
Tahun 1997
Seorang anak yang sangat tampan lahir dalam keluarga yang sederhana.
Mulyana masih berjaga di depan rumah sakit, dia tidak bisa melihat kelahiran anaknya dikarenakan harus menjaga di luar sini. Beruntung ada Dirga, dia akan mengadzankan anaknya begitu lahir, istrinya juga tidak boleh tahu kalau dia tidak menunggu di luar dan bukan dirinya yang mengadzankan anaknya.
Sepuluh orang Kharisma Jagat yang berjaga juga sudah bersiap. Ada lima titik di sekeliling rumah sakit ini yang dijaga oleh mereka.
Mulyana berkomunikasi dengan sekutunya itu melalui khodam mereka, mengingat belum ada telepon genggam saat itu.
[Serangannya gila sih Yan,] ucap salah seorang Kharisma Jagat. Dia berkata melalui batin yang disampaikan kepada khodam tujuan.
[Masih bisa ditahan?] Mulyana bertanya melalui batinnya juga sebagai jawaban.
[Berat tapi bisa, anak gue lahir elu yang semua yang jaga. Nggak akan gue nyerah, sampe titik darah penghabisan Yan,] ucap salah seorang Kharisma Jagat.
Mulyana tiba-tiba menerima serangan timah panas yang berbentuk bola sebesar bola kasti, dengan sigap Mulyana menghalau timah panas itu dengan keris mininya.
Beberapa kena tangan dan membuat tangannya nyeri karena rasa panas.
[Yan, gue kewalahan! ada yang bisa ke sini nggak, Raja Maung Putih, dateng bawa pasukan!]
[Seperti dugaanku, tidak mungkin kalau tidak ada campur tangan mereka! aku akan ke sana timah panas bisa dihalau oleh pagar ghaib yang aku buat.]
Mulyana menghampiri salah satu Kharisma Jagat yang meminta bantuan.
"Perisai Jimbat dengan tembang kekal. Selama ini masih maung jantan, tidak akan pernah menolak tembang kekal." Mulyana begitu sampai ke lokasi yang perlu bantuan langsung menyuruhnya membuat perisai jimbat, perisai yang membuat maung akan tertipu seolah melihat para sinden menari dengan tembang kekal. Tembang yang hanya Kharisma Jagat dengan kelas tertinggi saja yang mampu menyanyikannya, tembang itu akan membuat musuh berhalusinasi seolah arena pertempuran adalah tempat hajatan.
Setiap maung atau karuhun berbentuk maung adalah jin yang menyerupai macan, jin itu umumnya berumur ratusan tahun, walau sudah tua tembang indah dan perempuan cantik pastilah tidak akan mampu maung jantan lewatkan.
"Berapa lama mereka akan tertipu begini?" Pasukan maung putih yang berjumlah belasan hanya terdiam asik dengan tembang dan penari itu.
"Entahlah, kalau tuannya sadar dan mereka dipanggil, tentu maung akan tersadar, karena bagi Karuhun tuannya adalah perintah yang harus dipatuhi."
Mulyana menjawab dengan wajah khawatir.
"Kita tidak mungkin membunuh mereka, karena mereka karuhun Kharisma Jagat seperti kita."
"Ya, aku tahu itu, sebabnya kita hanya bisa menahan saja, tidak bisa menyerang balik." Mulyana masih khawatir.
Anaknya harus lagir dengan selamat, dia tidak mau anaknya bernasib seperti kawannya yang lain. Semua Kharisma Jagat yang membantunya hampir semua pernah kehilangan janin anaknya saat istri mereka hamil. Kebanyakan janin itu gugur atau bahkan menghilang ketika masih berumur satu sampai tiga bulan.
Mulyana tahu, resiko menikah dengan wanita biasa yang bukan seorang Kharisma Jagat juga akan membuat hidupnya berantakan karena katanya itu adalah hukuman karena tidak menikah dengan jodoh adat mereka.
Mulyana percaya itu seperti Kharisma Jagat yang lainnya juga percayai. Lalu kenapa Mulyana dan kawan-kawannya masih saja menikah dengan orang di luar jodoh adat mereka?
Cinta dan takdir tentu saja, Mulyana tidak bisa menikah dengan wanita lain selain wanita yang sudah dia sukai begitu lama itu, walau dia begitu ketakutan, tapi cintanya pada wanita yang ternyata berbalas juga, membuatnya berani melawan.
