
“Ada seorang perempuan yang aku lihat terpasung, siapa itu?” Aditia bertanya.
Tidak ada yang menjawab.
“Wanita itu berumur sekitar 20 puluh tahunan, memiliki anak masih balita, tinggal di luar pulau, suaminya adalah salah satu diantara kalian.” Aditia melanjutkan pertanyaannya.
“Hanya aku yang sudah menikah di sini,” Bobby berkata, “Tapi istriku tidak dipasung.”
“Rambutnya sebahu, kulitnya sawo matang, tingginy sekitar 160an centi meter, tidak terlalu tinggi tidak juga pendek, baju yang dia kenakan adalah daster hitam bunga-bunga putih, dengan warna dasar hitam.”
“Baju kesukaan istriku, baju yang selalu dia pakai ketika di rumah! Kenapa dia dipasung?” Bobby bertanya, matanya mulai basah.
“Andai ada Ayi di sini, dia bisa melihat masa lalu orang hanya melalui sentuhan, sedang aku tidak bisa.” Aditia kecewa pada dirinya sendiri, karena dia bisa melihat masa lalu jika dipanggil seperti kemarin terakhir bertemu dengan leluhurnya, Alka bisa melihat masa lalu dengan menyentuh tubuh manusia, itu dulu, sebelum dia sempat sekarat karena darahnya dikuras habis oleh dukun itu. Sekarang, dia tidak mampu lagi, terakhir yang dia lihat masa lalunya adalah pada kasus Bening.
“Dit, jangan dipaksakan, urai pelan-pelan benang merahnya.”
“Aku ingin pulang, aku ingin bertemu istriku, kalau kalian benar ini tahun 2021, berarti ... anakku sudah dewasa, aku telah meninggalkannya begitu lama.”
“Tidak bisa, pulangmu bukan ke sana.” Aditia menolak usulan Bobby.
“Aku harus tahu apa yang terjadi pada diriku!” Bobby memberontak dan hendak pergi.
“Bob, aku akan cerita, aku akan ceritakan semuanya, tapi ... ini mungkin akan melukaimu.” Melati yang sedari tadi diam tiba-tiba berkata.
“Kau siapa?” Aditia bertanya. Bukan tentang nama, tapi tentang siapakah dirinya di dalam kasus ini.
“Aku adalah Melati, aku korban bus 404 itu juga, sama seperti kalian.”
“Korban bus 404? Bukankah itu bus yang membuat kita berputar-putar selama beberapa waktu?” Tiba-tiba Nola berkata.
“Ya betul.” Rendi juga ingat.
“Itu bus yang menyebakan kalian semua ... meninggal.” Melati berkata dengan menangis.
“Tidak! kau gila, aku belum mati!” Bobby berkata dengan lantang, begitu juga yang lain.
__ADS_1
“Lanjutkan dulu, bisa hanya dengar saja?” Aditia memperingatkan Bobby.
Bobby lalu mengangguk.
“Hanya aku satu-satunya yang selamat dalam kecelakaan itu, karena aku terlempar dari jendela yang pecah, saat itu Tuhan baik padaku.
Setelah itu, kau pikir hidupku bahagia, kareka jadi satu-satunya yang hidup? Kalian salah, justru mereka menyalahkanku atas semua yang terjadi, mereka bilang aku menggunakan susuk dan keluargaku pesugihan, makanya kami sengaja menyebabkan kecelakaan pada bus itu agar kalian jadi tumbal.
Tapi demi Tuhan, aku dan keluargaku tidak melakukan hal menjijikan seperti itu, keluarga kalian sungguh tega menghardik kami.
Setelah aku pulih dari kecelakaan itu, aku kembali ke kampus untuk kuliah, mereka menggunjingku pada awalnya, mengatakan aku wanita yang tunduk pada setan, aku tidak hiraukan, aku biarkan mereka berkata apapun sesuai keinginan mereka, tapi tiba-tiba kekasihmu menyerangku di hari pertamku kuliah.
Dia bilang bagaimana mungkin aku hanya luka ringan sedang yang lain terpanggang dan bagaimana mungkin aku bisa masuk kuliah lagi dengan enteng tanpa trauma.
Mereka tidak tahu betapa depresinya aku, makany aku kuliah lagi dan ingin lulus karena aku ingin mewujudkan cita-citaku walau aku takut untuk kembali ke kampus.
