
“Udah pulang Mas?” tanya induk semang pada seorang pemuda yang memang menyewa kamar di tempatnya.
“Iya Bu.” Singkat saja dia menjawab, karena benar-benar butuh istirahat, dia sudah kelelahan setelah seharian disuruh bosnya membantu pindahan.
Namanya Ramdan, dia bekerja di perusahaan konstruksi, menjabat sebagai kepala proyek, walau sebenarnya jabatan tidak selalu menjadi patokan pekerjaan, terkadang Ramdan harus terpaksa membantu bos untuk pekerjaan di luar tanggung jawabnya. Karena prinsip kantornya adalah, selama masih digaji, disuruh apapun harus mau.
Hari ini melelahkan sekali dari biasanya, karena bosnya baru saja pindah rumah, dari rumah orang tuanya, pindah ke rumah baru bersama istri dan anak. Rumah orang tua bosnya rumah yang besar, tapi dengan bangunan lama, katanya bangunan itu akan di renovasi supaya lebih modern, makanya sementara waktu mereka pindah di rumah lain.
Mengingat ayah dari bosnya Ramdan juga baru saja meninggal dunia, sehingga rumah itu bisa segera di renovasi, bosnya Ramdan sebelum ini selalu mengeluh, kalau rumah itu tidak diperkenankan untuk di renovasi, kata orang tua bosnya Ramdan, bangunan awal itu memiliki banyak kenangan. Sekarang bosnya Ramdan telah yatim piatu karena ibunya sudah jauh lebih dulu meninggal dan setelah ayahnya meninggal, bosnya Ramdan tidak mau menunggu terlalu lama lagi untuk renovasi.
Ramdan masuk ke dalam kamar, menaruh tasnya di meja kerja, walau ini hanya indekos, tapi cukup besar, serta ada ruang tamu di luar kamar untuk semua penghuni, total ada tujuh kamar di sini, campur, tidak hanya lelaki, ada perempuan juga, tapi tidak ada penghuni yang sudah menikah, semuanya single.
Ramdan tidak membersihkan badannya langsung saja tidur, tubuhnya tidak bisa lagi diajak kompromi saking lelahnya, walau ini perbuatan yang sangat tidak baik, karena kotoran itu bukannya sesuatu yang terlihat saja kan, bisa saja yang tidak terlihat juga masih menempel. Ramdan bukannya tidak tahu soal itu, karena bisa dibilang dia juga seseorang yang cukup peka, tapi hari ini lelah tubuhnya mengalahkan pengetahuan yang dia miliki.
Ramdan tertidur ….
Tok … tok … tok!!!
Ada suara ketukan yang cukup keras di depan pintunya. Ramdan seketika bangun karena kaget, itu pasti si Deny, dia memang usil.
“Ntar Den!” Ramdan berteriak, dia lalu bangun setelah sepenuhnya sadar dan membuka pintu kamarnya … kosong.
“Den!” Ramdan berteriak.
“Oy.” Jawab dari kamar sebelah, kamar Deny memang tepat di samping kamarnya.
“Lu jangan bercanda! Gue baru aja tidur!” Ramdan kesal, Deny pasti mendengar tapi dia diam saja, mungkin kaget karena Ramdan marah, sebelum ini Ramdan tidak pernah marah kalau Deny iseng.
Ramdan masuk kamar, lalu kembali meneruskan tidur.
Tidak terasa matahari terbit, hari ini adalah hari sabtu, semua orang ada di kamar karena libur kerja, termasuk Ramdan.
Ramdan sudah mandi dan hendak sarapan, dia lalu pergi ke luar membeli nasi uduk dan kembali ke indekos, dia makan di ruang tamu bersama beberapa orang lainnya.
“Den, lu jangan rese ah, gue kemarin capek banget, baru aja tidur, elu malah iseng ketok kamar kenceng banget.” Ramdan yang melihat Deny ikut sarapan juga menegurnya, karena semalam Deny hanya diam saja saat diteriaki dari kamarnya.