Mungkin itu juga menjadi alasan teman-temannya Mulyana berani menikahi orang diluar jodoh adat mereka.
" Yan, kita tidak akan bisa terus menghalau mereka, bisa jadi ada yang lolos, kita harus menyembunyikannya, di tempat yang paling aman."
"Dimana? tidak ada tempat paling aman kalau musuh kita banyak."
__ADS_1
Mulyana bingung, dalam hatinya ketakutan bahwa apa yang Mudha Praya katakan tentang para iblis dan jin jahat yang akan mengambil anaknya benar.
Kharisma Jagat diharuskan menikahi jodoh adatnya adalah agar anaknya menjadi Kharisma Jagat yang sempurna, ketika ada jin atau iblis yang menganggu atau lebih buruk lagi, suami dan istri serta anak yang merupakan keluarga Kharisma Jagat sempurna karena berasal dari darah jodoh adat akan mampu menghalau musuh.
Tapi jika pernikahan itu melanggar jodoh adat, maka yang berjuang hanya salah satu pihak saja.
Seperti Mulyana saat ini, dia berjuang sendirian, bahkan istrinya tidak pernah tahu siapa sebenarnya Mulyana.
Bahwa Mulyana adalah keturunan orang kaya raya berdarah biru garis kerajaan Kharisma Jagat, sehingga nilai kekayaannya berlaku baik di dunia manusia dna dunia jin.
Mulyana memilih membohongi istrinya untuk keselamatn bersama. Dia takut kalau istrinya tahu, dia tidak mampu mendidik anak dan istrinya dengan baik.
Mulyana telah banyak melihat kekayaan punya lebih banyak efek buruk dibanding baiknya bagi yang tidak siap.
Seperti keluarganya yang tidak henti saling menghabisi untuk kekuasaan dan kekayaan.
Beruntung Mulyana memilik istri yang sangat baik, tidak mengeluh walau uang belanja cukup saja, tidak menuntut rumah dan baju yang mewah. Istrinya bahkan membantu ekonomi keluarga dengan berdagang kue basah yang dititipkan ke kantin sekolah.
Mulyana bahagia, keluarga sederhananya menjadi keluarga yng sangat bahagia.
Hingga akhirnya istrinya hamil, Mulyana mati-matian setiap malam menahan serangan dari sana-sini, agar janin di dalam rahim istrinya bisa selamat dan sehat.
Mulyana tidak berharap janin itu menjadi janin Kharisma Jagat juga, dia hanya berharap janin itu selamat dan sehat selalu dari mulai hidup di dalam rahim hingga hidup di dunia ini.
Keinginan tang cukup besar ternyata.
"Yan, ini pasti kiriman Mudha Praya, Mung Putih karuhun Khas Kharisma Jagat tinggi, minta bantuan Ibu Ratu," teman Kharisma Jagatnya mengusulkan.
"Tidak mungkin, Mudha Praya dan kita adalah sekutu, walau Ibu Rati tahu mungkin ada yang salah dengan pernikahan jodoh adat ini, tapi dia tidak boleh memihak, itu akan membuat dunia ghaib goyah, dia butuh aku dan juga Mudha Praya, aku tak mau membuatnya kesulitan. Dia terlalu banyak membantuku." Mulyana menolak usulan itu.
Mulyana berpikir sebentar lalu mulai mantap menceritakan solusi gila apa yang akan dia lakukan.
"Mungkin ini terlalu dini, tapi jika dilakukan, tidak akan ada yang berani menyentuh anakku. Karena sesama Kharisma Jagat harus slaing menjaga."
"Aku tidak suka dengan solusi ini, itu akan melemahkanmu." Teman Kharisma Jagatnya berkata dengan suara yang lemah.
"Aku tahu, tapi yang paling sulit adalah perang saudara, melawan iblis dan jin jahat aku pasti mampu, tapi melawan saudara sesama Kharisma Jagat aku pasti kalah. Aku tidak punya banyak sekutu, ilmuku tinggi tapi Mudha Praya lebih tinggi dan para Tetua juga sudah berumur dengan Karuhun berumur ratusan tahun. Maka cara ini yang terbaik."
"Kau akan kesulitan menjalankan tugasmu mengantar ruh tersesat itu jika melakukannya."
