Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 494 : Nyebrang 26


__ADS_3

“Aku tetap kesal kau memukul tengkukku, jangan kau pikir aku diam karena kau tak cerita tentang membuat tempat itu dengan ayahku dan paman, aku selalu lemah terhadapmu Bah, semua ada batasan, ingat ini, aku tuanmu!” Aditia menatap Abah dengan mata menyalang, Abah diam dan duduk lalu meminta maaf, Kharisma Jagat bukanlah tuan yang menyenangkan jika marah dan Karuhun harus tunduk jika tuannya marah, kawanan maklum, melihat Alka bebak belur dan kawanan juga sama babak belurnya, Aditia pasti sangat marah, dia adalah pemimpin anak buahnya tak dapat dia jaga sama saja tak becus jadi pemimpin.


Aditia lalu keluar dari rumah Aep, dia sangat marah dan perlu untuk menyalurkan kemarahannya, dia pergi sejenak keluar dari rumah itu.


Alka lalu mendekati Abah, “Terima kasih Bah, tapi kau tahu kan, kalau perbuatanmu, akan mencoreng nama kita, bagaimana kalau Ayi dengar, dia akan mendatangkan pasukan Ayi untuk menghabisi dukun itu, bukankah pantang baginya nama Kharisma Jagat dinodai? Pasti berita itu akan menyebar, aku tahu kau hanya ingin melindungi kami, tapi kali ini tindakanmu salah.”


Alka lalu mengejar kekasih hatinya, yang belum benar-benar bisa dia anggap kekasih sungguhan.


“Apa tidak terlalu kasar berkata begitu pada Karuhun tuamu?” Alka sudah bisa menyusul Aditia, dia masih dalam keadaan babak belur, tapi cepat sembuh karena dia kan setengah jin, berbeda dengan yang lain.


“Kau harusnya istirahat, kenapa malah mengejarku?” Aditia jadi lembut, tatapannya juga hangat.


“Tidak masalah, mereka hanya memukulku, kau tahu kan, tangan manusia itu tidak sekeras tangan kami yang setengah-setengah ini.”


“Tapi wajahmu babak belur, wajah itu aset untuk wanita.”


“Aku tidak perlu itu, kau juga tahu dengan jelas, wajahku cantik paripurna.” Alka bergaya centil, hanya agar Aditia lebih melunak, Aditia tertawa mendengar itu.


“Kau memang cantik paripurna kok.” Aditia mengacak rambut Alka dan wajahnya masih terlihat memar.


Lalu mereka berdua kembali lagi ke rumah Aep.


“Paman, siapa wanita itu?” Aditia bertanya pada pamannya.


“Dia adalah anak dukun, dukun musuh kakekmu, kakekmu dulu juga mengalahkanya dengan merebut Sabdah Zaid dan menaruhnya di dalam tubuhku, aku perlu waktu lama untuk beradaptasi.


Nama ayahnya adalah Aki Hagir, dia sudah sangat tua bahkan ketika itu usia ayahku masih sekitar 50an tahun, sedang Hagir, dia sudah hampir 90 tahun.


Dia adalah orang yang sangat berilmu tinggi, konon katanya ilmu yang paling handal dia miliki adalah Ajian Rawa Rontek. Ilmu itu menyamai kemampuan Si Pitung dalam ilmu kebal dan sulit dibunuh.


Sayang Aki Hagir menggunakan ilmu itu untuk membuat para iblis mengabdi padanya, dia ingin menguasai ranah perdukunan agar bisa mendapatkan kekuasaan yang tidak terhingga.


Makanya dia punya banyak musuh, juga punya banyak anak buah, seperti ayahku, dia juga akhirnya diburu oleh Kharisma Jagat dengan kelas yang tinggi, tentu takkan pernah membuatnya bisa lolos.


Akhirnya dia kalah dengan ditangkapnya Sabdah Zaid, karena sabdah adalah jin peliharaan dengan umur terlama dan juga tubuh yang sangat besar.


Apakah kau tahu betapa menderitanya aku ketika dia masuk ke dalam tubuhku untuk pertama kalinya, lalu perlahan kami benar-benar mulai menyatu, dia kemarin bahkan melawan wanita itu tanpa ragu.”


“Paman, Abah, apakah ada yang kalian sembunyikan dariku hingga kalian begitu banyak diam. Kau sudah tahu kan siapa musuh kita sedari awal?” Aditia menghardik paman dan Karuhunnya.


