
“Kau tahu, kemarin katanya ada yang kesurupan di kelas sebelah.” Seperti biasa, Rahman si penggosip itu sedang menyebarkan berita pada sahabat-sahabatnya. Mereka masih saja tidak pulang, padahal pelajaran sekolah telah berakhir sejak satu jam lalu.
“Kelas mana?” Adi bertanya.
“Ituloh kelas yang ada anak cenayang, tahu kan? anak yang ibu sama bapaknya dukun.”
“Emak bapaknya dukun?” Mulyana bertanya, sedang Aep dan yang lain tampak mendengar obrolan ini saja.
“Iya, tahulah, kalau anak dukun katanya kadang suka bawa sial, lihat aja ada yang kesurupan kan?” Rahman ingin yang lain percaya padanya.
“Beneran anak dukun?”
“Iya, orang kalau ada warga yang kesurupan bapak sama ibunya yang nyembuhin.”
“Kalau begitu, belum tentu dukun dong.” Mulyana terlihat tidak terima, karena bisa saja kalau menyembuhkan orang bukan dukun, tapi memang orang pintar seperti ayahnya dan melawan dukun untuk memastikan tak ada praktek ghaib yang menyengsarakan orang lain.
“Ya apa lagi kalau bukan dukun? dia bisa nyembuhin orang yang disantet.” Rahman tak ingin kalah.
“Eh iya tahu, jangan-jangan malah orang tuanya anak itu yang ngirim santet, terus abis kirim santet dia pura-pura nyembuhoin.” Adi menimpali.
“Untuk apa!” Mulyana tak terima, sementara Nando memegang bahu Mulyana, maksudnya sudha cukup, jangan berkata lagi, nanti jadi bertengkar.
Mulyana hanya melihat ke belakang dan menggeleng, maksudnya tidak ingin dihalangi.
“Hei Yan, masa seperti ini kau tak paham, itu kan bisa jadi ladang usaha keluarga, seperti keluargamu yang kaya raya itu karena hasil ternak, perkebunan dan pertanian, mungkin saja anak yang kesurupan itu orang tuanya memiliki ladang usaha penipuan, mana jaman sekaran penipuan tuh lagi marak banget.” Rahman masih tak mau kalah.
“Jangan begitulah kalian, cukup sudah, kenapa saling bertengkar, dia kan bukan keluarga kita, sudah cukup kau Yan, jangan kebiasaan! Maaf ya Man, Di, adikku ini memang suka sok pahlawan, kalau ada yang dirundung, pasti dia akan membela, tapi tak paham, siapa tahu yang dirundung itu memang pantas menerima hal itu.
Maaf ya, kebiasaannya memang baik, tapi sering salah sasaran.” Aep mencoba menenangkan Rahman dan Adi, mereka takut kalau sampai Rahman dan Adi jadi curiga soal keluarga mereka.
Walau ibu dan ayahnya sudah memastikan, informasi yang tersebar adalah informasi yang aman bagu keluarga mereka, seperti tentang usaha mereka yang bergerak dibidang yang disebutkan Rahman tadi. Itu tidak salah, memang Drabya kaya karena Peternakan, Perkebunan serta pertanian, tapi itu tak seberapa dibanding kekayaan mereka yang sebenarnya, sebagai seorang keturunan Raja dan Ratu, darah biru yang mengalir, juga mengalirkan harta yang begitu banyak untuk para keturunannya bukan?
“Yan, udahlah.” Nando membujuk, sementara yang lain masih dalam wajah yang tegang karena perdebatan ini.
“Iya maaf ya Man, Di, aku hanya trauma saja, kakakku pernah sakit dan dia dirundung oleh kawan-kawannya hingga dia akhirnya sempet nggak mau sekolah, kami dirundung karena kami keluarga kaya raya, jadinya mereka iri.
Karena itu, aku tidak suka kalau ada orang yang dirundung, itu membuat hatiku sangat marah. Ya kan Kak?” Mulyana meminta pembelaan dari Aep, kakaknya itu langsung gelagapan, sejak kapan dia dirundung karena kaya raya, mengarannya sungguh kejauhan adiknya ini, karena tubuh Aep yang lebih tinggi dan besar, masa dia msaja saat dirundung, memalukan sekali, tapi apa boleh buat, Mulyana sepertinya sedang membalas karena tadi Aep mengarang tentang dirinya yang tidak suka melihat orang dirundung.
Mulyana hanya kesal saja, kalau teman-temannya yang paling dia percaya, ternyata memandang rendah anak yang kesurupan itu, bagaimana jika teman-temannya tahu kalau Mulyana dan Aep adalah anak Kharisma Jagat yang agung, mereka tentu takkan menganggap hal itu hal yang baik, karena bagi mereka, ayahnya pasti hanya seorang dukun kaya raya yang mencari uang dari menipu orang, sungguh sangat membuat kesal.
