandungan.”


Hartino diam, dia menutup matanya, hal ini adalah apa yang paling ditakuti, karena dia tidak pernah ingin Alisha tahu yang sebenarnya.


“Istriku sayang, bolehkah aku bicarakan ini di rumah?”


“Apa yang Dokter ini katakan benar?” Alisha akhirnya bertanya dengan suara dingin.


Har menarik Alisha untuk keluar, Dokter tidak dapat disalahkan, karena tidak ada catatan dari wali pasien bahwa informasi tertentu harus disembunyikan, walau menurut kode etik kedokteran, Dokter diperkenankan untuk merahasiakan kondisi pasien sesuai undang-undang.


Alisha sudah tahu yang sebenarnya, dia terguncang, begitu sampai rumah Alisha melihat Hartino dengan tatapan tajam, mereka berdua di kamar, Alisha duduk di tepian tempat tidur, Hartino di sampingnya.


“Katakan yang sebenarnya, apa benar rahimku sudah tidak ada?”


Hartino beranjak dari duduknya, dia lalu duduk dengan kaki ditekuk di hadapan Alisha memegang tangannya, melihat ke arah atas, tepat ke arah wajah Alisha.


“Kami terpaksa melakukannya, karena hanya dengan cara itu Esash mau keluar, dengan cara itu dia melepasmu, setelah kau aku nikahi dan aku lucuti keperawananmu, Esash masih saja tidak mau keluar, kata Rania, itu cara jitu untuk membuat Esash tidak lagi inginkan tubuhmu, tapi kau koma, Esash masih saja bertahan di dalam tubuhmu, waktu kami terbatas, sampai Esash benar-benar bisa memiliki tubuhmu.

__ADS_1


Akhirnya Rania punya jalan lain, dia bilang Esash masih di dalam tubuhmu, karena dia berharap pada rahimmu, kemungkinan kau akan bisa melahirkan anak yang bisa dikuasai Esash kelak, maka dari itu ….”


“Kalian mengeluarkan rahimku!” Alisha berteriak dan menepis tangan Hartino yang sedang menggenggamnya.


“Ya, kami mengeluarkan rahimmu dan tidak bisa menyelamatkan rahim itu lagi.”


“Kalian mengorbankan rahimku, mengorbankan Rania, kau tahu, kalau itu tidak sepadan dengan hidupku! Aku lebih baik mati daripada kehilangan hal-hal berharga dalam hidupku!”


“Dan membiarkan aku, Rania dan orang tuamu mungkin menyusul? Kau lebih memilih itu!” Hartino kesal dengan ucapan Alisha.


“Har, rahim bagi seorang perempuan itu penting, bagaimana caranya aku menjalani hidup sebagai istrimu, sedang aku tahu, tidak akan mungkin bisa memberikan keturunan! Bagaimana dengan orang ibumu, dia pasti sangat ingin memiliki cucu.”


“Keinginan memiliki anak bagiku, tidak lebih besar dari keinginanku memilikimu dalam hidupku, aku lebih baik tidak memiliki anak daripada kehilanganmu lagi, kalaupun aku dihadapkan pilihan seperti ini lagi kelak dalam kehidupan lain, aku bersumpah akan selalu memilih jalan ini!”


“Har, aku mohon, aku mohon, aku sangat kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku membuat banyak orang menderita.”


“Aku yang salah, seharusnya dari awal aku bicara padamu tentang perasaanku, tentang betapa cintanya aku padamu, tapi aku tidak bisa, karena egois, kau yang berkorban sejauh ini, mentalmu, tubuhmu bahkan jiwamu, kau serahkan untuk bisa bersamaku, maka izinkan aku membalasnya, izinkan kau menjadi pendamping hidupmu selamanya, jangan pernah tinggalkan aku.”


“Har, aku butuh sendiri, aku mohon keluarlah dari kamar ini.” Alisha meminta Hartino pergi dari kamar, Hartino menurutinya untuk sementara ini, karena dia tidak ingin Alisha makin terguncang.



“Lu yakin sendirian aja, nggak mau gue temenin?” Seorang remaja lelaki berkata pada temannya, teman itu baru saja selesai main di rumahnya.


