Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 97 : Dia Lagi 7


__ADS_3

“Kenapa kalian melihatku begitu?”


“Kau ingat apa yang aku lakukan untuk menyembuhkanmu dari buta melihat ‘mereka’ dulu?” Alka bertanya.


“Ya tentu saja, rasa sakit itu benar-benar masih terasa, mataku ditetesi darah panasmu! Tapi apa hubungannya dengan kasus kita kali ini?” Aditia jika teringat hal itu rasanya ingin marah, karena sakit sekali.


“Maka kita akan melakukan metode terbalik.” Alka menjawab.


“Hah?”


“ Dit ah!” Ganding kesal, karena Aditia hebat tapi malas berfikir, “darah Alka itu panas, karena Kakak setengah jin dan setengah manusia, kita juga tahu bahwa jin itu terbuat dari api, makanya keseluruhan tubuh mereka panas, terbukti dengan panasnya darah Alka. Jika Hendar melakukan pelet dengan memerintah jin, maka Ratih dalam kendali Hendar yang dikuasai jin, jin itu panas, dia masuk ke tubuh Ratih, udah paham belum sampai sini?”


Aditia menggeleng.


“Hmm, besok-besok banyak baca buku literasi perghaiban ya, aku sama kak Alka berkala update kok, di kitab Panja Tusi, cara-cara menyembuhkan orang yang terkena sihir, kayak buku harian Bapak, tapi lebih detail dan update perjalanan kita.”


“Bisa ke intinya aja nggak Nding?” Aditia kesal diledek.


“Ok, jadi otomatis seluruh tubuh Ratih panas, karena sudah masuk jin dalam tubuhnya melalui mantra pelet dan medianya, si kulit, air seni dan rambut Hendar itu. Kita butuh penetral, sama kayak waktu matamu dulu tertutup karena hukuman, disembuhkan oleh darah Kak Alka yang panas, darah panas Kak Alka mengaktifkan ketidakmampuanmu melihat menjadi mampu melihat lagi, maka seharusnya untuk kasus Ratih, kita menggunakan metode terbalik.”


“Hmm, sekarang aku paham, dulu aku yang disembuhin, sekarang, aku yang nyembuhin, darahku dingin, maka bisa menjadi penetral pelet itu di tubuh Ratih yang panas, hah! Jadi maksudnya kalian mau kasih Ratih minum darahku?!” Aditia terkejut.


“Nggak! kau fikir dia drakula! Kalau Ratih minum darahmu, hanya akan berakhir di saluran pembuangan tubuhnya, tapi kita perlu yang lebih cepat, sudah dua tahun Hendar memelet Ratih, semua makanan yang dimantrai pelet itu sudah menyebar ke seluruh tubuh Ratih, maka yang paling cepat adalah dengan memanfaatkan aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuh itu.” Alka menjawab.


“Transfusi maksudmu?”


“Ya, kita harus menstransfusikan darahmu ke tubuh Ratih, sama seperti dulu Kak Alka ….”


“Nding!” Alka memotong perkataan Ganding yang hampir keceplosan.


“Maksudku kita harus segera mengambil darahmu dan mentransfusikan darah dingin itu ke tubuh Ratih.” Aditia yang sedang fokus tidak sadar Ganding membelokkan kalimatnya, dia hampir saja memberi tahu Aditia tentang Lanjo.


“Hmm, baiklah, aku tidak bisa membayangkan kalau Ratih meminum darahku, itu pasti menjijikan sekali. Transfusi terdengar lebih baik.”


“Kita harus menemui Dokter Adi, Dokter milik Ayi dan Malik.”


Alka meminta Aditia menghubungi Dokter itu, karena hanya dia yang mengerti masalah ini, dia dan Karuhunnya adalah seorang Dokter yang mengerti dunia yang dihadapi oleh Adita dan kawan-kawan.


Tidak lama mereka sudah di rumah sakit Dokter Adi bekerja, hanya Alka dan Aditia yang ke ruang kerjanya Dokter Adi, mereka sudah menceritakan seluruh kejadian Ratih dengan seksama, Dokter Adi dan Karuhunnya mendengar dengan baik.


