
Dinda sedih karena dia kehilangan sahabat dan harus terpaksa menjadi saksi, menjadi saksi sangat berat baginya karena dia harus datang dan memberikan kesaksian. Terkadang Polisi juga menekannya, seperti saat ini, ini adalah hari kedua, padahal kemarin dia sudah mengutarakan semuanya.
“CCTV tidak benar-benar bisa merefleksikan apa yang terjadi, karena bisa jadi, itu semua dibuat sedemikian rupa, seolah memang kau melihat sesuatu atau berpura-pura bergandengan.”
Namanya Ardi, dia salah satu pemimpin anggota Badan Reserse Kriminal di kepolisian. Masih muda, tampan dan sangat berdedikasi, dia tidak pernah melewatkan satupun bukti, orang-orang menyebutnya sebagai Srigala Pengendus, karena kemampuannya mengorek informasi serta mencium bau kebohongan. Semua pemikirannya jauh dari hal-hal ghaib. Dia paling tidak percaya hal itu, walau banyak uni satuan Polisi menggunakan jasa Cenayang, tapi dia tetap memilih tidak percaya pada hal ghaib, baginya, semua bisa dijelaskan dengan logika dan ilmiah.
“Pak! Bapak menuduh saya? Untuk apa saya berpura-pura? Bahkan saya tidak tahu kalau Erin tidak kembali ke meja saya, saya benar-benar melihat semua yang seperti saya ceritakan pada, Bapak kemarin.” Dinda berusaha meyakinkan.
“Satu minggu sebelumnya, kau baru saja baikan dengan Erin bukan? kalian bertengkar karena pola yang Erin berikan tidak sesuai dengan surat perintah kerja. Makanya kau dan Erin sempat bersitegang cukup lama kan? Berapa lama? Sebulan? Dan baru seminggu ini kalian baikan, betul begitu bukan?” Ardi bertanya dengan menyudutkan.
“I-iya, tapi, tapi, tidak mungkin saya membunuhnya hanya karena hal itu.” Dinda berteriak.
“Tidak ada yang mengatakan kau membunuhnya, kenapa kau berasumsi seperti itu?” Ardi merasa tikus telah masuk perangkap.
“Pak, kalau memang saya membunuhnya, bagaimana caranya? saat Erin ke dapur dan akhirnya pingsan, saya masih di meja saya, masih menjahit, jadi bagaimana saya membunuhnya?”
“Kau yang beritahu aku cara kau membunuhnya? Apa yang Erin konsumsi sebelumnya bersamamu saat makan istirahat, bukankah kalian berdua sering berbagi makanan? Banyak racun yang bisa memicu seseorang berhalusinasi.”
“Bukankah kalian bisa memeriksanya? Kalau memang benar saya telah meracuninya!” Dinda mulai menangis dengan histeris.
“Kau tahu dengan jelas soal ini, kalau keluarganya menolak otopsi, kami tidak dapat memaksa karena kematian Erin tidak dinyatakan sebagai kasus pembunuhan, tapi kasus mati mendadak, sehingga otopsi menjadi wewenang keluarga.”
“Aku tahu kalau keluarganya menolak otopsi, tapi percayalah Pak, aku mau saja membujuk keluarganya jika memang itu diperlukan, aku tidak takut kalau kalian akan mengotopsinya, karena aku dan Erin saat itu hanya makan nasi dan lauk seperti biasa.” Pabrik memang tidak menanggung biaya makan karyawan, mereka bawa bekal biasanya, tapi pabrik memberikan uang makan yang diberikan setiap bulannya. Itu semua untuk membuat ongkos produksi semakin efektif, karena uang makan bisa dibayar berdasarkan kehadiran. Kalau pabrik menyediakan makan, maka bisa jadi biaya tidak efisien karena jumlah karyawan yang datang bisa saja tidak sesuai karena ada yang tidak masuk.
“Dinda, pada saat ini, kalian berbicara tentang apa?” Ardi bertanya dan menunjuk CCTV saat Erin baru saja duduk di samping Dinda dan memohon untuk pulang.
“Erin saat itu langsung meminta pulang, tapi saya menolak dan meminta dia pulang duluan saja jika keberatan menunggu saya.”
