
"Ranti bilang sakit, dia kesakitan, kau tidak mendengarnya? Kalian semua berniat menyakitinya kan? Sebenarnya kalian yang ingin mencelakai Ranti bukan? Kalian ingin menumbalkannya untuk kekayaan! Aku takkan biarkan kalian menyentuh istriku lagi!"
“Kau bicara apa Pak? Kekayaan? Tumbal?!” Ganding sedikit berteriak karena bingung, itu membuat semua orang bangun.
“Ada apa?” Aditia bertanya pada Ganding, semua mendekati Ganding, sementara Imran masih di depan pintu kamar Ranti.
“Dia ingin ke kamar Ibu Ranti, aku mencegahnya, dia lalu marah dan bilang kalau kita akan menumbalkan Ibu Ranti untuk kekayaan.”
Aditia tertawa, mengingat betapa kayanya mereka semua.
“Pak, kalau kami ingin kaya dengan menggunakan jin, kami tidak perlu tumbal, kami bisa memerintah mereka yang takut pada keberadaan kami, tapi tujuan kami bukan uang Pak, kami ingin menolong.”
“Wisik ala, bisikan buruk dari ruh yang marah.” Alka menjelaskan, “di membisiki suaminya Ranti dari jauh, kemungkinan semua anggota keluarga bisa kena.”
“Kelelahan dan stress, membuat manusia lemah, dalam keadaan terlemahnya, manusia mudah dibodohi. Saat ini semua anggota keluarga sedang lelah dan stress, kita harus waspada.” Ganding menambahkan.
Alka mengeluarkan cambuknya, Aditia keris dan Jarni tentu mengeluarkan semua ular-ular kecilnya.
Ganding langsung menangkap Imran, Jarni berlari naik ke lantai atas, dia melihat ayah dan ibu mertua Ranti menatap kosong di kamar, sementar Giska anak balita Ranti masih tertidur nyenyak, Jarni buru-buru menggendong Giska dan berlari keluar, semua anggota keluarga dalam pengaruh bisikan buruk, mereka bisa dikendalikan oleh ruh Lani dari dalam kamar. Ruh yang bisa menggunakan ilmu ini hanya ruh yang perlahan berubah menjadi iblis.
Seorang ibu bahkan bisa berubah menjadi iblis jika dipisahkan dengan anaknya, Alka mengubah rencana, dia tidak bisa menunggu besok pagi, bisa bahaya, Lani bisa saja akhirnya keluar dari tubuh Ranti dan membawa ikut serta ruh Ranti, sementara semua orang menghalangi Alka dan yang lain membantu mereka karena bisikan buruk itu.
“Ka, mau kemana?” Aditia bertanya.
Jarni, pegang Giska dan jangan sampai lengah, Adit, masuk ke kamar Ibu Ranti, pastikan dia baik-baik saja, kau harus mengunci pintunya dari dalam, Hartino dan Ganding, halau anggota keluarga yang memaksa masuk, mereka semua tidak sadar.” Alka memerintah, semua orang bersiap pada apa yang harus dilakukan.
Alka keluar dan mengunci pintu itu dari luar, dia berlari lalu mengetuk pintu rumah seseorang, ini sudah sangat larut malam, tapi dia harus melakukan ini, terpaksa.
“Ada apa ya?” Ibunya Lani yang membukakan pintu, Alka langsung memegang kepala ibunya Lani dan memberi perintah, “berikan anak Lani padaku.” Rupanya Alka melakukan gendam pada ibunya Lani.
Tatapan ibu itu lalu kosong, dia menuju sebuah kamar, masuk ke kamar itu dan keluar membawa anak Balita Lani yang masih tertidur, ada seorang pria yang keluar dia kaget melihat Alka menggendong anaknya Lani, dia berlari menghampiri Alka dan bermaksud mengambil anak itu dari Alka, tapi dengan sigap, Alka menepis tangannya, memegang kepala pria itu dan memberikan perintah, “Tidurlah dan bangun setelah aku perintahkan.” Sepertinya lelaki itu adalah suaminya Lani, Alka terpaksa menidurkan ibu dan juga suaminya Lani, ini adalah jalan pintas yang harus Alka lakukan, dia takut terlambat kalau besok membawa bayi ini.
Setelah itu, dia keluar rumah, mengunci pintu rumah ibunya Lani dan bergegas berlari membawa anaknya Lani, anak itu terlihat mulai tidak nyaman, karena takut anak itu menangis kencang karena merasa dibawa oleh orang asing, Alka terpaksa menidurkannya dengan proses yang sama seperti dilakukan pada nenek dan ayahnya. Kalau anaknya Lani yang berumur tiga tahun ini sampai menangis dan warga mendengar, Alka bisa dihakimi massa dan disangka penculik.
Saat sudah sampai rumah Imran lagi, Alka masuk rumah keadaan sudah porak poranda, ternyata semua orang seperti kesetanan, Ganding dan Hartino tampak kelelahan menghadapi keluarga Imran, Jarni masih terus menggendong Giska.