“Baiklah, kita akan mengambil darah Aditia dan mentransfusikan darah itu ke tubuh Ratih, tapi bagaimana kalian melakukanya? Maksudku, apakah Ratih mau ke sini? Apakah Hendar akan mengizinkannya?” Tanya Dokter Adi.


“Kami tidak akan meminta Dok, kami akan memerintah Hendar melakukan itu.” Aditia begitu percaya diri mengatakannya.


“Kalian sudah fikir konsekuensinya?” tanya Dokter Adi lagi.


“Dia yang akan memilih melewati konsekuensi itu, lagipula, siapa yang mau hidup hanya menjadi boneka saja?” Aditia bertanya.


“Anaknya bagaimana?”


“Dia bahkan tidak menyadari anak itu ada.”


“Kalau dia lupa pada anak itu? saat dia sembuh dan tidak mau menerimanya?”


“Akan sama saja bukan? dia sembuh atau gila, anaknya tetap tidak akan mendapatkan kasih sayang, tapi aku percaya, naluri seorang ibu tidak akan pernah hilang, dia sudah melahirkannya, dia pasti akan tetap mengingat anaknya.”


“Kemungkinan dia lupa itu ada, seperti dia akan lupa pada perasaanya terhadap Hendar.”


“Kemungkinan dia tidak akan lupa pada anaknya juga akan ada, sama seperti dia mungkin tidak ingat, jika kita berhasil lalu dia ingat, anak itu akan mendapatkan sosok ibu seutuhnya, tidak seperti saat ini.” Aditia terus berargumen, Alka cukup kagum dengan pemikiran Aditia yang hebat, hubungan keluarga memang Aditia jagonya, dia datang dari keluarga yang hangat, Pak Mulyana berhasil membuat Aditia menjadi lelaki Pelindung keluarga yang hebat.


“Baiklah karena kau sepertinya sudah paham resikonya, mari kita lakukan.” Dokter Adi lalu menyiapkan semua peralatan untuk mengambil darah Aditia.


Setelah selesai Aditia cukup lemas, dia tidak menyetir, Ganding yang menyetir di depan bersama Jarni dengan angkot, Alka dan Aditia di belakang, Aditia makan lalu tidur.


Mereka akan kembali ke rumah Hendar dan setelah dia pulang kantor, rencana itu harus dijalankan.


Sebenarnya mereka sangat membutuhkan Hartino, tapi Alka memutuskan untuk tidak melibatkan Hartino dalam masalah ini, makanya mereka tetap jalan dengan Jarni dan Ganding yang memiliki ilmu, Aditia habis mengeluarkan darahnya, dia belum cukup kuat bertarung, tapi ini tidak bisa ditunda lagi, semakin lama mereka menunda, semakin banyak makanan jin yang dimakan Ratih.


“Ada apa ya?” Hendar menyambut Alka, Jarni dan Ganding dengan ramah, tentu dia belum tahu tujuannya.


“Pak Hendar kenal Alya” Tanya Alka.


Hendar terkejut, terlihat dari raut wajahnya., dia berusaha menguasai tubuhnya lagi agar terlihat santai.


“Alya yang mana ya?” Hendar bertanya.


“Alya yang membantumu memelet Ratih.” Ganding to the point.


“Bicara apa kau anak muda!” Hendar berdiri karena marah.


“Kami akan membawa Ratih untuk disembuhkan.”


“Kurang ajar sekali kalian! Kalian fikir kalian siapa?! Beraninya membawa istriku!”


“Kau yang harusnya fikir siapa dirimu, berani menjauhkan seorang perempuan dari Pemiliknya, Menjauhkan Ratih dari Tuhannya!” Ganding makin kesal.


“Diam kau brengsek!” Hendar masuk ke dalam, dia lalu keluar membawa pedang yang sering digunakan oleh para samurai, dia bermaksud menakuti Alka dan kawan-kawannya.

__ADS_1


Ganding berdiri dan mencoba melindungi Jarni dan Alka.


“Pergi kalian atau akan aku habisi kalian!” Dia mengacungkan pedangnya, kedua orang tua Hendar yang melihat itu berteriak, takut anaknya melukai orang atau dirinya sendiri.


