
Margayu sudah disekap di botol kaca, mereka semua kembali ke gua, Aditia ikut, dia yang paling penasaran, kenapa dia tidak ingat, kenapa dia pingsan dan dia mulai curiga ....
“Kenapa aku tidak ingat apa-apa dan tiba-tiba ada di kamar itu, aku baru sadar saat Ganding menepuk bahuku.”
“Itu ....” Ganding meminta bantuan Alka.
“Boleh aku menjelaskan secara struktural Dit? Karena kalian pasti bingung, kenapa aku dua hari ini sibuk membuat ramuan dan tahu kalau ada Eyang Imah di kamar itu, jiwanya Eyang Imah yang disekap.”
“Ya, silahkan.” Aditia mengalah.
“Saat aku masuk ke kamar itu pertama kali, aku mencium bau melati, samar, tapi aku tahu, itu bukan energi milik Margayu, sedikit curiga bahwa dia mempertahankan kamar dan keris itu bukan hanya karena kenangan, tapi karena kekasihnya memang ada di sana.
Kecurigaanku ternyata benar, saat aku berbincang dengan Margayu, aku sadar, selain pagar, dia juga membuat ruang ilusi untuk orang yang masuk, orang-orang yang bisa melihat ‘mereka’ jadi tidak peka saat masuk ruang ilusi itu, beruntung aku memiliki tubuh setengah jin dan setengah manusia, sehingga aku menjadi lebih peka.
Karena itu aku tahu, dia takkan mudah menyerahkan Ramdan dan juga Eyang Imah kalau aku menyerangnya, kemungkinan mereka yang disekap akan semakin dalam bahaya.
Aku mulai menjebaknya, meminta waktu dua hari untuk membuat ramuan, ramuan itu yang akan menjadi tipuan baginya.”
“Ramuan apa? kenapa dia bisa tertipu dengan ramuan itu?” Aditia bertanya, semua orang terlihat pucat, kecuali Alka.
“Itu adalah ramuan cinta, ramuan itu bisa membuat orang yang tidak mencintai kita, akan mencintai kita.”
“Ok, lalu apa hubungannya denganmu membuat ramuan itu?” Aditia bertanya lagi.
“Aku membohonginya, karena tidak mungkin melakukan kekerasan, maka kau memakai jalur yang kami bangsa jin biasa gunakan, tipu daya.”
“Apa yang kau tipukan padanya?”
“Ramuan cinta itu. Ide ini muncul saat Margayu bertanya padaku apakah aku mencintai seseorang dan orang itu tidak mencintaiku?” Alka mengarang, karena yang sebenarnya terjadi adalah, Margayu tahu, kalau Alka kena Lanjo, tapi ceritanya dibelokkan agar Aditia tetap tidak tahu tentang jati diri Alka dan Lanjonya.
“Lalu?” Aditia berdebar, dia sudah menebak kalau Alka akan mengatakan hal yang membuat jantungnya akan copot.
“Aku berbohong padanya, bahwa aku mencintaimu dan ingin agar kau menjadi kekasihku, makanya kami membuat perjanjian.
Perjanjiannya adalah, aku buat ramuan, lalu dia akan ajarkan mantranya, jadi ketika perjanjiannya begini, ketika mantra itu aku ucapkan setelah diajari Margayu, kau akan aku minumkan ramuannya, lalu setelah itu kau akan menjadi budakku seperti Eyang Imah menjadi budak Margayu.
Aku sengaja tidak memberitahu kalian, karena Margayu itu jin tua, dia penuh curiga dan jauh lebih pintar dari kita semua, kalau sampai dia curiga, kita akan kehilangan Ramdan dan juga Eyang Imah, makanya aku sengaja menipu kalian agar kalian gegabah dan melakukan hal yang salah.
Dan kalian semua terjebak, sesuai ekspektasiku, kalian memang selalu bisa diandalkan.
Kalian semua menyerang Margayu, Margayu makin percaya bahwa aku telah melakukan perjanjian dengannya dan bermaksud meninggalkan kalian, dia percaya karena kalian menyerangnya sacara membabi buta, karena takut aku melakuan perjanjian itu.
Lihat kan? ketika kau memintanya membuka pagar ghaib dan mengucapkan mantra, dia mengucapkannya dengan lantang tanpa curiga, semua kondisi itu aku butuhkan agar Margayu benar-benar terjebak.”
“Dan akhirnya kau meminumkan ramuan itu!” Aditia terlihat marah.
“Tidak, tentu saja tidak, kakakku bukan orang seperti itu aslinya.” Ganding membela kakaknya.
__ADS_1
“Boleh aku lanjutkan? Atau mau berkelahi dulu?” Alka kesal karena selalu diinterupsi.
Semua orang mengangguk.
