Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 403 : Bulan Madu


__ADS_3

“Kamarnya bagus ya Mas, makasih ya.” Gea memeluk suaminya, mereka berdua sedang berada di vila, bulan madu di pulau dewata.


“Iya sayang, kamu suka ya?”


“Masa enggak, ini vilanya besar banget, walau cuma 1 lantai, tapi bener-bener mewah, tadi bapak sama ibu juga pada senang kayaknya, untung kamu dapat 3 kamar, 1 kamar untuk kita, 1 kamar untuk ayah ibu dan adik perempuanmu, 1 kamar untuk ayah, ibu dan adik laki-lakiku. Bulan madu ini jadi terasa nyaman, karena kita pergi bersama keluarga sayang.”


“Iya Gea, makasih ya udah mau ngerti, kalau aku memang pergi selalu sama keluarga.”


“Kan kamu juga tahu, aku sama kok, kalau pergi selalu sama mama, papa dan adikku.”


“Sayang, itu jaccuzi ya?” Gea sedang berada di pintu menuju balkon, pintu itu sangat besar di tutup dengan gorden yang sangat mewah terbuat dari satin tebal.


“Mana?” Suaminya melihat ke arah yang Gea tunjuk, memang benar ternyata di samping kolam renang ada jaccuzi.


“Iya kayaknya, tapi mas nggak pesan yang ada jaccuzi deh kayaknya, kok beda yah vilanya? Itu juga kolam renangnya besar sekali ya, seinget Mas, vila yang emas pesan itu kolam renangnya di belakang vila, trus fotonya kolam itu nempel sama bagian belakang vila, nggak di samping vila di tengah taman gitu, Mas telepon recepsionis dulu ya, mau Mas pastiin.” Anto mendekati telepon meja yang ada di dekat tempat tidur.


[Mau tanya Mbak, ini kok saya vilanya yang ada jaccuzi dan kolam renangnya juga yang besar ya?] Anto tidak perlu menyebutkan nomor vilanya, karena telepon meja itu ada layar yang bisa menunjukkan nomor telepon yang mewakili setiap vila.


[Baik, saya cek dulu ya pak,] Resepsionis meminta Anto menunggu beberapa saat, lalu dia menjawab kembali, [Pak, ini ternyata vila Bapak sudah di upgrade ke presidential suite pak, tipe vila kami paling besar dan lengkap.]


[Loh, bukannya saya pesan yang biasa ya? bukan yang lengkap, saya nggak minta upgrade tuh.] Gea mendengar itu terlihat kaget, karena terpikir jika saja ada kesalahan, maka dia dan semua keluarganya, harus kembali packing barang bawaan dan pindah vila. Vila ini sungguh membuat Gea terpesona.


[Memang bukan atas permintaan Bapak, tapi ini kami sengaja memberikan tipe vila paling lengkap karena vila yang bapak pesan ada kerusakan di beberapa bagian pagi ini, jadinya kami memberikan vila yang paling siap agar Bapak sekeluarga tidak kecewa dan yang paling siap adalah tipe vila presidential suit ini Pak. tidak akan dikenakan tambahan biaya, untuk harga, semua sudah sesuai dengan pesanan dan pembayaran yang sudah bapak selesaikan di aplikasi. Yang penting tidak ada barang yang rusak dan checkout sesuai jadwa.]


[Oh, kalau begitu saya terima kasih sekali ya Mbak, udah dikasih vila yang terbaik, saya pasti akan rekomendasiin deh ke temen-temen nanti, ini dengan Mbak siapa ya?]


[Perkenalkan saya dengan Ayu Pak, boleh silahkan telepon kami lagi jika ada yang mengganggu. Apakah ada lagi yang bisa kami bantu?]


[Sudah cukup Mbak Ayu, terima kasih ya.] Anto menutup teleponnya.


“Gea,  vila ini emang beda dari yang aku pesan, tapi ....”


“Kita mesti pindah Mas?” Gea istri yang baru dinikahi selama satu minggu itu bertanya.


“Nggak kok sayang, kamar ini sengaja dikasih ke kita walau lebih mahal, karena ada kesalahan dari mereka, vila yang kita pesan, ada beberapa hal yang rusak tadi pagi pas di cek sama mereka, makanya karena takut kita keburu datang dan kecewa tanpa sempat mereka betulkan yang rusak-rusak itu, mereka kasih vila yang paling ready.

__ADS_1


Beruntung kita, vila yang paling ready ini hanya yang presidential suite, kita dapat vila lengkap dengan harga vila biasa, beruntung banget kita, Gea.” Anto menangkap tubuh Gea dan menggendongnya ke arah kasur.


“Serius Mas, jadi kita nggak bayar tambahan lagi?” Gea terlihat bersemangat.


“Nggak, kita nggak akan dikenakan biaya upgrade, ini bener-bener beruntung banget kita.” Suaminya terlihat senang, dia lalu mulai menyergap istrinya dan bersiap untuk melakukan malam pertama untuk kesekian kalinya.


“Mas sebentar, kita kan baru sampai banget, kau bersih-bersih badan dulu ya, biar wangi.” Gea mendorong tubuh suaminya dengan lembut.


“Yahhhh ... udah nggak tahan nih.”


