Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 355 : Kemala 4


__ADS_3

“Maaf aku memintamu untuk datang ke restoran ini, apa aku mengganggu waktumu?” Aditia mengundang Kemala untuk bertemu, sudah dua hari Aditia mencari cara informasi dan tetap nihil hasilnya.


“Tidak masalah, aku bisa saja membantumu, maka aku datang. Jadi, apa yang membuatmu gusar?” Kemala bertanya.


“Aku akan membicarakan hal yang mungkin sangat pribadi, jika saja kau keberatan, maka kau bisa menolak untuk menjawab.”


“Ajukan dulu agar aku bsia memilah,” jawab Kemala.


“Aku sudah menelusuri semua data diri suamimu, Petra Januar, bukan datang dari keluarga kaya raya, maaf. Tapi kenapa nilai kekayaannya fantastis, puluhan milyar, apakah selain saham dan deposito, dia memiliki aset seperti tanah dan rumah? Karena bisa jadi nilai kekayaannya naik.”


“Baiklah, seperti yang kau ketahui, bahwa nilai kekayaan almarhum suamiku memang sangat fantastis, tapi bukan berarti aku memilikinya, saham adalah saham, hanya lembar kertas yang bisa dicairkan kapan saja, jika nilainya mumpuni.


Pun sekarang kau lihat nilainya fantatis, bisa jadi besok anjlok, jadi tidak bisa dianggap nilai yang pasti.”  Kemala tahu tentang permainan saham rupanya.


“Memang nilainya tidak pasti, tapi … memiliki ratusan lot saham juga bukan main-main, kau harus memiliki modal untuk membelinya terlebih dahulu untuk membelinya, lalu berasal dari mana aliran dana yang dia pakai untuk membeli saham?”


“Nilai saham itu kan naik Dit, seperti yang kita bicarakan sebelumnya kalau nilai saham itu turun, pun bsia naik. Jika kau bicara nilai saham itu puluhan milyar, bisa jadi saat di beli nilainya hanya ratusan juta, lalu naik, dijual, beli, dijual dan beli lagi, hingga akhirnya nilai saham itu menjadi fantastis. Jadi bisa saja modal awalnya tidak sebanyak itu. Almarhum suamiku itu sudah menjadi GM Purchasing di usia yang cukup muda, 23 tahun. Dia lelaki yang cerdas, lulusan universitas negeri yang terkenal, dengan predikat cumlaude dan mengerti sekali tentang bagaimana mengatur keuangan, hingga sejak dia muda, dia sudah mulai bermain saham, dimulai dari reksa dana, di mana dana hanya dititipkan tiap bulan yang jika dibiarkan bertahun-tahun nilainya akan semakin naik, kecuali ada kejadian luar biasa seperti kerusuhan, tentu nilainya akan turun, tapi jika dunia berjalan normal, maka nilai saham akan naik.


Jadi jangan kau pikir dia langsung membeli saham milyaran lalu meninggal setelah membeli saham itu.”


“Maaf kalau ini menyinggungmu, aku tidak pernah menarik kesimpulan bahwa kau mengambil keuntungan dari kematian suamimu, sehingga menggiring opini tentang caranya mengumpulkan saham, aku hanya ingin tahu, apakah kau turut serta mengucurkan dana untuk membantunya membeli saham?”


Kemala terdiam, sikapnya tenang dan anggun. Walau Aditia melihat dia mulai khawatir.


“Kalau memang ya, apakah kalian bertengkar soal itu?” Aditia menyambung lagi pertanyaan.


Kemala menarik nafas, “Apa tujuan pertemuan ini untuk menemukan kenyataan bahwa aku adalah seseorang yang menyebabkan dia depresi hingga akhirnya bunuh diri?” Kemala menatap Aditia dengan sendu, sedih. Aditia merasa tidak enak hati.


“Bukan itu, aku hanya mencoba bersikap objektif.”


“Dan menjadi objektif adalah dengan menuduhku?”


“Tidak ada satupun kalimatku mengatakan itu, Mala.”


“Tapi mengarah ke sana kan? Diucapkan atau tidak, tetap mengarah ke sana.”


“Apa yang terjadi malam sebelum dia pergi? Apakah hanya benar-benar dia pamit untuk keluar tanpa ada apapun yang terjadi?”


“Kau sedang mencari pemicunya kan? Aku bahkan memfasilitasimu untuk menemukan penyebabnya, tapi bukan berarti, kau boleh menyerangku.”