"Aku akan menyerahkan tugas itu juga kelak jika anakku sudah cukup umur."
"Bagaimana jika dia bukan? apakah dia mampu menanggungnya?"
"Lebih baik dia ketakutan daripada tidak selamat," Mulyana menjawab.
"Mewariskan Karuhun pada anak yang baru lahir itu gila!" Teman Kharisma Jagatnya kesal, karena Mulyana sepertinya sudah bertekad.
"Aku harus melakukannya sebelum maung putih ini tersadar, aku mohon bantu aku." Mulyana sangat berharap semua orang setuju dengan rencananya, karena semua Kharisma Jagat disana tahu apa yang dibicarakan melalui komunikasi batin.
Mulyana berlari masuk ke rumah sakit lagi, Dirga juga sudah memberitahu bahwa anaknya telah lahir.
Begitu sampai ke ruang bersalin Mulyana menemui Dirga.
__ADS_1
"Udah gue adzanin, sekarang udah aman?"
Walau Dirga tidak terlalu paham masalah yang dihadapi Mulyana, tapi dia yakin itu pasti untuk menjaga keluarganya.
"Belum, gimana caranya gue bawa anak gue keluar dari sini?"
"Hah? nggak bisa! gila lu! anak lu ada di ruang perawatan anak. Banyak suster yang jaga."
"Kita culik."
"Yan! itu anak lu, masa kita nyulik anak lu sendiri, nanti bini lu denger anaknya ilang, bisa kena serangan jantung dia."
"Sembarangan ngomong. kita culik aman, jangan banyak nanya. Yuk." Mulyana menarik tangan Dirga.
Mereka menuju ruang perawatan anak, dia melihat ada dua Suster jaga."
"Sus mau lihat anak boleh?" tanya Mulyana.
"Sudah malam Pak, besok lagi ya." Suster itu menjawab.
Mulyana membuka salah satu tangannya hingga telapak tangan itu berhadapan dengan Suster. Dia membacakan mantra yang membuat Suster itu terdiam.
Gendam, Mulyana terpaksa harus melakukannya, orang dengan ilmu rendah melakukan gendam dengan sentuhan atau tepukan. Tapi Kharisma Jagat hanya perlu membuat ya rgetnya fokus pada tangan lalu memasukkan mantra pengunci pada pikiriannya.
"Lu apain tuh dua Suster?" tanya Dirga.
"Gue gendam, terpaksa. Kita harus cepat, karena aku harus membuat anak ini menjadi Kharisma Jagat secara resmi secepatnya."
"Hah? maksudnya?"
"Dirga, yuk. Gue jelasin selanjutnya, anak ini harus segera diberikan perisai."
Mulyana dan Dirga pergi ke suatu tempat, suatu tempat sakral yang akan menjadi tempat melakukan ritual pewarisan Kharisma Jagat dari ayah ke anaknya.
Seharusnya ritual ini dilakukan setelah Mulyana meninggal, tapi Mulyana melakukan langkah gila dan nekat, dia akan menyerahkan Karuhunnya tepat setelah anaknya lahir.
Satu-satunya cara yang Mulyana yakin bisa membuat anaknya bisa terlindungi baik dari saudara Kharisma Jagatnya yang hendak memberantas Pernikahan diluar jodoh adat dan dari musuh sebenarnya iblis dan jin yang jahat.
"Yan, anak lu laper kali nih nangis mulu."
"Tenang, bayi bisa bertahan dua hari tanpa asupan, kita cuma pinjam dia beberapa jam."
"Yan, lu bapak paling gila yang pernah gue kenal."
"Emang ada orang paling gila yang lu kenal selain gue?"
"Ya nggak ada sih."
"Yaudah, bantuin ya, gue butuh lu Dirga karena gue harus keluarin paksa Karuhun gue."
"Iya gue bantuin."
Tengah malam semakin gelap, suasana tempat ritual semakin mencekam. Serangan tidak terasa karena tempat ini sudah adalah markas yang belum benar-benar rampung. Dari luar markas ini terlihat tanah kosong, tapi bagi Mulyana dan yang dia ijinkan, tempat ini akan terlihat bangunan yang kokoh, bangunan tak kasat mata untuk semua benda pusaka dan juga banyak kitab perjanjian.
__ADS_1
Kelak Alka akan menjadi pemegang kunci markas itu.