Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 169 : Bagian 29


__ADS_3

Jarni perlahan membuka peti, ketika peti dibuka, asap hitam keluar, bau busuk dan amis menyeruak.


“Kita telah membuka peti persembahan,” Mulyana berkata.


“Ritual apa ini Pak?” Alka bertanya mereka masih dalam formasi, karena kalau ada serangan, akan sangat bahaya, potongan tubuh ini tidak boleh hilang.


“Ritual apalagi? Ini penyembahan untuk kecantikan, kekayaan dan kekuasaan. Kepada iblis tua tentu saja.” Mulyana kesal, di hadapanya tubuh terpotong-potong itu.


“Dia tidak keluar juga Pak. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Alka.


“Jarni geser potongan tubuh itu, iblis jahanam itu tidak suka kalau persembahannya dirusak.”


Jarni mengikuti perintah Mulyaan dia menggeser kepalanya hingga akhirnya kepala itu miring ke arah kiri.


Tiba-tiba ada suara sesuatu jatuh yang sangat keras, diikuti oleh bergetarnya tanah yang dipijak oleh mereka.


“Formasi!” Mulyana berteriak lagi agar tidak ada lubang penjagaan dalam menjaga potongan tubuh itu.


Tubuh besar yang berwarna hijau datang, wajahnya sangat panjang, taring ataasnya keluar mengarah keatas sedang taring bawah mengerah ke bawah.


Tubuhnya tidak mengenakan pakaian, hanya bagian pusar hingga lutut memakai celana hitam dengan garis emas di bagian bawahnya.


Tanpa alas jin iblis ini berjalan, satu langkahnya membuat kawanan tidak bisa berdiri dengan tegak karena kehilangan keseimbangan akibat bergetarnya tanah.


“Kayak buto ijo ya, buto ijo yang ada di dongeng anak-anak. Maksudnya ukuran, bentuk dan cara berpakaiannya.” Hartino berkata padahal mereka harus bersiap melawan iblis jahat itu yang tentu punya ilmu jauh lebih tinggi dari mereka.


“Kau masih bertanya, kau pikir buto ijo itu hanya sebuah dongeng, lalu kenapa mereka bisa begitu jelas memberitahu bentuknya, hingga kita bisa mengetahui bentuknya sampai di jaman ini? itu semua karena memang dia hidup bahkan jauh sebelum sebutan itu ada.”


“Jadi kemungkinan Buto Ijo itu ada benar ya?”


“Kau berharap sekali dia ada Har?” Ganding meledek. Mereka masih menyelesaikan masa remaja, jadi sering bercanda hal sepele.

__ADS_1


“Tidak, aku hanya suka sekali kalau musuhnya sehebat ini, jadi usaha kita latihan bisa keliatan di sini.” Hartino sangat percaya diri.


“Saya ijinkan kalian memakai senjata kalian sesuka hati, target kita hari ini adalah menang, apapun yang harus dilakukan.”


“Apapun yang harus dilakukan,” Semua orang memegang senjatanya dan berlari menyerang duluan.


Mulyana langsung menyerang kakinya, kaki itu besar sekali, besar kaki itu saja setengah tubuh manusia biasa.


Kakinya ditancap langsung dengan keris mini itu, walau bentuknya mini, tapi sangat tajam untuk makhluk ghaib.


Jarni meneybar ular-ular kecil untuk mengerubuti tubuh itu dengan bisa ghaib, Hartino dan Ganding tidak mau kalah, mereka menusukkan senjata pada tubuh iblis itu dengan membabi buto.


Mereka berhenti karena melihat iblis itu kesakitan, merasa menang mereka mundur, tapi ....


Iblis itu tertawa terbahak-bahak, dia ternyata hanya memberi mereka lelucon saat kesakitan. Dengan mudah dia melepas semua senjata yang menancap di tubuhnya dengan cara membuat tubuh itu semakin besar.


Mulyana dan kawanan kaget, benar saja, ini bukan lawan yang mudah.


Setelah kawanan lelah dan mundur, iblis itu menangkap Alka dengan tangannya. Dia meremas tubuh Alka dengan sangat kencang, Alka kesakitan, Mulyana dan yang lain walau sudah lelah mereka menghajar iblis itu lagi dengan cara membabi buta. Tidak berhasil Alka sudah sangat kesakitan, hingga ia merasa tubuhnya seperti akan meledak karena diremas dengan sangat kencang, perlahan Alka kehilangan kesadaran, tepat sebelum Alka sekarat, dia melempar Alka, Kawanan langsung mengejar Alka dan melihat keadaannya.


Sekitar satu jam lagi Adzan subuh akan berkumandang, Buto Ijo sepertinya khawatir, dia ingin mengambil sesembahannya tapi sepertinya waktu akan terlalu sempit, sebelum pergi dia berkata.


“Kalau melawanku mudah, tentu surga bukan sesuatu yang sulit digapai. Daripada melawanku, kenapa kalian tidak bergabung? Uang, kecantikan, ketampanan dan kekuasaan aku akan berikan. Aku hanya ingin sesembahan satu nyawa saja setiap keturunan, tidak lebih. Bukankah itu pertaruhan yang sangat seimbang?”


