
Tak lama Aditia menjawab telepon itu.
[Kenapa Ka?] Aditia bertanya di sebrang sana.
[Kau lihat foto yang baru saja dikirim oleh Hartino di HP Alisha.] Alka memerintahkan dan Alisha paham lalu memperlihatkan foto itu.
[Apa kubilang!] Aditia paham maksud Alka.
[Dit, perempuan itu adalah ....]
[Sekarang kita tahu dia siapa! pantas saja kita lemas saat mendekati terowongan ini.] Aditia geram, karena untuk masuk benar-benar akan semakin sulit.
Aditia dan Alka menutup teleponnya, Aditia dan Alisha akan tetap berjaga di tempat itu, karena takut akan ada korban lagi.
Sementara Alka dan Hartino tetap di markas ghaib.
“Ternyata Aditia benar, diantara tumpukan mayat itu ada yang seorang wanita berkerudung hitam, dengan wajah cantik yang mengerikan, matanya putih semua dan seluruh badannya timbul urat hitam, sungguh menakutkan. Dia siapa, Kak?” Hartino penasaran.
“Namanya GANDARWI!”
“Hah, Ratu Gandarwi! Bukankah dia adalah jin tua yang menyekap Aditia di gedung perusahaan terbengkalai itu? ratu jin yang merampas ruh, dia yang membuat Ganding harus masuk ke sana dan ikut tertawan jiwanya, lalu kakak juga membuat khodam Ganding ditumpangkan pada Jarni agar Ganding bisa masuk ke gedung itu, Ganding tidak bisa menyusup ke gedung terbengkalai itu jika masih punya khodam.
Pantas saja aku tidak mengenalinya, karena saat kau dan Jarni masuk ke dimensi mereka dengan tangkapan koordinat khodam Ganding terhadap tubuh Ganding, aku sedang memanggil ambulans dengan Pak Dirga, aku tidak masuk ke sana, pun saat Gandarwi kalian tipu untuk masuk botol, dia langsung masuk tanpa sempat aku lihat.
Sedang Alisha juga belum bergabung. Tapi kenapa Aditia bisa langsung menebak hanya dari perkataan Pak Arif, dia langsung meminta foto itu aku perbaiki kualitasnya.
Lalu, kenapa Jarni tidak memberitahu kita saat menelpon, sebelum dia masuk ke dalam terowongan itu dan dia berteriak minta tolong?”
“Pertama, benar kalau kau belum pernah melihat perempuan ini makanya kau tak sadar ketika foto ini semakin jelas saat kau perbaiki.
Kedua, soal Aditia langsung sadar, kau tidak ingat, Aditia bercerita bahwa tubuhnya semakin hari semakin lemah saat bekerja di sana, hingga akhirnya dia lepas raga, mungkin ada kecurigaan kalau ini ulah ratu itu, Aditia merasakan lemas yang sama seperti dulu sebelum akhirnya jiwa Aditia disekap, ruh atau jiwanya dilemahkan oleh Gandarwi, lalu lepas secara sempurna. Lalu di sinilah Adiita akhirnya yakin dengan kecurigaannya, Pak Arif membantu Aditia meyakinkan diri, ciri-ciri yang disebut itu mirip dengan apa yang Aditia ingat tentang Gandarwi, cantik yang mengerikan, karena hanya Gandarwi yang mampu melakukan itu, mencuri ruh manusia, dulu dia tak sehebat ini saat menangkap jiwa Aditia.
Entah berapa korban yang berhasil dia curi ruhnya, makanya dia sekarang sangat hebat, bahkan mampu menembus pagar ghaib Jarni.
Satu lagi, wujud yang ada di dalam foto itu, adalah wujud Ganita Darwi atau Nita, Aditia dulu memanggilnya Ibu Nita, lalu tersadar Ibu Nita ini adalah seorang ratu jin yang laknat.
Hanya aku yang melihat wujud manusianya.”
“Oh ya, aku ingat, saat itu kita datang ke kantor Aditia untuk berusaha meminta maaf, karena Aditia akhirnya tahu kalau bapak kaya raya dan menyembunyikan identitasnya selama ini dari keluarganya. Saat itu, hanya kau yang turun dari mobil karena melihat Aditia keluar dari kantor bersama seorang wanita, kami melihat sosok wanita itu dari belakang saja, jadi dia Gandarwi yang ada di foto ini?”