“Mas ... malu ih! Bentar aja, biar aku bersih dulu.” Istrinya terlihat gusar karena merasa tubuhnya tidak bersih karena perjalanan dari Jakarta ke pulau dewata ini tadi.


“Yaudah, jangan lama-lama ya.” Anto melepaskan cengkramannya dari Gea dan membiarkan Gea ke kamar mandi yang ada di kamar itu.


Gea masuk kamar mandi dan menutup pintu tanpa menguncinya, dia membuka semua kain yang menempel di badannya, dia lalu mandi, saat mandi tidak sengaja dia melihat Anto sudah berdiri di belakangnya, dia melihat Anto dari pantulan kaca yang menutup kamar mandi bagian shower itu, karena kamar mandi ini cukup besar, bagian kloset beda dan bagian wastafel beda, semua disekat oleh kaca transparan.


Sedang bilik showeritu membelakangi pintu masuk, tapi sekelilingnya kaca transparan, Gea melihat suaminya mendekat.


“Mas ... kan Gea belum selesai.” Istrinya melembutkan suara, paham kalau suaminya sedang menuntut pelayanan.


Gea menikmati setiap sentuhan itu, mulai dari lehernya, turun ke dada, perut lalu areal paling pribadi.


Setelah itu puncak kenikmatan mereka rasakan berdua, melakukan ritual suami istri dengan di kamar mandi vila mewah itu, dengan berbagai posisi.


Gea sampai kehabisan nafas karena Anto sangat bergairah, setelah Anto sudah melepaskan hasrat yang sudah dia pendam, Gea melanjutkan mandinya, dia melakukan mandi wajib agar bisa langsung solat isya setelah ini.


Anto menunggunya di bagian wastafel, dia akan gantian mandi setelah Gea selesai.


Setelah selesai, Gea mengambil handuk, Anto pergi ke bilik shower, sekarang dia yang akan mandi.


Gea lalu ke luar kamar mandi dan berjalan menuju kasur dan ....


“Lama banget sih!”


Gea terdiam, dia sulit mencerna apa yang dia lihat ... Anto di kasur masih dengan pakaian ... Lengkap!!!

__ADS_1


“Mas! kok ... kok kamu di sini?” Gea bingung dan mulai gemetar, tidak dapat mencerna apa yang terjadi, kenapa Anto masih berpakaian lengkap di kasur, bukannya tadi dia hendak mandi, bukannya!


Gea lalu berlari ke kamar mandi, pintunya masih terbuka sedikit, dia mendengar suara shower masih menyala ... perlahan Gea membuka pintu kamar mandi agar semakin lebar, dia takut, sangat takut, tapi harus ada yang dia pastikan.


Suara shower itu masih terdengar pintu dia buka lebar, kalau memang lelaki itu bukan Anto, kenapa wajahnya sangat mirip, amat sangat mirip. Gea masuk ke dalam, karena bagian dalam bilik shower itu tidak bisa dilihat dari pintu masuk kamar mandi.


Gea terus masuk ke dalam bilik shower dan begitu sampai pada bagian paling dekat dan bisa melihat apakah Anto di sana dan ....


Anto di sana sedang mandi, Gea pucat pasi, itu Anto, itu wajah Anto, Gea sudah pacaran selama 3 tahun dengan Anto, dia tahu dengan benar Anto seperti apa.


“Ton ... .” Gea memanggil dengan hati-hati.


Anto yang sedang mandi dan menghadapkan wajahnya pada shower yang menempel di bagian atas, lalu melihat ke arah Gea dan bertanya dengan gerakan wajah saja, tanpa suara. Maksudnya, dia bertanya ada apa.


Gea menggeleng saja, dia lalu berlari ke arah luar kamar mandi, ingin melihat apakah lelaki di luar kamar masih ada.


“Kamu siapa!” Gea berteriak pada lelaki yang masih ada di tempat tidurnya, lelaki itu jadi sangat kebingungan.


“Gea apa sih!” Anto bingung dengan perkataan istrinya.


“Kamu siapa!” Gea bertanya dengan berteriak pada lelak itu, sedang lelaki itu berdiri, dia hendak menenangkan Gea, wajah itu benar wajah Anto, tapi Gea tidak percaya lelaki itu adalah Anto.


“Gea kamu kenapa?”Anto berusaha mendekat, Gea mundur dan dia berlari ke kamar mandi lagi, dia hendak meminta tolong suaminya, Anto mengikuti dari belakang, takut kalau istrinya melakukan hal yang tidak-tidak.


Saat Gea sudah masuk dan berlari ke bilik shower, betapa kagetnya Gea, kosong! Sudah tidak ada siapa-siapa di sana, Gea berlari ke sekeliling kamar mandi, mencari Anto suaminya, padahal anto ada di belakangnya dengan pakaian lengkap, mengikutinya dan bingung dengan Gea yang terlihat aneh.


Sementara shower masih terus menyala tanpa ada orang di bilik itu, air jadi terbuang percuma.


Gea lemas, dia terduduk di kamar mandi.


“Gea sayang, kamu kenapa sayang?” Anto berusaha mendekat dan menyentuh istrinya.


“Lepas!” Gea mendorong suaminya.


“Gea ini aku, suamimu!” Anto berteriak, Gea melihat Anto dengan seksama, dia lalu merasa pusing lalu semua terasa gelap.

__ADS_1


__ADS_2