
"Malam Mbak." Ranti menyapanya, perempuan yang sedang berdiri di ujung gang, tepatnya jalan masuk gang rumanya, kebetulan hari ini dia harus lembur dan pulang malam, ini sudah pukul sepuluh, tapi gang rumahnya sudah sepi. Karena memang tetangga yang punya anak kecil, tidak pernah membiarkan anak ataupun dirinya nongkrong malam-malam, jadilah sesepi itu.
Biasanya kalau pulang malam, Ranti selalu dijemput suami, tapi hari ini suaminya menjaga anak mereka karena mama mertua yang biasa menjaga anak Ranti sedang ada urusan.
Perempuan yang disapa barusan hanya mengangguk, dia sebenarnya sedang membelakangi Ranti, karena Ranti akan melewatinya, untuk sekedar sopan santun akhirnya menyapa, jujur Ranti tidak kenal.
Ranti memang kurang mengenal orang-orang di gang rumah, itu semua karena dia seorang ibu yang bekerja, jadi waktu libur lebih banyak di rumah mengurus anak dan istirahat, ditambah, ini adalah daerah rumah suaminya dan keluarga suami jadi Ranti memang pendatang, hanya sapa lalu berlalu, dia tidak pernah ikut berkumpul untuk ngobrol-ngobrol.
Ibu mertuanya tidak pernah mengeluh soal Ranti yang jarang berkumpul dengan tetangga karena dia mengerti, sehari-hari Ranti sudah lelah dan harus mengurus anak saat pulang kerja atau libur.
Itu kenapa Rantui bisa dibilang tidak mengenal semua orang yang tinggal di gang rumah ini.
...
"Malam Mbak."
Pekerjaan kantor memang sedang banyak, makanya Ranti sudah beberapa hari ini lembur terus, kadang dijemput, kadang tidak. Hari ini Ranti dijemput suami pakai motor, lagi-lagi dia melihat perempuan itu berdiri di sana sedang menatap ke arah dalam gang membelakangi pintu masuk. Terkadang Ranti melihat wajahnya sendu, kali ini seperti biasanya, dia hanya mengangguk mendengar sapaan Ranti.
"Kenapa, Neng?" Suaminya bertanya.
"Nggak, itu Mbaknya kasian, nungguin suaminya pulang kerja kali ya."
"Oh ...." Suaminya menjawab singkat.
...
Untuk kesekian kalinya, Ranti pulang lebih malam lagi, sudah jam sebelas malam, suaminya juga tidak bisa menjemput karena sedang Dinas luar kota. Jadi, Ranti harus pulang sendiri, untungnya ada supir kantor, jadi dia bisa diantar sampai ujung gang rumah, gang rumahnya tidak bisa masuk mobil.
Begitu sudah sampai depan gang rumahnya, Ranti langsung turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih pada supir kantor. Saat akan memasuki gerbang gang, ternyata gerbangnya sudah digembok, maklum sudah jam sebelas malam lebih, wajar gerbang gang digembok, untung semua warga punya kunci cadangan gerbang gang ini.
Ranti membuka gembok gerbang, lalu masuk dan tidak lupa menggemboknya lagi.
Saat berbalik setelah selesai menggembok gerbang gang ... "Astagfirullah!" Seorang perempuan sudah berdiri di belakangnya, jantung Ranti seperti mau copot, karena gang ini sudah sepi sekali peneranganpun seadanya, dia kaget seingatnya tadi saat membuka gembok gerbang dari luar, tidak melihat siapa-siapa.
"Baru pulang, Mbak?" Untuk pertama kalinya perempuan yang sering berdiri di ujung gang ini menyapa duluan, mengingat mereka sudah bertemu beberapa kali dan selalu Ranti yang selalu menyapanya duluan.
"Iya, kaget aku, kirain siapa." Ranti mencoba berbasa-basi karena tadi bereaksi berlebihan.
Lalu perempuan itu berjalan duluan, dia memakai setelan baju tidur berwarna biru. Ranti mengejarnya, sekalian saja, sudah saling sapa, tidak ada salahnya pulang ke rumah bersama. Dalam fikiran Ranti lumayan ada temen menemani sampai rumah, karena gang ini cukup panjang untuk sampai ke rumahnya sendirian.
"Mbak nungguin suaminya?" Ranti bertanya, dia diam saja sepanjang mereka berjalan bersama.