Anding bersama Alka dan Jarni akhirnya berjalan, mereka akan keluar, tapi sebelum sampai pintu dan Ganding melewati Hendar, dia memegang tangan Hendar yang memegang pedang, lalu dia berkata sesuatu.


“Kau akan menuruti semua perintahku, kau akan mengikuti apapun yang aku suruh.” Saat Ganding mengatakan itu, khodamnya membisikkan mantra di telinga Hendar, Hendar yang tadinya emosi, menjadi diam, matanya kosong, dia kehilangan dirinya sepenuhnya.


“Berikan pedang itu padaku.” Ganding meminta pedang itu, lalu Hendar memberikannya, orang tua Hendar yang tadinya cukup histeris menjadi diam.


Hendar memberikan pedang itu.


“Duduk yang tenang di sofa itu sampai aku membangunkanmu, selama aku belum membangunkanmu, tidurlah yang nyenyak, mimpilah hal paling kau takuti dan bangunlah dalam keadaan menyesal.” Ibunya Hendar hendak berlari ke arah anaknya, tapi di tarik oleh ayahnya Hendar, dia lalu membawa ibu itu ke kamar mereka dan menguncinya dari luar.


“Dimana Ratih Pak?” Ganding bertanya pada ayah mertua Ratih.


“Aku akan membawa dia ke sini, aku akan membantu kalian, tolong sembuhkan Ratih, sudah cukup dia menyiksanya, sudah cukup dia menyiksa keluarga ini, walau kami bergelimang harta, tapi aku tidak melihat kebahagiaan di sini, kasihan anaknya Ratih.” Setelah mengatakan itu, ayahnya Ratih lalu pergi ke kemar Ratih, membawanya keluar dan memberikannya pada Ganding.


“Hendar katakan pada Ratih, bahwa kau akan ingin dia menuruti apapun yang aku katakan.” Ganding memerintah Hendar.


“Turuti apapun yang orang ini katakan.” Hendar berkata pada Ratih mengangguk bahagia dengan senyum polos, seperti anak umur lima tahun.


Dokter Adi tiba, dia sudah membawa semua alat yang dibutuhkan untuk transfuse darah Aditia ke Ratih.


“Ratih sekarang duduk di sini ya, Ratih akan disembuhkan oleh Dokter.” Ganding memerintah, Ratih patuh sesuai perkataan Hendar yang telah digendam oleh Ganding.


Dokter Adi mulai mengalirkan darah Aditia ke tubuh Ratih, setelahnya Ratih terlihat mengantuk, tidak lama kemudian seluruh darah Aditia sudah masuk ke tubuh Ratih secara sempurna.


Dokter Adi lalu membereskan semua peralatan dan pamit pulang, pekerjanaannya sudah selesai.


“Ratih!” Papinya Ratih datang bersama ibunya, Ganding kaget kenapa mereka ada di sini.


“Aku yang memanggil orang tuanya, aku menjelaskan duduk perkaranya, mereka datang ke sini untuk menjemput anaknya.” Hartino datang tiba-tiba, Ganding dan Alka tersenyum, Hartino ternyata datang dan membantu, sesuatu yang terlupakan oleh mereka, menghubungi wali Ratih yang sesungguhnya.


“Silahkan bawa Ratih pulang, akan banyak kemungkinan terjadi jika dia bangun, maka Bapak harus menghubungi kami, kami akan menjelaskan semuanya pada Ratih dengan lebih baik, jangan pernah mengucapkan satu kata pun saat dia bangun, karena kami harus memeriksa efek dari penyembuhan dengan cara seperti ini, kami mohon bantuannya Pak.” Ganding berkata dengan tegas.


Papinya Ratih melihat ke arah mertuanya yang terlihat mengizinkan hal ini terjadi, karena papinya Ratih masih merasa takut putrinya akan kembali gila, kenyataannya, putrinya memang tidak pernah sembuh.


