
Setelah semua yang terjadi selama 6 bulan terakhir Bening berkeliling bersama orang tuanya ke satu Psikiater ke Psikiater lainnya, ke satu dukun ke dukun lain.
Tubuhnya menjadi lemah dan tidak ingin makan, bahkan sebulan terakhir, dia hanya ingin makan kotoran saja atau bahkan bangkai binatang, dia tidak bisa makan yang lain selain itu.
Alka mendengarkan dengan seksama, dia dan Jarni masih di rumah Pak Sukandar, dari dalam kamar terdengar suara menggerung dari Bening.
“Sudah dimulai lagi, tolong kami Mbak Alka.” Pak Sukandar memohon.
“Saya dan Jarni akan masuk, jangan ada yang masuk selain kami, saya ingin tahu dulu, siapa dia.” Alka bangun diikuti Jarni dan mereka berdua masuk kamar.
Pintu kamar dikunci dari dalam oleh Alka, sementara Bening sudah duduk di atas jendela yang tinggi dari kamarnya, jendela yang seharusnya tidak mampu dipanjat oleh anak kecil.
“Boleh saya tahu, siapa kamu?” Alka bertanya.
Bening tertawa cekikikan, Jarni mencoba mendekat, Alka menahan tangannya.
“Tidak akan mudah, aku belum tahu dia siapa, baud an rupanya tidak mampu aku lihat.” Alka memperingati.
“Saba Alkamah, anak jin dan manusia, kau perempuan rendah yang sok menolong manusia.” Suara itu bergema, suara yang lebih mirip seperti nenek-nenek, bukan suara dari seorang anak kecil.
“Kau sudah mengenalku, ada baiknya kita berkenalan?” Alka mengulurkan tangannya.
Bening turun dari jendela dengan mengambang, jika yang melihat adalah orang biasa, tentu akan terlihat bergidik, dari tangannya ada seekor cicak yang telah hilang kepalanya, cicak yang cukup besar, sementara di ujung bibir Bening ada sedikit darah, berarti kepalanya sudah masuk ke mulut Bening.
Bening mengulurkan tanganya, Alka berharap, dengan bersentuhan, dia bisa melihat masa lalu dari tuh yang menghinggapi tubuh Bening. Gelap, Alka tidak bisa melihat apapun.
Bening tertawa dengan berbisik, dia masih menggenggam tangan Alka, dalam satu hentakan dia membuat Alka terduduk, setelahnya, dia menginjak tubuh Alka.
Alka terjatuh tanpa bisa melawan, berat sekali.
Jarni mencoba menangkap anak itu, tapi Bening berhasil lolos, Alka bangun dan mengeluarkan cambuknya, Bening tertawa mendesis lagi, dia membuang sisa cicak di tangannya dan segera berlari ke tubuh Alka, dia hinggap di tubuh Alka seperti monyet dan mencakar wajah Alka hingga berdarah.
Jarni menolong Alka, tapi tidak sanggup, Bening kemudian menendang Jarni, Jarni tersungkur, sungguh bukan lawan yang mudah.
Alka bahkan tidak mampu berkutik, dia kehabisan tenaga, belum setengah jam tapi dia sudah terkapar.
“Masih mau main lagi?” Bening berjalan mengelilingi Alka dan Jarni yang jatuh lemah penuh luka, Alka pada wajah dan Jarni pada kening, saat di tendang tadi, dia kepalanya kena pinggiran meja yang tajam.
“Kalau sudah capek, keluar!” Pintu kamar terbuka, Alka sungguh kehabisan tenaga, dia juga melihat Jarni yang tidak mampu lagi, Alka memapah Jarni keluar dalam keadaan yang memalukan.
Saat Alka dan Jarni keluar, pintu kamar tertutup lagi.
“Astagfirullah!” Pak Sukandar membantu Alka dan Jarni, istrinya buru-buru membuatkan teh manis agar mereka berdua bisa sedikit bertenaga
Setelah bisa bernafas dengan normal lagi, Alka mulai berbicara.
“Aku akan datang lagi besok dengan beberapa orang temanku, cara terbaik saat ini adalah, menguncinya, jangan terima tamu.” Alka mengatakannya masih dalam keadaan lemah.
“Apa setan itu begitu mengerikan, Mbak Alka yang hebat saja, bisa ….”
