
“Capek aku nyetir muter-muter gini Har,” Aditia mengeluh.
“Anda pikir hanya anda yang lelah!” Hartino kesal sampai menggunakan bahasa baku.
“Ya anda pikirlah, sebelum memberikan ide, jangan malah membuat kita tersesat!” Aditia tidak mau kalah.
“Kau benar-benar! Apa karena merasa kakak lebih berat ke kamu, makanya kamu bisa sok kayak gini?” Hartino mulai meledak-ledak lagi.
“Apa maksudmu Alka berat padaku, aku tidak mengerti!”
“Kau tidak usah sombong, karena kakak itu sa ....”
“Hartino bisa kah kau tutup mulutmu!” Alka berkata dengan dingin, Hartino hampir saja keceplosan, dia hampir bilang Alka sakit Lanjo.
“Baiklah kalau begitu, aku rasa kehadiranku tidak terlalu diperlukan, kalau begitu aku pisah dulu.” Hartino keluar dari angkot dan berpisah, sementara Aditia tidak mau kalah, dia langsung mengemudikan angkotnya membawa tiga orang kawan lainnya, yang dulu selalu bersama Hartino, bahkan sebelum Aditia mengenal mereka.
Hartino berjalan dengan rasa marah yang dalam, dia kesal, kenapa dia disalahkan terus, padahal dia hanya ingin berbuat baik. Tapi tentu niat baik tidak pernah selalu dianggap baik.
Dari kejauhan Hartino melihat seorang wanita berpakaian serba pink dengan rok yang panjang dan sepatu hak tinggi, dia sedang membuka kap mobilnya.
“Cha!”
“Eh kamu, kaget aku,” Alisha terlihat kaget saat melihat Hartino menepuk bahunya, aktingnya cukup bagus untuk kelas yang bukan aktris.
“Kenapa? sendirian? Mana supirmu?”
“Yang mana dulu mau aku jawab?” Alisha bertanya sambil tersenyum.
“Ya, maksudku, kenapa kau sendirian di sini? bahaya, ini sudah cukup malam.”
“Ya Har, supirku cuti, aku mau jalan sama temen-temen, trus ini tiba-tiba mobilnya mogok, nggak tahu kenapa, aku coba buka aja kap mobilnya, trus buka youtube juga, siapa tahu aku bisa benerin.”
“Cha, kamu bukan hubungi montir kek atau orang rumahmu, kenapa malah di sini semalam ini, bahaya tahu. Dengan nonton youtube, kamu nggak bisa tiba-tiba jadi jago benerin mobil Cha, lagian ya, kebiasaan, kalau udah suka sama satu barang, selalu dipakai sampai itu barang rusak parah. Ini mobil udah berapa tahun Cha? Ganti yang baru.” Hartino kesal, karena Alisha masih pakai mobilnya yang sudah model lama.
“Ya aku kan baru balik ke Indonesia, jadi sayang aja ganti mobil sementara mobil ini jarang banget aku pakai. Lagian, aku kan memang begitu, setia orangnya, jadi nggak gampang berpindah hati.” Alisha mengerlingkan matanya menggoda, Har.
“Nggak lucu Cha, kamu mempertahankan yang salah, itu bisa bikin celaka, kayak mobil ini, udah tahu rusak tapi masih aja dipakai, bahaya tahu!”
“Nggak tuh, aku merasa baik-baik aja.”
“Keras kepala!” Hartino memegang kepala Alisha dengan kesal.
“Udah kita pulang pakai mobilku aja, aku udah telepon supir untuk jemput kita di sini, aku antar kamu pulang ke rumah ya.”
Alisha mengangguk.
Tidak lama kemudian, supir Hartino datang, lalu mereka naik dan hendak mengantar Alisha duluan ke rumahnya.
Sementara di jalan, Alisha menggunakan moment itu untuk menikmati wajah orang yang paling dia cintai.
“Har, kau darimana?” Alisha bertanya, padahal dia jelas tahu.
“Oh tadi, ketemu client.”
“Tapi kok, kayaknya kamu tadi kayak berantakan gitu, maksudku, bajumu, tidak seperti orang yang ebrtemu clien, kaos tangan pendek dan celana jeans.” Alisha memancing Hartino.
“Hmm, sebenarnya aku sedang mencari.”
“Kau sedang mencari apa?”
“Siapa, bukan apa.” Alisha membuat Hartino tidak curiga sedikitpun karena dia sangat detail, tidak bertanya langsung mencari siapa, tapi menggunakan kata apa, agar Hartino tahu, dia tidak tahu apa-apa.