“Kau itu bukan wanita biasa Kemala, maksudku, mungkin ini yang tak kau sadari.”


“Aku wanita biasa seperti yang lainnya, hanya bernasib buruk saja.”


“Aku kenal orang-orang yang sepertimu, menganggap apa yang orang katakan sebagai kutukan, ternyata adalah sebuah berkah.”


“Maksudnya?”


“Bagaimana kalau kau memang Bahu Laweyan?”


“Kau merutukiku!” Kemala kesal.


“Tidak, aku tidak merutukimu, aku hanya sedang membarimu pandangan saja, tentang bagaimana seseorang harusnya menerima berkah dan menjadi bijak.”


“Bagaimana caranya aku bijak jika suami-suamiku mati sebelum bahkan mengaruhi bahtera denganku?”


“Mungkin karena bukan mereka yang menjadi jodohmu.”


“Lalu siapa? Kau?!” Itu hanya amarahnya Kemala, dia tidak hendak menggoda Aditia.


“Akan mudah jika aku tahu, tapi yang pasti bukan aku.”


“Darimana kau tahu kalau itu bukan kau?” Kemala terkejut dengan pendapat Aditia, karena sikapnya membuat bingung, dikiranya Aditia tertarik padanya, karena sikapnya yang terlalu baik. Jika saja Kemala tahu, bagaimana kawanan begitu gilanya kalau sedang membantu orang, bahkan nyawa bias saja jadi taruhannya, apa yang dilakukan Aditia tidak ada apa-apanya

__ADS_1


Tidak heran karena selama hidup, Kemala selalu menakar segala sesuatu dengan uang. Hidupnya terlalu berat untuk menilai sesuatu dengan ketulusan.


“Jadi … darimana kau tahu kalau bukan kau jodohku?” Kemala bertanya ulang karena Aditia belum menjawab.


“Karena hatiku sudah diikat kencang oleh seorang wanita.”


“Lalu darimana kau tahu dia jodohmu wanita itu dan bukan aku?”


“Memang segitu inginnya kau menikah denganku?”


“Hmm, tidak juga, aku hanya sedang penasaran.” Kemala memang tidak seserius itu memikirkan jodohnya saat ini.


“JIka bukan dia jodohku, maka aku akan membujuk Tuhan untuk menjadikannya jodohku.”


“Kalau tidak berhasil bagaimana? Kau tahu kan, Tuhan selalu punya rencana-NYA sendiri.”


“Kalau gagal, permintaanku ditolak oleh-NYA, ya … memilih menolak jodoh yang DIA pilihkan. Jadinya, satu sama.” Mereka berdua tertawa dengan jawaban Aditia, dari sini Kemala tahu, kalau ada perempuan yang sudah memenuhi hatinya Aditia. Pemikiran Aditia tentang memaksa Tuhan menjodohkannya sungguh membuat Kemala takjub, pria yang sempat dia anggap remeh, karena disangka hanya seorang supir angkot itu, ternyata memiliki pemikiran yang sangat luar biasa, dari cara berpikir sampai cara bicara, sungguh santun.


“Dit, malam itu kami tidak bertengkar, tidak juga berselisih paham tentang apapun, aku bahkan keberatan ketika dia bilang akan keluar sebentar, aku meminta padanya untuk di rumah saja, karena aku ingin bersamanya, aku ingin membujuknya menghabiskan malam, tapi saying … aku gagal, dia malah pergi dan pergi untuk selamanya.


Soal uang, jujur, aku membantunya di banyak hal, termasuk biaya pernikahan, soal saham dan deposito juga aku membantunya, tapi dia memang pandai mengelola uang. Kau tahu dari datanya bukan, kalau dia itu memang seorang lelaki yang pandai.”


“Baiklah, aku percaya, lalu … apakah ada prilaku dari suami pertama, kedua hingga ketiga ini yang persis sama atau sekedar mirip satu sama lain?”


“Prilaku ya? Sebentar aku ingat-ingat … mereka adalah orang-orang yang berbeda, umur pun berbeda jauh, jadi tidak ada yang mirip prilakunya. Selain, ya itu, aku tidak sempat disentuh sampai mereka meninggal dunia. Aku perawan meski seorang janda yang sudah menikah tiga kali.”


“Kalau begitu ….”


“Aku perlu bicara ….” Seseorang menghampiri Aditia, itu adalah Alka.


