
“Semua siap!” Aditia memberi aba-aba, Alisha bersama Rangdanya bersiap, dia sudah tak sabar ingin berkelahi dengan wanita sok cantik ini yang mengklaim dirinya adalah Dewi tapi berkelakuan iblis.
Alisha memimpin peperangan, sebagai Ratunya para Leak, tentu perkelahian dengan makhluk mitologi setempat adalah keahliannya sebagai pemilik khodam Rangda.
Aditia memanggil Abah dan yang lain juga memanggil khodamnya.
Mereka mengeluarkan senjata. Jarni mengeluarkan seluruh ular mininya, pupil mata Jarni berubah menjadi hitam dengan bentuk menyerupai ular, selama ini dia mempelajari ilmu merubah wujud dari Alka, karena hanya Jarni yang khodamnya berbentuk binatang, tapi belum pernah dikeluarkan karena takut masih belum mahir mengendalikannya.
Tapi saat ini dia merasa perlu mengeluarkan kemampuan.
"Bah, bisakah kita menggunakan tombak ini untuk berkelahi?" Aditia bertanya.
"Kau mungkin tidak biasa, tapi aku mahir. Karena umur tombak ini lebih lama dari kerismu."
Abah masuk ke dalam tubuh Aditia agar mampu menggunakan tombak itu sebagai senjata.
Sedang Ganding dan Hartino bersiap dengan senjata galaknya, senjata yang tidak boleh masuk sebelum mendapatkan darah dari para makhluk ghaib.
Rangda dengan Alisha sudah mulai menyerang, sementara Dewi itu keluar dengan bentuk aslinya.
Dia merubah wujud menjadi seorang Rhaksasi, atau Raksasa yang sangat besar. Wajahnya sudah tak cantik lagi, tubuhnya kekar berotot dengan ukuran 5 kali manusia, rambutnya masih tetap panjang menjuntai.
Dia menggunakan rambut itu untuk menyerang antek-antek Rangda yang berukuran normal. Dia menyabet dan menangkap antek itu dengan helaian rambut bak akar pohon yang sangat tebal.
Rangda dalam tubuh Alisha murka melihat anteknya dihabisi, dia berlari, bukan berlari! Lebih tepatnya melesat, dia lalu melayang ke arah wajah Dewi iblis itu, Alisha tiba-tiba memiliki cakar yang sangat panjang dan tajam.
Begitu tiba di hadapan Dewi iblis itu, dia langsung mencakar wajahnya, menancapkan kuku tangan sebelah kanan sedalam yang dia mampu. Lalu mencakar kuku tangan sebelah kiri pada matanya.
Aditia dan sisa pasukan mengerubuti tubuhnya, mulai dari kaki, tangan, perut, dada hingga leher dan membiarkan bagian wajah dikuasai Rangda dalam tubuh Alisha.
Dewi itu merasa kesakitan, rambut-rambut yang telah menawan antek Rangda telah lepas karena Rangda kesakitan.
Tangan raksasanya mencoba untuk menarik semua makhluk yang mengeroyok, tapi secepat apapun dia berusaha melepas para makhluk dan kawanan kembali mengerubuti tubuh Dewi iblis itu.
Alisha masih terus menancapkan kukunya pada wajah Dewi iblis itu. Rambut Dewi iblis itu mulai menyabet semua sosok yang menempel pada tubuhnya, sementara tangannya menangkap tubuh Alisha yang masih tidak bisa dilepas karena kukunya tertancap dengan dalam.
Dewi iblis berteriak karena mulai merasa kesakitan, sedang suasana di tempat itu sangat bising, ada suara nyanyian dari Gregek Tunggek, dia sibuk menghajar Dewi iblis itu sembari bernyanyi dengan sangat riang dan darah menghiasi seluruh tubuhnya.
Rangda dalam tubuh Alisha berhasil membuat mata Dewi itu buta, setelah matanya buta satu, Alisha beralih ke mata sebelah kirinya, kuku tangan yang menancap pada wajah Dewi segera dilepas, karena kuku itu menjadi cara agar tubuhnya bisa tetap kuat dan ajeg saat berusaha mencakar mata Dewi.
Dia beralih ke mata kirinya, kembali menancapkan kuku yang tajam pada wajah sebelah kiri Dewi.
Setelah kukunya yang sangat panjang menancap ke wajah itu, dia mulai mencakar mata kirinya lagi.
Gerakan Alisha persis seperti pendaki tebing dengan alat cakar baja tajam yang ditancapkan ke tebing untuk menahan tubuh saat naik.
Maka alat cakar bajanya adalah kuku Alisha yang sangat tajam. Sementara tubuhnya bergelantung dengan kukunya, dia juga mencakar mata Dewi iblis dengan brutal, begitu mata ini buta juga, maka dia pasti akan rubuh.
Maka Alisha dengan sekuat tenaga masih saja terus menancapkan kukunya dan juga mencakar mata Dewi.
