
Ganding dan Aditia yang akhirnya ke tempat prostitusi, mereka berpakaian dengan santai karena tidak perlu menyamar menjadi apapun, mereka hanya perlu menjadi laki-laki.
Tempat ini adalah daerah yang sering yang dijadikan pemukiman para pekerja **** komersil, mereka memang dialokasikan di rumah ini oleh pemerintah, maksudnya agar mereka bisa diberdayakan untuk melakukan berbagai pekerjaan yang lebih berguna dan kelak mampu membuat mereka keluar dari kungkungan kenistaan, karena menjadikan tubuh mereka barang dagangan.
Tapi sayang, ternyata tidak sesuai target pemerintah, para PSK ini malah tetap menjajakan tubuh di rumah yang telah disediakan sebagai tempat alokasi pemberdayaan perempuan dengan label kupu-kupu malam ini.
Mereka bahkan terang-terangan menjajakan tubuh di rumah sendiri, sudah jadi rahasia umum, bahwa rumah mereka adalah tempat perzinahan komersil yang dibuat sedemikian rupa.
Target Ganding dan Hartino adalah wanita yang merasa anaknya bermasalah.
Ganding mendekati salah satu perempuan dengan pakaian sangat minim, dia sedang asik merokok di bangku yang terbuat dari semen di depan rumahnya.
“Bu, boleh tanya, kalau di sini anak yang paling bermasalah siapa ya?” tanya Ganding tanpa salam pembukaan.
“Semua anak di sini mah bermasalah.”
“Kalau yang paling-paling bermasalah dan orang tuanya sampai berusaha untuk membuat anak itu baik siapa ya?”
“Kalian siapa?” tanya ibu-ibu dengan pakaian mini dan dandanan yang sangat menor ini.
“Kami mahasiswa Bu, hendak melakukan penelitian tentang karakter anak pada tempat seperti ini.”
“Tempat seperti ini, maksudnya apa ya?” Ibu itu bertanya.
“Tempat dengan tingkat kekerasan dan kriminalistas yang tinggi Bu.”
“Kalian nih mau meneliti apa mau ‘jajan’ sih? jangan panggil ibu lah, panggil mbak aja, kalau nggak mau sama aku, ada yang lebih muda dan lebih cantik, tapi lebih mahal, kalian sanggup nggak?”
“Kami nggak bermaksud untuk itu, Bu ... eh Mbak.” Ganding menolak dan tidak ingin disentuh sembarangan oleh ibu-ibu yang ingin dipanggil mbak ini.
“Nggak punya uang ya? kalau barang-barang lain kami juga terima, kayak sepatu bermerk, jam tangan dan baju bermerk juga ok. Mau nggak?” Masih saja perempuan itu mencoba untuk memaksa.
“Nggak usah mbak, kami tidak bermaksud melakukan itu.” Ganding mendorong dengan terpaksa.
“Mbak, lihat tangan saya!” Aditia tiba-tiba mengulurkan tangannya, dia lalu membuat wanita itu untuk fokus pada telapak tangannya dan akhirnya wanita itu terdiam dengan tatapan kosong.
“Kasih tahu saya, siapa anak di sini yang suka minum kopi susu?” Aditia ternyata melakukan gendam padanya.
“Semua anak di sini sukanya minum soda.” Ibu itu menjawab dengan tatapan kosong.
“Siapa ibu-ibu di sini suka memberikan kopi susu dari dukun pada anaknya?” Adiita bertanya lagi.
“Tidak ada, jangankan beliin kopi susu, beliin makan aja jarang, orang bapaknya aja nggak ada.” Ibu itu sekali lagi menjawab, Ganding dan Aditia akhirnya melepas gendam dan pergi tanpa pamit.
“Gimana?” Alka dan Jarni ada di angkot, menunggu Aditia dan Ganding di sana.
__ADS_1
“Gimana?” Alka bertanya.
“Mengerikan.” Aditia dan Ganding menjawab dengan kesal.
“Kok bisa? Banyak jinnya?” Alka bertanya lagi.
“Bukan!” Aditia tertawa sekaligus histeris.
“Trus?”
“Tempat kayak gitu penuh perempuan menjajakan tubuh, kami dilecehkan.” Aditia menjawab.
“Ayo!” Alka tiba-tiba mengajak Jarni keluar dari angkot.
“Kemana?” Aditia bertanya.
“Biar kubakar rumah-rumah prostitusi itu!”
“Setelahnya, akan aku buat perempuan itu kapok melecehkan kalian!” Jarni menambahkan.
“Tenang-tenang, jangan gegabah, ini bukan masalah besar. Kami masih bisa menjaga diri.” Ganding menenangkan Jarni dan Aditia menenangkan Alka.
“Yuk kita ke tempat berikutnya aja ya, Alka masuk lagi dan temani aku di bangku samping kemudi ya.” Aditia menarik tangan Alka dan dia patuh.
Tujuan mereka adalah korban terakhir, seorang anak bernama ... Bagus.
“Seseorang membuka pintu dari dalam.”
“Cari siapa?” Tanpa menjawab salam orang itu membuka pintu, dia sepertinya cukup dewasa, umurnya mungkin diawal dua puluhan.
“Ada bapak dan ibunya Bagus?” Aditia bertanya, lelaki itu membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Alka serta Aditia masuk.
Dia lalu memanggil kedua orang tuanya. Keluarlah seorang lelaki yang jauh lebih tua, umurnya mungkin baru diawal empat puluhan, tapi wajahnya terlihat jauh lebih tua dari umurnya, Aditia melihat bayangan hitam yang begitu kelam di sekeliling lelaki itu.
