
Hari ini waktunya Ki Kusno kembali ke rumah Mulyana. Katanya dia akan membangunkan Mulyana dengan ritual yang menggunakan mahar.
Semua orang sudah berkumpul. Kecuali Jana dan Alka, mereka berdua harus berada jauh, karena Kusno pasti bisa mendeteksi mereka ketika berada dekat dari rumah Mulyana.
"Ki ini semua yang dibutuhkan untuk melakukan ritual itu," ibunya Aditia berkata.
"Ya, sekarang kau bantu aku membawa Mulyana ke ruang tengah. Kita akan melakukan ritualnya di ruang tengah." Ki Kusno meminta bantuan Dirga untuk membawa Mulyana ke ruang tengah.
Kasur lantai digelar, Mulyana ditidurkan di kasur itu dan ki kusno membungkus Mulyana dengan kain kafan yang telah dihitamkan.
Ki Kusno membakar dupa pada sebuah wadah terbuat dari tanah liat, dupa ini mengeluarkan aroma yang khas.
Ayam berbulu hitam yang telah dipotong pada bagian lehernya saja, masih lengkap dengan bulu hitamnya. Lalu buah-buahan yang hampir menghitam karena hampir busuk, semua sudah di tempatkan dalam wadah dan ditaruh di bagian kaki Mulyana, seperti yang Kusno mau.
"Kalian semua duduk melingkar." Kusno memerintahkan Dirga, istrinya dan ibunya Aditia duduk melingkari Mulyana yang telah dipocongkan dengan kain hitam.
Dirga menuruti semuanya tanpa protes.
Kusno mulai merapal mantra. Ini adalah mantra lepas raga dan ....
Bagunang jangjaharum sabur tabik
harijah nu herang darimsajad
Barus nan ti jar karombe
Hening, Kurno menatap pintu, dia melihat apa yang orang tidak bisa lihat. Tapi mampu merasakan getarannya.
Getaran mistis dan bau amis yang pekat.
Semua itu datang dari sesosok besar yang tingginya melebihi pintu rumah Mulyana, tubuhnya seperti manusia tapi dalam ukuran yang besar, wajahnya sangat menyeramkan, gigi raringnya keluar bengkok ke arah luar, hidungnya bangir dan keningnya menonjol keluar.
Sosok itu telanjang dada, sedang pada bagian perut sampai dengkul dia mengenakan celana dari ijuk berwarna coklat, kakinya tidak memakai alas, tapi di bagian betis dia memakai seperti gelang yang terbuat dari lempengan besi pada betis kiri dan kanan.
Sosok itu masuk dengan suara mistis seperti suara gong yang dipukul bersahutan.
Semura orang yang ada di sana heran, karena Ki Kusno menatap makhluk itu dengan senyum.
"Aku akan lepas raga, sebelum aku bangun, jangan pernah tinggakan tempat ini.
Jagalah supaya dupa tetap menyala, jika da yang habis, ganti dengan yang baru."
Sementara Ki Kusno berbicara, sosok mengerikan yang tinggi besar itu, sibuk makan ayam hitam dan juga buah hampir busuk itu. Tentu bukan makan secara langsung, tapi saripati darinyalah yang diserap.
Setelah mengatakannya Ki Kusno tertunduk, dia seperti tidur dalam keadaan bersila.
"Makanlah sampai kau kenyang dulu." Ki Kusno mengatakannya sambil menyentuh bahu makhluk mengerikan itu. Setiap orang yang melihat makhluk itu pasti akan merasa melihat Buto Ijo. Tapi di sini kami menyebutnya, Grajin Olor.
Jin yang dioiara untuk menjadi pesuruh.
Jin ini bisa berubah menjadi pocong, kuntilanak, genderuwo, bola hitam panas dan banyak lagi, sesuai dengan yang dukun perintahkan.