“Baiklah Aditia, aku akan jelaskan semuanya dari awal, pertama, Mulyana tidak pernah menulis di buku itu tentang desa ini, kalian boleh cek sekarang, tulisan itu pasti sudah tak ada.”


Aditia berlari ke angkotnya dan mengambil buku bapak, dia membawa buku itu dan menunjukkan halaman di mana mereka terakhir melihat tulisan, perhatikan sawahnya jangan jalannya disertai alamat.


“Sudah tak ada tulisan tentang desa ini.” Aditia menjawab pertanyaan Paman Aep.


“Karena bukan Mulyana yang menulisnya, tapi aku.”


Kawanan terlihat kesal mendengarnya.


“Maaf, aku terpaksa menulisnya karena aku butuh kalian untuk membantuku menutup lubang di jalan persawahan itu.”


“Kau bisa menelponku Paman! Kenapa kau harus gunakan cara yang rumit begini?” Aditia protes.


“Kan aku ceritanya sudah mati.”


“Lalu kenapa kau tak bertahan untuk pura-pura mati selamanya saja?” Aditia bertanya, bukan karena menyumpahi, tapi karena memang bingung.


“Karena aku melihat kalian menyelesaikan kasus tanpa arah, aku tidak punya waktu banyak lagi, makanya aku segera menemui kalian, walau beresiko banyak dukun yang tahu keberadaanku dan babak pertarungan dengan dukun akan terjadi lagi.”


“Baiklah, itu masuk akal.”


“Aku tidak berbohong pada kalian.” Paman Aep memang tidak berbohong, tapi dia menyembunyikan sesuatu.


“Sekarang kita mesti apa?”


“Bertarung tentu saja, kita akan memenangkan pertarungan di lain waktu, sekarang? Istirahat, teman-temanmu sudah babak belur, jangan menambah memar di wajah mereka.”


“Paman!!!” Kawanan kesal, karena Paman masih saja bercanda.



“Apa kalian sudah menyebarkan berita itu, tentang kelompok mereka yang kalah?” Dukun wanita itu bertanya.


“Tentu saja kami sudah memberitahu kepada dukun seantero negeri ini, aku juga menambahi telah menendang bokong para Kharisma Jagat itu.”


“Oh, jadi mereka semua Kharisma jagat?” Dukun wanita itu terlihat sangat senang dengan berita itu, dia merasa dirinya sudah tenar melampaui ayahnya, padahal, bahkan kemenangan itu berasal dari kelicikan.


“Kita juga harus tetap waspada, mereka pasti datang lagi, tapi dibanding kita menunggu … bagaimana kalau kita menyerang mereka duluan?” Dukun wanita itu menjadi lebih serakah dan jumawa dalam waktu bersamaan, serakah dengan kemenangan semu dan jumawa karena merasa telah menang pada pertarungan sebelumnya.


Bagi dukun itu, kecurangan yang mereka lakukan adalah teknik berperang yang boleh dibanggakan, bukan sebuah perbuatan tidak adil. Tindakan mereka sama saja dengan pengecut.

__ADS_1


“Kalau kau ingin menyerang langsung, mereka sekarang berada di rumah Aep, rumah dulu yang selalu kita serang dengan bola api itu.”


“Maka cara yang sama kita akan lakukan.”


“Mengirim bola api?”


“Tidak … menabur fitnah, itu sungguh menyenangkan, kala aku melakukan itu, memberitahu mereka, bahwa Aep punya hubungan dengan istrinya Eman, aku suka warga bahkan membencinya, sebelum akhirnya dia akan diusir, si Eman sialan malah membelanya.”


“Kau sekarang mau memberitahu warga bahwa Eman masih hidup?” Anak buah dukun wanita itu bertanya.


“Tidaklah, mereka bisa melepaskan diri dari fitnah itu, sekarang aku akan menggunakan cara lain yang akan membuat Aep merasakan apa yang aku rasakan.”


“Wah, aku benar-benar takjub padamu, kau begitu pintar dalam memfitnah orang.”


“Ini namanya taktik, taktik peperangan, aku memang handal.”


Hanya orang bodoh yang berani berbuat curang dalam pertarungan dan merasa dirnya hebat.



“Pak, gimana mereka? Sudah baikan?” Istrinya Eman bertanya pada Eman yang barus aja masuk ke rumah, dia dari rumah Aep, waktu menunjukkan pukul 9 malam.


“Sudah baikan kok, kau lelah? Wajahmu pucat sekali.” Eman bertanya pada istrinya.