Ketika akhirnya berhasil, Sang Dewi mulai rubuh, dia jatuh ke arah depan. Semua makhluk yang berada di depannya mengambil ancang-ancang untuk lompat dan meninggalkan tubuh yang hendak rubuh itu.
Alisha ditarik oleh Hartino, suaminya sadar, Alisha mulai menikmati penyiksaan yang dia lakukan pada Dewi tanpa sadar bahwa Sang Dewi sudah gampir tumbang.
Saat tumbang, akhirnya tubuh Sang Dewi menyusut, dia menyusut dan kembali ke tubuh normalnya.
Saat itu Aditia buru-buru mengambil jiwa Dewi tersebut dan memasukkannya ke dalam botol kaca. Karena untuk sejenis jin, bukan jiwa tersesat, tidak ada tempat kembali, karena mereka kekal sampai akhir jaman.
__ADS_1
Setelah Sang Dewi tumbang, Sak Gede yang sebelumnya terlelap, entah terlelap berapa ya lama, terbangun.
Dia yang bingung dengan keberadaan dirinya lalu melihat ke arah Aditia.
"Kau yang datang dalam mimpiku bukan?" Aditia menegurnya.
"Aku yang menciptakan mimpi itu, aku meminta bantuanmu untuk menolong."
"Menolongmu?" Hartino yang bertanya.
"Bukan, para jiwa yang ditahan, dalam tidurku, terkadang aku terbangun saat melihat wanita itu mengambil energi dari jiwa yang hampir musnah itu.
Wanita yang ... aku cintai. Aku pikir kami bisa beranak pinak dan melestarikan tarian magis di Pulau Dewata ini. Tapi ternyata aku salah, setelah aku bersama, dia menjadikan orang-orang yang mengikat janji denganku sebagai tumbalnya.
Makanya ketika aku merasakan kehadiran kalian di atas sana, aku mengirim mimpi itu.
Mimpi saat ibunya Anggih menari, di dalam tubuh itu aku menari. Sedang saat dia ditarik, itu adalah saat wanita iblis itu meminta tumbal."
"Kau membiarkan wanita itu mengambil tumbal atas orang-orang yang percaya padamu?!" Alisha kesal mendengarnya.
"Aku tertipu, aku pikir karena nenek moyangnya adalah seorang Dewi Kali, maka dia akan memiliki budi pekerti yang mirip, tapi aku lupa, bahwa dalam setiap keturunan, maka akan ada satu benih yang busuk. Tak beruntung aku, mendapatkan benih tersebut.
Dia menidurkanku setelah berhasil mengambil ibunya Anggih, lalu entah apalagi yang dia buat setelahnya, aku hanya terkadang melihat jiwa itu diserap energi olehnya."
"Ayahku mengunci kalian di pura terbalik ini, dia mengunci dengan tombak yang diisi kutukan 5 energi, energiku dan kawanan.
Aku menipu wanita itu dengan mengatakan bahwa ada 6 energi yang membentuk kutukan ini, tapi aku bohong. Hanya agar aku bisa mendapatkan tombaknya dan kalian tetap terkunci kutukan, hingga yak bisa keluar dari pura terbalik ini.
Aku ingin Alisha ikut masuk agar kami bisa mendapatkan bantuan kekuatan dari Rangda yang sekarang menjadi khodamnya.
Semua rencanaku berhasil, sungguh, jika saja tidak ada Alisha dan Rangdanya, kami takkan bisa mengalahkan wanita iblis itu, karena dia sangat kuat."
"Terima kasih karena kau akhirnya bisa memulangkan jiwa-jiwa itu, mereka pasti sudah terperangkap begitu lama di pura ini.
Sedang aku tak bisa berbuat apa-apa."
"Ada yang bisa kau lakukan untuk menebus kesalahanmu." Adi ti a berkata.
"Apa?" Sak Gede bertanya.
Sak Gede dengan tubuh manusia, berkaki singa, serta punggungnya agak bungkuk seperti srigala, kupingnya lancip, bibirnya maju dan bertaring, rambut yang tumbuh di kepala bagian atas dan juga bagian leher, hingga punggung, dia hanya mengenakan kain bermotif kotak-kotak warna hitam dan dasar kain putih sepanjang pinggang hingga lutut. Tangan kanan dan kiri persis seperti manusia tapi dengan ukuran dua kali lipat itu bingung dengan perkataan Aditia.
"Aku datang awalnya hanya untuk menjemputmu. Kau sudah ditunggu oleh Ratu Kharisma Jagat, tapi ternyata kau ditawan, sejak awal kami kira kau yang jahat, tapi ternyata salah, kau hanya terjebak oleh wanita saja." Aditia tertawa.
"Kukira hanya manusia saja yang bisa tertipu oleh wanita, ternyata makhluk halus sepertimu masih bisa tertipu?" Hartino tertawa.
"Har!" Yang lain mengingatkan, karena dia mencemooh seorang makhluk halus dengan umur yang sangat tua.