Jin ini berbadan besar, tapi sekali kau mampu mengendalikannya, dia akan menjadi seperti anjing yang manis, menjilati tuannya setelah diberi makan.
"Grajin Olor, tentu saja, dukun busuk sepertimu memelihara jin bodoh macam itu." Abah Wangsa yang masih terikat ternyata sudah di sana sedari tadi, mereka berada di ruangan itu, tapi dalam dimensi yang berbeda, dimensi ghaib.
"Aku akan menjemput tuanmu, tapi akan aku patahkan kakinya dan juga merusak akalnya, sehingga ketika dia bangun, dia tidak akan bisa bergerak lagi, dia hanya bisa bangun saja, tapi tidak lagi mampu bergerak."
"Apa sebenarnya yang kau inginkan?"
"Aku suka benda pusaka, apalagi keris milik Kharisma Jagat. Benda pusaka milik Kharisma Jagat sangat mematikan bukan? Aku ingin memiliki itu, tentu selain aku juga kesal karena kalian tinggal di wilayah ini tanpa izin dariku."
"Kau bermimpi! Mulyana tidak akan memberikan keris itu padamu!"
;Ya, padaku mungkin tidak, tapi pada ... anaknya?"
Grajin Olor udah selesai makan, Ki Kusno lalu memerintahkan Grajin Olor untuk ikut bersamanya.
Kusno mengeluarkan sebuah bungkusan, ternyata itu adalah kembang Sukapuran, kembang itu meciptakan pintu masuk ke dunia gelap, dimana Mulyana berada.
Pintu itu akan menjadi jalan masuk dan keluar bagi Kusno.
"Kau mau titip salam pada tuanmu sebelum ku buat dia cacat?" Ki Kusno tertawa terbahak-bahak lalu masuk pintu itu.
__ADS_1
Seandainya Abah Wangsa tidak terikat, dia pasti akan menerobos pintu yang ada di hadapannya itu.
Kusno masuk ke dunia gelap itu, dia bersembunyi dari Mulyana dan menyuruh Grajin Olor menjadi Aditia dewasa.
Bagaimana Grajin Olor bisa menjadi Aditia dewasa? Sedang Aditia saja masih bayi.
Mulyana yang telah menciptakan Aditia bayi sebagai kenangan. Aditia remaja dan dewasa sebagai harapan di dunia gelap ini, wajah-wajah yang Mulyana ciptakan itu membuat Grajin Olor mampu mempu menyerupai harapan Aditia dewasa berdasarkan harapan yang Mulyana buat di dunia gelap ini karena terpengaruh kembang Sukapuran.
Itulah alasan dukun ini membuat Mulyana terjebak di dunia gelap ini, agar bisa mengambil rupa harapannya, yaitu wajah Aditia dewasa.
Aditia dewasa di dunia gelap ini yang diciptakan Mulyana tidak benar-benar ada, sehingga perilakunya sesuai yang diperintahkan saja, setiap harinya sama.
Tapi kalau Grajon Olor yang menyerupai Aditia dewasa, bisa melakukan lebih dari itu.
Mulyana terlihat sedang duduk di sofa ruang tamu, dia menatap kosong ke depan.
"Ayah." Aditia dewasa menyapanya.
"Adit." Mulyana tersenyum dan menyentuh wajah Aditia dewasa.
"Ayah, aku tahu bahwa Ayah selama ini bisa melihat 'mereka'."
Mulyana menatap Aditia dengnan bingung.
"Kau bicara apa Nak?"
"Aku juga bisa melihat 'mereka' Yah, aku sekarang tahu kalau Ayah tidak lah sakit, jadi Ayah tidak perlu minum obat lagi."
"Ka-kau , apa yang kau katakan? Ibumu dan kamu selalu bilang kalauu aku sakit kan? Jadi kenapa sekarang kau berubah seperti ini?" Mulyana bingung.
"Mereka mengejarku Yah, mereka menakutkan, aku hanya berlari saat dikejar."
