Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 458 : Kamboja 20


__ADS_3

“Hati-hati kau kalau bicara, dia bukan jin jahat, dia yang akan membuatku kembali.”


“Kau takkan kembali, kau sudah meninggal! Tubuhmu sudah dikubur!”


“Tetap saja, aku akan kembali, tubuh yang dikubur itu akan bangkit.”


“Kau gila!” Ganding kesal mendengarnya.


“Tidak, aku tidak gila, aku percaya Gandarwi.”


“Kau harusnya percaya Tuhan! Bukan Gandarwi.”


“Tuhan? Doaku sudah terlalu lama diabaikan, makanya aku sekarang percaya Ratu Jin itu, dibanding Tuhan.” Supir taksi itu lalu pergi meninggalkan Ganding.


Sungguh benar bahwa, jin itu adalah makhluk penuh tipu daya.


...


“Jat, bagaimana penerbangan?”  Hartino bertanya, Jajat sudah sampai di tempat mereka sore ini, sedang yang lain masih saja sibuk dengan rencana malam ini, Dokter Adi juga sudah di markas ghaib sejak siang, sedang Behra masih dalam perjalanan.


“Penerbanganku lancar, tadi juga dijemput supir kalian tidak ada kendala, aku juga sudah makan di jalan karena lapar, sekarang aku sudah siap bantu.” Jajat yang punya perasaan lain terhadap Jarni sangat ingin menolong wanita itu, meski dia tak mungkin bisa memiliki. Tapi, melihatnya sehat dan bahagia, tentu saja itu jauh lebih penting.


“Jat, sini bergabung, ini Ami, tentu kau kenal bukan?”


“Iya kenal Dit, dua tahun lalu kami bertemu karena suatu kasus,” Jajat menjawab.


“Oh ok bagus, kalau Dokter Adi?”


“Aku kenal dia, tapi kalau dia kayaknya nggak kenal aku, mana mungkin ada Kharisma Jagat yang tidak kenal Dokter Adi, mereka itu dibilangnya dulu, lima serangkai.”


“Hah?” Aditia heran.


“Iya, lima serangkai, Ayi mahogra,  Kak Malik, Kak Pram, Pak Hanif dan Dokter Adi. Kau tidak tahu itu?” Ada nada mengejek di sana.


“Tidak dengan sebutan itu.”


“Lalu sekarang kalian yang meneruskan, tapi jadi lima serangkai plus-plus ya, karena ada Kak Alisha, istriny Hartino.”


“Kami kawanan.” Aditia mengingatkan, bukan tidak ingin disamai, tapi malah justru merasa belum ada apa-apanya.


“Bisa mulai nggak?” Dokter Adi bertanya.

__ADS_1


“Baik Dok.” Aditia akhirnya melanjutkan lagi rencana mereka untuk bisa masuk dulu ke terowongan itu, karena kalau Aditia lemas, berarti kemungkinan 4 Kharisma Jagat yang akan masuk pun akan lemas, lalu bagaimana caranya agar bisa masuk terowongan, atau ... malah membuatnya ke luar dari sana.


“Kita akan mengawasi, tapi dari jauh.” Hartino membuka obrolan tentang rencana.


“Maksudnya dari jauh? Bukankah berapa radius pun, Ratu jin itu akan tetap saja merasakan energi kita.” Dokter Adi bertanya pada Hartino.


“Maka saatnya menggunakan tekhnologi, dia boleh hidup lama, tapi kita anak muda, yang bisa merajai dengan tekhnologi.”


“Kau sedang membuat puisi atau sejenisnya?” Ami kesal karena Hartino tidak pada inti, Ami dan Alisha memiliki sifat yang mirip, tidak suka bertele-tele dan nekat.


“Sorry, jadi maksudku, kita kan menggunakan kamera tersembunyi, kita akan memasangnya, tapi orang biasa, bukan khodam, kita mungkin bisa minta bantuan Polisi rekannya Pak Dirga, dia bisa bantu pasang, agar ratu itu tidak tahu tentang rencana kita.”


“Lalu?”