“Hah? lu ngomong apa sih Ndan?” Deny bingung, dia menaruh piringnya di meja karena merasa aneh.
“Elu semalem ngapain ketok kamar gue kenceng banget, gue ampe kaget, sakit kepala gue karena kaget, trus gue keluar, manggil nama lu, lu nyaut dari kamar, nyaut gini, ‘oy!’. Trus gue bilang langsung marah-marah gitu dari kamar gue, elu diem aja, kaget kan lu, gue bisa marah juga.” Ramdan nyerocos tanpa henti.
“Benta, bentar Ndan, gue jelasin ya, Deny nggak di kamar semalem, dia main PS di kamar gue, dia nggak balik kamar sampe sekarang.” Seorang teman menjelaskan.
“Hah?” Ramdan bingung.
__ADS_1
“Ada apa nih?” Tiara yang juga penghuni indekos tiba-tiba datang membawa bubur ayam sarapan kesukaannya, dia ikut nimbrung.
“Ini si Ramdan asal nuduh, dia bilang gue ketok kamarnya kenceng, padahal gue nginep di kamar dia nih.” Deny menunjuk temanya.
“Yaelah Ndan, salah denger kali, elu emang lagi apa pas kamar di ketok.” Tiara memberitahu kemungkinan lain.
“Lagi tidur.”
“Nah, mungkin elu ngelindur gitu, dengar hal yang tidak sebenarnya terjadi.”
“Nggak mungkin Tia, gue denger dia jawab gue kok, masa gue ngelindur juga denger jawaban dari kamar Deny.”
“Nggak Ramdan, gue kalau becandain lu, nggak mungkin kabur bodoh.” Deny mulai kesal.
“Lah terus siapa yang ngetok kamar gue?” Ramdan heran.
“Mana gue tahu!” Deny yang sekarang makin kesal.
“Oh iya Ndan, semalem ade lu nginep di kamar?” Tiara tiba-tiba bertanya. Ramdan memang punya adik laki-laki yang masih sekolah, kadang suka menginap di tempat Ramdan.
“Enggak, emang kenapa?” Ramdan makin merasa heran dengan pertanyaan Tia yang tiba-tiba berbelok tidak ada hubungannya dengan apa yang mereka bicarakan sebelumnya.
“Lah, orang gue liat kok, jadi pas gue lewat itu, gue kira elu yang lagi di jendela, trus gue nyapa lu gitu, manggil nama, tapi tiba-tiba orang itu tutup gordennya kasar, oh gue pikir itu adek lu, dia nggak suka gue tegor, jadi yaudah gue lewat aja.”
“Ya sekitar jam sembilang lah.” Tiara menjawab dengan yakin, karena dia sebelum naik ke kamar itu indekos melihat jam dulu.
“Itu sih emang pas gue tidur, trus … gorden kamar gue emang ke tutup, padahal seinget gue, gorden itu belum sempet gue tutup pas tidur itu.”
“Nahlo Ndan, apaan coba itu?” Deny menakuti.
“Nggak usah kompor ah!” Ramdan kesal.
“Takut lu?” Tiara tertawa.
“Enggak, cuma heran aja, siapa yang ngetok kamar gue, sama nutup gorden gue.”
“Yaudah, kadang ada yang nggak perlu dijelasin kok, biarkan menjadi rahasia aja ya.” Tiara mencoba menenangkan, tapi kata-katanya malah membuat Ramdan makin ketar-ketir.
"Yaudah gue istirahat dulu ya di kamar." Ramdan memilih untuk tidak lagi memperpanjang masalah, karena bisa jadi ini adalah hal yang menakutkan.
Ramdan masuk ke kamar, dia lalu merebahkan badannya, walau telah tidur cukup lama semalam, tapi karena gangguan aneh, kepalanya lumayan sakit.
Tidak lama kemudian dia tertidur. Seharusnya hal ini tidak dilakukan olehnya, karena tidur saat pagi itu tidak baik.