“Kau mencari orang?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Mau aku bantu?”
“Tidak, memang kau lulusan profiling sampai bisa bantu mencari orang?” Hartino mengusap kepala Alisha, hal yang selalu dia lakukan dulu ketika masih sekolah bersama. Untuk Hartino, Alisha adalah wanita yang sangat manja dan lemah.
“Bisa, asal aku tahu namanya, nanti aku cari di sosmed deh.” Alisha tersenyum dengan manis, Hartino paling suka senyum itu.
“Dia itu harus aku temukan, karena dengan begitu dia tidak mengganggu orang lagi.”
“Penjahat? Minta bantuan Polisi saja, ayahku banyak relasinya.”
“Cha, kamu lupa ibuku dan orang tuamu adalah rekan? Relasi ayahmu juga relasi ibuku.”
“Oh iya ya.” Alisha benar-benar menunjukan muka polosnya pada Hartino.
“Aku ingin membantu Har,” Alisha terlihat kecewa.
“Tidak perlu, kau tenang saja ya. Kau itu wanita baik dan anggun, sekarang yang perlu kau lakukan, bantu ayah dan ibumu di perusahaan, jadilah wanita hebat seperti ibumu dan ibuku ya.”
“Untuk apa menjadi hebat, tapi tetap tidak bisa bersamamu.” Alisha berkata dengan cukup pelan, Hartino mendengar tapi dia tidak akan menanggapinya, karena hatinya perih mendengar itu.
Mereka telah sampai di kediaman Alisha, kediaman yang sangat mewah khas orang-orang kaya. Alisha keluar dari mobil begitu mobil Har masuk sampai ke halaman rumah.
“Nggak mampir dulu?”Alisha bertanya.
“Nggak ya, udah malam, salam aja buat om dan tante ya.”
“Iya nanti aku salamin. Makasih ya Har.”
“Iya, Cha ... kalau ada masalah kayak tadi lagi, kamu hubungi aku ya, jangan sendirian malam-malam, bahaya.”
__ADS_1
“Kenapa emang? Kan tadi tempatnya terang dan pinggir jalan.”
“Nanti ada ... booooo.” Hartino menakuti Alisha, karena seingatnya, Alisha sangat takut setan.
“Har! Kamu menyebalkan.” Alisha pura-pura ketakutan.
“Yaudah, aku pulang ya, selamat istirahat, semoga mimpi indah.” Hartino lalu menutup kaca mobilnya dan mobil itu melaju. Begitu mobil itu tidak terlihat lagi dan telah keluar dari gerbang rumahnya, Alisha masuk ke garasi rumah yang berada di kanan kiri rumah, tanpa penutup, kelaurga Alisha punya cukup banyak kendaraan, mobil dan motor sport.
Alisha membuka roknya di garasi rumah, ternyata di dalam rok itu, dia telah memakai celana jeans dan baju pinknya juga dia buka, di dalam baju itu sudah ada kaos berwarna hitam yang dia pakai double. Sepatunya juga di ganti sepatu khusus untuk pengendara motor besar.
Seorang pelayan keluar dari rumah dan membereskan semua baju Alisha.
Alisha mendekati sebuah motor sport dengan merk Ducati, dia memakai jaket kulit yang dibawakan oleh pelayannya, lalu mengganti tas cantik dengan rantai emas dengan tas selempang di dada. Rambutnya yang tadinya tergerai cantik, dia ikat asal dan ditutup dengan helm full face yang cukup besar.
Dia keluar gerbang, di luar gerbang, sudah menunggu seorang perempuan juga yang mengendarai sepeda motor yang sama.
Mereka berkendara kembali ke jalan di mana tadi lima sekawan tersesat. Itu adalah dekat apartemen Alisha.
“Botolnya aman?” Alisha bertanya begitu mereka masuk llift hendak pulang ke apartemen.
“Aman.” Rania menunjuk tasnya.
Ternyata Rania yang tadi menunggu Alisha di luar gerbang memakai motor yang sama.
Mereka sampai di apartemen, Rania mengembalikan botol berisi Rido ke ruangan gelap di apartemen itu.
“Kenapa kau nekat di pinggir jalan itu?” Rania bertanya, mereka sedang menikmati segelas wine dan juga makanan ringan di balkon apartemen.
“Karena ku rindu.”
“Tapi kau membahayakan rencana kita, bagaimana kalau Hartino curiga? Curiga kalau kau dalang dari semua ini?”
