Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 495 : Nyebrang Tamat


__ADS_3

Terus tanpa berhenti, hingga akhirnya dukun wanita itu tak lagi mampu menahan dan dadanya kena tenaga dalam itu, persis seperti yang dibidik oleh Aep, dia mengincar jantung dukun ilmu hitam wanita itu.


Dukun itu jatuh, muntah darah, anak buah yang melihatnya langsung ketakutan, karena mereka juga babak belur, kawanan ternyata sangat brutal menghajar mereka, tidak seperti hari sebelumnya saat mereka dihajar karena tak berdaya.


“Menyerahlah wanita sundal, kau sudah kalah ....”


“Aku beritahu padamu, anak Mulyana! Pamanmu tidak sebaik yang terlihat, dia dan keluarganya ....”


Aep merapal mantra tanpa ketahuan oleh kawanan yang fokus pada perkataan dukun itu, lalu membidik kepalanya, seketika dukun itu diam dan menatap kosong, lalu mulai tertawa seperti orang gila.


“Dia bicara apa Paman?” Aditia bertanya.


“Kau percaya pada wanita licik ini, dia hanya sedang mencoba untuk memecah kita seperti yang dia lakukan pada Eman dan istrinya.”


“Ya, itu masuk akal, sudahlah, sekarang kita keluarkan mereka dan mulai membatalkan mantra di zona gelap ini, agar tempat ini menjadi aman.” Alka berkata dengan lega.


...


Semua orang yang merupakan anak buah dukun itu sudah keluar dari zona gelap, mereka dipulangkan dengan bis ke tempat masing-masing, sungguh kawanan ini merupakan orang yang selalu mampu berbuat baik diantara hal jahat yang orang lakukan kepada mereka.


“Paman, ayo kita mulai melepas mantra dari tempat ini.” Aditia meminta pamannya mulai merapal mantra.


“Mana kebutuhan mantranya?”


“Kami sudah tak melakukan itu Paman, kami menggunakan Karembo  Hejo dan senjata untuk membatalkan mantra, cara ayahku dan cara paman itu terlalu kolot dan memanjakan.” Aditia jumawa dengan temuan mereka, karena senjata, Karembo Hejo dan ramuan Alka selalu berhasil untuk melepas mantra.


“Ya, baguslah kalian sudah menemukan cara yang jauh lebih mudah, kita tak perlu lagi untuk menyiapkan semua perlengkapan itu, karena cukup merepotkan dan memanjakan para jin.”


Baiklah Paman, ayo kita mulai.


Lalu kawanan mulai melakukan ritual, menggunakan senjata, Karembo Hejo dan semuanya disiram ramuan Alka, karean satu perguruan maka zona gelap patuh dan akhirnya menghilan melalui mantra penghapus yang dibacakan Paman Aep.


Setelah selesai dan memastikan bahwa sudah tak ada lagi yang menyebrang atau tertinggal di zona gelap yang lenyap, mereka lalu pulang ke rumah Aep.


Saat sampai rumah, Aep melihat rumah Eman gelap. Ada rasa sakit karena dia kehilangan sahabatnya dan Aep benar, Eman telah pergi dari rumahnya karena kecewa pada Aep, dia langsung pergi membawa baju saja, hendak tinggal di rumah anaknya di kota.


Mereka akan menghabiskan masa tua mereka bersama anak-anak, bagi Aep, kehilangan menjadi hal yang harus dia terima, bukan hanya Aep, bagi Mulyana, Aditia dan bahkan kawanan sekalipun, kehilangan adalah hal yang haru mereka anggap biasa.


Aditia kehilangan Alya yang jahat, pernah juga kehilangan mata batinnya karena kasus keluarg Dita.


Lalu Alka yang kehilangan ibu dan ayahnya, bahkan kepercayaan Ayi, Ayi membakar wajah Alka karena marah dan membuat cambuknya menjadi lebih pendek, walau sekarang Ayi telah memafkan, karena bukan dia yang menjadi otak pembunuhan itu.


Ganding yang harus membuat perjanjian dengan khodam Jarni dan harus kehilangan kemungkinan dicintai tanpa mantra, dia kehilangan rasa tulus, walau cinta memang tumbuh di antara mereka.