“Ya, saat itu aku ingat sekali, aku bilang ingin bicara pada Aditia, tapi Aditia menolak dan malah pergi dengan wanita itu, Gandarwi dalam tubuh manusia, aku sangat ingat wajah wanita brengsek itu, sungguh aku sangat marah ketika Aditia menggandeng tangannya, bagaimana aku lupa wajah itu.
Mungkin hal ini juga yang menjadi alasan Jarni tidak menyebutkan namanya saat terakhir meminta tolong dengan menelpon Aditia, karena Gandarwi tampil dalam wujud manusia, bukan dalam wujud ratu jin yang kami hadapi dulu, Jarni hanya tahu Gandarwi dalam wujud ratu jin, bukan dalam wujud manusia, ini teoriku, ini menyebabkan Jarni akhirnya tidak mengenali perempuan itu sebagai sosok Gandarwi dan tidak menyebut identitas itu sama sekali.
Tapi di antara semua hal ini, satu yang harusnya menjadi pertanyaan besar kita, kenapa dia bisa lolos dari botol? Bukankah kita menaruh botol itu di markas kedua, di gedung besar itu? kenapa dia bisa lolos?”
“Maksudmu, apakah ada penyusup? Kenapa dia bisa lepas? Kapan lepasnya? Sudah berapa lama dia tidak tertawan di botol lagi? lalu siapa penyusupnya?” Hartino bertanya.
__ADS_1
“Itu akan kita ketahui nanti, sekarang kita tahu, cara menangkapnya adalah dengan membuatnya kehilangan kekuatan, menghadirkan 4 kharisma Jagat sebagai refleksi dari 4 penjuru mata angin, dengan 4 Kharisma Jagat yang membaca mantra penghilang kekuatan maka Ratu Gandarwi akan kehilangan kekuatannya, karena dia jin yang menyalahi aturan, haram hukumnya bagi seorang ratu jin menculik ruh atau jiwa, apalagi memakannya.
Kita dulu menipunya hanya agar dia masuk ke dalam botol, kita terlalu banyak kasus hingga lupa kemungkinan dia kabur, jelas ini salah kita.” Alka sedih karena banyak korban yang menjadi santapan Ratu itu, karena dia mencuri ruh-ruh untuk dimakan.
“Dan sekarang aku paham juga Kak, kenapa Ratu Gandarwi itu mengambil Jarni dan Ganding, karena kalau mengambilnya, sekalian dengan khodam mereka, kita tetap tidak bisa masuk ke terowongan itu seperti dulu, karena titik koordinat pintu ghaibnya tidak bisa kita pancing dari khodam ke tuannya, dulu kita mendapatkan titik itu dari Khodam Ganding yang melacak tubuh tuannya. Sekarang kita tidak bisa masuk dengan cara seperti itu.
Lalu kedua, dia juga bisa membalas dendam pada kita, karena dulu berhasil membuat seluruh jiwa tangkapannya bebas, pun membuat dia tertawan di gedung itu sementara waktu.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, sungguh bedabah jin wanita itu!”
“Har, istirahat, kita akan bertarung besok, aku akan mencoba mencari 4 Kharisma Jagat yang kita butuhkan, Aditia takkan masuk ke dalamnya, karena kita tetap harus berjaga apabila ada kejadian tak terduga lagi.
“Ya, aku akan istirahat.” Hartino menurutinya.
...
“Aku menang, jangan lupa peralihan saham itu kita lakukan setelah kasus ini selesai.”
“Bedebah kau! masih ingat teruhan di saat genting ini.”
“Kan lumayan, nanti anak istriku bisa hidup enak dengan saham itu.”
“Kau itu sudah kaya raya ya! dasar serakah!” Alisha menyesal melakukan taruhan itu, lupa kalau yang dia ajak taruhan adalah seorang Kharisma Jagat, “jadi, dia adalah Gandarwi, saat itu aku belum bersama kalian.” Alisha sudah diceritakan oleh Aditia, persis seperti ketika Alka menceritakannya pada Hartino.