“Iya, gue balik sendiria aja.” Kebetulan rumah temannya itu, berada di luar komplek, jadi temannya harus berjalan ke pos pintu masuk komplek dulu, untuk dapat keluar dari komplek, lalu berjalan kaki sekitar 15 menit untuk mencapai rumahnya.


Tapi masalahnya, dari rumahnya ke pos pintu masuk komplek, dia harus berjalan sekitar 10 menit, cukup jauh, maklum, ini komplek perumahan yang cukup luas.


Ezy jalan menyusuri rumah-rumah gedong, dia terus berjalan menuju pos pintu masuk, udara terasa dingin, wajah saja karena ini sudah malam.


Saat sudah setengah jalan, dia mendengar bunyi seperti mangkuk di ketuk, khas tukang bubur gerobak saat mejajakan dagangannya.


Ezy terus berjalan, dalam hatinya, untung ada tukang bubur, dari suaranya sih nggak jauh, jadinya ada yang temenin jalan, jujur sejak keluar rumah, nyalinya ciut setelah berjalan cukup jauh, karena tidak menyangka kalau komplek ini ternyata kalau malam sangat sepi, tahu gitu tadi minta antar temannya naik sepeda, jadi lebih cepat.


Ezy sengaja memperlambat jalannya, karena ingin bisa papasan dengan tukang bubur itu. Semakin lama suara tukang bubur semakin nyaring, berarti sudah dekat nih. Itu yang ada dalam pikirannya.


Saat akhirnya dia dan tukang bubur itu papasang, Ezy senang, ternyata benar, itu tukang bubur, tapi tukang bubur itu lewat saja, Ezy mengejarnya, pasti tujuan tukang bubur ini adalah pos keluar komplek, sama seperti dirinya, makanya Ezy akhirnya mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan tukang bubur itu.


Saat sudah sejajar, Ezy lalu basa-basi.


“Bang, udah malem masih jualan aja?” Ezy memang anak yang cukup ramah dan suka bicara dengan orang asing, maksudnya tukang dagang, kalau di sekolah Ezy suka ngobrol dengan tukang jualan di luar sekolah, tukang seblak, batagor, somay atau tukang-tukang lain, kadang malah dikasih gratis karena ramahnya. Tukang-tukang itu memang berdagang di luar sekolah, karena di dalam sekolah ada kantin yang cukup besar untuk jajan siswa.


Makanya dia tidak segan menegur tukang bubur ini untuk sekedar berbincang basa-basi.


Tukang bubur itu diam, tetap mendorong gerobaknya dengan kecepatan konstan.


“Bareng Bang, Ezy takut jalan sendirian.” Ezy akhirnya jujur kalau dia takut.


Tukang bubur masih saja jalan tanpa berkata-kata.


Ezy terus mengikutinya, yah walaupun diabaikan, dia tetap saja mengikutinya, daripada sendirian.

__ADS_1


Ezy terus berjalan mengikuti tukang bubur, hingga akhirnya dia sadar, kok bisa sampai di sini, di tempat yan tidak seharusnya dia ada, harusnya dia jalan ke arah luar komplek, ke arah pos, tapi dia malah jalan ke tanah kosong, di mana ini dalam hatinya.


“Bang, kok kita lewat sini, bukannya harusnya tadi kita ke pintu masuk dan keluar di pos depan ya, tapi kok kita malah ke sini?” Ezy yang heran lalu menengk kanan dan kiri, dia berharap ada satu orang saja yang lewat, untuk memberitahunya, karena tukang bubur ini sepertinay acuh.


Saat Ezy mulai panik, dia melihat tukang bubur berhenti, lalu berpindah ke sisi kirinya, dia mengambil mangkuk bubur dan menyendok bubur, Ezy tidak melihat siapapun di sana, apakah itu untuknya, itu yang Ezy pikirkan.


“Bang, saya nggak punya uang buat beli, nggak usah deh Bang, makasih ya.” Ezy memberitahu kalau dirinya tak bermaksud beli, tapi tidak digubris, Ezy mulai berpikir, apakah orang ini tuli?


“Bang!” Ezy mengencangkan suaranya agar di dengar, karena abang itu masih saja menyendok bubur dan isiannya.