“Kenapa kau menolaknya, bukankah kalian dua perempuan yang penakut, terlihat dari caramu berlari saat akan keluar pabrik. Kenapa kau bersikeras memaksa Erin untuk tetap menemanimu, karena kau minta dia pulang duluan pun, dia takkan berani.”
“Pak! Saya ini bukan orang kaya, saya kuliah sembari kerja, Pak, saya butuh uang untuk bayar kuliah dan kebutuhan sehari-hari, makanya saya perlu kerja keras, rasa takut saya akan setan, dikalahkan oleh rasa takut tidak bisa bayar kuliah dan kelaparan! Apakah di sini cukup jelas! Saya bukan memaksa Erin untuk menunggu atau pulang sendiri, saya benar-benar tidak tahu kalau itu pertemuan terakhir kami.
Kalau tahu, saya akan langsung pulang begitu Erin meminta Pak atau saya takkan membiarkannya ke dapur sendirian mengambil air minum. Pak, saya benar-benar menganggap Erin sahabat, saya tidak akan mencelakainya.”
“Kalau kau sahabatnya, kau mungkin tidak akan egois, setelah dai menunggumu dan kau tinggalkan dia begitu saja.” Ardi tetap menyudutkan.
__ADS_1
“Pak, saya tidak meningalkannya, saya tetap memegang tangannya, walau saya tidak tahu itu bukan Erin, kalian tidak lihat, tapi saya lihat! Saya akhirnya memutuskan keluar sendirian pun, saya minta tolong security, tapi security itu bilang Erin sudah pulang, saya bingung dan kalut malam itu, makanya saya pulang saja, saya tidak bermaksud meninggalkannya Pak. Seharusnya yang bapak cari adalah Security itu, bukan malah menyudutkan saya!” Dinda bersikeras kalau dia tidak berniat mencelakakan Erin.
“Tidak usah mengatur kerja Polisi, kami sudah mencarinya tanpa kau tanyakan. Baiklah, saat ini kami sedang meneliti kotak bekal makan Erin dan juga sendok yang dia pakai makan hari itu, semoga saja hasilnya keluar sesuai yang kau katakan, tidak ada racun di dalamnya.”
“Saya yakin Pak, tidak aka nada racun di sana, karena saya tidak melakukan apapun pada makanannya.”
Dinda lalu pulang setelah selesai memberikan kesaksian.
…
“Dit, di sini aja nggak apa-apa?” Alka bertanya, mereka ternyata menginap di vila yang cukup jauh dari jalanan. Vila ini berjejer dengan vila lain, lokasinya sangat asri dan tenang.
“Iya di sini aja.”
“Rame Dit.” Alka mengingatkan, karena sekeliling mereka kebun teh dan juga ini vila paling ujung, jarang ada yang mau menginap di sini karena rumor angkernya.
“Kamu takut?” Aditia tertawa.
“Mereka kan bangsaku, aku hanya takut ….”
“Takut berkelahi setiap malam dan akhirnya kita tidak bisa tenang?” Aditia menebak.
“Ya betul, aku ingin berkelahi fisik hingga kelelahan dan lupa, aku lelah berpikir terus, Ka.” Aditia akhirnya jujur, dia sangat merasa marah pada keputusan Pak Dirga, tapi tidak bisa apa-apa karena itu adalah keputusan orang dewasa, makanya dia butuh untuk menyalurkan rasa marahnya. Salah satunya dengan berkelahi misalnya.
“Dit, kau hanya ingin pelatihan lagi? Seharusnya kau bilang, di sini mah ramai doang, tapi nggak seimbang, kau hanya akan menyiksa mereka.”
“Ka, aku memang cari lawan yang mudah, karena hanya ingin menang saja.”
“Ya, aku tahu, kau lelah karena akhirnya apa yang kau perjuangkan malah membuat Pak Dirga turut menjadi korban.
Dit, ini mungkin bukan perkataan yang membuatmu tenang, tapi aku ingin kau juga ingat, bahwa setiap orang menanggung salahnya masing-masing.
Walau tujuan Pak Dirga dan niatnya baik, tapi itu tetap kesalahan, dia salah tangkap dan itu nasib yang dia pilih sendiri. Makanya ketika dia akhirnya memilih bertanggung jawab dengan benar, itu adalah keputusan orang bijak, dia terlalu baik untuk tetap bertahan dia tempat yang begitu rumit dan sulit bagi orang yang jujur dan berjuan sepenuh hati seperti Pak Dirga.