“Ratu itu tidak bisa terdeteksi oleh kita, tapi ... orang yang akan menjadi korban bisa. Makanya kita perhatikan dari jauh, cukup jauh dan melihat dari layar laptopku saja, jika akhirnya ada korban, kita bisa langsung menangakapnya dan memusnahkan ilmunya dengan Kharisma Jagat dari empat penjuru.” Kali ini Aditia yang menjelaskan, walau biasanya Gandinglah yang selalu membuat rencana, kali ini mereka harus mandiri tanpa si jenius itu.


“Kalau nggak sampe gimana?” Ami bertanya, karena kemungkinan itu pasti ada.


“Kalau kita jalan atau dengan kendaraan kemungkinan itu ada, tapi kalau kak Alka membawa kita semua dengan wujud jinnya, kita bisa sampai tepat waktu.” Hartino yang menjawab.


“Kalau dia bisa bawa kita semua, empat orang Kharisma Jagat saja pasti berat.”Ami meremehkan.


“Kami biasa dibawa kakak, kami total berenam loh.” Hartino tidak terima, wanita ini selalu mengejek saja dari tadi.


Brak ... aaaa ... aaaa!!!


Alka secara tidak sabar menarik tangan Ami, tangan Tio penjaga Ami, Dokter Adi dan juga Aditia. Dia membawa mereka ke luar markas ghaib lalu kembali lagi ke dalam markas ghaib dengan hitungan detik, hanya satu kedipan mata mereka berpindah tempat. Ami bahkan belum menyelesaikan perkatannya dan harus berteriak karena jet lag, tubuhnya dipindahkan dalam hitungan sangat cepat.


“Apa yang kau lakukan!” Ami kesal dan menghardik Alka.


“Aku tidak suka banyak bicara, maka yang tadi itu untuk menjawab pertanyaanmu, gadis kecil.” Alka memang jauh lebih tua dari mereka semua, kecuali Dokter Adi, tentu saja. Alka juga sedang pamer kekuatannya, Ami memang ingin menjatuhkan Alka di depan Aditia, tapi takkan mempan, Aditia bahkan menahan diri untuk tidak memarahi gadis itu ketika tadi berteriak kepada Alka di hadapannya.


“Lihatkan? Kakakku memang mampu, makanya jangan sering pesimis, kau ini anak muda tapi pemikirannya sungguh primitif.” Hartino kesal, Alisha menepuk bahu Hartino, agar tidak ikut campur dalam arena pertarungan antara dua wanita yang mencintai 1 pria itu.


“Boleh lanjut lagi?” Dokter Adi kembali meminta semua orang untuk fokus pada apa yang sedang mereka usahakan.


“Lalu kalau memang kita tepat waktu, maka 4 Kharisma Jagat yang akan membacakan mantra untuk menghapus kekuatan Ratu jin itu, setelah kekuatannya hilang, maka terowongan itu pasti akan bisa dimasuki dan kita bisa membawa pulang banyak jiwa yang terperangkap di sana, termasuk jiwa Jarni dan Ganding.”


“Baiklah, kelihatannya akan berhasil, kalau begitu, mari kita lakukan.” Dokter Adi setuju, lalu Behra datang.


“Behra, kau sedang hamil?” Dokter Adi langsung memberondong.”

__ADS_1


“Diam kau! pamali tahu kasih tahu orang aku hamil sedang kandunganku belum genap empat bulan!” Behra kesal karena Dokter Adi cepu, dia memang bisa merasakan kehamilan seorang wanita tanpa perlu memeriksanya, karena karuhunnya bisa merasakan ruh yang ada di setiap perut wanita.


“Sudah empat bulan, buktinya aku bisa merasakan ruhnya.” Dokter Adi membela diri.


“Di! Kau bisa diam tidak sih?” Bohra suaminya berkata, dia kesal juga karena selama ini mereka menutupi kehamilannya agar jadi kejutan, walau Ayi sudah menebak bahkan saat anak itu masih 1 bulan di dalam kandungan, tapi Ayi saja diam, Dokter Adi yang jarang sekali bertemu Behra karena jadwal praktek dan juga jadwal mengajar Behra yang padat, membuat mereka jarang bertemu di AKJ.


“Kak Behra, apakah tidak bahaya jika kau ikut kasus ini?” Alka khawatir.


