Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 227 : Bangsal 4


__ADS_3

“Sudah lama sekali kau tidak ke sini, ada apa?” Dukun yang terlihat cukup tua di umur sembilan puluh tahun itu bertanya.


“Bantu Mbah, ini soal suaminya Ranita.”


“Suamimu? Dia yang mau kau kerjai?” Mbah dukun itu terlihat sangat kaget.


“Ya Mbah, tolong aku.”


“Tentu saja, apa yang kau inginkan?” Mbah itu bertanya.


“Aku ingin dia hanya melihatku, tidak bisa mencintai wanita lain, hanya mengikuti mauku, semua yang aku inginkan dia harus penuhi. Dia tidak mampu melihat wanita lain lagi.” Melia berkata dengna sungguh-sungguh.


“Kau tahu kan, kalau permintaan itu, berarti kau harus mengikat jiwa suamimu, hingga ikatan itu sesak dan kaulah yang memegang tali kekang ikata itu.”


“Ya aku tahu Mbah.”


“Kau tahu juga soal pertukarannya kan?” Dukun itu bertanya lagi.


“Ya aku tahu, jiwa dibayar jiwa.”


“Maka kau harus siap menjadi budak Manimung, dia jin yang paling mampu membuat suamimu seperti itu.”


“Ma-Manimung?” Melia teringat tentang client yang dia bawa ke sini dan memelihara Manimung, akhir hayatnya menjadi begitu mengerikan, mati tidak bisa, hidup juga terlalu berat.


“Mbah aku ....”


“Manimung yang bisa, yang lain tidak, karena suamimu memang sudah seperti itu sejak muda, hanya Manimung yang mampu mengikat jiwanya.”


“Lalu bagaimana diriku?” Melia bertanya dan terlihat kebingungan.


“Kau akan menjadi milik Manimung, mungkin dia akan tumpangkan tubuhnya padamu hingga akhir hayatnya.”


“Mbah, bisa kita pakai media boneka saja, bagaimana?” temannya Melia bertanya, dia memang sudah memikirkan cara ini dari semalam, Melia pun setuju.


“Bisa, tapi akan terlalu berbahaya, karena dia akan mengambil begitu banyak dari suamimu sebagai korbannya, kau tahu kalau boneka itu makhluk mati, tidak punya energi, maka dia akan mengambil energi dari suamimu untuk bertahan.”


“Tak apa, yang penting dia tidak lagi berselingkuh Mbah.”


“Kalau begitu, apa maharnya?” Mbah itu bertanya.


“Ini Mbah.” Melia memberikan bungkusan yang sudah dia persiapkan, sebagai orang yang terbiasa mengantarkan client dia tahu bahwa jin itu butuh mahar untuk diberikan kepada dirinya, selain uang untuk dukunnya tentu saja. Mahar dari pelaku akan menjadi pengikat antara pelaku dan juga jin itu. semacam pengikat.


“Ini apa?” Mbah dukun bertanya, dia belum buka bungkusan dari kain batik itu.


“Kulit dari setiap buku jari tanganku, aku menyiletnya.”


“Baiklah ini cukup, aku siapkan mandi kembang tujuh rupa, kita harus mengucapkan mantranya, mantra pengikat antara kau dan manimung.”


Setelah menunggu selama setengah jam, Melia dan temannya ke bagian belakang gubuk itu, Melia telah melepas semua pakaiannya, sekarang tanpa sehelai busana pun dia masuk ke gentong tanah liat yang sangat besar, dia membasahi seluruh tubuhnya, sementara Mbah Dukun memandikannya dan membaca mantra.


Mantra selesai dibacakan selama dua puluh menit, Melia merasa tubuhnya sangat berat, dia keluar dari gentong besar itu dan bersiap untuk melayani mbah dukun sebagai syarat melayani pemegang perintah atas jin peliharaannya.


Dukun ini telah meniduri begitu banyak wanita yang datang padanya, tapi tak ada satupun yang melapor karena semua keinginan mereka tercapai.


Dukun itu dan Melia di dalam kamar selama satu jam, sementara temannya Melia sudah menyiapkan pakaian Melia dan memakaikannya busana begitu dia keluar.