“Kau pikir dia berpikiran buruk tentangku? Dalam pikirannya, aku itu cewek manja, anak mama, anggun, anak orang kaya yang lemah.”
“Ya, dia tidak mengenalmu.”
“Itu aku dulu sebelum mengenal Hartino, tapi setelah mencintainya, aku tahu, bahwa aku tidak bisa selemah itu untuk menjadi kekasihnya.”
“Bagaimana jika dia tetap pada pendiriannya tidak ingin bersamamu?”
“Ya, kami tidak bersama.” Alisha tertawa.
“Nona, kau tahu kan, bahwa hatimu sakit saat berkata seperti itu.”
“Rania yang hatinya lembut walau penampilannya tomboy, kakakmu ini sudah mengatur semuanya, tenang saja.”
“Aku masih tidak paham, ke arah mana kau hendak membawa hubunganmu.”
“Ke arah yang lebih dekat lagi, percayalah, dia akan menerimaku kelak, aku yakin itu.”
“Maksud Nona, jika dia tahu sejauh mana kau berjuang dan mempermainkan mereka, dia akan menerimamu?” Rania bingung dengan logika seperti itu.
Rania adalah anak dari keluarga miskin di Kamerun, Alisha menemukannya ketika dia masih remaja, membantu Alisha bertemu dengan para dukun, dari sana Rania bisa makan dengan baik karena uang membayar jasa Rania mengantar Alisha.
Rania melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa berat jalan yang Alisha harus lalui, ngilmu di negeri sendiri saja sudah berat, apalagi di negeri orang. Alisha bahkan menguasai bahasa jin karena berkomunikasi dengan jin tidak selalu menggunakan bahasa dari negara tersebut, karena jin adalah jin, bukan manusia.
Keluarga Rania terbelit hutang untuk makan dan keperluan semua keluarga Rania, Rania akhirnya dijual oleh ayahnya karena sudah tidak punya cara membayar hutang rentenir yang sangat kasar dan sering mengancam keluarga Rania.
Alisha yang biasa diantar oleh Rania ke dukun hari itu, tidak menemukannya di persimpangan tempat mereka selalu janjian bertemu dan akhirnya ke rumah dukun-dukun untuk ritual.
Alisha mulai curiga ketika hari ketiga Rania masih belum muncul.
Alisha lalu ke rumah Rania dan mendapati kabar bahwa Rania telah di bawa oleh rentenir itu untuk dijadikan budak **** lelaki hidung belang, sebagai pembayaran hutang orang tuanya.
Alisha marah besar, dia bahkan langsung mencekik ayahnya Rania dan berhenti ketika ibunya Rania yang sudah sakit-sakitan memohon untuk melepas suami tidak berguna itu.
Lalu Rania meminta alamat rentenir dan datang ke sana.
Begitu sampai sana, Alisha terkejut, Rania yang masih remaja, harus menanggung sakit dan malu karena telah menjadi pemuas hasrat para lelaki hidung belang.
Rania dalam keadaan yang menyedihkan, dia di taruh di sebuah kamar kumuh, dengan pakaian mini dan riasan menjijikan.
Alisha menangis melihat itu, dia kalap dan membuat semua orang yang ada di situ akhirnya muntah darah karena kalapnya dia.
Rania sudah lemas tidak berdaya, dia tidak bisa ikut lari karena sudah tiga hari diperlakukan bak binatang pemuas nafsu oleh beberapa pria yang membayar seadanya.
Rania yang masih bertubuh mungil itu akhirnya di gendong di punggung oleh Alisha dan tubuh itu diikat dengan kain yang ada di situ, lalu Alisha berlari dari tempat itu membawa Rania ke rumah sakit.
Rania begitu sampai rumah sakit tidak sadarkan diri, dia diperiksa oleh Dokter dan Alisha mendapatkan kabar yang sangat menyesakkan dada.
Dokter itu bilang bahwa organ intim Rania telah rusak, Rania masih bisa hidup dengan baik, tapi rahimnya harus diangkat, organ intimnya perlahan akan sembuh tapi dengan perawatan yang intensif.
Alisha meminta Dokter untuk merawatnya, karena Alisha harus mengurus keluarga Rania dulu. Rania aman di rumah sakit, karena Alisha membayar beberapa bodyguard untuk menjaga Rania di rumah sakit.