Tapi perjuanganku untuk tetap kuliah dan hidup ... berakhir di hutan ini karena bajingan ini!” Melati menunjuk Samidi dan Samidi menunduk saja.
“Apa yang terjadi padamu?” Bobby penasaran.
“Pacarnya Rendi dan istrimu, beserta keluarga kalian membayar dukun bajingan ini untuk membunuhku!”
“Aku sudah mati seperti kalian karena ulah istrimu Bob dan juga kerabat kalian serta pacarnya Rendi, aku sudah menjadi mayat seperti kalian!
Malam itu sakit sekali rasanya, aku dijebak oleh teman kuliahku untuk masuk ke dalam hutan, di dalam hutan sudah menunggu para pembunuh itu, mereka menyeretku pada sebuah saung yang sudah dipersiapkan untuk dijadikan altar tumbal!
Aku ketakutan setengah mati, aku memohon pada kerabat kalian semua, tapi tidak ada satupun yan memiliki hati.
Bukan aku yang membunuh kalian, ini takdir Tuhan, tapi mereka malah mmebunuhku tanpa sedikitpun rasa bersalah, satu kali hujaman di dadaku, tembus menuju jantungku, rasanya sakit sekali dan sesak, setelahnya aku tidak gelap.”
Melati berhenti bercerita karena sampai di situ saja dia ingat kejadian naas waktu itu.
“Kalau begitu, sekarang kau yang ceritakan setelah kematian Melati apa yang terjadi dan apa motif kerabat mereka menghabisi Melati?” Aditia meminta Samidi bercerita.
“Awalnya dua wanita mendatangiku, waktu itu aku masih menjadi penjaga kampus, belakangan aku baru tahu itu adalah istrimu dan juga kekasihmu, mereka tahu kalau aku dukun dari mulut kemulut, mereka memintaku memanggil kalian kembali, karena mereka ingin mengucapkan salam perpisahan terakhir pada para korban, aku menolak karena hal itu bisa saja dilakukan, tapi perlu tumbal, karena aku bersekutu dengan jin di hutan ini, dia yang akan membantuku memanggil para arwah kecelakaan itu, karena kecelakaan itu terjadi di kawanannya, makanya dia bisa bantu, tapi dia selalu ingin darah perawan jika dimintai pertolongan, makanya aku menolak dengan menyebutkan syaratnya.
__ADS_1
Aku pikir mereka akan mundur, tapi bukannya mundur, mereka malah mengajukan tumbal padaku, aku yang saat itu butuh uang uang untuk anakku yang sakit, akhirnya terpaksa menerima pekerjan itu, sebagai jagal tumbal, untuk mendapatkan uang.
Aku memang menghunuskan kerisku tepat di jantung Melati, memanggil raja jin di hutan ini dan memberikannya persembahan sembari membunyikan lagu terakhirn yang para korban dengan sebelum kecelakaan maut itu terjadi.
Tib-tiba bus 404 itu datang menerobos pohon tanpa menyentuh sama sekali, tentu saja itu adalah bus ghaib.
Tapi saat Raja jin sedang menikmati darah Melati yang sudah kukuras habis, dia berhenti sebelum sempat menghabiskan darahnya karena sadar, saat aku bunuh, Melati menggunakan jimat yagn dikalungkan, jimat itu membuat darahnya jadi berbau busuk, darah itu tidak sempurna menjadi sesembahan, karena murka raja jin itu akhirnya meninggalkan kami begitu saja, sedang bus itu, terjebak dalam dunia ghaib, tidak dikembalikan lagi ke tempat semestinya oleh raja itu.
Saat itu, aku tidak bisa melakukan apapun lagi, bingung karena hal ini tidak pernah terjadi, tidak tahu harus melakukan apa untuk bus itu, tapi saat lagu terakhirn yang mereka dengar aku matikan, makhluk-makhluk dalam bus itu keluar, kami pikir mereka adalah kalian yang mungkin bisa berpamitan, hingga aku bisa menunaikan tugasku, tapi perkiraanku salah, meleset tepatnya.
Yang keluar bukan kalian, tapi mereka yang tubuhnya habis terbakar, sudah gosong, kami ketakutan dan aku lari duluan diikuti oleh istri dan pacarmu.
Karena ketakutan oleh wajah-wajah dan tubuh-tubuh gosong itu yang mulai beringas mendekati kami.”