Perempuan itu menggeleng, wajahnya terus menghadap ke depan.
"Oh, nungguin anak ya?" Ranti bertanya lagi, kalau anaknya yang ditunggu, tidak heran dia rela berdiri di ujung gang.
Perempuan itu tersenyum, lalu berhenti berjalan dan menatapRanti, dia mengangguk, wajahnya masih tersenyum, tapi kenapa wajahnya terlihat memucat, oh mungkin karena tadi tempat gelap, jadi kurang terlihat, sekarang sudah cukup terang, Ranti masih mencoba memikirkan sesuatu yang masuk akal.
"Mbaknya lagi sakit?" Ranti juga heran kenapa jadi cerewet sekali, padahal dia orangnya tidak mau ikut campur urusan orang lain.
Perempuan itu kembali berjalan dan hanya mengangguk dengan pertanyaan Ranti, saat ini dia sudah ada di depan Ranti sekitar 3 langkah.
"Oh gitu, yaudah saya anter yuk, takut jatuh kalau sendirian." Reflek Ranti memegang lengannya dari belakang untuk memapah, tapi saat dia pegang ... dingin sekali, lengan itu terasa sangat dingin, Ranti merasa ....
Perempuan itu lalu menengok ke arah Ranti, mata mereka bertemu, wajahnya semakin pucat ....
"Neng!" Seseorang menepuk bahu Ranti dari belakang, dia terkejut dan sempat tersontak, hingga pegangan pada lengan perempuan itu terlepas.
"Mah, bikin kaget aja." Ternyata mamah mertua Ranti.
"Jangan bengong, malam jumat nih! Yuk." Mamah mertua langsung mengapit tubuhnya.
"Bentar Mah, ini kita anter mbaknya dulu." Ranti langsung berbalik untuk menawarkan bantuan lagi, tapi, kok, dia tidak ada Ranti bingung.
"Anter siapa?" Mamah mertua bertanya.
"Ini tadi aku bareng sama Mbak dari ujung gang, dia itu loh yang suka nungguin anaknya pulang, aku sering ketemu kalau pulang malam. Tadi kayaknya sakit, makanya aku mau anter dia ke rumahnya, tapi udah nggak ada sekarang, dia mungkin udah pulang duluan."
"Yaudah, kalau gitu yuk, pulang, kok rasanya dingin banget." Mama mertua kembali mengapit tangan Ranti dan mereka berdua berjalan menuju rumah, gang masih sepi sekali, tidak ada yang sekedar duduk mengobrol atau merokok di luar.
__ADS_1
Begitu sampai rumah Ranti mandi lalu mengambil anaknya dari kamar mamah, mereka tinggal satu rumah terpisah lantai saja, Ranti di lantai satu, mamah mertua di lantai dua.
Anak Ranti ternyata sudah terlelap, dia memaksa membawa turun anaknya, karena tidak mau membiasakan anaknya tidur selain dengan Ranti.
Ranti baringkan anak itu, lalu setelahnya ikut tiduran di tempat tidur, anak Ranti berumur tiga tahun, sudah sangat bawel, apa saja dia katakan, tapi Ranti bersyukur, karena dia anak yang mengerti ketika ibunya harus bekerja.
Ranti mengirim pesan kepada suaminya kalau dia sudah di rumah, walau mereka sedang jauh, melapor keberadaanku adalah kewajiban, sama seperti suaminya juga, selalu mengabari.
Setelah suaminya membalas, tanpa terasa Ranti jadi sangat mengantuk, lalu perlahan mulai tidak mampu lagi melihat layar telepon genggam karena mata terasa begitu berat.
Tok … tok … tok ….
Ranti terkaget, ada yang mengetuk pintu depan, dia melihat jam, jam dua malam, Ranti takut, tapi dia harus membukanya, apakah tetangga yang sedang butuh bantuan? Itu yang Ranti takutkan.
Meminta tolong mamah mertua, papah mertua atau kakak ipar yang tinggal di atas, takut ngerepotin, makanya Ranti mencoba memberanikan diri untuk mengintip dari jendela dulu.
Ranti memakai jilbabnya, lalu mengintip dari jendela, ternyata perempuan di ujung gang tadi, Ranti tanpa ragu langsung membuka pintu rumahnya.
“Ada apa Mbak?” Ranti bertanya, perempuan itu menatap sejurus ke depan, dia terlihat pucat dan sedih.