“Tidakkah kau lihat, aku sedang bersama seseorang di sini, kau tidak sopan.” Aditia menghardik Alka yang hendak bicara dengannya.


“Aku butuh bicara denganmu dan dia juga.” Alka menunjuk Kemala.


Alka menatap mata Aditia, dia memegang tangannya, lalu berkata, “Kau mempermalukanku di depan wanita lain, aku akan anggap ini penolakan, yang mungkin bisa membuat kita berpisah … selamanya.” Alka menatap dengan mata lembut tapi sekaligus dengan kata-kata yang tajam.


“Kau mengancam?”


“Ya! Aku mengancam.” Alka tegas.


“Kau mengancam tuanmu!”


“Aku bukan budakmu!”


Aditia terkejut mendengar Alka berkata begitu, seketika dia begitu takut dengan kesungguhan Alka mengancamnya.


“Kita akan ke mana?”


“Memecahkan kasus gadis ini.”


“Dia bukan gadis.”


“Statusnya saja janda, tapi dia … gadis suci.” Alka menatap Kemala dengan wajah kesal.


“Gadis suci!”


“Ikut aku.” Alka meminta Aditia untuk ikut dan dia menuruti, sedang Kemala juga mengikuti dari belakang.


“Kami naik angkot saja.” Aditia menolak untuk naik mobil mewah yang kawanan bawa.


“Kami? Sudah sangat akrab hingga kami menjadi sebutan untuk kalian.” Alka menatap dengan mata merah, Aditia tahu dia sedang memancing iblis keluar kalau dia sampai ngeyel lagi. Aditia masuk ke mobil mewah itu dan melihat kawanan sudah berada di dalam semua, Kemala menyapa mereka satu persatu, sedang Ganding dan Hartino terlihat takjub dengan kecantikan Kemala.


Dia memang secantik itu.

__ADS_1


Jarni dan Alisha menatap pasangan mereka dengan kesal.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang dikemudikan oleh Hartino, mereka sampai di markas ghaib.


“Wah bangunan yang sangat bagus.” Kemala berkata dengan takjub. Padahal mobil belum juga masuk ke dalam gerbang markas ghaib.


“Kau bisa melihat markas kami?” Aditia bertanya.


“Ya, kenapa tidak? Bangunan ini sangat megah dan anggun.”


Kawanan saling lihat, mereka semua memang belum dapat penjelasan dari Alka selain kata yang sama yang dia ucapkan pada Aditia barusan, gadis suci,


“Tentu saja dia bisa lihat, kau pikir wanita mana yang tetap suci setelah menikah tiga kali, kejadian apa yang mampu menjaga tubuhnya selain takdir Tuhan.”


“Dia seperti Maryam?”


“Jaga mulutmu, tentu saja bukan Har!” Alka marah.


“Cepat masuk, aku tidak sabar ingin tahu yang sebenarnya, siapa gadis ini.” Ganding tersenyum menatap Kemala, Jarni yang melihat itu langsung memukul pundak Ganding, Ganding tersadar dan meminta maaf. Rasanya wajah gadis ini sungguh memabukkan dan merampas kesadaran Ganding sejenak tadi, hingga tak sadar memuji Kemala di dalam hati.


Begitu sudah memasuk gerbang, mobil mereka menghilang, itu yang dilihat mata awam, karena bagi mata awam, markas ghaib tidaklah terlihat sama sekali.


“Masuk.” Alka meminta Kemala masuk, semua orang masuk ke dalam markas. Semua orang masuk duluan, Kemala belakangan, saat Kemala masuk dan kedua kakinya sudah menyentuh lantai markas, Alka membaca mantra, karena mantra itu, membuat cahaya yang melingkar di antara tubuh Kemala terlihat, cahaya itu awalnya ada di kaki Kemala, perlahan naik seperti sebuah cincin mengelilingi tuuh Kemala.


Yang lain bingung karena Alka tidak membicarakan ini sebelumnya, begitu lingkaran cahaya itu sampai ke kepala Kemala, pandangan Kemala menjadi berbeda, matanya bersinar, tidak ada pupil hitam di sana, matanya benar-benar bersinar membuat semua yang melihat tersilaukan.


Bahkan baju Kemala sudah tidak lagi sama, bukan pakaian serba hitam, tapi gaun emas yang mewah di sana, gaun itu menutupi seluruh tubuhnya, gaun itu ikut bercahaya.


