
“Aku tidak bisa lagi mendampingi keluargamu.”
“Apa-apaan kau?” Badrun terlihat marah, dia dan dukun itu sedang berbicara di ruang tamunya, ruang tamu itu juga menjadi tempat penembakan yang dilakukan oleh Ibu Badrun, maka Dirga menjadi korbannya, di sinilah dukun itu akhirnya berkata ingin menyerah.
Saat ini adalah waktu ketika Mulyana masih kecil sedang menangani kasus teman sekolahnya yang bernama Nando, di waktu ini bahkan Aki Hagir sempat mendatangi rumah Mulyana yang sedang digendong oleh Aep dengan menyamar menjadi ibu mereka, karena Mulyana sedang masuk ke zona ghaib melalui tubuhnya sendiri untuk menyelamatkan Nando agar bisa ‘pulang’ pada Tuhan. Aki Hagir hendak mengambil tubuh Mulyana tapi Aep menyadari kalau yang sedang membujuk itu bukan ibunya, melainkan dukun musuh ayahnya. Apakah kalian ingat ini?
Aku ingin kalian mengingat timelinenya, karena kelak kalian akan paham benang merahnya, kenapa aku kembali membawa Aki Hagir ke dalam kisah ini, karena Aki Hagir adalah salah satu kunci dari satu rahasia yang belum aku ungkap, rahasia yang pernah kalian tanyakan dan sekarang mungkin kalian lupa, rahasia yang dibawa mati oleh Mulyana dan disembunyikan Aep hingga kelak kawanan menangani kasus di zona gelap persawahan, sampai saat itu pun Aep tetap tak memberitahu Kawanan, maka pada bab Mulyana lanjutan akan ada jawabannya.
“Aku tidak bisa lagi melindungi kalian karena Aki Hagir guruku bilang, kalau lawan kita itu sungguh berilmu tinggi.”
“Lawan kita? apa maksudmu lawan kita? kita tak sedang bertarung dengan siapapun saat ini!” Badrun tak paham, bahwa dukun peliharaannya telah melakukan hal yang sangat buruk.
“Ya, kita sedang bertarung, kau harus berhati-hati, karena saat ini, tak ada lagi yang akan menjaga keluargamu.”
“Apa maksudmu, aku tak paham!” Badrun makin kebingungan.
“Aku telah melakukan kesalahan pada gadis itu, kau memintaku untuk memulangkannya, tapi malam itu terjadi tragedi.”
“Apa!”
“Wulan tak pulang ke kampungnya, tapi Wulan ... mati!”
“Brengsek kau! kau apakan wanita itu?!” Badrun tak sadar kalau ada istrinya yang menguping di sana, wanita itu makanya kelak sangat bersikukuh berbicara pada mulyana dan Dirga bahwa Yoga bukan pelakunya, dia tahu kalau dukun inilah pembunuhnya, tapi tentu itu semua tak dapat dia beritahu karena suaminya akan ikut tersangkut jika kasus ini sampai ke ranah hukum.
“Wanita itu kabur, dia menendangku, aku mengejarnya lalu terjadilah pergumulan itu, aku tak sengaja mencekiknya sampai mati!”
“Bedebah kau! jadi wanita itu mati!”
“Ya, dia mati.”
“Jadi Wulan mati!” Yoga yang entah kapan datang, tiba-tiba menyeruduk masuk, dia rupanya telah menguping sebelumnya, ibu dan anak memiliki kebiasaan yang sama, suka menguping urusan ayahnya.
“Yoga, kenapa kau ke sini!” Badrun terkejut, lebih terkejut dibanding tahu seorang gadis mati.
“Itu tidak penting Pa! kau benar membunuhnya!” Yoga berteriak histeris, dia bahkan menangis.
__ADS_1
“Yoga, pergi kau! ini bukan urusanmu! Lagian dia bukan perempuan yang berharga! Kau harus melupakannya!”
“Lalu di mana jasadnya!” Yoga bertanya.
Walau Badrun terkejut dengan kematian Wulan, tapi kemungkinan ini memang selalu akan ada jika dia bermain dengan pengancaman, sejak awal dia memang tak berniat membunuh, tapi jika ada yang terbunuh, dia tetap harus menutupi jejaknya, walaupun terpaksa, dia ikut andil dalam kematian Wulan.
“Di areal pembangunan, aku menguburnya di areal yang masih tumbuh pohon lebat.” Dukun itu memberitahu, ada niat buruk darinya dengan memberitahu lokasi penguburan Wulan.
“Apa! kau tahu kalau pohon itu sekarang bahkan telah ditebang untuk dipersiapkan menjadi lapangan pelatihan, apakah kau menguburnya dengan benar?” Badrun kaget mendengar dukun itu menguburnya di sana.
“Aku tidak yakin, aku sepertinya menguburnya dengan dangkal.”
“Goblok!” Badrun kesal sekali.
Sementara Yoga pergi dari rumah itu, Badrun tidak terlalu peduli lagi apa yang akan Yoga lakukan, karena dia sekarang harus segera membersihkan jejak pembunuhan dukun peliharaannya ini.