“Mbak?” Ranti bertanya lagi, karena perempuan itu hanya diam membisu di depan pintu rumahnya.
“Boleh minta tolong?” Perempuan itu akhirnya bertanya.
“Boleh, minta tolong apa? Mau dianter ke rumah sakit?” Ranti hanya menebak, siapa tahu dia butuh bantuan itu.
“Anakmu sudah tidur?” Perempuan itu kembali bertanya.
“Sudah Mbak, Mbak kenapa?” Ranti mengulang bertanya.
“Aku … boleh masuk?” Perempuan itu meminta masuk ke rumah.
“Boleh, yuk masuk.” Pertimbangan Ranti membiarkan perempuan itu masuk adalah karena, dia wanita, dia tetangga dan dia sepertinya butuh pertolongan.
Ranti mempersilahkan perempuan itu untuk duduk di sofa, posisinya adalah mengharap pintu kamar anaknya yang ada di dalam, sementara Ranti membelakangi pintu kamar it.
“Mbak butuh bantuan apa”
“Anakmu sudah tidur?” Perempuan itu kembali bertanya.
“Aku ingin melihat anakmu, boleh?” Perempuan itu bertanya, Ranti agak ragu, karena dia tidak suka orang masuk ke kamarnya, terlebih suaminya.
“Hmm, besok aja ya, soalnya anak saya lagi tidur, takutnya nanti dia bangun, kasihan kalau tidurnya terbangun paksa, maaf ya Mbak.”
“Lihat sebentar saja.” Perempuan itu memaksa.
“Maaf ya Mbak.” Ranti mulai takut, dia melarangnya.
Tiba-tiba perempuan itu berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar, Ranti reflek menahannya dengan memegang bahunya.
“Mbak! mau kema ….” Ranti terdiam, bahu itu terasa dingin sekali, padahal dia memakai piyama biru yang berlengan panjang, tapi entah kenapa, dingin dari bahunya menembus ke baju.
Perempuan itu masih terus berjalan, tapi saat sudah di depan pintu kamar anaknya Ranti, dia tidak bisa masuk dan terjatuh, dia menatap kasar pada Ranti.
“Mbak ngapain! Mau ngapain ke kamar anak saya!” Ranti berteriak, dia terlihat sangat marah, lalu terdengar suara dari atas, seperti orang yang berjalan dengan cepat, lalu dia menuruni anak tangga.
“Kenapa Ran?” Papah mertuanya ternyata, Ranti melihat ke arah tangga, di mana papah mertuanya turun.
“Ini ada perempuan, maksa ketemua Giska, aku nggak bolehin, tapi dia maksa.” Ranti menatap Papah mertuanya dan mengadukan perempuan yang sedetik lalu Ranti lihat terjatuh saat akan masuk ke kamar Ranti.
“Perempuan apa?” Papah mertuanya bingung, karena tidak ada siapa-siapa di sana. Ranti melihat kembali ke arah perempuan itu, tapi … tidak ada, hilang.
“Tadi dia tuh di sini Pah, dia mau masuk ke kamar Ranti, tapi nggak tahu kenapa dia jatuh, trus Papah dateng, eh sekarang ilang, udah pergi kali karena takut.”
“Ranti, tapi pintunya ketutup.”
Ranti menengok ke arah pintu masuk, tertutup, padahal tadi pintu itu memang tidak dia tutup kembali setelah mengizinkan perempuan itu masuk, tapi kenapa sekarang tertutup?
“Mungkin perempuan itu yang tutup Pah, pas dia kabur tadi.” Ranti masih yakin perempuan itu sudah kabur.
__ADS_1
Papah mertua turun, lalu mengecek pintu.
“Terkunci, ini kuncinya masih di dalam, masa dia bisa tutup pintu trus ngunci dari dalam?” Papah mertua mengatakan itu dengan heran.
“Tapi tadi memang benar ada perempuan yang masuk Pah.” Ranti meyakinkan mertuanya.
“Yaudah kamu tidur gih, biar Papah tidur di sofa ruang tamu, jagain kamu sama Giska, Imran dinas kan?” Papah mertua memang selalu baik sama seperti istrinya.
“Iya Pah, makasih ya.” Lalu Ranti masuk ke kamar, dia disuruh Papah mertuanya kunci pintu kamar.