“Iya, beberapa hari ini aku terlalu banyak khawatir, jadinya aku kelelahan.”


“Yasudah, sini aku pijiti.” Eman memang selalu baik pada istrinya yang akhir-akhir ini sakit-sakitan.


Dia dan istrinya lalu masuk kamar, Eman memijiti istrinya dengan lembut sembari bercerita.


“Kau kuat sekali mendampingiku, terima kasih ya.”


“Kang, tentu saja aku kuat mendampingimu, kau orang baik.”


Eman terus memijiti istrinya dan ….


“Hei! Apa yang kalian lakukan!!!” Ada suara seorang lelaki yang berteriak di depan kamar Eman, Istrinya kaget lalu dia terkejut, ada … ada dua Eman yang dia lihat, Eman yang sedang memijatnya dan Eman yang ada di depan pintu kamar, Eman yang di depan pintu kamar terlihat sangat marah, hingga merah padamlah wajahnya.


“Aku, si-siapa kau!” Istrinya berteriak pada Eman yang ada di depan pintu, dia berteriak sangat kencang karena bingung.


“Aku suamimu, kau siapa! Kau ….”


“Maaf Man, maaf, aku tak dapat menahan hasrat.” Lalu orang yang menjadi Eman itu berubah wujud menjadi Aep dan berlari melewati Eman lalu ke luar rumah untuk kembali ke rumahnya.


“Apa yang kau lakukan dengan istriku, apa yang kau lakukan dengan istriku di kamar itu.” Eman berteriak di muka Aep, sementara yang lain bingung apa yang terjadi.


“Wak, kau kenapa?” Ganding bertanya, dia menahan tangan Wak Eman untuk memukul lagi karena dia tak ingin Aep membalas, jika Aep membalas, Wak Eman bisa langsung kritis.


“Jangan kau banyak bicara, apa yang kau lakukan dengan istriku barusan? Kenapa kau malah menyamar menjadi aku!” Eman tidak dapat berpikir dengan jernih karena dia sungguh melihat dengan mata kepalanya sendiri, Aep ke kamarnya dan menggerayangi istrinya.


“Kau tenang dulu Eman, kenapa kau begini padaku, ada apa, jelaskan!”


“Apakah jin itu mengubahmu? Dulu kau juga kasar padaku, padahal kau orang yang tidak pernah kasar, jin itu merubahmu bukan? kau mau tubuh istriku? Lewati dulu mayatku!” Eman lalu meninju Aep, dia terus meninjunya, Aep tak membalas, hingga kawanan harus melerai, secara terpaksa Aditia harus membuat Eman tidur dulu, karena dia tidak bisa ditenangkan, entah apa yang membuatnya kalap seperti ini.


Saat Eman sudah ditidurkan, istrinya datang dan menangis sambil berkata, “Dia adalah sahabatmu, kenapa kau melakukan itu Aep.” Istrinya menangis sambil memukul badan Aep.


“Aku tidak paham, ada apa!” Aep akhirnya berteriak, wajahnya sudah berdarah karena pukulan Eman.


“Ada apa! kau sengaja bersikap seolah tak ada apa-apa kan! kau malu pada keponakanmu sendiri dan membuat kami seolah salah, padahal kau menyusup ke rumahku, menyamar sebagai suamiku dan memijat tubuhku, kau menyentuh tubuhku dengan tanganmu busukmu! Kau itu  tak ada bedanya dengan dukun-dukun itu. Sama-sama busuk, pantas kau banyak musuhnya.”


Lalu istrinya Eman membangunkan suaminya dan menarik suaminya kembali ke rumah, tanpa meminta penjelasan sama sekali.


“Mereka bilang apa Paman? Kau menyusup ke rumahnya dan menyentuh tubuh istrinya Wak Eman? Tapi kan ... kau dari tadi bersama kami.”


“Pasti kerjaan dukun wanita itu, dia pasti menyuruh salah satu anteknya untuk menyamar, pasti ada yang memiliki ilmu sama denganku, bisa merubah wujud! Brengsek! Mereka tahu caranya menjatuhkanku dengan orang yang aku sangat hormati dan sayangi.”


“Kalau begitu, ayo kita ke rumah Wak Eman dan jelaskan.” Ganding geram mendengar itu.


“Tidak, jangan, ada baiknya dia menjauh sementara, agar tidak menjadi korban lagi, kita harus fokus memusnahkan dukun itu.”


“Kau difitnah lagi, haruskah kau diam lagi?” Aditia bertanya dengan kesal.