“Kau iblis jahanam, hanya satu kau bilang! satu itu membaut tangan manusia yang melakukannya menjadi kotor, dia akan masuk neraka bersamamu dan kekal di sana karena membunuh dan musrik, kau itu memang hebat dalam melakukan tipu daya.


Hanya satu manusia dalam satu keturunan dan itu menandai kemusrikan kita, bukan manusia ini yang ingin kau dapatkan, tapi label kemusrikan yang akhirnya manusia harus tanggung selama hidupnya diakherat kelak.


Terlihat mudah bagi manusia yang mencintai dunia begitu banyak, tapi mereka tidak tahu bahwa kau mengejar kemusrikan untuk memiliki teman di neraka kelak! Tipu dayamu takkan berhasil pada kami! Tipu dayamu hanya untuk manusia yang terlalu mencintai dunia.”


“Mungkin hari ini kau tidak akan goyah, entah besok, atau besok atau besoknya lagi. Aku tidak akan bisa dikalahkan oleh makhluk kecil sepertimu. Karena kematianku tidak akan mudah, kau tahu itu kan? Sekarang mungkin aku gagal mengambil piala sesembahanku atas kemusrikan hambaku, tapi besok, akan ada hamba-hamba lain yang menyembahku.”

__ADS_1


Iblis laknat itu akhirnya perlahan menghilang dan lalu kumandang Adzan subuh terdengar.


“Pak, dia ternyata hebat sekali, jangankan mengalahkannya, membuatnya sakit saja sulit. Senjata kita yang mematikan sama sekali tidak bisa menyentuhnya.” Hartino yang tadinya sombong kali ini tahu, lawannya tidak tergapai.


“Namanya Iblis Har, dia memang tidak berdiam diri saja di muka bumi ini, dia berusaha mengambil ilmu dan menipu manusia sebanyak-banyaknya. Kau pikir dia suka makan manusia? Kau pikir dia suka menjadikan kita santapan. Tidak, dia tidak suka daging kita, dia membenci kita, dari nenek moyangnya, dia sangat membenci kita hingga tidak mau bersujud dari nenek moyangnya.


Jadi mana mungkin dia suka daging kita, dia hanya ingin menjadikan persembahan manusia lain dari manusia yang menyembahnya adalah karena piala, dia menjadikan itu sebagai piala untuk diperlihatkan kepada Tuhan, dia ingin membuktikan, bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah di muka bumi ini.


Dengan memiliki persembahan itu, piala kemusrikan dia dapatkan, sayangnya manusia hanya selalu bisa berpikir pendek, seolah dia yang paling kesulitan dan membenci Tuhan. Bagi mereka hidup itu bukan hanya soal makan, kemewahan, kekuasaan, kecantikan dan ketampanan, itu semua tidak boleh ada akhirnya, tidak boleh ada habisnya. Makanya begitu bertemu dengan iblis jahanam, seperti panah bertemu dengan busurnya, begitu mereka bersatu, mereka akan menyakiti manusia lain dari jarak jauh.”


Mulyana memapah Alka untuk bisa berjalan dan berdiri, dia terlihat lemah, tapi masih bisa bertahan, dia perempuan setengah jin dan setengah manusia yang sangat kuat.


“Kasihan sekali orang yang dipersembahkan ini, hidupnya sia-sia.”


“Tidak akan ada manusia yang hidupnya sia-sia sepanjang Tuhan memberikan keberkahan. Kita tidak boleh menilai itu semua ya Har. Sekarang ayo kita bergegas membereskan persembahan ini, kita harus menemukan pelakunya, agar dia tidak memberikan lagi persembahan dan berhenti melakukan praktek penghambaan. Kita harus menghentikan kemusrikan yang sedang mereka lakukan.”


“Jadi, Bapak udah dapat pelakunya?” Alka terlihat bersemangat.


“Belum sampai aku meyakini sesuatu, Aku akan menyelesaikan kasus dengan Aditia, setelah ini Alka kau harus istrirahat, kalian semua harus kembali berlatih kecuali Alka, bantu aku mengurus kakakmu ya.” Bapak menitipkan Alka yang terluka pada adik-adiknya.


“Jadi boleh tidur di gua Pak?” Jarni terlihat senang, karena dia boleh meminjam jin pengganti dirinya lebih lama.


“Boleh, kalian semua boleh menginap di gua sampai Alka sembuh, aku akan ke gua setelah masalah selesai, kalian mengerti?”


“Iya Pak.”


Kawanan setuju. Sementara Hartino dan Ganding mengangkat peti dimasukan ke dalam angkot, Jarni dan Alka pulang ke gua berdua, Hartino dan Ganding akan menyusul. Aditia masih tidur di dalam angkot dia pasti akan bertanya setelah bangun.


Mulyana berkendara ke rumah sakit, dia akan menyerahkan sisa tubuh dan memastikan ini adalah orang yang di cari.


Dia bangga pada Aditia karena ternyata Aditia benar.

__ADS_1


__ADS_2