“Kak! Itu anaknya Lani di … gendam?!” Jarni berteriak ketika Alka mendekatinya dengan membawa anak Lani.
“Terpaksa, aku tidak mau menimbulkan keributan di jalanan tadi.”
“Kak, mereka akan menghukummu! Kau melakukan hal yang fatal!” Jarni bergetar melihat itu.
__ADS_1
L
“Aku tahu, tapi keluarga ini lebih penting.” Alka lalu masuk ke kamar Ranti bersama Jarni dengan dua anak balita berumur sama, pintu dikunci lagi dari dalam, kamar tidak kalah berantakannya, Aditia terlihat sedang bersandar di dinding, wajahnya memar di beberapa bagian, sementara Ranti sedang merayap di tembok, tubuhnya hampir melepuh hitam sempurna.
Ranti yang sedang kerasukan melihat balita yang dibawa Alka, langsung loncat menghampiri Alka, Jarni buru-buru membuat lingkaran perlindungan, Ranti yang kerasukan itu terpental karena lingkaran itu.
Aditia berlari masuk ke lingkaran itu, mereka bertiga dengan dua balita berlindung dulu, sementara Ranti masih terus menyerang, dia terlihat hampir gila melihat anaknya dipegang oleh Alka.
“Kalau kau tidak mau tenang, aku akan menjatuhkan anakmu, mau lihat dia jatuh” Alka yang tadinya menggendong anaknya Lani, kini hanya memegang kakinya, anaknya Lani masih tertidur.
“Kak!” Jarni berteriak tertahan melihat Alka melakukan ini, dia sungguh nekat melakukan itu semua, Alka tetap mengancam Lani yang ada di tubuh Ranti.
“Lepaskan anakku!” Ranti terus terpental karna mencoba mendekati lingkaran perlindungan itu.
“Aku tidak sedang mengancammu, tenang lah, kalau tidak aku akan benar-benar menjatuhkan anak ini.” Alka kembali membujuk.
Sementara itu dia memberi kode kepada Aditia dan Jarni, kalau Lani terbujuk, mereka harus segera mengambil tubuh Ranti.
“Lepaskan anakku, lepaskan!!!” Ranti berteriak dan menangis dalam waktu bersamaan, tangisnya sungguh menyayat hati, tangis seorang ibu yang takut anaknya terluka.
“Tenang dan keluar dari tubuh itu, aku takkan melukai anakmu, tapi kalau kau masih bersikeras, maka kau akan melihatnya jatuh dan mungkin saja terluka.”
Alka melihat moment ini sebagai moment tepat untuk membuat Lani keluar dari tubuh Ranti.
Alka melepas pengangan pada anaknya Lani, karena itu, anak itu meluncur bebas ke bawah, bagian kepalanya akan duluan meluncur ke lantai, saat itu garis perlindungan Jarni telah dihapus tanpa disadari oleh Lani, tepat sebelum kepala bayi itu menghantam lantai, Jarni yang menggendong Giska dan Aditia berlari ke arah tubuh Ranti, ketika itu juga Lani keluar dari tubuh Ranti dan berusaha meraih bayinya, Ranti jatuh lunglai, Jarni buru-buru membuat garis perlindungan untuk melindungi Ranti, Aditia dan Giska.
Lani yang berusaha menangkap anaknya agar tidak jatuh ke lantai, tidak berhasil dia hanya ruh, tentu dia tidak bisa memegan anaknya, semua berteriak karena yakin anaknya Lani akan jatuh ke lantai dengan bagian kepala akan langsung menghantam lantai, karena Alka mengangkatnya tinggi sekali sebelum menjatuhkan anak itu.
Tapi mereka salah, ternyata Alka sudah melilitkan cambuk ghaibnya di kaki anak itu, sehingga detik di mana kepala itu akan menghantam lantai, cambuk Alka menahan tubuh itu meluncur ke lantai, anaknya Lani masih tertidur dengan nyenyak, tanpa merasakan apa yang terjadi.
Lani melihat itu menangis terisak, dia sadar, bahwa tidak mampu menggendong anaknya lagi, karena dirinya hanya ruh yang tidak terima takdir.
"Aku tahu bahwa akan sulit bagimu menerima perpisahan berat ini, tapi ingat bahkan tubuhmu saja milik Tuhan, apalagi seorang anak." Alka memulai pembicaraan, walau telah lepas dari tubuh Ranti, mengajaknya 'pulang' adalah masalah lain.
"Aku hanya ingin bersamanya, dia menangis terus, dia butuh aku." Ruh Lani masih terduduk, dia memandang anaknya dengan wajah sendu.
"Kenapa kau mau mencelakai Ranti?" Aditia bertanya, dia masih di garis perlindungan.
"Aku membencinya, karena Ranti mirip denganku."
"Apa maksudmu?" Aditia bingung.