“Biarkanlah, jika dia sahabatku, begitu marahnya reda, dia akan berpikir ulang, kalau dia tak berpikir ulang, maka bagus untuknya jauh dariku.”


Aep terbiasa kehilangan banyak orang dalam hidupnya dia tak akan pernah mau kehilangan lagi, tapi ... saat ini dia tak bisa mempertahankan siapapun kalau dukun wanita itu masih ada, mereka takkan membunuhnya, karena bisa masuk penjara, mereka akan buat dia kehilangan ilmu seperti ayahnya, dia akan menjadi gila, bagus kalau nggak bunuh diri seperti ayahnya.


Kawanan mulai mengatur rencana, mereka sudah siap, ini sudah cukup malam agar mereka bisa muali melancarkan rencana.


Pintu itu pasti masih dibuka, kawanan hendak menerobos masuk lewat jalan persawahan, tapi sayang saat mereka hendak berjalan ke sana, tiba-tiba ada beberapa bola api melayang dia atas kepala mereka.


“Awas!” Aditia menarik tubuh Alka, hampir saja bola api itu mengenai tubuh Alka.

__ADS_1


“Kerjaan dukun itu, api adalah khas mereka.


Aep lalu melakukan kuda-kuda, ada banyak sekali bola api datang, Jarni berlari berputar, dia berputar seluas bola api itu datang dan menciptakan pagar agar tak banyak yang bisa melihat dan datang ke tempat itu, tempat arena pertarungan.


Aep lalu mulai melayang dan menendang satu persatu bola api itu kembali ke asalnya, tentu ... bola api itu sangat panas di kaki Aep, tapi Aep telah banyak belajar ilmu baru untuk bisa menandingi wanita dukun yang kelakuannya mirip iblis.


Aditia dan yang lain juga mencoba menghalau bola api yang datang bersautan, mereka menggunakan senjata untuk menangkap bola api yang terbang dengan kecepatan tinggi untuk menghantam tubuh mereka.


Mereka terus menghalaunya hingga tibalah saat nya bola api itu berkurang dan semakin lama semakin menghilang.


“Mereka melakukan peperangan terlebih dahulu, mereka tahu kalau jebakan tadi tak menyurutkan niatmu untuk menghajar dukun wanita itu.” Aditia tahu tujuan fitnah itu adalah untuk memecah konsentrasi, tapi tidak berhasil, karena Aep lebih ingin dukun itu segera dikalahkan.


“Kita harus ke jalan itu segera, ayolah.” Aep berkata dengan keras agar yang lain menuruti dan tidak lagi berfokus pada api saja.


Mereka lalu masuk ke zona gelap itu dan mulai mencari lubangnya agar bisa ke tempat kemarin kawanan disekap dan dihajar.


Tapi saat mereka masih mencari, ada begitu banyak jin yang menghadang.


“Oh tidak, lagi-lagi jin dengan ajian Rawa Rontek!” Hartino mengeluh, karena melelahkan sekali kalau sampai harus menebas leher mereka dan menangkap kepalanya, seperti main bola saja.


“Paman! Serius harus menghabisi mereka dengan botol lagi?”


“Tentu saja, ayo jangan mengeluh anak-anak muda!”


“Wak Eman mulai menebas satu persatu kepala jin itu dan membuat kepalanya harus ditangkap lalu dimasukkan ke dalam botol, hingga tubuh mereka musnah.


Satu jin, dua, tiga, empat, lima, 10 dan hingga belasan, setelah selesai, mereka semua ngos-ngosan.


“Tahu kan, habis ini mereka akan lakukan apa?” Eman bertanya.


“Batu racun, mereka akan melempari kita dengan batu racun, karena memang hal sepele yang mematikan itu yang mereka punya, dasar dukun rendahan, bermodal kebohongan dan kelicikan mencoba menipu banyak orang.


Aditia dan yang lain mengeluarkan senjata, melepas kain hijau, Karembo pusaka pemberian sang Ratu Kharisma Jagat, lalu menyelimuti tubuh mereka dengan karembo tersebut, Paman tidak punya, dia iri, tapi dia berlindung kepada kawanan, karena di moment ini dia tak punya senjata selain berlindung, kawanan mengeliling dengan membelakanginya, dia berada di tengah agar tak tertimpuk batu racun itu.


Mereka berjalan masih dengan formasi melingkar, berlari dengan formasi seperti itu agak sulit, tapi harus dilakukan.