“Tidak ada yang lebih hebat selain Tuhan Pak, saya tidak hebat, setan itu pun sama, dia tidak hebat, maka bantu doa, saat ini saya masih tidak menemukan jenis apa dia, saya bisa mengatasi jika tahu jenisnya, karena kalau tahu jenisnya kita bisa memilih metode pemusnahannya, tapi ini, gelap, saya tidak bisa melihat apapun, maafkan saya.” Alka terlihat kecewa.
“Saya yang harusnya minta maaf, Mbak Alka sudah berusaha menolong. Terima kasih karena tidak menyerah.” Pak Sukandar tidak tahu, bahwa Alka tidak akan menyerah sampai tuntas, walau lemah, dia sungguh bersemangat untuk menyelesaikan ini semua, dia sudah dididik untuk membantu hingga tetes darah penghabisan.
…
“Dit, udah enakan?” Mereka semua berkumpul di rumah sakit, rencananya hari ini Aditia keluar rumah sakit, Alka sudah mengirim Jin temannya untuk menyamar menjadi Aditia dan 3 orang lainnya, agar keluarga di rumah tidak khawatir.
“Udah enakan kok, Ka. Tapi itu muka kenapa? Jarni kepalanya kenapa?” Ada bekas cakaran yang cukup dalam dan banyak di wajah Alka dan juga kening Jarni.
“Yaudah, duduk dulu semua, aku mau jelasin kasus kita sekarang. Adit udah dijelasin kan, kemarin aku sama Jarni pergi ke rumah Pak Sukandar?” Alka bertanya.
“Polisi yang waktu itu interogasi kita masalah Akbar?” Aditia bertanya.
“Iya betul, dia orangnya. Jadi, pada saat kamu masih belum bangun, aku dan Jarni ke rumahnya, anaknya sakit.”
Alka memang belum menjelaskan pada semuanya, dia baru sampai begitu mendapatkan kabar Aditia sudah bangun.
“Sakit apa hingga harus kau yang ke sana?”
“Aku juga bingung mendefinisikan kejadian ini, karena bisa saja dia kerasukan, bisa juga tidak, entah aku bingung.”
“Seorang Alka bingung.” Aditia tertawa.
__ADS_1
“Jadi yang buat wajah Kak Alka dan kening Jarni luka, anak itu?” Ganding bertanya.
“Iya dia yang melakukan.”
“Umur berapa Ka?” Aditia bertanya lagi.
“Tujuh tahun.”
“Hah, sekecil itu bisa ngalahin seorang Alka, ditambah anak itu lagi sakit juga, luar biasa.” Aditia tertawa, bukan mengejek tapi terkejut dan juga takjub dalam waktu yang sama.
“Udah coba diterawang kak?” Hartino bertanya.
“Udah, tapi gelap, nggak keliatan apa-apa.”
“Yaudah, yuk, kita ke sana.” Aditia akan bersiap.
“Nggak, kamu pulang aja, biar kami yang coba cari solusi.” Alka menolak Aditia ikut serta.
“Aku udah sehat kok, jadi nggak masalah ikut. Lagian, kamu jangan berlebihan, nanti yang lain kira kamu suka sama aku.”
“Apa sih! aneh banget! Sama kok seperti yang lain, kalau mereka sakit, gue pasti khawatir. Ya, kan?” Alka menyudahi aku kamu dengan Aditia dan mengganti menjadi gue elu, wajahnya memerah.
“Iya sih, Kak, tapi nggak sehisteris saat Aditia ketusuk kemarin sih.” Hartino meledek, Jarni memukul bahu Hartino, tidak terima kakaknya diledek.
“Udah-udah, jangan becanda mulu, cepetan siap-siap, Adit lu boleh ikut, tapi jangan pernah ambil kesimpulan sendiri dan mengambil langkah tanpa bertanya kayak kemarin, gue bakal keluarin lu dari grup ini kalau sekali lagi itu terjadi, janji?” Alka mengancam.
“Ya ampun, Ka, tega banget, iya gue janji.”
Lalu mereka berdua pergi ke rumah Pak Sukandar, tepat seteah magrib mereka sampai, waktu di mana Bening akan ‘kambuh’.
“Pak Sukandar maaf kami datang magrib begini.” Alka membuka percakapan.
“Iya, nggak apa-apa Mbak Alka, makasih ya.”
Mereka semua masuk ke rumah, bau busuk mulai menyeruak.