“Aku ingin Margayu mengucapkan mantranya, makanya aku menunda diajarkan mantra itu hingga aku siap dengan ramuannya, bukan kau Dit, itu hanya tipu daya yang aku persiapkan, makanya aku menggunakan dirimu agar kau tidak banyak tanya. Karena tujuanku adalah, Margayu mengucapkan mantra itu dan aku meminum ramuannya, dengan begitu, maka tuan dari Margayu berpindah, dari Eyang Imah, menjadi diriku, aku akan menjadi tuan Margayu.”
“Kau gila! dengan kata lain, saat ini kau menjadi tergila-gila pada Margayu kan!” Aditia kesal, takut Alka menjadi tergila-gila pada Margayu.
“Tentu saja tidak, aku punya penawarnya ditubuhku, penawar mantra seperti itu.” Alka mengedipkan mata pada Ganding, Ganding mengerti, penawar itu adalah Lanjo yang tidak bisa disebutkan di depan Aditia.
“Kau punya penawar semacam itu?” Aditia kembali bingung.
“Tentu saja, aku ini jin dan juga manusia, perpaduan epik bukan?”
“Lalu apakah benar, kau tidak tergila-gila pada Margayu?”
“Tidak Dit, aku tidak tergila-gila padanya, tenang saja.”
“Ya aku hanya takut kau jatuh cinta dengan cara yang salah, cinta macam apa yang dikendalikan oleh sebuah mantra atau apapun itu, dia tidak bisa menggunakan penyakit Lanjonya sebagai alasan untuk mengendalikan tuannya, karena cinta itu adalah cinta paling busuk yang pernah aku dengar, cinta yang menjijikan.”
Alka tercekat mendengarnya, sakit sekali hatinya mendengar Aditia mengatakan itu. Jujur, sedikit terbesit dihatinya kemarin itu ketika Margayu menawarkan perjanjian, walau akhirnya amanah Mulyana selalu menang.
Alka merasa Aditia telah memberitahunya bahwa, Lanjonya tidak akan pernah diterima oleh Aditia kelak jika dia tahu.
“Kak, lanjut cerita.” Ganding berusaha mengalihkan fokus Alka atas perkataan Aditia barusan, semua orang tahu, Alka pasti sakit hati.
“Kalau begitu, ayo kita keluarkan Margayu.” Aditia meminta Jarni mengeluarkan Margayu dari botol kayu.
Setelah dia keluar dari botol kayu, Margayu di ikat dengan ikatan ghaib yang cukup kencang dan menyakitkan.
“Lepaskan aku, kalian tidak punya tatak krama. Sekumpulan anak muda yang tidak punya etika.” Margayu masih saja angkuh.
“Di mana Ramdan?” Aditia bertanya dengan dingin.
“Oh, kau pemuda yang ....” Aditia menusukkan keris mininya pada dada Margayu, dia menjerit kesakitan, kali ini investigasi menjadi lebih mengerikan, Aditia kesal karena Margayu telah membuat Alka meminum ramuan itu, kalau ternyata benar Alka tergila-gila pada Margayu, maka kemungkinan Aditia membunuh Margayu sangat besar.
“Aku tidak akan memberitahu kalian!”
“Kalau begitu kau akan merasakan siksaan lebih pergih lagi.” Ganding dan Hartino mengeluarkan senjatanya, Lais tidak mau kalah, Jarni bersiap dengan ular mininya.
Mereka mulai menyiksa jin jahat itu.
Setelah berjam-jam penyiksaan, akhirnya Margayu menyerah, dia memberitahu lokasi di mana Ramdan disembunyikan. Dia juga memohon untuk dilepaskan. Tapi Alka tidak mau mengambil resiko, Margayu akan dititipkan di Akademi Kharisma Jagat milik Ayi, di sana memang ada penjara bagi Karuhun atau Khodam yang jahat seperti ini.
Mengingat markas mereka bahkan belum mulai dibangun, proyek di mana Ramdan pegang dan dia keburu sakit. Markas itu kelak akan menjadi tempat mereka menyelesaikan masalah, Gua Alka terasa kecil dan mereka memang butuh ruang yang lebih banyak untuk menjadi cabang dari Akademi Kharisma Jagat, salah satu permintaan Ayi yang Alka ingin penuhi segera. Makanya mereka butuh markas itu segera dibangun.
“Jadi ... selama ini dia ada di sini?” Alka dan Aditia saja yang pergi untuk menyelamatkan Ramdan membawa Margayu untuk membuka pintu masuk ke ruang ilusi yang dia buat.
__ADS_1
“Ya, betul di sini Dit.”
“Lalu bagaimana mungkin kita tidak sadar dia ada di sini selama ini?”
“Dit, ini ruang ilusi yang dibuat oleh Margayu, tidak seperti Eyang Imah, dia bukan jiwa, tapi tubuh, makanya aku tidak bisa mencium baunya, kaupun tertipu karena Margayu memang spesiali pembuat ruang ilusi, bukan dunia lain, seperti yang Ayi bisa buat, tapi ini berada di dunia kita, tapi dia buat hijab bagi ruang di dunia kita, sehingga tak ada yang bisa melihat tampilan asli dari ruang itu walau berada di dunia yang sama seperti kita.”