Melia terlihat berkeringat cukup banyak dan sangat lemah serta kedinginan. Setelah dipakaikan baju oleh temannya, mereka berdua pamit.


“Mel gue yang nyetir ya?” Temannya menawarkan diri, Melia mengangguk.


Temannya menyetir dan dalam perjalanan Melia hanya menatap kosong.


“Kau baik-baik saja?”

__ADS_1


“Bagaimana mungkin aku baik-baik saja, untuk mengembalikan suamiku aku harus menjadi kotor.”


“Tapi suamimu jauh lebih kotor! Kau melakukan ini untuk pernikahan kalian, makanya jangan pernah merasa bersalah, kau pantas mendapatkan yang terbaik, aku takkan pernah meninggalkanmu.” Temannya memegang tangan Melia sembari menyetir, Melia masih terdiam.


Mereka sampai rumah, hari belum terlalu malam, suaminya juga belum pulang, anak Melia sudah dijemput sebelum mereka sampai rumah, temannya akan menginap di rumah itu.


Temannya Melia membantu Melia mengurus anaknya dan mengurus Melia yang terlihat lemah. Suaminya tidak lama kemudian pulang langsung ke kamar istrinya.


“Mel, kamu baik-baik aja kan?” suaminya datang dengan wajah begitu khawatir dan mengusap kepala Melia, terlihat sebagai suami yang sangat perhatian dan menyayangi istrinya.


“Ya tak apa, aku hanya butuh istirahat, bolehkah temanku menginap di sini?” Melia meminta.


“Tentu saja, dia sudah sangat membantumu, jadi dia boleh menginap selama apapun yang dia inginkan.” Suaminya memang tidak terlalu banyak mengenal teman Melia, Melia tertutup soal teman-temannya, takut ketahuan kalau dia adalah seorang kuncen Psikik.


Setelah anaknya Melia tidur, suaminya tidur bersama Melia, temannya Melia di kamar tamu terlihat sedang duduk di tengah tempat tidurnya, dia bersila, entah apa yang dia rapal, dihadapannya ada boneka yang cukup besar, hadiah ulang tahun untuk anak Melia itu digunakan sebagai wadah bagi Manimung.


Temannya Melia telah mendapatkan mantra pengikat itu, dia yang harus mengunci karena dia dan Melia telah menanamkan janji darah, mereka berdua menjadi saudara sedarah setelah mengikat janji darah itu, sehingga jika Melia tidak mampu melakukannya, temannya bisa menjadi pengganti.


Temannya itu mengikat Manimung di sana, setelah merapal mantra itu dan berhasil mengunci Manimung, dia menaruh kembali boneka itu di tempat semula, dia juga sudah mewanti-wanti Melia untuk segera melarang anaknya bermain dengan boneka yang berisi jin Manimung itu, semoga Melia mengingat itu. Karena akan sangat bahaya bagi seorang anak berdekatan dengan jin yang sangat kelaparan, selain kotoran, jiwa anak kecil itu sangat wangi, jin suka sekali, makanya anak kecil sangat dilarang sendirian saat senja, karena itulah saat jin memburu.


...


“Gimana Mel? Kamu mau aku nggak masuk kantor aja?” Suaminya bertanya, mereka sedang di meja makan, temannya Melia yang memasak, dia memastikan bahwa suaminya Melia makan dengan baik. Untuk Melia dan anaknya disediakan lauk yang berbeda. Karena Melia sakit dia makan bubur dan anaknya ikut makan bubur.


Suaminya Melia tidak keberatan makan nasi goreng buatan temannya Melia, Melia masih saja terlihat lemah, tapi tidak sekosong seperti hari sebelumnya.


“Enak sekali, terima kasih sudah baik ya, menjaga Melia dan juga memasakkan makanan untuk kami.” Suaminya Melia memegang tangan temannya Melia, seolah sedang menjabat, tapi semua orang tahu apa tujuannya, hanya ingin memegang saja.