“Ini siapa ya?” Lelaki itu bertanya, Aditia dan Alka menebak, lelaki ini adalah ayah dari Bagus.
“Begini Pak, kami dari kepolisian, intel Pak. Kami sedang menyelidiki praktek dukun ilmu hitam yang berpotensi membunuh pasien yang datang padanya dan nama istri anda salah satu pasien yang mendatangi dukun tersebut. Makanya kami datang ke sini.” Aditia mengarang bebas.
“Kalau begitu, tunjukkan identitas kalian.” Ayahnya Bagus orang yang pintar, tapi kawanan jauh lebih licin.
“Ini Pak.” Aditia memperlihatkan lenananya lalu setelah itu menaruhnya lagi di tas pinggang yang dia bawa, karena itu lencana palsu.
“Baik, jadi benar istri saya memang ke dukun ya?” Ayahnya Bagus mulai terbuka.
“Ya, berdasarkan data yang kami temukan di lapangan memang seperti itu.”
__ADS_1
“Benar memang bahwa kopi susu itu yang membuat anak saya ....” Lelaki itu menangis, dia menangis seperti anak kecil.
“Bagaimana keadaan Bagus saat ini Pak? apakah dia sudah ....”
“Belum, saat ini Bagus masih belum siuman, dia masih di rawat di rumah sakit selama beberapa tahun belakangan ini.”
“Sebentar, maksudnya, Bagus belum meninggal dunia?” Aditia bertanya dengan tidak sopan.
“Apa maksud anda! anak saya belum meninggal, dia koma.”
“Tapi ....” Aditia terdiam, dia takkan mungkin menceritakan tentang catatan ayahnya yang mengatakan bahwa 30 anak menjadi korban, tapi tidak ada keterangan bahwa Bagus masih hidup dan koma.
“Anak saya koma, tentang dukun itu saya dengar dari seorang lelaki bernama Mulyana, dia datang dan sama seperti kalian, mengaku sebagai intel, dia lalu mengunjungi Bagus dan rutin mengunjunginya, satu pesannya, kalau Bagus harus tetap di rumah sakit itu, di kamar itu dan tidak boleh di pindah apapun yang terjadi, Mulyana berjanji padaku bahwa Bagus akan bangun, tapi dia perlu waktu.
Saat itu entah kenapa aku percaya, tapi setelah bertahun-tahun, dia tak datang lagi, aku masih saja mendengarkan dia, untuk tidak mengeluarkan anakku dari kamar rumah sakit itu.”
“Bapak Mulyana berkata begitu?” Alka bertanya.
“Ya, kalian kenal?”
“Iya, dia atasan kami, tapi Pak, Pak Mulyana sudah tiada.” Alka yang melanjutkan pertanyaan, karena Aditia terlihat terkejut, ternyata ayahnya memang tidak sempat menyelesaikan kasus ini karena sakit.
“Oh begitu, pantas kalian datang ke sini, apakah kalian ingin melihat anak saya di rumah sakit?”
“Ya, kalau diizinkan.” Alka berkata.
“Baiklah, ayo saya antar, di sana ada istri saya yang tidak pernah pulang, dia tinggal di sana menjaga Bagus. Kalian juga bisa bertanya pada istri saya tentang dukun itu, dia yang datang ke dukun itu untuk mengambil bahan yang katanya bisa membuat seorang anak jadi patuh dan membanggakan.”
“Baiklah, ayo kita ke sana.”
Lalu Aditia, Alka naik angkot, sementara ayahnya Bagus memakai motor bersama anak lelakinya, kakaknya Bagus.
Tidak lama mereka sampai di rumah sakit itu.
“Ini rumah sakit rekanan perusahaan kita, pantas Bagus bisa di sana terus selama bertahun-tahun, bapak pasti sudah melindungi Bagus sekuat tenaganya agar tidak diambil oleh dukun brengsek itu.” Ganding mengumpat begitu mereka sampai rumah sakit.
Lalu semua orang berjalan menuju kamar Bagus.
“Dit, pagar ghaib khas punya bapak.” Ganding menunjuk pada pagar ghaib itu, Jarni dan Alka mengikuti dari belakang sementara ayahnya Bagus sudah masuk.
“Iya Nding, ayah membuat pagar ghaib itu dengan ketat sekali, cukup kuat, kita bisa masuk karena kita teridentifikasi sebagai relasi. Kalau jin lain atau orang dengan ilmu ghaib lain, pasti sudah terpental sejak di gerbang tadi. Bapak memang tidak ada tandingan kalau buat pagar ghaib.” Aditia memuji ayahnya.
“Ya, dia terbaik.”
Semua orang masuk dan melihat seorang anak yang sangat kurus, dia koma, sudah beberapa tahun lamanya, tertidur seperti itu saja.
__ADS_1
“Ibu, ini intel anak buah Pak Mulyana yang dulu bantuin kita masuk rumah sakit ini, trus ngejamin kita untuk tetap di sini selama Bagus masih koma, mereka akan bantu kita menemukan dukun itu, mungkin dia punya penawarnya bagi anak kita.” Ayahnya berkata dan itu membuat kawanan kesal, karena bukan dukun itu yang memberi penawarnya, dia hanya punya racun, tapi pasti tak punya penawar, khas dukun ilmu hitam.
“Bu, bisa kita bicarakan soal Bagus?” Ganding duduk, mereka berempat akhirnya duduk di bangku seadanya bersama keluarga Bagus yang menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sakit ini.