“Oh pantas kita tak menyadarinya.”
“Jadi ada apa? apakah Ramdan sudah ketemu?” Seseorang menyambut Aditia dan Alka.
“Ya, ayo.” Aditia meminta orang itu mengantar mereka dan akhirnya sampai di tempat tujuan.
“Kenapa di sini? di sini kosong.” Orang itu bertanya.
Alka memberi aba-aba pada Margayu untuk membuka ruang ilusi itu, menjadi ruang yang sebenarnya, bukan ruang ilusi lagi.
Ruang kosong itu berubah, tadinya ruang itu kosong, tiba-tiba ada seorang pemuda yang berbaring di kasur kamar itu.
“Ramdan!” Deny temannya yang tadi menyambut Alka dan bingung dengan kedatangan mereka buru-buru berlari dan mendekati Ramdan yang sudah berbaring di tempat tidur kamar indekosnya. Ramdan juga terlihat mulai bergerak, tidak lagi tertidur dalam keadaan melotot.
Ya, selama ini Margayu ternyata tidak membawa Ramdan kemana-mana, dia hanya menutupi tubuh Ramdan dengan hijab ruang ilusi, ini tipu daya yang sering digunakan oleh jin untuk menculik anak manusia.
Hal yang tidak bisa ditebak oleh Alka, karena ketidakmampuannya dalam mencium bau Ramdan seperti mencium bau jiwa Eyang Imah kemarin itu.
“Gue kenapa Den, kok kepala gue sakit banget ya?” Ramdan terlihat bingung setelah bangun dengan sempurna.
“Jangan bangun dulu.” Aditia menidurkan kembali Ramdan, dia merapal doa dan membersihkan Ramdan dari energi hitam milik Margayu, karena akan ada efeknya kalau sampai energi itu tidak diberihkan, orang sekarnag menyebutnya sawan.
“Bagaimana mungkin kami tidak sadar kalau Ramdan ada di sini selama ini?” Deny bingung.
“Tidak semua hal bisa dijelaskan, yang perlu kalian tahu adalah, terkadang petuah itu, perlu untuk didengar, Ramdan, ini bisa jadi pelajaran untukmu, lain kali kalau kau melihat benda pusaka, jangan langsung tergoda ingin memilikinya, karena bisa jadi ada petuah yang diamanatkan untuk benda pusaka itu.
Kau kena balanya karena berani mengambil benda pusaka seenaknya. Walau kau telah mendapat izin dari Pak Suteja, tapi bukan dia pemilik keris itu, dia hanya diwariskan, tapi tidak benar-benar memilikinya.” Aditia memberi wejangan yang cukup panjang setelah membersihkan energi jahat dari tubuh Ramdan.
“Iya Pak, terima kasih karena sudah membantu, tapi ... kalian ini siapa?” Ramdan terlihat bingung, Deny akhirnya menjelaskan, Alka dan Aditia pamit pulang, mereka akan ke AKJ, menyerahkan Margayu untuk sementara waktu ke tempat Ayi, sampai markas mereka selesai.
Selama perjalanan, Aditia ingin membicarakan sesuatu, dia sangat terganggu dengan pertanyaan ini, dalam pikirannya, mumpung berdua dengan Alka.
“Ka, kenapa kau kemarin memilihku untuk menjadi orang yang akan kau berikan ramuan, walau itu tipuan, tapi aku merasa aneh, kenapa kau tidak pilih yang lain?” Aditia langsung pada maksudnya.
“Karena Margayu tahu perasaan Ganding ke Jarni, dia bisa merasakannya, lalu perasaan Hartino kepada kekasihnya, sementara dia tidak bisa merasakan perasaan kita berdua, kita kan tidak seperti Ganding dan Jarni.” Alka berbohong. Tentu saja Aditia targetnya, karena Margayu tahu kalau Alka kena Lanjo karena menjadi Karuhun Aditia, dia merasakannya.
“Oh begitu, mungkin dia juga tahu apa yang aku rasakan padamu, makanya dia tidak curiga.”
“Dit!” Alka kesal, Aditia masih sempat saja merayu.
“Tapi kalau aku diberikan ramuan itu, aku akan sangat marah, karena cintaku padamu, bukan karena ramuan itu, tapi benar-benar aku rasakan.” Aditia dengan sungguh-sungguh mengatakannya walau sedang menyetir.
__ADS_1
“Jangan bicara cinta terlalu cepat, kau tidak bisa tahu, apakah itu benar dari hatimu, atau hanya karena kondisi dan situasi, berhenti bicara bodoh tentang cinta, kawanan selamanya adalah keluarga, mengerti!” Alka mengeluarkan sifat dominannya, dia tidak mau sampai Lanjonya kambuh lagi, bisa bahaya, karena menahan Lanjo itu sungguh sangat menyakitkan bagi Alka.