Temannya Melia pura-pura baik, dia tersenyum dan kembali menyuapi anaknya Melia. Melia tidak perduli, dia hanya makan karena lapar sekali.


Suaminya pergi ke kantor, sebelumnya dia mengantar anaknya dulu, sementara Melia ditemani temannya.


“Kau masih tidak enak badan?” Temannya bertanya pada Melia.


“Kemarin dia memang menggendong di pundakmu, tapi sekarang dia sudah di boneka, aku menyegelnya. Ini pasti hanya soal efeknya saja, makanya bahumu masih sakit.”


“Ya mungkin, tapi bagaimana kau bisa menyegelnya?”


“Kau lupa kita pernah melakukan perjanjian darah, aku dan kamu saudara sedarah dalam dunia ghaib, makanya aku bisa mewakilimu, aku hanya takut anakmu akan terluka, makanya aku buru-buru kemarin, maafkan aku ya.” Temannya Melia berkata dengan sedikit khawatir.


“Aku nggak tahu lagi harus bicara apa, karena kau sangat membantu, menginap beberapa hari lagi, aku mohon, aku butuh kamu.” Melia merengek, temannya terpaksa mengiyakan, karena Melia tahu apa yang Melia inginkan temannya pasti penuhi. Karena temannya itu merasa hutang budi.


“Kau harus segera menaruh boneka besar itu di tempat yang sulit dijangkau anakmu.” Temannya mengingatkan lagi, khawatir Melia akan lupa.


“Kita taruh di atas lemari kamar saja, itu sangat tinggi dan tidak terlihat, dia tidak akan bisa menjangkaunya.”


“Ya disitu saja.” Temannya Melia setuju, dia mengambil boneka itu dan menaruhnya di lemari kamar Melia.


Setelah itu mereka berdua sibuk di dapur, ada yang harus dilakukan, agar Manimung mengenali korbannya.


Yaitu kotoran yang harus dimasukan pada seluruh makanan suaminya, kotoran itu berasal dari kotoran yang istrinya sudah persiapkan, kotoran menjadi media yang paling ampuh bagi Manimung untuk mengenali korbannya.


Makanya temannya Melia tadi memisahkan tempat makan anaknya Melia dan milik Melia, karena dia tidak ingin mereka dikenali sebagai korban oleh Manimung.


Melia sudah mempersiapkan semuanya, mulai saat ini dia harus hati-hati, jangan sampai anaknya kena bala karena dia salah memberikan pengenalan.


“Mel, ingat baik-baik ya, jangan pernah ambil peralatan makan dari lemari ini, kau dan anakmu hanya boleh makan dari peralatan piring yang ada di lemari bagian atas.


Lalu ‘bumbu’ untuk suamimu, jangan sampai lupa kau berikan pada setiap hidangannya.”


“Ya aku mengerti.” Melia terlihat sangat datar, dia tidak menyangka akan menjadi seperti mereka, si istri pejabat yang membuat suami mereka bagai boneka.


“Mel, kau harus kuat, ini belum kita mulai sama sekali loh, kau harus bisa kuat, setelah ini kau akan mendapatkan apa yang kau mau, ingat itu.” Temannya menyemangati.

__ADS_1


“Terima kasih ya.” Melia tersenyum tipis.


Setelah beberapa hari temannya pulang, dia sudah memastikan kalau Melia sudah bisa ditinggal dengan semua ramuan itu dan tidak akan membahayakan anaknya kelak.


Suaminya juga sudah menggoda temannya Melia beberapa kali, tapi tidak berhasil karena temannya bukan wanita seperti itu.


“Mah, makanan Mamah tuh makin hari makin enak ya, trus wajah Mamah juga tiap hari makin cantik. Papah males keluar jadinya.”


“Papah kan harus kerja, banyak meeting juga kata Papah, seperti biasa.”


“Ya sih, yaudah Papah terpaksa kerja deh.”


Sudah dua minggu ramuan itu diberikan oleh Melia pada suaminya, terkadang Melia juga melihat Manimung datang ke kamar mereka, untuk mulai mengerjai suaminya, anaknya Melia dikamar dengan mantra pelindung agar Manimung tidak menyadari ada anak kecil di sana.