“Apa tujuan dari membangunkanku?” Kemala bertanya, suaranya kini tak lagi sama, suara itu lebih lembut dan mendayu. Wajah Kemala juga jauh lebih cantik dari sebelumnya, wajahnya begitu putih bersih dan bahkan terliha tanpa pori-pori karena sangat halus dan putih berkilau.


Alka terduduk, dia bukan menyembah, hanya sedang melakukan sikap hormat sesama jin saja. Lalu dia memulai ceritanya, sedang Kemala dalam wujud jin itu duduk di sofa, cara duduk dan semua gerak-geriknya sungguh anggun.


“Apa kalian tahu tentang legenda seorang wanita yang dijuluki perawan Sunti? Patung dari perawan itu saat ini berada di Gedung Pesangrahan Goa Sunyaragi, disimpan didalam ruangan terkunci. Patung ini dulu berada di depan sebuah gua, sengaja dipindahkan agar tidak menimbulkan polemik atau menjadi benda yang dipuja.


Tapi tahukah kalian, misteri dari patung ini? Karena katanya patung ini sudah ada di depan gua itu sejak tahun 1600an sebelum akhirnya dipindahkan , terbuat dari terakota atau tanah liat yang dibakar. Pertanyaannya adalah siapa yang membuatnya pada tahun itu? Untuk apa dia buat patung itu lalu menyebar cerita tentang patung tersebut.”


“Cerita apa?”  Aditia bertanya.


“Bahwa siapapun yang menyentuh Patung Perawan Sunti itu akan kesulitan mendapat jodoh, hingga akhir hayatnya. Maka pantang bagi seorang gadis untuk menyentuh patung itu, karena berita ini begitu cepat menyebar maka akhirnya pemerintah memutuskan menaruh patung itu di dalam tempat yang terkunci rapat agar tidak menjadi seesembahan.


Pertanyaannya, kau tidak bisa menemukan sejarah yang pasti mengenai legenda ini, karena memang sengaja disembunyikan.”


“Jadi memang benar ada seorang wanita yang menjadi Perawan Sunti?”


“Ya, Kemala adalah perempuan itu.” Alka menunjuk Kemala, semua orang menatapnya dengan takjub, pantas saja auranya berbeda.


Aditia sudah merasakan hal yang berbeda dari perempuan ini, pancaran kecantikan itu bukan kecantikan biasa, cara bicara yang tenang dan sangat bijaksana, sungguh keseluruhan yang sempurna, tapi tentu saja tidak bisa melihatnya karena ternyata selama ini dia tidur di tubuh Kemala, ibu Kemala, nenek Kemala, nenek buyut Kemala hingga nenek moyangnya Kemala. Dia tidur dengan tenang di tubuh-tubuh pilihan itu agar tidak ditemukan oleh siapapun, bahkan Mulyana dulu tidak mampu mendeteksinya, apalagi Aditia. Dia memang bertekad akan bersemedi di tubuh manusia saja, dia tak ingin ikut campur hiruk pikuk perkelahian dunia ghaib dengan dunia manusia, hidup cukup lama membuatnya ingin damai.


Bahkan keabadiaannya membuat dia ingin lari dari hidup tapi tidak bisa. Karena belum waktunya pulang.


“Jadi suami-suami yang meninggal adalah murni karena Kemala yang tidak beres?” Aditia bertanya dengan spontan.


“Apa maksudmu Kemala tidak beres wahai pemuda? Sedang kau menatapnya dengan sangat lekat selama ini? Lelaki sama saja, dari zaman ke zaman, hidung belang tetaplah belang.” Kemala dal;am wujud jin marah pada Aditia.


“Aku tidak menatap lekat, aku hanya terpaku sejenak.”


“Kau suka melihat dia?” Alka bertanya dengan kecewa.


“Siapa yang tidak suka melihatnya? Tanyakan Ganding dan Hartino, apakah mereka tidak suka melihat Kemala?”


Jarni dan Alisha langsung menatap rajam kedua pasangannya.


“Ngapain bawa-bawa kami, udah lanjut Kak, ceritanya. Jangan denger orang aneh ini.” Ganding mencoba mengalihkan perhatian agar tidak kena juga. Aditia ternyata pengaduan.

__ADS_1


“Jadi, begini sejarah yang benarnya tentang gadis perawan Sunti ….”


__ADS_2