Satu yang Badrun tak paham, Yoga malah hendak membuka jejak itu.
Yoga pulang ke rumahnya, istri Yoga sedang berada belakang rumah, sedang merokok, Yoga tak melihat keberadaan istrinya, dia lalu pergi ke gudang, mengambil cangkul, istrinya yang sedang berada di belakang rumah hendak menegurnya dan bertanya, kenapa dia membawa cangkul malam-malam, tapi sayang, tidak terkejar.
Maka sejak itu si istri percaya bahwa suaminyalah yang membunuh Wulan.
Yoga lalu pergi ke tempat yang sudah disebutkan dukun itu, Yoga berlari ke sana hendak menggali dan melihat tubuh kekasihnya yang sudah dibunuh, walau sebagian dirinya benar-benar berharap wanita itu bukan Wulan.
Hampir saja dia mendekati tempat itu, tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang, karena itu tubuh Yoga jatuh tersungkur dan pingsan.
Badrun yang melakukan itu, dia mengambil tubuh anaknya dengan beberapa anak buah yang dia bawa, dia memerintahkan anak buahnya untuk sementara waktu menyekap Yoga, agar dia tak berbuat apapun sampai Badrun mengubur perempuan itu di tempat yang lebih aman.
Sementara anak buah Badrun membawa tubuh Yoga, lalu Badrun dan dukun itu ke lokasi di mana Wulan di kubur, Dukun itu berjalan ke lokasinya, di sebuah lapangan yang luas, karena pepohonan telah ditebang.
Dukun itu menunjuk suatu lokasi yang terdapat tumpukan barang pohon di sana.
“Brengsek, kita harus meminta beberapa orang untuk membantu, karena batang pohon ini banyak dan berat.” Badrun kesal karena tidak bisa menggali tanah dan mengambil mayat wanita itu.
“Jangan, semakin banyak yang tahu, semakin berbahaya, ada mesin berat di sana, apa kau tidak bisa mengendarainya?” Dukun itu bertanya.
__ADS_1
“Tidak bisalah!”
“Kau punya truk?” Dukun itu bertanya.
“Ada, di sana.” Badrun menunjuk suatu tempat yang cukup jauh, masih di areal tempat ini.
“Kalau truk bisa kau kendarai?”
“Aku pernah mengendarai truk saat pelatihan dulu sebelum jadi anggota kepolisian, untuk membawa timku. Kenapa?” Badrun bingung.
“Kendarai truk itu, lalu tabrakkan batang pohonnya, tabrak hingga tak bersisa batang yang atas tanah itu.” Dukun itu memberi ide.
“Kau tahu harga truk itu mahal sekali kan!”
“Kau masih memikirkan uang saat kita sudah terjepit seperti ini!” Dukun itu terus membujuk.
“Baiklah, aku cari dulu kuncinya di kantor Yoga, biasanya dia menyuruh anak buahnya menaruh kunci alat berat dan truk di kantornya, agar tak ada yang nakal membawa seenaknya.”
Badrun lalu pergi ke kantor Yoga dan tak lama kemudian dia kembali dengan mengendarai truk itu, Badrun meminta dukun untuk ikut naik duduk di sampingnya.
Dukun itu lalu naik dan Badrun mulai menabrakkan batang pohon itu dengan truk yang dia kendarai.
Lalu truk itu terus menabrak batang pohon hingga sisa beberapa batang pohon di bawah, truk itu lalu mendorong sisa batang pohon dan akhirnya areal tanah itu telah kosong, tanah di mana Wulan dikuburkan.
Badrun dan Dukun itu turun. Si dukun lalu mulai menggali tanah itu menggunakan cangkul yang dia bawa dari rumah Badrun.
Baru beberapa cangkulan, tiba-tiba muncul cahaya entah dari mana, cahaya itu melesat dan akhirnya membuat dukun itu terpelanting.
Seorang pria berpakaian serba hitam datang mendekati mereka, tentu saja, itu adalah ayahnya Wulan.
“Jadi kau yang mengubur anakku di sana.” Ayahnya Wulan bertanya dari tempat yang tak begitu jauh ataupun dekat, tapi masih bisa saling melihat, Badrun melihat itu menjadi sedikit takut, karena pria yang berpakaian serba hitam itu terasa memiliki energi yang cukup besar.
Dukun itu tanpa berkata apapun lagi, segera menyerang ayahnya Wulan dengan serangan mendadak, karena itu ayahnya Wulan menghindar, pada kesempatan ini si dukun lalu menarik Badrun dan mereka berdua berlari, mereka berdua kabur memanfaatkan kesempatan ayahnya Wulan sedang menghindari serangan dukun itu dengan tenaga dalamnya.
Ayahnya Wulan terdiam, melihat betapa dua pengecut itu meninggalkan dia di sana sendirian, tanpa penjelasan atau permintaan maaf.
__ADS_1
Maka saat ini dia mencium wangi khas putrinya, wangi khas desanya, rasanya semakin tajam wangi itu. Ayahnya Wulan mendekati tanah itu, membaca mantra lalu muncul sosok perempuan yang dia sudah sangat kenal.
Maka Wulan adalah ruh yang tersesat.