__ADS_1
"Dia bekerja hingga larut, meninggalkan anak diurus oleh ibu mertuanya, dia terus bekerja tanpa memikirkan anaknya, seolah dia akan hidup selamanya, sementara anaknya pasti sangat menginginkan dia berada di dekatnya, tapi selalu kecewa karena Ranti sinuk kerja hingga lembur, aku ingin Ranti merasakan apa yang aku rasakan, sakit lalu akhirnya kehilangan anak, aku fikir waktuku panjang, jika anakku rindu kelak aku bisa bermain bersamanya, tapi saat kau tiada, kau akan tahu, bahwa waktumu hanyalah sekejap, aku menyesal tapi semua percuma!" Lani mengemukakan alasannya.
"Nasib orang berbeda-beda Lani, kau tidak bisa menghakiminya, yang perlu kau lakukan saat ini adalah menerima takdirmu. Takdir yang Tuhan sudah tentukan." Alka mengingatkan.
"Pulanglah Lani, anakmu aman, dia pasti bangga karena memiliki ibu sepertimu, ayah dan neneknya akan menjaga anakmu dengan baik, ketika dewasa dia akan menjadi anak yang hebat, sekarang sudah waktunya kau pulang, urusanmu di dunia ini sudah selesai." Aditia berkata dan keluar dari pagar perlindungan.
Lani pasrah, sebelum dibawa Aditia dia melihat anaknya yang masih tertidur dipelukan Alka, ruh itu menangis dan mencoba menggapai anaknya.
"Kau ingin menggendongnya?" Alka bertanya.
Lani mengangguk.
"Masuklah ke dalam tubuhku, aku akan membiarkanmu menggendongnya untuk beberapa saat." Alka mengizinkan Lani masuk ke tubuhnya, karena Alka bisa mengendalikan ruh yang dia izinkan masuk, dengan begini Lani bisa menggendong anaknya untuk yang terakhir kali.
Setelah masuk ke tubuh Alka, Lani bisa merasakan tubuh anaknya yang sedang digendong oleh tubuh Alka.
"Anak cantik Mama, tidur yang nyenyak ya, Mama akan selalu mendoakanmu dari sana, jadi anak baik dan bisa membanggakan papa dan nenek ya." Lani dalam tubuh Alka mengecup kening anaknya dan leluar dari tubuh Alka, sementara Aditia mengantarnya keluar, semua orang terlihat terkapar di luar, sepertinya Ganding dan Hartino lelah menahan keluarga Ranti, Aditia tidak bisa meminta tolong untuk ditemani, akhirnya Aditia membawa ruh Lani itu sendirian dengan angkotnya.
"Kak, kembalikan anak itu cepat, hapus gendamnya, sebelum mereka tahu, kau akan dihukuk berat, ini perbuatan fatal, kau tahu kan?" Jarni dan Alka masih di kmar Ranti, anak-anak dibaringkan di tempat tidur bersama Ranti, Ranti masih belum bangun, dia mungkin kelelahan, sudah berhari-hari tidak tidur.
"Mereka sudah tau, aku akan terima konsekuensinya." Alka menggendong kembali anak Lani dan hendak ke luar.
"Kak, tapi pemimpin yang akan menghukummu adalah orang itu, dia dengan tegas mengatakan, bahwa jika dia melihatmu lagi, dia akan menghabisimu." Jarni menahan langkah Alka.
"Rasa sakitnya kehilangan orang yang dia sayang tidak merubah sikap adilnya, percayalah."
"Aku takut kau akan dihukuk berat."
"Kau akan hadapi, fokus saja pada kesembuhan Ranti." Alka lalu keluar, dia akan ke rumah Ibunya Lani, membangunkan mereka semua dan diam-diam pergi.
Sementara Ganding dan Hartino membawa kembali semua anggota keluarga ke kamar atas, setelahnya mereka semua istirahat, mereka kelelahan.
Alka terus berjalan kembali menuju rumah Ranti, tapi tiba-tiba langkahnya tertahan, dua sosok berselendang hijau persis seperti pengawal menatapnya tajam.
"Baik, aku akan ikut, tidak bisakag aku berpamitan dulu pada keluargaku?" Alka memohon.
Para pengawal berselendang hijau itu menggeleng, Alka dibawa paksa, walau sebenarnya dia tidak melawan, tapi dia diperlakukan seperti seorang tahanan yang melakukan kejahatan berat.
Jarni, Ganding, Hartino dan Aditia tidak tahu bahwa Alka sudah dibawa untuk diadili atas perbuatannya, Alka takut, karena jika berhadapan dengannya Alka tahu, cepat atau lambat dia akan dihabisi, sosoknya yang begitu kuat dan kepribadiannya yang hebat, membuat Alka selalu gemetar saat berhadapan dengannya.
Bagaimana bisa dia merasa takut dan kagum dalam waktu bersamaan, tapi itulah yang terjadi.
__ADS_1