Hartino yang kehilangan banyak keluarga pengkhianatnya, lalu hanya tinggal berdua dengan ibunya.


Jarni yang tidak bisa memiliki saudara kembar dengan normal, kehilangan kasih sayang ayah dan ibu karena kemampuan dia.

__ADS_1


Terakhir Alisha, diantara kawanan, Alishalah yang paling berat menghadapi kehilangan, pertama, dia kehilangan tubuh sempurnanya, karena sejak membiarkan Esash menguasai tubuh, bahkan tulang rusuknya patah berkali-kali.


Belum lagi dia kehilangan Rania, adik sekaligus tangan kanannya yang berkorban, lalu terakhir, rahimnya. Sungguh kehilangan yang sulit dibayangkan bagi perempuan.


Bagi kawanan, kehilangan adalah sesuatu yang sangat mungkin mereka hadapi.


...


Mereka sarapan soerabi di tempat biasa, kawanan dan Aep yang tidak lagi menggunakan wajahnya sendiri, sudah tak peduli lagi dengan warga, karena dia akan pergi juga setelah ini.


Kawanan ingin melakukan sesuatu untuk memulihkan jalanan itu lagi.


“Paman, Wak Aep benar tidak tinggal di rumah itu lagi?” Aditia bertanya.


“Ya, dia tidak tinggal di sana lagi, dia tak ingin bertemu denganku, dia masih menyangka, aku yang masuk ke rumahnya dan menyelinap ke dalam kamar, padahal kalian tahu, kalau itu bukan aku.”


“Kenapa Paman diam saja? harusnya jelaskan dulu.” Ganding bertanya.


“Tidak, lebih aman jika Eman tidak lagi bersahabat denganku.”


“Kau kehilangan orang yang sangat berharga, Paman.” Alisha mengingatkan.


“Aku tak kehilangan dia, selamanya dia sahabatku, kami hanya perlu berpisah saja, seperti kehidupan, pasti ada titik bertemu dan tidak.


Dalam hati Eman, pasti ada terbesit sedikit dsaja tentangku yang tidak mungkin melakukan itu. Makanya, aku tak mau membela diri, karena tidak benar-benar butuh, aku hanya ingin lebih fokus untuk menghabisi dukun yang membangkang lagi.


“Apa itu?” Paman bertanya, mereka masih makan soerabi dan kopi hitam di tempat makan dadakan sederhana di pinggir jalan itu, tempat makan yang hanya beralaskan tikar dan meja kecil, dibuat dadakan.


“Kami akan membuat pasar malam di sana.” Alisha bersemangat.


“Oh ya, apa kau yakin mereka mau?”


“Kalau kita pasang lampu pinggir jalan lebih terang, lalu mulai untuk menjual barang murah, kita panggil orang-orang, mungkin kita bisa membuat jalan persawahan itu tak angker lagi, lalu mitos perlahan hilang.


“Lakukanlah, tapi aku tak bisa ikut, aku harus pergi, ada banyak hal yang harus aku lakukan di tempat lain.”


“Baiklah, Paman, aku akan mengaturnya.”


“Oh ya, jangan lupa minta izin pemerintah setempat ya, karena harus ada izin jika ingin membuka pasar malam.”


“Iya Paman, terima kasih.” Aditia menjawab dan mereka menikmati lagi suasana pagi di tempat soerabi dengan pemandangan gunung dari jauh, entah gunung apa, kabut juga kadang masih terlihat, bukan kabut ghaib, tapi benar-benar kabut yang dingin dan indah.


...


Kawanan mulai membuka pasar malam, tapi alih-alih berjualan, mereka mengubah rencana, karena malam sebelumnya mereka berjualan, tak ada yang mau datang, mereka semua masih takut, walau sudah mengetuk pintu rumah warga, tetap saja tak ada yang mau datang.


Akhirnya mereka memutuskan untuk membagi-bagikan sembako, kalau ini, pasti ada orang yang datang.

__ADS_1


Butuh waktu satu jam akhirnya ada yang datang, seorang nenek-nenek yang terlihat kelaparan, dia datang dengan kupon yang sudah diberikan, kupon itu hanya pancingan agar mereka datang.