Keluarga Rania langsung diungsikan oleh Alisha, kecuali ayahnya, Alisha meninggalkan dia dalam keadan babak belur. Ibunya dan ketiga adiknya tinggal sementara di hotel dekat bandara. Alisha meminta bantuan ayahnya untuk mengurus kepindahan mereka ke Indonesia. Alisha memohon pada ayahnya untuk mempercepat proses pemindahan keluarga Rania. Karena kalau sudah di Indonesia, keluarga Rania akan aman.
Ayahnya Alisha bingung, kenapa anaknya ada di Kamerun bukan di Australia, tapi Alisha memberikan alasan dia sedang study untuk kepedulian sosial di Kamerun, tapi dia memang lewat jalur ilegal, karena dia tidak ingin ayahnya khawatir, ayahnya Alisha percaya dan malah bangga anaknya menolong orang, akhirnya hanya butuh waktu satu minggu, keluarga Rania diungsikan ke Indonesia, sebagai wisatawan asing lalu kependudukan mereka diurus agar segera menjadi warga Negara Indonesia.
Rania bangun setelah dua hari di rawat, Alisha selalu menemaninya, Alisha merasa bersalah, andai hari pertama dia langsung cek ke rumah Rania, tentu Rania bisa diselamatkan dari lelaki hidung belang lebih cepat.
Rania melihat Alisha langsung memeluknya dan menangis sesegukan sembari berkata dalam bahasa negaranya, dia minta maaf karena tidak bisa datang ke persimpangan untuk mengantarkan dia ke dukun-dukun itu.
Alisha menangis sejadinya, gadis remaja tanpa rahim ini masih memikirkan tanggung jawabnya padahal dia telah tersiksa lahir batin.
Alisha berjanji pada Rania, bahwa dia akan membawa Rania kemanapun dia pergi, sejak itu, Rania tidak pernah sekalipun tidak di dekat Alisha, ketika Alisha kembali ke Australia, Rania ada bersamanya, pun, ketika kembali ke Indonesia, Rania tetap bersamanya.
__ADS_1
Rania cepat belajar bahasa Negeri ini, dia sudah fasih berbicara bahasa Indonesia, keluarga Alisha ikut menjaga keluarga Rania dan tahu bahwa Rania menjadi asisten Alisha yang digaji, terlepas dari itu, Alisha menganggap Rania adalah adiknya. Walau Rania tetap memanggilnya nona.
Tidak heran, kalau saat ini, tujuan hidup Rania hanya membantu Alisha mendapatkan apapun yang Alisha inginkan. Sebahaya apapun itu dan semengerikan apapun itu, seperti berhadapan dengan ruh.
Rania juga memiliki ilmu yang cukup untuk berhadapan dengan jin di Indonesia karena dia telah belajar dari Alisha.
Rania masih menghirup asap rokoknya di balkon itu, dia ingat masa-masa terberatnya telah dilalui, kelaurganya bahagia, ketiga adiknya sekolah tinggi, ibunya sembuh dari penyakit, mereka tinggal di rumah yang besar.
Rania bahagia, karena dia dijual itulah, Alisha akhirnya menyelamatkan keluarganya. Rania tidak akan main-main jika itu menyangkut Alisha, jiwa dan raga akan dia serahkan.
...
“Hartino menyendiri di kamarnya, dia seminggu ini tidak datang ke gua Alka. Rido masih hilang, yang lainnya masih terus mencari tapi tidak menemukan juga, dukun-dukun sudah ditemui semua, masih sama tidak ada hasil sama sekali.
“Har, ngomong bentar deh, jangan kayak anak kecil dong.” Ganding datang untuk ketiga kalinya, tapi masih tidak di gubris oleh Hartino.
“Ada apa sih Nding?” Ibunya Har bertanya, karena tidak biasa sekali Ganding datang Hartino tidak mau bertemu, itu langka sekali. Kadang ibunya suka cemburu, karena Hartino tidak pernah menolak apapun permintaan bertemu yang Ganding inginkan, tapi ini berbeda.
“Biasa Tan, urusan bisnis, ada selisih paham.”
“Kalian kayak anak kecil aja, urusan bisnis diem-dieman.”
“Tante bantu dong, biar dia mau ketemu Ganding.”
“Yaudah nanti Tante bantu ngomong, tapi Ganding dan Hartino juga harus mulai dewasa, kalau ada masalah jangan kayak gini, selesaiin ya.”
“Iya Tan.” Ganding pamit walau kecewa tidak bertemu dengan Hartino.
Mamanya Hartino minta masuk kamar, Hartino membukakan pintu.