“Ya, saat itu, aku benar-benar bodoh, tertipu oleh Ganita Darwi, Gandarwi, bagaimana mungkin aku tidak sadar dan tidak merasakan energi jahat dari tubuh manusia Gandarwi itu, Ratu pencuri ruh itu.”
“Ya, sejak awal aku sudah curiga, begitu sampai ke kota ini, aku langsung mendapat penglihatan, perasaanku tidak enak, ternyata memang Gandarwi telah lolos dari botol itu, insting Kharisma Jagat memang selalu bisa diandalkan, walau terlambat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.” Aditia juga menyesali keterlambatan dalam menyadari lepasnya ratu jin itu, tapi ini takdir yang harus kawanan segera ubah atas seizin Tuhan.
“Dit, Jarni di sana pasti disiksa bukan? kau bilang, dulu ratu jin itu menyerap energi ruh perlahan hingga akhirnay binasa, itu caranya memakan jiwa curiannya, lalu apakah jiwa Jarni masih ada?”
“Masih, aku tahu mereka takkan pernah semudah itu untuk menyerah, seperti dulu Ganding rela masuk dengan menjebak dirinya sendiri, maka aku akan melakukan hal yang sama, apapun aku akan lakukan untuk menyelamatkan mereka, apapun! Karena hidup dan mati bersama, bukankah itu moto kita.”
“Ya Dit, aku juga berharap mereka baik-baik saja.”
...
“Berapa lama lagi kita harus menunggu, sudah terlalu lama bukan? sepertinya teman-temanmu itu sudah lupa kalau temannya ada di dalam terowongan ini.”
“Kan sudah kubilang, tidak usah menunggu, kau yang ingin menunggu bukan?” Ganding yang tangan dan kakinya diikat, sama halnya dengan Jarni juga, terlihat tidak takut.
“Kalian ini sepertinya tidak takut mati ya.” Gandarwi terlihat sangat kesal, Ganding dan Jarni sangat tenang, dia juga sebenarnya ingin sekali menghabisi dua jiwa ini, karena mereka berdua juga yang dulu menjebaknya, tapi dia lebih ingin Aditia dan Alka yang mati duluan, selain itu, jiwa mereka berdua sangatlah lezat bagi Gandarwi, energi yang dihasilkan dari jiwa itu membuat Gandarwi merasa semakin kuat. Maka akhirnya sekarang, Jarni dan Ganding hanya disiksa, dengan cara diserap jiwanya perlahan, itu pasti membuat mereka lemas dan kesakitan.
“Aku heran dengan jin tua sepertimu lalu seperti Ratu Amanasih istri Abah Wangsa, kenapa kalian ini semakin tua semakin brengsek ya kelakuannya? Kalian nih memiliki umur yang panjang, ditangguhkan kematiannya, memang sepertinya tujuan kalian hanya menyesatkan saja bukan?” Ganding hanya ingin tahu, dulu kawanan tidak sempat mengulik kehidupan awal jin ini, sekarang dia ingin tahu, foto dari tahun 50an itu, dimana mayat-mayat bergelimpangan itu ada, apa yang membuatnya menjadi haus ruh atau jiwa.”
“Amanasih? Dia bukan tandinganku, dia hanya wanita bodoh yang menikah dengan pria salah! lalu sekarang dia jadi budak seorang anak kecil dasar tolol!”
“Setidaknya, dia bertobat di tangan Ayi Mahogra, tidak sepertimu, semakin laknat!” Ganding tetap memprovokasi, dia tak ingin kawanan masuk, karena tahu, jin ini benar-benar sangat kuat.
__ADS_1
“Ayi Mahogra, aku ingin merasakan jiwanya, mendapatkan jiwanya pasti menyenangkan bukan? aku mungkin tidak perlu lagi mengambil jiwa lain, karena jiwanya sudah lebih dari cukup sampai akhir hayatku. Apa aku culik saja dia?”
“Kau bahkan takkan mampu menyentuh seujung kuku pun! Ayi terlalu hebat untuk kau dekati.”