“Mereka benar akan menolong Ratih Pak, Ratih tidak pernah sembuh, apa yang dia perlihatkan saat bertemu kalian adalah apa yang Hendar perintahkan, Ratih bahkan tidak mampu mengurus anaknya sendiri, dia selalu hanya terpaku pada Hendar, bahkan itu hanya sekedar foto, dia tidak bisa melakukan hal lain selain itu, memandang foto Hendar, sisanya hanya pada perintah Hendar dia bersikap dan berkata.


Aku tidak tahu mereka siapa, tapi aku mendengar mereka datang karena orang yang menolong Hendar untuk memelet Ratih saat ini bahkan sedang sekarat dan butuh untuk mengembalikan semua jin yang dia utus menyesatkan orang keluar dari tubuh sekaratnya yang tidak pernah bisa melewati sakaratul maut.


Aku percaya mereka bisa menolong Ratih karena mereka membuat Hendar terdiam seperti ini, menuruti apapun yang mereka perintahkan.


Aku tidak ingin menantuku selamanya menjadi gila, bahkan tidak mampu mengurus anaknya, Hendar dan istriku mungkin telah gelap mata, tapi aku tahu, ini semua salah, maafkan anakku dan istrikku, apapun keputusan Ratih aku akan berusaha menerima dan membujuk Hendar menerimanya.”


“Aku akan membawanya pulang, begitu dia sadar, kami tidak akan bicara padanya, kami akan langsung menghubungimu, terima kasih karena kalian mau berusaha menolong Ratih.” Papinya Ratih langsung membawa putrinya, dengan cara menggendong, ibunya terlihat menangis, tapi ada raut lega di sana.


...


Dua hari kemudian, papinya Ratih menghubungi Ganding, lima sekawan datang ke rumah papinya Ratih, mereka berkumpul di ruang tamu, Ganding membawa serta Hendar yang masih dalam pengaruh Gendam Ganding, dia belum dibangunkan sampai sekarang, bersama mereka orang tua Hendar dan anaknya Ratih juga datang.


“Mbak Ratih kau kenal siapa ini?” Ganding bertanya pada Ratih dan menunjuk Hendar.


“Dia ...,” Ratih seperti bingung, “dia Hendar.”


“Kalau ini?” Ganding menunjuk anaknya.


“Kenapa kalian bertanya, dia adalah ... bagaimana mungkin aku tidak kenal anakku?!” Ratih lalu menarik anaknya dari gendongan ibu mertuanya.


“Kau ingat anakmu Nak?” Papinya Ratih lega mendengar itu.


“Ya, aku ingat, dia anakku, aku melahirkannya lalu ... lalu ... aduh sakit.” Ratih memegang kepalanya, syukur Ratih ingat dia melahirkan anaknya.


“Lalu kau tahu siapa suamimu?”


“Kalian bertanya pertanyaan yang aneh, tentu saja aku tahu, suamiku adalah ... Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah, kau ... kau suamiku!” Ratih seperti baru sadar suaminya adalah Hendar, Hendar yang masih dalam pengaruh Gendam terdiam.


Ratih memangis histeris, dia ingat siapa suaminya, tapi dia seperti baru sadar sesuatu.


“Mbak Ratih, kau ingat pernikahanmu?”


“Ya, aku ingat, kami menikah, saat itu aku memang ingin pernikahan itu, tapi ....”


“Tapi apa?” Ganding bertanya.


“Tapi aku ... aku ... aku sekarang tidak merasakan apapun.”


“Tidak merasakan apa?” Ganding bertanya semakin detail.


“Menginginkan pernikahan itu, aku tidak ingin pernikahan itu.” Ratih menangis sejadinya sambil memeluk anaknya.


Ibunya Hendar ikut menangis.


“Ikat Hendar Dit.” Ganding member kode pada Aditia yang sudah sehat kembali setelah kehilangan banyak darah untuk menolong Ratih.


Hendar diikat di kursi agar dia tidak bisa bergerak saat dibangunkan.

__ADS_1


“Bangun!” Ganding membangunkan Hendar dalam satu tepukan di bahu.


Hendar bangun, dia bingung.


“Ke-kenapa aku di sini? Kenapa kalian mengikatku, Ratih! Buka ikatan ini, cepat!” Hendar belum tahu, Ratih sudah bebas dari peletnya.


Ratih diam, dia menatap jijik pada Hendar.