“Nek, kok sendirian, mana cucu dan anakmu?” Alka bertanya, karena nenek itu terlihat sangat susah untuk berjalan.


“Tidak ada, mereka semua sibuk, sudah tak tinggal bersama lagi.”


“Oh, kalau begitu, nenek tinggal sama siapa?”


“Sendirian, ini saya kesini karena mau ambil sembako, agar bisa buat makan besok, saya sudah tak punya uang untuk makan besok, terima kasih ya, Cu, kalian baik sekali.”


“Saya antar pulang ya Nek,  ini kami kasih 3 paket untuk nenek, sekalian ini ada makan malam, nanti bisa langsung makan, nenek udah makan malam?”


“Ya Allah Cu, makasih banyak ya, nenek belum makan sejak tadi siang, karena sudah tak ada uang, ini rejeki dari kalian, terima kasih ya.”


Aditia lalu menuntun nenek itu, membawakan sembako 3 paket dan makan malam. Dia sedih melihatnya, kenapa ada cucu dan anak yang tega meninggalkan nenek sendirian, hingga harus berjalan ke sini dengan tubuh ringkih dan lemahnya


“Nek ini rumahnya?” Aditia menatap rumah yang tidak layak itu, hanya rumah petakan yang dindingnya terlihat bolong di mana-mana.


“Iya, peninggalan suami saya, kamu masuk dulu yuk, ada air putih mah.”


“Nggak usah Nek, saya harus jaga tempat amal di jalan itu kan, oh ya Nek, besok saya datang lagi ya ke sini, ada yang mau saya sampaikan, tapi besok saja ya. Soalnya sudah malam, makan yang enak ya Nek, pasti nenek ketakutan kan sendirian kalau hujan?”


“Ah, udah tua mah nggak ada yang ditakutin lagi Cu, tinggal tunggu Allah panggil aja.”


“Yaudah, nenek masuk, biar Adit liatin, nanti baru Adit pergi.”


Nenek itu lalu masuk, baru Aditia pergi, nenek itu melihat dari jendela kepergian Aditia.


“Ternyata orang baik masih ada, aku sering kelaparan, warga sini jarang ada yang mau nolong, orang jauh malah menolong dengan tulus, dikasih sembako banyak dan makan malam. Nenek itu tersenyum dan akhirnya bersiap makan malam. Dia sungguh lapar tadi jalan ke tempat itu, tapi dipaksakan agar bisa tetap makan besok, walau gas sudah habis, entah dia masak pakai apa, yang penting dapat dulu sembako, taunya malah dapat makan malam. Nenek itu bersyukur dengan sangat.


“Aku mau bangun rumah jompo ah, aku tadi lihat nenek itu sedih banget.” Aditia balik ke tempat kawanan yang ternyata sudah ramai, banyak orang akhirnya datang.


“Kok tiba-tiba rumah jompo? Biasanya kasih uang aja?”


“Sudah tua, nanti kalau dia meninggal di dalam rumah sendirian, lalu jadi ruh penasaran, kerjaan kita lagi. Kalau rumah jompo, kita kumpulkan nenek dan kakek itu, mereka bisa ngobrol, tidak sendirian dan ketakutan, makan dijamin, aku benar-benar ingin membangunnya.” Aditia bersemangat.


“Nanti kita bicarakan dengan ibuku ya, kita buat sekalian yayasannya agar profesional, menggandeng banyak sponsor juga ok Dit.” Si Jenius setuju merealisasikan rumah jompo itu.


Kegiatan memberi sembako berlangsung, sementara nanti mereka menghidupkan lagi jalan persawahan yang kelak jadi jalan mengadakan acara, mereka juga akan sibuk dengan keinginan Aditia membangun rumah jompo bagi nenek itu.


Maka kita juga bisa sibuk membahas kisah Mulyana pada hari-hari berikutnya, setuju?


______________________________


Catatang Penulis :


Bagaimana dengan penyelesaian ini? apakah kalian sudah puas? Atau masih ada yang tidak sreg? Komentar ya, aku pengen tahu.

__ADS_1


Makasih semuanya. Part Nyebrang selesai.


__ADS_2