__ADS_1
Tidak lama suara ketukan itu terdengar lagi, dia lalu terbangun dengan kaget.
Tidak mau mencurigai Deny lagi karena kejadian semalam.
"Lah elu, gue pikir bukan elu kayak semalem, udah was-was gue." Ramdan kesal karena ternyata itu Deny yang datang.
"Lu lama banget, udah gue tungguin juga dari tadi. Setengah jam loh."
"Apaan sih lu Den, nungguin gue ngapain?" Ramdan kesal karena Deny tiba-tiba marah.
"Katanya mau ikut main PS, gue tungguin di kamar belakang, elu bilang mau ikut main tapi nggak balik-balik. Kita pada nungguin."
"Yeee, orang gue tidur, ini baru aja bangun pas elu ketok pintu."
"Jadi elu ketiduran Ndan? Gimana sih, harusnya dari awal nggak usah bilang mau ikut main." Deny makin kesal.
"Siapa yang bilang mau ikut main? Gue abis sarapan langsung ke kamar trus tidur, gimana caranya gue bilang mau main!"
"Hah! Lu masih mgelindur atau gimana sih, abis makan elu ke belakang, ke dapur. Trus gue sama anak-anak ke kamar belakang, pas kita lagi main PS elu lewat abis dari dapur, gue ngajakin lu main, elu ngangguk, tapi abis itu elu balik ke kamar. Kami pikir elu mau ambil stick lu yang biasa, tapi ditunggu-tunggu kok elu nggak balik-balik."
"Ngaco lu Den, demi Tuhan gue balik ke kamar."
"Ada apaan lagi sih?" Seorang teman yang indekos di situ tiba-tiba datang.
"Ini sih Ramdan ngelindur lagi, masa katanya abis makan dia ke kamar langsung, padahal kita liatnya dia ke dapur kan?" Deny masih mencoba memastikan.
"Ndan elu sakit? Kita liat lu ke dapur, trus kita semua ke kamar belakang deket dapur mau main PS, nggak lama elu lewat, Deny ajak lu main, elu ngangguk, trus balik ke kamar, kita pikir elu mau ambil stick PS lu."
"Nggak! Gue ke kamar, Demi Tuhan! Gue di kamar, gue langsung ketiduran, yang kalian liat ke dapur dan dari dapur, itu bukan gue! Makanya dia nganggduk doang kan!" Ramdan meninggikan suara, membuat semua orang keluar.
Saat mereka tau apa yang terjadi, mereka semua mengiyakan, bahwa Ramdan tidak pergi ke kamar tapi ke dapur, kepala Ramdan tiba-tiba pusing, semua berputar, dia yakin bahwa dia tertidur di kamar, tidak ke dapur.
Saat itu pandangannya mulai kabur, tapi diantara semua orang yang terlihat khawatir, ada satu orang yang Ramdan lihat tertawa cekikikan, Ramdan heran, di saat dia sangat merasa lemah, lalu akhirnya terjatuh, detik-detik jatuh itu, dia tersadar, lelaki yang tertawa cekikikan di antara semua orang itu, wajahnya sangat mirip ... dengannya!
_______________________________
Catatan Penulis :
Maaf aku hilang 3 hari, kemarin liburan dan sudah kuinfokan di story IGku bahwa aku akan sementara waktu tidak Up, add IGku ya karena banyak hal yang bisa kalian baca di story IGku.
Selain info tentang tulisan, aku juga buat quote series harian, judulnya DRAMA AKU DAN DIA, kisah tentang seorang wanita yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Kisahnya seperi quote tapi bermakna. Kata-katanya juga aku buat indah, siapa tahu bisa kalian pakai untuk pasangan kalian.
Terima kasih yang udah tanyain apa aku sehat dan doain aku sehat. Aku bangga bgt punya reader kayak kalian. Sangat perduli padaku.
__ADS_1
Terima Kasih.