“Ganding udah pulang, kamu kenapa sih ama Ganding, urusan perempuan ya?” Mamanya menembak.
“Siapa? Jarni? ya enggak lah!”
“Ya, Mama lihat Jarni dekat sekali dengan Ganding, dulu Mama sempat berpikir kamu juga naksir dia, karena kamu lembut sekali kepada Jarni.”
“Nggak lah! Jarni itu adik kecil makanya Har lembut ke dia, kalau Ganding dan Jarni memang pacaran, tapi masalah kita bukan itu.”
“Yaudah kalau begitu kamu daripada di kamar kayak orang patah hati, mening jalan gih, tadi Alisha udah Mama telepon, suruh datang ke sini, kalian makan atau nonton gitu.”
“Mah! Kok gitu sih, rese ah!”
“Yaudah kalau nggak mau mah, Mama telepon Alisha lagi deh, bilang kalau kamu nggak mau.”
“Ma ... jangan, kasian kalau nanti dia udah ke sini malah nggak jadi.”
“Tuh kan, kamu sebenarnya sayang kan, ke Alisha?”
“Siapa yang bisa nggak sayang sama wanita semanis dia, tapi kan, bisa jadi Har nggak berjodoh sama dia.”
“Jadi kamu anggap Alisha juga adik kecil seperti Jarni?” mamanya bertanya.
“Ya ....” Hartino berbohong, dia tidak menganggapnya begitu, dia cinta pada Alisha, tapi tidak bisa bersama.
Alisha datang, mereka berencana nonton dan makan malam setelahnya menggunakan mobil Hartino, karena Alisha masih menggunakan mobil yang mogok waktu itu, Hartino takut mobil itu ngadat lagi.
“Mau popcorn?” Hartino bertanya.
Alisha berdandan sangat cantik sekali, seperti biasa, rok berwarna ungu, kemeja yang fit ditubuh berwarna senada dan tas cantik dengan rantai berwarna emas, sepatu hak tinggi sebagai hiasan akhir yang membuat sempurna.
Ketika Hartino jalan dengannya, semua mata lelaki itu memandang iri pada Hartino yang menggandeng wanita sangat cantik itu.
Hartino ternseyum, Alisha memang sangat cantik. Hartino merasa bangga dan bahagia bisa sejenak melupakan masalah dunia ghaibnya dan akhirnya bisa bersenang-senang layaknya orang biasa.
Kalau dipikir-pikir kegiatan seperti ini jarang sekali dia lakukan sejak bergabung dengan Bapak, hidupnya sibuk berlatih dan menanganis kasus.
Dulu terasa tidak menyenangkan hal seperti ini, tapi sekarang dengan Alisha, terasa menyenangkan sekali.
“Har,” Alisha berkata, mereka sedang di restoran bioskop, menunggu film mulai.
“Kamu tersenyum terus, itu karena sopan santun padaku atau kau memang suka pergi bersamaku?” Alisha bertanya.
“Bagaiaman mungkin aku tersenyum hanya untuk sopan santu? Memang kau clientku?” Hartino tertawa.
“Jadi kau suka pergi bersamaku?”
“Aku memang pernah bilang kalau tidak suka bersamamu?”
“Pernah, dulu saat kuliah, saat kau bersama mantanmu itu, kau bilang aku mengganggu, karena selalu memaksa ikut jika kau sedang berkencan.”
“Ya, kau dulu itu selalu menyebalkan, keras kepala dan mengatur. Makanya aku bilang mengganggu, tapi aku tidak bilang aku tidak suka pergi bersamamu bukan?”
“Ya, kau tidak pernah bilang begitu.” Alisha tersenyum dengan sangat lebar.
“Cha, tersenyum gini terus ya, jangan sedih, jangan tidak bahagia, kau itu wanita yang sangat berharga.”
Alisha terdiam, dia kaget, untuk pertama kalinya Hartino berkata seperti itu.
Alisha merasa mungkin memisahkan dia dari lima sekawan jauh lebih baik daripada bergabung, buktinya berpisah dengan lima sekawan, hal yang dulu Alisha pikir takkan pernah Hartini lakukan, sekarang terjadi, maka yang perlu Alisha lakukan sekarang adalah, menabur garam dalam kulit yang luka.
Alisha menatap Hartino dengan tatapan lembut, tapi dengan niat yang buruk.
___________________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Crazy Up lagi guys. waktu dan tempat untuk menghina Alisha dipersilahkan.
Btw tokoh favoritku saat ini adalah Alisha.