Murid-murid yang selalu terlambat pulang untuk belajar itu akhirnya menuju gerbang untuk pulang, saat menuruni tangga, karena kelas mereka ada di lantai 2 sekolah itu, Mulyana terdiam, kakinya terhenti.
“Kenapa?” Aep bertanya, sahabatnya yang lain belum menyadari kalau Mulyana tiba-tiba berhenti.
“Aku mendengar suara minta tolong.” Mulyana berkata pada kakaknya.
__ADS_1
“Aku tidak dengar.”
“Kau kan tahu, jarak dengarku dan jarak dengarmu itu berbeda, kau juga tak melatihnya.” Mulyana kesal, karena kakaknya tidak bisa diandalkan sebagai tim ghaib.
“Hei, kalian pulang duluan ya, aku mau ke toilet dulu, kebelet.” Mulyana berlari, sedang kakaknya tidak akan ikut, tapi Nandi dari belakang mengekor Mulyana.
“Mau tunggu di sini atau mau tunggu di gerbang Ep?” Rahman bertanya.
“Tunggu di gerbang aja, aku aja yang tunggu, kalian pulang duluan, nanti ibu kalian nungguin loh.” Aep tak ingin mereka dengar jika Mulyana bertarung dengan setan.
“Yan, kenapa?” Mulyana dan Nando sekarang berada di suatu kelas.
“Loh, kok ikut?” Mulyana tak sadar kalau Nando ternyata mengikutinya dari belakang.
“Itu, hmmm, ada yang ketinggalan.” Mulyana mencari alasan, karena dia tadi pamit ke toilet, tapi sekarang malah di kelas ini.
“Apa yang ketinggalan?” Nando bertanya.
“Buku pelajaran.” Mulyana berusaha bersikap wajar.
“Oh ... tapi Yan ... ini kan bukan kelas kita, kenapa kau ke sini?” Nando langsung pada tujuannya.
“Eh ... itu ... hmmm ... itu ....”
“Kau juga dengar suara itu ya?” Nando bertanya.
“Kadang suara cekikikan, kadang suara menangis, atau bahkan terkadang suara minta tolong.”
Mulyana mendengar apa yang dikatakan oleh Nando jadi tersentak, karena kata terakhir yang disebutkan oleh Nando, sangat membuat dirinya merasa tertangkap.
“Kau memang mendengar apa?” Mulyana bertanya, dia tak menyangka kalau Nando si yang paling pintar, tapi dia tetap percaya hal ghaib yang tidak masuk akal.
“Kalau aku tadi dengar minta tolong, kalau kau?”
“Tidak, aku tidak dengar apa-apa, tadi aku hanya penasaran aja sama anak yang kesurupan itu, aku ingin menulis artikel untuk koran Ndo, artikel horor, makanya aku ke sini, supaya bisa merasakan perasaan horor, takut dan sedihnya, sebelum menuangkan itu ke dalam tulisan.” Mulyana mencoba untuk bijak, agar Nando tidak akan mengorek lagi.
“Yan, kalau aku seperti anak itu, anak yang kesurupan, apakah kau akan menyangka aku sebagai anak dukun seperti Rahman dan Adi?” Nando bertanya.
“Tidak, aku akan mengatakan dengan lantang kalau aku percaya padamu, kau ini orang baik. Rahman dan Adi juga baik, tapi mereka hanya sedang merasa tertarik pada hal negatif saja, jadinya tadi aku berdebat saja. Maafkan aku ya, karena tadi membuat kau dan kakaku menjadi khawatir.” Mulyana jadi paham kenapa kakaknya tadi mencoba menghentikan dia untuk bicara, ternyata nando juga takut, apakah dia juga memiliki kemampuan melihat alam lain? Mulyana jadi penasaran.
“Tapi Nando, kenapa kau bertanya soal kesurupan? Apakah kau sering kesurupan juga?” Mulyana bertanya, mereka masih di kelas itu, suara yang Mulyana dengar.
“Kesurupan sih tidak, tapi ... aku sering mendengar suara-suara itu Yan dan juga kadang aku melihat makhluk buruk rupa di kelas kita, tapi aku tak berani bilang, ya kau lihat sendiri, bagaimana Rahman dan Adi tidak menerima kalau ada hal ghaib yang kita alami. Mereka akan langsung mengambil kesimpulan sendiri, aku takut kalau nanti mereka tidak lagi menerimaku.”
“Tidak menerimamu? Maksudnya?” Mulyana bingung.