Saat Ranti sudah mengunci pintu kamar, papah mertua melihat ke arah jendela, sekelebatan dia melihat ada seseorang tadi di sana, dia lalu mengintip dari jendela, tidak ada orang, dia lalu tidur di sofa.
…
Hari sudah pagi, Ranti sudah bangun, ini hari sabtu, dia libur kerja, sudah masak untuk anaknya dan sekarang sedang bermain dengan Giska.
“Semalem kenapa?” Mamah mertuanya duduk di samping Ranti bertanya.
“Nggak tau Mah, semalem tuh Ranti yakin kok, perempuan itu masuk maksa liat Giska, tapi Ranti nggak ijinin dia lihat Giska, pas papah dateng dia malah kabur.”
“Kamu mimpi kali Neng.” Seisi rumah memang memang memanggil Ranti dengan sebutan, Neng, termasuk suaminya.
“Ya masa kalau mimpi akunya udah ada di luar sih?” Ranti bersikeras.
“Kalau Mamah pernah liat dulu, ada film tentang orang, kalau tidur itu jalan, karena dia kebawa mimpi, mungkin nggak kamu gitu”
Ranti menatap mertuanya, tidak terfikir sih olehnya. Tapi apakah iya dia punya penyakit aneh begitu? Sleep walking.
“Nggak tahu juga deh, soalnya baru semalem kejadian kayak gitu Mah, seumur hidup Ranti nggak pernah ngalamin itu.”
“Yaudah gini aja, kalau Imran pulang, Ranti cerita, biar Imran yang putusin mesti apa, sekarang kamu mau dimasakin apa buat makan siang?” Ranti beruntung memiliki keluarga suami yang selalu baik, termasuk ibu mertua yang kebaikannya sama seperti ibu sendiri, mau masakin untuk makan dan tidak pernah ngomongin menantunya sama sekali.
Ranti tidak mau memikirkannya lagi, karena itu bukan sesuatu yang cukup penting, dalam hati Ranti ragu, apakah memang benar semalam kejadian, walau sebenarnya terasa nyata sekali.
…
Hari ini Ranti pulang tepat waktu, jam lima sore, dia dijemput suaminya, saat melewati gerbang gang, dia menatap ke arah dimana perempuan itu biasa menunggu anaknya, tapi, tidak ada, Ranti lega, malas kalau harus ribut dengan tetangga.
“Tadi perempuan itu nggak ada?” Imran suaminya bertanya, begitu mereka sampai rumah.
“Nggak ada mas, cuma saat malam dia ada di sana.”
“Mas mau tanya, kenapa dia maksa ngeliat Giska.”
“Tapi Mas, kalau ternyata emang Ranti yang sakit gimana? Soalnya pintunya ke kunci dari dalam pas papah cek.” Ranti mulai ragu.
“Yaudah.” Imran setuju, Ranti lega, karena dia lebih takut keributan dengan tetangga, tinggal satu wilayah tapi bertengkar itu paling tidak menyenangkan.
“Itu tanganmu kenapa?” Imran tiba-tiba melihat telapak tangan Ranti yang memerah.
“Kenapa” Ranti baru sadar juga.
“Ini nggak sakit?” Imran bingung.
“Nggak sih, aw!” Imran memencet pergelangan tangan Ranti yang memerah itu.
“Itu sakit.”
“Iya ya, aku nggak ngeh Mas, sejak kapan merahnya.” Ranti memperhatikan tangan itu, kenapa seperti terkena air panas, seingatnya dia tidak cedera saat memasak, kok tiba-tiba melepuh begini, sebelum mas Imran bilang, dia bahkan tidak sadar.
“Pakai salep Neng, dikompres pake air dingin biar enakan.” Imran mengambil salep dari kulkas dan diberikan ke Ratih, dia mengambil salep luka bakar.
“Iya, Mas.” Ranti mengolesinya dengan salep itu.
_______________________________________________
Catatan Penulis :
Aku pernah bikin cerpen ini dan di post di FB ku, FB : MUKA KANVAS, sekarang aku bawain lagi ya di sini menjadi cerbung, ini sebenarnya terinspirasi dari kisah nyata yang aku alami sendiri, tapi untuk bagian horor semuanya fiksi ya.
__ADS_1
Jangan lupa bantu AJP yang tadi pagi sempat peringkat 41, bantu vote kami ya biar rangking terus, terima kasih.