“Memang bukan aku, Bohra suamiku yang akan melakukannya, aku ke sini hanya menghormati permintaan tolong kalian.”


Walau Bohra sama-sama Kharisma Jagat dan mereka menikah dengan alasan jodoh adat yang kebetulan saja, karena pernikahan mereka murni disebabkan cinta, tapi Bohra memiliki kekuatan di bawah istrinya.


“Baiklah, tapi kakak tidak ikut ke terowongan itu ya.” Aditia meminta Behra di markas ghaib saja, dia takut Behra celaka, ini anak pertama mereka, kalau sampai Aditia tidak bisa menjaganya, bisa jadi Ayi akan sangat marah. Behra juga pasti punya kondisi di mana dia tak bisa menolak karena hamil, kehamilannya masih mereka rahasiakan, pasti karena untuk menjaga keamanan bayi itu, para Kharisma Jagat memang harus berhati-hati menjaga keturunan mereka yang diincar oleh banyak pihak, sedihnya. Aditia jadi takut, takut kalau kelak dia menikah dengan Alka dan anak mereka akan celaka.


“Kau kenapa?” Alka bertanya pada Aditia, mereka berdua sedang menyiapkan makanan ringan di belakang, Alisha sedang memasak, dia memang paling bisa diandalkan, Alka tidak bisa masak, makanya dia akhirnya memilih untuk menyiapkan makanan saja, dibantu Aditia.


“Aku kenapa?” Aditia malah balik bertanya.


“Kamu diam saja sejak kedatangan Kak Behra, apakah kau kecewa karena dia hamil dan takut rencana kita gagal?” Alka bertanya.


“Tidak, kenapa aku harus kecewa atas kedatangan mereka? aku hanya ... iri.”


“Iri? Untuk?”


“Anak itu, beruntung sekali memiliki ayah ibu yang menjaga mereka dengan sangat hati-hati, bahkan mereka menyembunyikannya agar aman, kalau nanti kelak aku punya anak, apakah kita akan bisa menjaganya? Apakah akan sulit bagi anak itu untuk bisa menatap dunia? Apakah kita juga bisa berhati-hati mendidiknya, apakah kita ....”


“Kita? yakin sekali kau!” Alka menatapnya dengan tajam lalu memakan kue basah dengan gigitan tajam seperti hendak menunjukkan kalau giginya tajam, hanya agar Aditia merasa diintimidasi, sikap percaya dirinya sungguh patut diacungi jempol.


Alka lalu membawa piring makanan ringan ke depan, tapi saat keluar ari dapur, dia melihat Ami sedang berdiri di pintu dapur, dia terdiam dan menatap Alka dengan pandangan sedih.


“Kau mau kue?” Alka bertanya.


“Beberapa kali aku bertemu dengannya, dia sangat dingin, baru aku melihatnya begitu hangat pada seorang wanita seperti itu. Apa rasanya dicintai oleh orang yang begitu hebat sepertinya?” Ami dengan mata memelas bertanya pada Alka. Alka diam, tidak tahu harus bersikap seperti apa.


“Aku pun tak paham kenapa dia bisa begitu, tapi yang pasti itu satu hal, Tuhanlah pemilik hati, jadi kepada siapa hati kita jatuh, itu sulit untuk direncanakan, apalagi dipaksakan. Mungkin ini terdengar jahat di telingamu, tapi ... aku dan dia, saling mencintai. Kami tidak bisa mencintai yang lain, setidaknya itu yang aku tahu.” Alka dengan langkah yakin berjalan keluar dapur, meninggalkan Ami yang menahan air mata, pedih pasti baginya, tidak bisa mendapatkan cinta, padahal dia mungkin saja berhak karean jodoh adat itu, walau jodoh adat tidak pernah diakui lagi.


Aditia keluar dari dapur, Ami masih berdiri di luar daput, dia tidak ingin Aditia melihat air matanya.


“Kau kenapa?” Aditia bertanya.


“Aku tidak apa-apa, hanya ingin ambil minum.”

__ADS_1


“Ok.” Aditia meninggalkannya dan ke ruang tamu menyusul kekasihnya.


“Dia memang tidak sopan, tak menawarkan untuk mengambilkan minum, padahal tuan rumah.” Ami bergumam dalam hati.


__ADS_2