“Bang, kalau masih dilayanin, gratis aja ya, Ezy baru mau.” Setelah berkata begitu, dia tertawa, tapi aneh, abang bubur masih saja sibuk dengan mangkuk bubur itu.


Ezy berjalan mendekatinya, lalu menepuk bahu tukang bubur itu, saat dia menepuknya, bahu itu terasa dingin dan … basah.


Ezy lalu reflek kaget dan sedikit jijik, karena bahunya basah sekali, dia mendekatkan tangannya dan mencium aroma dari bekas memegang bahu itu.


Ezy mundur dan merasa mual, bau busuk sekali, dia lalu memperhatikan tukang bubur itu, dia terlihat sedang mendekati Ezy dengan mangkok buburnya, Ezy tidak mau menerima bubur itu walau gratis sekalipun itu menjijikan, bubur itu benar-benar menjijikan.


“Nggak mau! Ezy nggak mau!” Ezy mundur lalu jatuh, dia jatuh karena panic.


Tapi tukang bubur itu masih saja terus menyodorkan buburnya, Ezy mundur dengan cara merangkak, karena merasa dipaksa.


Tapi pada satu titik, akhirnya dia tidak bisa bergerak, tubuhnya tiba berdiri, seperti ditarik, tapi entah oleh siapa, setelah berdiri, dia melihat tukang bubur itu sudah sangat dekat, jarak mereka hanya satu langkah, saat semakin dekat, Ezy melihat wajahnya, wajah itu membuat remaja berprestasi itu menangis, sedari tadi dia tidah tahu, bahwa yang diikutinya adalah setan, bukan manusia, karena manusia takkan bisa memiliki wajah semengerikan itu.


Tidak hanya sampai di situ, tukang bubur menyodorkan buburnya sambil berkata dengan lirih … “Iniiiihhhhh.”


Ezy menangis sejadinya, tapi bubur itu tetap disodorkan padanya, Ezy berusaha menolah, saat melihat mangkuk buburnya dengan jelas, dia melihat mangkuk itu berisi cairan hitam pekat yang berbau busuk. Cairan itu membuat siapapun pasti mual dan ingin muntah.


Setelah mangkuk bubur itu semakin dekat, Ezy lemas dan terkulai, jatuh ke tanah.


….


“Dek bangung!” Seseorang menepuk-nepuk bahu Ezy, Ezy bangun, entah sudah berapa kali orang-orang ini berusaha membangunkannya, Ezy terduduk, lalu mulai ingat kejadian semalam. Hari sudah pagi.


“Kamu ngapain di ujung komplek? Di tanah kosong itu?” Security bertanya.


“Akkkhhhh … akkkkhhhhh.” Ezy hendak menjelaskan tapi suaranya serak, dia tidak bisa bicara sepatah katapun. Ezy memegang lehernya, terasa sakit.


“De, ngangguk aja ya, kalau emang susah ngomong.” Seorang Security berkata, dia sudah yakin apa yang akan di ketahuinya adalah apa yang terjadi semalam.


“Kamu ketemu tukang bubur setan ya?!”


Ezy mengangguk, dia lalu menangis.


“Wah, si tukang bubur setan itu lagi! Bener-bener nggak bisa dibiarin ini mah, kapan sih Pak RT buat selametan, mening selametannya di tanah kosong itu aja sekalian, bias setannya mabur!” Security lain berkata dengan kesal.


“Jangan sembarangan ngomong. Udah antar anaknya ke rumah, abis itu jelasin apa yang terjadi, saya juga bingung, ini orang-orang yang jadi korban, mesti diapain, kan Kiai udah nggak ada.”


“Lapor Pak RT jangan lupa, biar dia juga bergegas untuk bikin selametan, tahlilan, atau apa aja deh yang bisa bikin tuh setan pergi.”


“Yaudah, anter dulu anaknya.”

__ADS_1


Pembicaraan antar Security itu berakhir, salah satunya mengantar Ezy untuk pulang dan menyampaikan pada orang tuanya apa yang terjadi, semoga setelah diadakan doa bersama di tempat itu, di tanah kosong itu, semua korban akan bisa berbicara normal lagi. Kasian, ini masih kecil lagi.


__ADS_2