“Ratih! Cepat buka ikatanku!!!” Hendar mulai berteriak.


“Tidak! kau yang harus jelaskan semuanya padaku!” Hendar kaget mendengar Ratih berkata, karena selama dua tahun ini Ratih berkata hanya apa yang Hendar suruh dan sisanya dia hanya tersenyum saja.


“Ratih, Ibu! Kau tidak memberinya makan!” Hendar berteriak lagi pada ibunya yang ada di sebelah Ratih, Ratih menatap ibu mertuanya dengan tatapan marah.


“Jadi makanan itu yang membuatku menjadi hilang akal!” Ratih menebak.


“Ratih! Kurang ajar kau pada ibuku, mau ku buat gila lagi kau!”


“Gi-gi-gila? Apa maksudnya?” Ratih terkejut, karena dalam ingatan dia, pernikahan itu ada, dulu dia ingin, sisanya kabur, sekarang dia tidak ingin pernikahan itu, makanya dia tadi histeris.


“Perempuan murahan kau ....” Watak asli Hendar terlihat, dia membentak Ratih, papinya Ratih kesal dan hampir saja menamparnya.


“Diam kau!” Ganding membuat dia tidak bisa bicara karena khodamnya menutup mulut Hendar.


“Pak tenang dulu ya, kami ke sini bukan untuk memancing keributan, kami hanya ingin menyembuhkan Ratih sehingga Alya juga bisa menjemput kematiannya dengan segera.


Mbak Ratih, saya akan jelaskan semua, tapi saya mohon, bijaklah, mengingat anak ini.” Ganding menunjuk anak yang Ratih gendong, digendong ibunya dengan benar untuk pertama kalinya membuat bayi itu lebih tenang.


“Baiklah, silahkan lanjutkan.”


“Pertama, kita akan runut dari awal Hendar melamar Mbak Ratih, lalu Mbak Ratih menolak, Hendar dendam, dia menemui Alya, meminta bantuan untuk memelet Mbak Ratih.”


“Apa?! Bagaimana dia melakukannya?” Ratih bingung dan marah.


“Melalui media, yaitu ...,” berat bagi Ganding untuk mengatakannya karena itu pasti membuat seisi rumah sangat marah, tapi itu harus dilakukan, “medianya adalah, kulit yang dikerik, air seni dan rambut yang dicampur ke makanan.”


“Apa?!” Ratih mendengar itu langsung mual.


“Ya maaf saya harus katakan ini, tapi memang itulah caranya memeletmu Mbak, dengan member ramuan menjijikan itu setiap hari, mungkin dimulainya saat kalian masih bekerja bersama di pabrik itu.”


“Kau benar-benar brengsek Hendar!” Ratih berteriak, Hendar berusaha berbicara, tapi mulutnya masih di tutup oleh Khodam Ganding, dia hanya bisa meraung-raung tak jelas.


“Setelah itu, kau menjadi selalu menanyakan Hendar dan akhirnya tidak mau melakukan apapun selain bertemu Hendar, kau tidak mau makan dengan benar dan tidak mau mandi, keadaanmu berubah menjadi mengerikan, layaknya orang gila, maaf.


Papimu datang untuk meminta Hendar menikahimu, lalu pernikahan itu terjadi Mbak, semua orang kita kau bahagia dna sudah sembuh dari gilamu, tapi mereka salah, kau tetap sama, hanya kau jah lebih bersih dan rapih, itu bukan karena kau sembuh, tapi karena perintah-perintah dari Hendar, kau menjalani harimu dengan kosong, semua kau jalani hanya untuk memenuhi perintah Hendar, bukan karena keinginanmu, kau bahkan tidak mampu merawat anakmu, karena kau masih seorang wanita yang hilang akal.”


“Astagfirullah Nak ...  apakah aku tidak pernah menyusuinya?” Ratih memeluk anaknya dan bertanya pada ibu mertuanya.


Ibu mertuanya menggeleng sambil menangis.


“Bagaimana kau tega melakukan itu Hendar, Ibu! Kalian bisa saja menghentikan memberikanku makanan busuk itu, tapi kalian tetap melakukannya agar aku bertahan di rumah itu dalam keadaan gila!” Ratih marah.