Seperti malam ini, Melia melihat Manimung masuk ke kamar mereka, lalu berjongkok di atas tubuh suaminya, lidah itu menjilat wajah suaminya, Melia pura-pura tidur, padahal dia melihat semua dengan jelas, takut, tapi dia takkan pernah mundur.


Pagi tiba, suaminya pasti merasa sekujur tubuhnya sakit, tapi Melia langsung memberikan ramuan yang tentu saja sudah diberikan alat pengenalan bagi Manimung.


Sudah satu bulan Saiful diberikan ramuan itu, semakin hari suaminya menjadi pemalas, karena dia tidak mau pergi kemanapun selain bersama istrinya, dia bilang tidak bisa kalau tidak melihat wajah istrinya.


Kantor masih bisa dijalankan dari rumah, tidak ada lagi client yang harus ditemui di luar jam kantor seperti biasa, tentu itu hanya kebohongan agar Melia percaya kalau dia kerja, padahal sedang mengerjai para gadis itu.


“Pah ayo makan.” Melia mengajak suaminya makan.


“Ya sebentar Mah, Papah mau ganti baju dulu.” Istrinya lalu pergi ke meja makan duluan. Sementara suaminya mengganti baju.


“Pah, liat boneka aku nggak? yang kado ulang tahun dari Papah, kok ilang ya?” anaknya tiba-tiba sudah ada di kamar itu.


“Hah? kan di ruang mainmu Nak.”


“Nggak ada, udah aku cari, coba ada di lemari nggak Pah? Mamah suka beresin kalau mainannya mahal, katanya biar nggak cepet rusak.”


“Lucu sekali mamahmu, yaudah Papah bantu cari ya, kamu duduk dulu di tempat tidur.” Saiful lalu membuka semua pintu lemari dan mencari bonek itu, tak ada juga, dia mencari terus hingga keringatnya mulai timbul.


“Nggak ada Nak, kita tanya ibumu yuk.” Lalu papahnya menggendong anaknya di bahu seperti biasa untuk pergi ke meja makan.


Tapi saat mereka hampir mencapai pintu keluar, anaknya berteriak.


“Pah, itu dia!” Anaknya menemukan boneka itu, karena dia berada di bahu ayahnya, makanya dia cukup tinggi untuk mellihat boneka itu.


“Apa?” Papahnya bingung.


“Boneka aku, itu di atas lemari, cepet ambil Pah, aku kanget sama bonekaku.”


Papahnya menurunkan anak itu dan dia mencoba menggapai boneka yang ada di atas lemari, tapi saat dia berhasil menggapai, ada paku yang mencuat di lemari itu, jari tangannya robek karena terkena paku itu, tidak sengaja darah itu terkena bonekanya.


Boneka itu berhasil diambil, lalu dia dan anaknya keluar kamar dan hendak ke meja makan.


Saat sampai di meja makan, Melia yang melihat putri serta suaminya datang kaget, dia sampai menjatuhkan piring yang sedang dia pegang.


“Ke-kenapa boneka itu ada di kamu!” Melia langsung mengambil boneka itu secara paksa.


“Kenapa emang? Kasian dia nyariin boneka ini, kamu pasti kebiasaan deh, takut barang rusak malah membuat anakmu tidak bisa main bebas dengan mainannya.”


“Ini kotor, Mamah cuci dulu ya Nak, sini kembalikan ke Mamah.” Melia buru-buru mengambil boneka itu dengan kasar, pergi ke kamarnya lalu meletakkna boneka itu di kamarnya.


Dia menelpon temannya, menceritakan apa yang terjadi, temannya terkejut dan buru-buru akan ke sana, karena akan bahaya sekali kalau sampai anak itu disadari oleh jin jahat itu.


_____________________________


Catatan Penulis :


Part ini agak jorok ya maaf, tapi aku mau kalian rasain gimana seseorang berjuang dengan gilanya karena cinta. Walau apa yang dia lakukan salah, ini jelas salah.

__ADS_1


Selamat membaca, selamat malam.


__ADS_2