"Mereka siapa Nak?"
"Jin-jin itu Ayah!" Aditia dewasa menutup wajahnya, dia terlihat sangat ketakutan dengan tubuh gemetar.
"Kau benar melihat mereka juga?" Mulyana terlihat sangat kaget tapi ada raut bahagia.
"Jadi aku benar-benar tidak sakit?"
"Tidak Ayah, kau sehat. Tapi bantu aku mengalahkan jin-jin itu Ayah."
"Aku akan melatihmu tenang saja Nak."
"Tidak Ayah, aku butuh senjata, bukan pelatihan. Bagaimana jika aku mati sebelum bisa melawan mereka?"
"Senjata? Apa maksudmu?"
"Kata jin-jin itu, kau punya keris yang sangat tinggi ilmunya, bisakah keris itu melindungku dari jin jahat?"
"Hmm, kau ingin kerisku?"
"Ya, aku ingin kerismu Ayah, aku takut mereka akan membunuhku." Aditia dewasa mencoba membujuk lagi.
"Tapi, kau harus bisa mengendalikkan keris itu Nak, kalau kau memegangnya tanpa bisa mengendalikannya, keris itu yang akan mengendalikanmu. Lagian, kita dilarang membunuh jin sembarangan. Kita hanya disuruh mengantar mereka 'pulang'."
"Ayah apakah kau tega? Kau tidak ingin aku bahagia dan tenang lagi? Aku lelah dikejar setiap saat. Aku mohon, berikan keris itu padaku." Aditia dewasa membujuk dengan sedikit memaksa.
"Tapi DIt ...."
"Baiklah, mungkin setelah aku mati kau baru akan sadar, betapa aku butuh keris itu."
"Tidak Nak! Kau tidak boleh berkata sembarangan tengan kematian. Baiklah ... aku akan memberikannya padamu."
Kusno bersiap di balik pintu, begitu Grajin Olor dalam rupa Aditia dewasa mendapatkan kerisnya, Kusno akan langsung menyerang Mulyana.
Mulyana terlihat mengambil sesuatu dari balik punggungya, Grajin Olor juga sudah menatap dengan tatapan liciknya.
Mulyana lalu mengarahkan tangan kanannya ke depan, tangan yang sedang mengambil keris mini itu dari bagian punggungnya barusan.
"Tapi ... tidak ada!" Mulyana tertawa terbahak-bahak.
"A-apa yang kau lakukan!" Aditia dewasa palsu bertanya, Kusno juga tidak jadi bergerak, karena di tangan Mulyana kosong.
__ADS_1
"Kerisnya hilang Nak." Mulyana meledek.
"Kenapa begitu?" Grajin Olor pants diberikan penghargaan artis dengan kemampuan tinggi dalam berperan, dia masih mempertahankan perannya sebagai Aditia dewasa.
"Karena memang dia tidak mau mungkin diberikan padamu." Mulyana menjawab dengan meledek.
"Ayah, kau ingin aku mati!"
"Ya, matilah, matilah kau!" Mulyana mencekik Grajin Olor dengan tiba-tiba sehingga dia tidak bisa melawan. Lehernya tepat berada di tangan Mulyana.
Aditia dewasa perlahan berunah menjadi monster mengerikan.
Kusno yang melihat itu langsung berlari menghampiri Mulyana yang terlihat kalap ingin membunuh peliharaannya.
Kusno hendak melempar serbuk kembang Sukapuran lagi pada wajah Mulyana agar dia kembali tidak sadar tapi ....
Bukk!!!
Kusno mendapat tendangan tang sangat keras dari arah belakang.
Kusno jatuh tersungkur, Grajin Olor masih dicekik Mulyana.
"Kakek tua sialan!" Kusno melihat ke arah di mana dia merasa seseorang telah menendangnya.
"Abah, Alka, Jana, terima kasih sudah mau masuk ke sini," Mulyana berkata.