“Maaf Ratih.” Ibunya Hendar duduk bersimpuh sembari menelungkupkan tangan di dada.


“Berdiri Bu, aku tidak mau lagi langkah salahku membuat aku menderita. Ini anakmu, ini cucumu, bahkan dia tidak mendapatkan haknya untuk diberikan ASI oleh ibunya karena ibunya gila! Kalian tidak benar-benar menyayangi anak ini!” Ratih menangis dan memeluk ibunya, anaknya tidak pernah dia lepas.


“Saat ini kami sudah menyembuhkan Mbak Ratih, keputusan untuk rumah tanggamu, silahkan kau yang putuskan, tugas kami selesai di sini, tapi sebagai jaminan terakhir, kami akan memagari rumah ini serta semua orang yang ada di sini, sehingga Hendar tidak akan bisa mencelakai kalian lagi dalam bentuk apapun, yang penting adalah, jangan menerima makanan dari sembarang orang lagi Mbak, jangan makan di luar rumah, agar kau terhindar dari hal buruk lagi.” Ganding mengingatkan.


“Baik terima kasih sekali kalian sudah mau menolongku, aku benar-benar merasa baru saja sadar dari koma, aku tidak akan mempertahankan rumah tangga ini, karena syarat menikah adalah sadar bukan? Tapi aku menikah dalam keadaan dipelet, aku akan bercerai, mengenai anak ini, dia adalah satu-satunya yang aku syukuri ada dalam hidupku, aku akan mengurusnya dan mengejar apapun yang sudah tertinggal selama dua tahun ini. Syukur kalian menemukanku setelah dua tahun, bagaimana jika aku tidak ditemukan sampai sekian lama, bahkan sampai aku meninggal, aku benar-benar bersyukur kalian menolongku.


Papi, bolehkah Ratih merawat anak ini di rumah ini?” Ratih meminta izin.


“Ini adalah rumahmu sampai kapan pun! Dia adalah cucu Papi, tidak akan pernah Papi lepaskan lagi anak dan cucu Papi.” Orang tua Ratih memeluknya.


Hartino tersenyum melihat itu, setidaknya bayi itu masih memiliki ibu dan keluarga ibunya yang menyayanginya.


Lima sekawan akhirnya pamit, Hendar dan orang tuanya sudah pulang, Hendar dipulangkan dalam keadaan marah dan penuh sumpah serapah, entah apa yang akan terjadi padanya, semoga dia berubah, seperti Ratih yang dewasa, tetap menerima semua dan bersyukur telah sembuh, bersiap mengejar masa depannya tanpa mengeluh dan menerima anak itu dengan tangan terbuka, menebus kesalahannya yang tidak mampu merawat saat lahir dulu.


Mereka sudah berada di angkot Aditia.


“Har, makasih ya, udah mau bantu kita.” Alka menepuk pundah Hartino.


“Ya.” Hartino menjawab singkat.


“Lihat Har, anak itu akan jauh lebih bahagia dengan ibu yang cerdas, energik dan tulus, bukan ibu yang hanya bisa tersenyum dan menuruti perintah ayahnya saja, memiliki ibu atau ayah saja bukan selalu hal yang buruk, kalau keadaan memaksa, kita harus tetap menjalaninya.” Ganding berkata.


“Ya, kalian benar, tidak semua hal tentang diriku, maaf kemarin aku sempat membawa masalah Ratih sebagai permasalahan pribadiku, aku hanya takut, anak itu akan tumbuh menjadi ....”


“Menjadi sepertimu? Anak hebat yang tampan?” Alka memuji Hartino, Aditia yang sedang menyetir sedikit menengok Alka memuji Hartino tampan.


“Ya, aku memang tampan.” Hartino sudah kembali seperti semula, riang dan gembira.


_________________________________


Catatan Penulis :


Part selanjutnya ya, bab penutupan Alya, lalu kita masuk ke bab perkenalan setiap karakter dalam AJP, siapa dulu yang mau dibahas, komen dibawah ya.

__ADS_1


Jangan lupa Vote dan juga kasih kami hadiah, terima kasih.


__ADS_2