Akhirnya benar saja, batu racun itu mulai menghadang mereka, batu itu terbang dari segala arah mencoba menghantam tubuh kawanan agar luka yang disebabkan hantaman itu, mampu membaut racun yang diolesi di batu masuk ke dalam tubuh dan membuat kawanan, stroke sesaat.


Tapi gagal, kawanan langsung menaikkan Karembo Hejo Ayi Mahogra, menaikkannya sampai kepala, hingga semua orang terlindungi dari lemparan itu, sebagai gantinya, begitu batu menyentuh Karembo Hejo, batu itu mental ke segala arah dan banyak yang tumbang karena ternyata lontaran mentalnya sampai juga pada anak buah dukun itu, hingga merekalah yang akhirnya kena senjata sendiri, ini baru namanya senjata makan tuan.


Setelah batu itu mental kembali saat dilempar ke arah kawanan, anak buah dukun kocar-kacir, mereka berlarian karena batu itu seperti mengejar mereka, teman-temannya yang tumbang tak bsia bergerak.


Memastikan tak ada lagi lemparan, mereka melilitkan kembali Karembo Hejo di senjata lalu mulai mencari lagi bolongan untuk sampai ke tempat dukun itu lagi.


Mereka terus mencari, tak berpencar hanya terus mencari dan akhirnya ....


“Kau tidak perlu mencariku, bagaimana kalau kita bertarung di tempat yang istimewa ini. Tempat yang dulu adikmu buat untuk mengurung jin-jinku, sekarang malah jadi daerah jajahanku.


Sedang kau, hanya mampu kabur dan pura-pura mati, apakah Mulyana juga pura-pura mati sepertimu? Kakak beradik yang pengecut!”


Aditia naik pitam, dia mengeluarkan tombaknya, melempar tombak itu, sayang meleset, ada anak jin yang melindungi dukun itu dan tombaknya ditepis tepat waktu sebelum sampai ke ubun-ubunnya.


Yang lain mulai menyerang, mereka bertarung dengan adil kali ini.


Aep mengeluarkan Sabdah, bahkan semua khodam dikeluarkan kecuali Alka yang tidak punya Khodam. Mereka butuh banyak orang untuk menghajar.


Dukun wanita itu mengincar Aep, begitu juga Aep, dia mengincar dukun itu, Aep menyerang terus, wanita itu melakukan pertahanan karena Aep membabi buta, dia menggunakan banyak ilmu yang dia pelajari selama masa pura-pura mati, dia merapal mantra dan melepaskan tenaga dalam.


Terus tanpa berhenti, hingga akhirnya dukun wanita itu tak lagi mampu menahan dan dadanya kena tenaga dalam itu, persis seperti yang dibidik oleh Aep, dia mengincar jantung dukun ilmu hitam wanita itu.


Dukun itu jatuh, muntah darah, anak buah yang melihatnya langsung ketakutan, karena mereka juga babak belur, kawanan ternyata sangat brutal menghajar mereka, tidak seperti hari sebelumnya saat mereka dihajar karena tak berdaya.


“Menyerahlah wanita sundal, kau sudah kalah ....”


“Aku beritahu padamu, anak Mulyana! Pamanmu tidak sebaik yang terlihat, dia dan keluarganya ....”


Aep merapal mantra tanpa ketahuan oleh kawanan yang fokus pada perkataan dukun itu, lalu membidik kepalanya, seketika dukun itu diam dan menatap kosong, lalu mulai tertawa seperti orang gila.


“Dia bicara apa Paman?” Aditia bertanya.


“Kau percaya pada wanita licik ini, dia hanya sedang mencoba untuk memecah kita seperti yang dia lakukan pada Eman dan istrinya.”


“Ya, itu masuk akal, sudahlah, sekarang kita keluarkan mereka dan mulai membatalkan mantra di zona gelap ini, agar tempat ini menjadi aman.” Alka berkata dengan lega.


_______________________________


Catatan Penulis :


Kemarin ada yang tanya kenapa harus menyamar menjadi Wak Eman? agar aku punya plot untuk naskah part ini, heheehhehehe.


Lalu soal dukun itu, aku tidak lagi main tebak-tebakan loh, aku sudah kasih tahu jawabannya, kalau dia musuh ayahnya Mulyana dan Aep, Aki Hagir, kok kalian malah nebak-nebak, ini tuh ada di part-part awal Nyebrang, nggak jauh, kok malah pada main tebak-tebakan, orang udah aku jawab. Berarti kalian kurang fokus nih gara-gara crazy up.

__ADS_1


Jangan gitu lagi yaaaaa.


__ADS_2