Alka dan Jana membantu Mulyana untuk meringkus si peliharaan. Sedang Abah Wangsa menangani dukun yang lepas raga, mereka berdua berkelahi cukup alot.
"Bah, butuh bantuan?" Mulyana tang telah selesai dengan Grajin Olor dibantu dua muridnya menawarkan bantuan.
"Iya Bah, kita bantuin ya?" Alka ikut menawari.
"Jadi ini kualitas Kharisma Jagat? Keroyokan?" Kusnoa yang sebenarnya sudah kelelahan karena berkelahi dengan sengit mencoba menghina Mulyana dan kawanan.
"Keroyokan? Ide bagus tuh." Abah Wangsa tertawa dan meminta Mulyana, Alka dan Jana mengeroyok dukun brengsek ini.
Mereka memukuli jiwa dukun ini bertubi-tubi hingga dia berteriak.
"Ampun! Ampun! Ampuuun!!!"
"Sudah kapok kau!" Mulyana berkata.
"Ampun, aku mohon lepaskan aku."
"Tidak semudah itu, kau harus memberikan kembang Sukapuran padaku. Kau tidak pantas memegangnya." Mulyana mengulurkan tangan untuk mendapatkan kembang pusaka itu.
"Tidak bisa, Sukapuran hanya bisa digunakan oleh orang yang mendapatkan karomahnya."
"Ya tentu saja aku tahu, makanya sini! Biarlah kembang itu layu atau mati sehingga kau tidak bisa mengerjai orang-orang lagi."
"Tapi aku tidak mengerjai orang-orang!!! Aku bahkan menolong mereka dan menyembuhkan mereka." Kusno masih saja mengelak.
"Kau lagi-lagi ingin membodohi kami!" Mulyana naik pitam, "kau memberi mereka penyakit dan pura-pura menyembuhkannya dengan santett try. Kau kirim santet lalu kau sembuhkan, terus seperti itu hingga mereka membayar banyak dan bahkan sampai ada yang jual semua hartanya.
Mereka berpikir kau hebat. Padahal kaulah penipunya. Kau benar-benar manusia paling rendah dari yang terendah.
Kau menggunakan kemampuanmu untuk membuat orang menderita. Semoga Tuhan memberimuazab yang pedih!" Mulayana sangat kesal karena Kusno masih berani berbohong.
"Tidak!" Kusno menolak memberikan kembang itu.
"Baiklah, ikat dia Alka, kau sudaha bawa pesananku bukan?" Mulyana bertanya pada Alka.
"Ya, tali tambang yang terbuat dari rambut jin-jin yang telah Bapak kalahkan. Tali ini sangat kuat. Aku akan mengikat Kusno dengan sangat kencang hingga dia tidak bisa keluar dari dunia gelap ini." Alka mengeluarkan tali tambang itu.
"Kusno, kita lihat, berapa lama kau akan bertahan di sini? Mungkin dua hari kau masih kuat, bagaimana jika lebih dari itu, apakah tubuhmu yang kau tinggalkan tanpa makanan itu akan selamat?" Abah Wangsa mengembalikan kata-kata Kusno yang kemarin dia katakan saat sedang mengancam Abah Wangsa.
"Aku mohon jangan! Jangan!"
Terlambat Alka mengikatnya sangat kencang, mulai dari kaki hingga tubuhnya. Ki Kusno terlihat tidak mampu bergerak dan ditinggalkan dalam keadaan tertidur miring ke kiri. Tubuhnya terikat dengan tali tambang yang dibawa Alka.
"Kau mau titip salam pada tubuhmu, Kusno?"
Abah Wangsa meledeknya lalu mereka semua keluar dari pintu yang Kusno sudah buka tadi. Tentu dia tidak bisa keluar karena dia sendirian di dunia gelap itu dengan keadaan terikat.
__ADS_1