__ADS_1
“Ya, Adi dan Rahman sebenarnya sangat marah padaku, karena suatu kejadian, tapi sejak kau dan kakakmu muncul, lalu kita berkenalan, Adi dan Rahman lalu bergabung, akhirnya mereka memaafkanku, walau aku tahu, mungkin dalam hati kecil mereka, pasti masih mengganjal dan tidak ingin berteman denganku, lagi tapi ... karena kamu dan Aep, akhirnya Rahman dan Adi mau lagi berteman denganku.”
Mulyana teringat, karena sejak hari pertama sekolah, hanya Nandolah yang paling ramah pada mereka, lalu Adi dan Rahman ikut bergabung, setelah itu, mereka menjadi guru privatnya Aep dan Mulyana, karena merasa Aep dan Mulyana adalah orang yang sangat bodoh, hingga pelajaran matematika dan lainnya, mereka harus dibimbing. Itu karena mereka tidak tahu sama sekali, bahwa Mulyana dan Aep hanya pura-pura bodoh saja.
“Memang apa yang terjadi pada kalian hingga Rahman dan Adi marah padamu?” Mulyana bertanya, Nando terdiam, dia lalu berbicara tapi ....
“Yan, ngapain sih lama-lama, ayolah pulang.” Aep terlihat kesal melihat adiknya yang masih di kelas orang ini.
“Iya ini aku mau pulang!” Mulayan berteriak pada kakaknya yang ada di luar kelas, “Yuk pulang, Ndo.” Mulyana mengajak Nando pulang, Nando hanya mengangguk dan dia mengikuti Mulyana di belakang.
“Rahman dan Adi sudah pulang, yuk kita juga pulang.” Aep mengajak pulang.
“Iya ayo.”
“Kau sudah menemukan ....”
“Ep, ini masih di sekolah, nanti aja kita bicarakan.” Mulyana melihat Nando yang masih mengikutinya dari belakang tapi sepertinya tak mendengar apa yang Aep katakan, karena dia berbisik.
“Kan aku berbisik, Yan, mana bisa denger.”
“Ep! Diem ah.” Mulyana kesal karena kakaknya tidak paham situasi.
Mereka bertiga lalu turun lagi dan bersiap menuju gerbang.
“Pak, pulang dulu ya.” Mulyana menegur, Pak satpam hanya mengangguk.
Lalu mereka keluar dari sekolah.
Sementara dalam perjalanan, Mulyana terus berpikir, siapa yang minta tolong, kenapa tadi Mulyana tak merasakan apapun, dia yakin mendengar suara dari kelas yang didatangi dengan Nando tadi, tapi begitu dia di sana, tak ada suara sama sekali, pun Mulyana tak merasakan apapun di sana.
Nando telah berpisah dengan mereka, biasanya dipertigaan ini mereka berpisah, rumah Nando memang ke arah sana.
“Kak, jangan berbisik saat disekolah walau kau yakin tak akan terdengar, tapi percayalah, kita harus hati-hati.” Mulyana memberitahu kakaknya begitu Nando sudah tak bersama mereka lagi.
“Kau yang jangan gegabah, kau malah langsung bereaksi begitu mendengar ada anak yang kesurupan lalu ornag tuanya dianggap dukun, harusnya kau biasa saja, lagian ayah kita bukan dukun kan?”
“Iya aku tahu dia bukan dukun, lagian ... mungkin orang tua anak yang kesurupan itu juga bukan dukun.
“Bisa juga dukun, seperti kau yang masih berusaha untuk naif, Rahman dan Adi pun berusaha untuk menerima kenyataan.
Kita harus terus berjalan pada perintah ibu, kau tahu kan, jangan menonjol, jangan cari teman apalagi musuh, teman bisa menusuk dari belakang, musuh bisa tahu rahasia paling dalammu.
Rahman dan Adi saja itu salah, kita terlalu dekat, aku tahu mereka baik, mau bantu kita, walau lama-lama aku muak, cara mereka menerangkan rumus sangat sederhana, padahal ada banyak jalan pintas yang kau dan aku sudah ciptakan bersama pada soal Matematika maupun kimia yang ibu berikan. Tapi mau apalagi, ini sudah kutukan keluarga kita, kalau kita memang tidak bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan, harus berhati-hati kalau mau bergerak, karena status ayah kita yang begitu agung ... di mata organisasi kita, tapi buat orang lain, ayah bisa jadi dukun rendahan.”
Aep miris mengatakan itu tapi mereka berdua setuju, kalau itu kenyataannya.
__ADS_1
Sementara, dari jauh Nando ternyata masih mengikuti mereka dengan mengendap-endap, dia terlihat ingin berusaha menguping.