"Sorry!"
"Ayi Mahogra, aku sudah mendengar namanya sejak lama, tapi bukankah Ayi belum ditemukan orangnya? Namanya hanya ada di kitab ghaib milik Kharisma Jagat?" Sak Gede paham ternyata.
"Kau tahu?"
"Tentu saja, Ratu kalian berdiri di dia alam sejak ribuan tahun lalu, kami pernah mendengar namanya dalam berbagai identitas."
"Dia ingin kau bersamanya, saat ini Ayi sedang membangun tempat yang menampung anak-anak yang istimewa, baik Kharisma Jagat, maupun hanya pemilik khodam untuk dilatih menerima dan akhirnya mengendalikan kemampuan mereka.
__ADS_1
Sepertinya Ayi ingin kau membantunya mengurus mereka, bukankah orang-orang yang melakukan perjanjian denganmu adalah orang-orang yang mahir menari?" Aditia melanjutkan penjelasan dan bertanya.
"Ya, aku melakukan perjanjian dengan mereka, aku memberikan mereka energi magis agar dapat menari dengan jauh lebih hebat, aku mengisi raga mereka dengan energiku."
"Maka dari itu, Ayi ingin kau bersamanya, membantunya menjadi pelatih bagi anak-anak yang diturunkan Khodam penari, para khodam ini pasti akan tunduk pada pelatihanmu. Apa kau tidak keberatan untuk datang ke tempat Ayi?"
"Tentu saja aku bersedia, aku juga sudah tak punya tujuan, karena orang-orangku telah dihabisi oleh wanita itu, dijadikan tumbal.
Maka aku akan pergi ke sana bersama kalian."
"Baiklah, sekarang mari kita batalkan dulu kutukannya." Aditia meminta kawanan untuk membentuk formasi mengumpulkan kekuatan. Semua orang memegang bahu sesuai formasi. Alka telah kembali ke pura itu, dengan wujud manusia agar energi kembali menipis.
Hanya Aditia yang memegang tombak. Setelah kekuatan kawanan terkumpul di tangan Aditia, dia membaca mantra pematah kutukan.
Mantra selesai diucapkan lalu energi tak kasat mata yang membentuk kubah pada pura itu hancur.
Kutukan telah hilang sepenuhnya, Sak Gede dapat keluar dari pura terbalik itu, begitupun dengan Dewi yang sudah mereka kunci di dalam botol kaca, dapat dibawa keluar.
Setelah itu mereka keluar dari pura terbalik, hari sudah pagi, ternyata mereka bertarung semalaman tanpa disadari.
Saat mereka keluar, Jajat terlihat berbicara dengan seorang pria, dia lalu berlari dengan cepat begitu melihat kawanan keluar.
"Kalian tidak apa? Jarni kau ...."
"Hei Bung! Kau mendekat satu langkah lagi, ku cincang tubuhmu." Ganding memperingatkan Jajat yang hendak mendekati Jarni.
"Santai Nding, hanya bertanya."
"Kami baik-baik saja, hanya Alka mungkin sedikit kehilangan energinya."
"Kalian harus ikut pria itu." Jajat berkata.
Aditia melihatnya dan dia terkejut, kenapa dia bisa ada di sini?
"Kalian ikut aku." Pria itu memerintah lalu berjalan, padahal kawanan begitu kelelahan, mereka ingin sekali tidur, tapi perintah pria itu haram untuk dibantah."
"Aku lelah." Alisha mengeluh.
"Kita tak bisa menolak." Hartino memapah istrinya yang sudah kelelahan karena habis-habisan menghajar wanita iblis itu.
"Kita harus ikut." Alka yang dipapah Aditia jalan duluan.
"Vila ini bagaimana?" Jajat bertanya.
"Kau uruslah, nanti akan ada pegawai kami yang bantu. Rubuhkan dan jangan buat bangunan apapun di sini. Biar bagaimanapun, energi negatif di tempat ini terlalu besar." Ganding memberi perintah.
"Baiklah ... oh ya, adiknya Gea sudah ketemu. Dia ada diantara jiwa yang kalian bebaskan dari pura terbalik itu." Jajat memberitahu.
"Syukurlah, memang Dewi laknat itu tidak bisa mendapatkan tumbal lagi kecuali ada yang memberikan, maka adiknya Gea apes sekali punya ipar yang jahat, tega menumbalkannya." Hartino senang mendengarnya, yang lain juga.
"Kita jalan dulu ya, bereskan semuanya."
"Ya, kalian hati-hati dengan pria itu." Jajat berkata dengan sungguh-sungguh, dia khawatir dan iba. Tugas kawanan berat.
"Kita tidak bisa hati-hati dalam tugas ini, Jat." Alisha menjawab, mereka semua lalu berjalan menyusul Aditia dan Alka yang sudah naik mobil van, mobil yang pria itu bawa.
Siapa ya pria itu?
__ADS_1