“Kalau memang kami adalah makhluk dalam bus itu, lalu kenapa kami sekarang tidak terlihat gosong dan baik-baik saja?” Bobby bertanya dengan penuh emosi, tidak ingin percaya istrinya sekejam itu.
“Aku tidak tahu, aku hanya dukun yang selalu dibantu jin, aku tidak mengerti soal itu.” Samidi berkata dengan bingung dan juga menjadi emosi karena dia tidak mengerti.
“Karena, kalian adalah perjanjian yang ditepati, makanya tubuh kalian tidak tampil dalam keadaan gosong, seperti kondisi terakhir kalian.
Jin itu menghirup wangi darah melati sebagai tumbal, itu adalah harga yang dia bayar untuk kalian, hingga kalian kembali ke dunia ini dalam wujud yang diinginkan oleh orang-orang yang memberi tumbal, dalam keadaan sempurna dengan terakhir ingatan mereka, ingatan tuan yang meminta dukun ini untuk memanggil kalian, ingatan mereka tentang kalian sebelum kecelakaan itu terjadi.
Makanya akhirnya kalian tetap dalam kondisi sempurna dan tidak ingat apa-apa, tentang kecelakaan itu, karena kalian memang dipanggil kembali dan perjanjian itu sudah dibayar dengan darah Melati yang sempat terhidup jin sebagai perjanjian yang lunas, sedang sisa darah yang tidak sempat terhirup karena jin itu sadar ada jimat dalam tubuh Melati, maka sisa perjanjian tidak tertunaikan, atau batal. Itu sebabnya, makhluk-makhluk gosong itu menjadi arwah gentayangan dalam wujud terakhir mereka saat kematian, yaitu gosong, mereka bahkan ingat sakitnya terbakar dan kecelakaan itu, tidak heran saat lagu itu berhenti, mereka langsung ingin menyerang, karena mereka sendiri ketakutan dengan tubuh mereka dan ingatan mereka.
Kau benar-benar kejam Samidi, kau membuat makhluk-makhluk itu terjebak di bus 404 dan melihat tubuh mereka gosong serta ingatan tentang kecelakaan itu berulang bertahun-tahun. Mereka terjebak karena raja jin tidak mau mengembalikan mereka, akibat tumbalmu yang tak sempurna.
Masih kalian para dukun melakukan perjanjian dengan setan! Brengsek!” Aditia kesal sekali, meskipun begitu dia sudah tahu benang merahnya, tumbal yang tak sempurna yang membuat mereka semua terjebak di bus itu, sedang untuk Bobby dan kawan-kawannya, adalah karena darah Melati yang membuat mereka akhirnya berhasil kembali dengan tubuh sempurna dan ingatan yang hilang tentang kecelakaan itu, karena ingatan mereka muncul dari orang-orang yang memanggil mereka, yaitu ingatan sebelum kecelakaan terjadi. Perjanjian yang tidak tunai adalah para penghuni bus depan, sedang perjanjian yang lunas adalah para penghuni bus belakang. Sungguh ironis.
“Aku tidak tahu bagaimana ini semua terjadi, aku minta maaf Melati, karena istri dan kerabat kami membuatmu ikut tidak selamat, maafkan aku.” Bobby menangis.
“Tapi sebentar ... lalu kenapa Nola harus terjebak di bus ini, kenapa Nola harus ikut dan terjebak di bus ini?” Winda tiba-tiba bertanya, dia bingung dan yang lain juga jadi bertanya-tanya, kenapa Nola terjebak di bus ini?
“Sebutkan nama panjangmu Nola termasuk bintinya.” Aditia bertanya.
“Norin Wulandari Binti Zulkarnain. Nama panggilanku Nola.” Tentu Nola tidak tahu bahwa bintinya dipalsukan agar jejak papanya Bobby dan ibunya hilang sempurna, untuk menjaga mental Nola, kakeknya melakukan itu, menjadikan bintinya bukan nama ayahnya, tapi nama kakeknya. Yang kelak Nola kenal adalah papanya bukan kakeknya.
__ADS_1
Bobby lemas, dia yang hanya ruh semakin rapuh, Norin Wulandari anak yang dia adzankan ditelinga saat lahir, anak perempuan cantik yang tidak dia tinggalkan saat dikandungan karena mereka masih sangat muda ketika anak itu lahir, bahkan belum menikah. Norin ....
“Oyinnya Papa ...."