“Bocah biadab!” Gandarwi kembali menyiksa Ganding, Jarni terdiam, dia menahan kesal, tak mampu mengeluarkan ular mininya, karena khodam mereka ditidurkan, khodam itu dari golongan jin, tentu wujudnya tak bisa dinikmati oleh Gandarwi, maka menidurkan mereka hanya untuk perlahan menjadikan mereka budak kelak.
“Apa sebenarnya tujuanmu menghabisi orang sebanyak itu, hingga kau tumpuk bagaikan sampah! Kau tak punya hati.” Jarni berbicara, hanya untuk mengalihkannya dan berhenti menyiksa Ganding.
“Kalian kan memang sampah, makanya bangsa kami tak mau bersujud pada nenek moyang kalian! Karena kami lebih tinggi derajatnya!”
“Dan karena itu juga kalian akan masuk neraka!”
“Sok tahu kalian, kalau Tuhan sesayang itu pada kalian, kenapa Dia mengizinkan kami bahkan menangguhkan kematian kami untuk menggoda dan mengganggu kalian! Itu karena Dia juga ingin kau masuk neraka bersama kami.”
Jarni tertawa lalu berbicara lagi, “Kau bodoh atau bagaimana? sudah hidup segitu tuanya, tapi masih tak paham, Tuhan percaya kalau kami takkan tergoda, Tuhan percaya bahwa kami yang diciptakan ini mampu melawan godaan dan membaca tipu daya kalian hingga akhirnya tetap pada perintah-NYA. Tuhan percaya kami mampu dan percaya kalian tidak mampu. Itu yang kau dan nenek moyangmu tak pahami!” Jarni tertawa mengejek.
Karena itu Gandarwi marah bukan kepalang, diejek oleh anak muda seperti Jarni dan Ganding.
Gandarwi mengangkat leher kedua jiwa itu, Gandinga dan Jarni saling tatap, meski mereka kesakitan, Jarni dan Ganding masih mampu berkata ... “HIDUP DAN MATI BERSAMA.” Dengan suara yang sangat lemah.
“Maaf Ratu ... tapi, aku gagal lagi.” Seorang lelaki tiba-tiba menghampiri Gandarwi yang membuat dia melepas leher dua jiwa hebat itu.
“Apa maksudmu!”
“Mereka lagi-lagi berhasil menyelamatkan jiwaku Ratu.”
“Bagaimana bisa! Bukankah istrimu telah memastikan kau akan mati! bukankah kau telah merasukinya?”
“Dia tidak berhasil Ratu.”
“Dasar bodoh!” Ratu itu berteriak dengan kesal, malam ini dia tidak bisa berbuat apapun, karena ada Aditia di luar, dia tak ingin terjebak lagi, makanya bersembunyi di terowongan, tapi dia butuh agar Dino benar-benar lepas dari tubuhnya, jiwa Dino harus jadi miliknya, sebagai koleksi atas semua jiwa curian itu.
“Pak Dino! Kanapa kau ingin mati!” Ganding berteriak, kesal karena dari kemarin dia merengek untuk mati.
“Kalian tidak paham, kalian pasti anak-anak yang tidak paham betapa hidup itu sulit.”
Dino hanya berkata seperti itu dan pergi dari sana, Ratu lalu menghilang, dia pasti sibuk dengan ruh lain yang dijadikan santapan.
____________________________________________
Catatan Penulis :
Satu ya yang udah kejawab ya, pelakunya.
Ada yang merasa benar jawabannya? Nggak perlu benar-benar kasih nama Gandarwi di komentar, tapi mungkin pernah komentar atau menebak bahwa pelakunya adalah jin dari BAB RUANG UJIAN, itu saja, kalau ada, kalian screenshot komentarnya, keliatan tanggal kalian komentar, trus kirim screenshot itu ke DM IGku ya, nanti aku kasih giveaway. Ongkir aku yang tangggung.
Soal jawaban akhir yang akun readernya jawab benar, masih aku sembunyikan ya, nanti bab akhir aku kasih tahu, dia akan dapat giveaway istimewa dariku. Seperti yang aku bilang, aku tidak pernah mengubah alur hanya karena ada komentar yang benar.
__ADS_1
Jangan lupa kalian yang merasa jawab Gandarwi DM IG ku ya.