“Bau apa ini?” Hartino bertanya.
“Ada beberapa bangkai tikus di kamar Bening, kami tidak bisa mengeluarkan bangkai itu karena Bening akan mengamuk.” Ibunya menangis menceritakan semua itu.
Saat masuk, Bening sedang ‘makan malam’ bersama bangkai-bangkai tikus itu, sungguh sudah sangat keterlaluan ruh jahat ini.
“Wah, tamuku banyak sekali, selamat datang. Ramai sekali yang kau bawa.” Dia kembali tertawa mendesis dengan suara nenek-nenek.
“Kami ingin bernegosiasi.” Alka membuka percakapan.
“Kau fikir ini konferensi atau semacamnya, kalian menyebutnya begitu kan? jadi ingat bagaimana dulu manusia yang kau sebut pahlawan itu berperang.” Alka mengernyitkan dahi, kalau dia bisa mengatakan itu, berarti dia ruh dari jaman dahulu, kemerdekaan itu tahun 1945, mungkin dia sudah ada jauh sebelum itu.
“Aku mohon, kasihan, dia hanya saeorang anak kecil, dia harus hidup dengan normal, dia anak yang cantik dambaan orang tuanya yang telah menunggu lama.” Alka mencoba mendekati dengan cara halus, karena jika bertarung lagi, mungkin mereka akan tetap kalah.
“Aditia … kau yang disebut si kasep itu, ternyata benar, kau tampan.
“Nenek tua busuk! Kau di sini rupanya.” Tatapan Aditia berubah, matanya bukan mata Aditia, Alka tahu itu.
“Assalamualaikum, siapa ini?” Alka bertanya pada Aditia.
“Waalaikumsalam, Saba Alkamah, manusia istimewa tanpa khodam, panggil saja Abah Wangsa. Saya mengambil alih tubuh Aditia, karena nenek ini bukanlah tandingan kalian.”
“Abah Wangsa, terima kasih sudah mau membantu.” Alka mundur, yang lain juga.
“Anak ini sudah dijanjikan untukku, jadi kau tidak bisa berbuat apa-apa.” Bening dengan suara nenek-neneknya berkata. Ada sedikit khawatir pada wajahnya.
“Kau tidak bisa menahan nafsu laparmu hingga membuatnya memakan makanan kalian!” Abah Wangsa terlihat kesal.
“Anak ini akan baik-baik saja, aku tidak mungkin membunuhnya.”
“Harus anak ini?”
“Ya, sudah tepat hitungannya, anak ini yang telah dijanjikan.”
“Hentikan makan bangkai itu, aku akan berbicara pada orang tuanya.” Abah Wangsa dengan tubuh Aditia keluar dari kamar tanpa membuka pintu, pintu terbuka sendiri, dia berjalan sembari menumpu tangan ke punggung, mirip seorang kakek tua bijak yang berjalan, sesekali tangannya mengusap jenggot, padahal tidak ada jenggot di sana.
“Duduk semua, saya akan beritahu apa yang menimpa anak kalian.” Abah Wangsa meminta semua orang duduk.
__ADS_1
“Apa yang terjadi dengan anak saya, De?” Pak Sukandar bertanya.
“Maaf Pak, jangan panggil, De, panggil Abah Wangsa saja.” Alka memberitahu Pak Sukandar.
“Oh iya, maaf saya tidak mengerti.”
“Kalian tahu kan, bahwa kami bangsa jin pun memiliki kerajaan sejak jaman dahulu kala, umur kami lebih panjang dan tentu saja lebih kuat. Pada tahun enam ratusan, adalah sebuah kerajaan ghaib bernama Kerajaan Nagaramanik Jaya, Kerajaan yang memiliki Ratu sebagai pemimpinnya, Ratu itu bernama Harum Amanasih, setelah beratus tahun memimpin, akhirnya kerajaan itu tumbang karena para Jin muslim melakukan pemberontakan. Ratu itu diusir dari kerajaannya dan akhirnya hidup dengan kefasikan, dia memilih menjadi karuhun bagi anak manusia yang membuat perjanjian dengannya.”
“Karuhun, saya pernah dengar, tapi anak saya masih terlalu kecil.”
“Memang dia akan turun begitu anak itu sanggup, kemungkinan Bening memang sanggup tapi belum siap.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan Abah?” Pak Sukandar bertanya.