“Ka, aku tahu, tapi tetap saja, aku yang membuatnya harus bertanggung jawab. Orang yang dia anggap anak. Dia sangat percaya padaku, dia pasti sangat malu hingga harus menanggung beban itu sendirian, seharusnya bukan aku yang mengungkap kesalahan itu, kalau orang lain, mungkin Pak Dirga akan tutup mata, tapi karena aku, anak angkatnya, dia ingin memelihat jiwa jujurku, dengan bersikap seperti itu, menunjukan bagaimana tanggung jawab itu harus dilaksanakan, itu membuatku frustasi Ka.”
__ADS_1
“Itu asumsi Dit, jangan memelihat asumsi yang menyaktikan.” Alka mengelus pundak Aditia.
“Berhenti disitu Ka.” Aditia menepis tangan Alka.
“Kenapa?”
“Kita hanya berdua di sini, sentuhanmu pada tubuhku, itu sangat berbahaya.”
“Dit, kau mau kuhajar!” Alka kesal, karena bisa-bisanya lelaki ini gombal di saat seserius ini.
Aditia tertawa, mereka lalu membereskan kamar masing-masing, divila ini ada tiga kamar, tapi mereka hanya menggunakan dua kamar saja.
Tengah malam Aditia dan Alka ke belakang vila, di sana memang ada perkuburan warga, Aditia mengundang semua makhluk untuk datang, tapi tak ada yang berani mendekat, karena melihat energi dua pendatang yang kuat ini. Kalau kau bisa melihat alam ghaib, kau akan melihat suasana perkuburan ini seperti arena bertarung jalanan, dimana makhluk-makhluk itu mengelilingi dari jauh dua orang yang hebat itu, berteriak pada siapa saja yang berani melawan dua orang itu dan saling berdebat siapa yang akan melawan mereka.
“Ayo turun! Sini, jangan berisik doang. Kalian yang turun, atau aku yang tarik kalian secara acak?” Aditia mengancam.
“Dit, mana ada yang mau turun, ayo tarik satu-satu biar pada turun.” Alka lalu bersiap untuk melayang, sedang Aditai melompat, mereka menarik acar siapa saja yang bisa digapai, lalu makhluk itu saling melawan dan berteriak karena takut, tapi Aditia dan Alka tetap saja menhajar mereka.
Makhluk itu menangis karena ternyata Aditia dan Alka menghajar mereka tanpa ampun.
Tiba-tiba tempat itu sepi, tidak ada lagi suara sorak sorai, beberapa makhluk bahkan sudah tak berdaya lagi dan hanya bisa melayang lemah.
“Inget ya, jangan usil lagi di vila ini, kalau mau tinggal silahkan, tapi jangan ganggu!” Aditai mengingatkan. Karena rumor tentang vila horor takkan datang tanpa sebuah kejadian.
“Yuk.” Alka meminta Aditia untuk kembali ke vila sementara belakang vila sudah benar-benar sepi.
Aditia dan Alka kembali ke vila tapi tidak tidur, mereka memilih duduk di depan vila, menikmati kopi hitam dan jagung bakar tentunya.
Mereka berbincang dengan santai dan tertawa bersama, persis seperti yang Aditia inginkan, bersama orang yang dia sangat cintai, terlepas karena Lanjo atau bukan.
Tapi saat mereka sedang berbincang, dari jauh Aditia melihat seseorang berlari, dia berpakaian hitam-hitam, karena dari jauh hanya terlihat orang yang berlari karena gelap.
“Siapa tuh malem-malem lari, orang sih.” Alka berkata sembari menunjuk.
“Iya, aku juga lihat, kenapa dia? Mau ditolongin?” Aditia bertanya.
__ADS_1
“Jauh Dit, males ah ngejarnya, biarkan saja, paling dia mau pergi kerja atau apa, mungkin security karena orang kerja semalam ini sih Cuma security.” Alka menjawab.
“Oh, yaudah kalau gitu, yuk istirahat, sudah larut.” Aditia dan Alka tidak terlalu penasaran, jadinya mereka memutuskan untuk istirahat saja.