“Umurnya sudah ribuan tahun, kita tidak bisa mengusirnya, hanya Tuhan yang sanggup.”
“Ya Allah, apa yang harus saya lakukan.” Pak Sukandar bergumam dengan penuh harap.
“Kelemahan Karuhun berumur tua itu, hanya satu.”
“Apa?” Pak Sukandar tidak sabar.
“Karuhun hanya lemah pada pemiliknya.” Abah Wangsa masih berbicara dalam tubuh Aditia.
“Tapi, Bening masih terlalu kecil untuk membuat Karuhunnya mengerti.” Pak Sukandar berkata.
“Bening harus dilatih, untuk bisa mengendalikan Nenek tua itu.”
“Caranya?”
“Bening harus tinggal bersama ahlinya Karuhun, Aditia akan mengantarkan Bening ke tempat Ayi Mahogra.”
“Ayi Mahogra?”
“Ya, Aditia akan jelaskan selanjutnya, tapi kalian orang tuanya tidak diperkenankan ikut ke sana, Bening akan pulang jika sudah waktunya, artinya kalian akan berpisah dengan Bening mungkin untuk waktu yang sangat lama, bisa beberapa tahun, bahkan mungkin sampai belasan tahun, apakah kalian siap?” Abah bertanya.
“Kami lama sekali akhirnya bisa memiliki seorang anak, tapi sekarang harus berpisah lagi?” Ibunya mengeluh.
“Jika kalian menitipkannya pada Ayi Mahogra tanah Pasundan, percayalah, dia akan baik-baik saja, begitu dia kembali, dia akan menjadi Bening yang sangat hebat. Baiklah, sementara waktu saya akan mengunci nenek tua itu agar tidak bisa keluar untuk sementara waktu, tapi, ini akan bertahan paling lama satu minggu, Bening harus dibawa ke tempat Ayi secepatnya.” Setelah mengatakan itu, Aditia tertunduk.
“Bah.” Alka memanggil, karena setelah lima menit Abah hanya tertunduk menutup mata.
“Ya, Ka? Kenapa? mana Beningnya?”
“Oh, udah balik, yaudah nanti gue ceritain lagi selanjutnya ya, yang penting gimana Pak Sukandar? Bu? Kalian harus memutuskan secepatnya.” Alka bertanya.
“Saya percaya Mbak Alka, saya titip anak saya.” Pak Sukandar yang seorang lelaki menangis, dia memabayangkan terpisah dari anaknya.
“Ada apa sih?” Aditia bertanya.
“ Khodamlu masuk tadi, dia bilang kita mesti bawa Bening ke Ayi, kata Khodam lu, dia yang bisa bantu Bening kendaliin kemampuannya, nanti yang pergi Aditia sama Ganding aja ya, Hartino sama Jarni nggak usah.”
“Kok elu nggak ikut, Ka?” Aditia protes.
“Alka ketemu Ayi? Bisa jadi perang dunia ketiga.” Ganding berkata, Semua tertawa, Aditia heran, ada apa memang sampai Alka tidak bisa bertemu Ayi, itu dalam fikiran Aditia.
“Dit, Abah Wangsa tahun sering masuk?” Alka bertanya.
“Nggak, cuma pas pertama kali aja, sisanya dalam mimpi.” Aditia menjawab.
“Kemungkinan Abah dari tahun yang sama ya ama Ratu Harum Amanasih Karuhun Bening itu. Soalnya Abah berani banget, Ratu itu juga kelihatan lebih tenang saat bertemu Abah.”
“Aap? Ratu Amanasih? Lah itu istrinya!” Aditia tertawa.
“Hah?! Serius lu, kok kayak nggak akur gitu?” Alka bertanya. Sementara orang tua Bening sedang menyiapkan keperluan Bening untuk pergi ke tempat Ayi.
“Ratu tetap Fasik sampai akhir, sementara Abah Wangsa sudah memeluk islam, mereka berpisah karena berbeda keyakinan.”
“Oh, pantas nggak akur.”
“Jadi Karuhunnya Bening itu istrinya Abah, reunan dong tadi.” Aditia tertawa.
“Bisa dibilang begitu.”
__ADS_1
“Eh, kenapa emang lu nggak bisa ke tempat Ayi?” Aditia bertanya lagi.
Alka terdiam, dia lalu menggeleng dan pergi keluar, dia tidak ingin menjawab sepertinya.