
“Serius banget harus begini?” Dirga kesal karena Mulyana memaksa dia untuk menggunakan pakaian serba hitam dan tak memakai alas.
“Kita harus sangat meyakinkan, karena kalau tidak, mereka takkan percaya.”
“Tapi nggak jadi gembel gini.”
“Husss! Bukan gembel! Musafir!”
“Itu alasannya kita nggak pakai alas kaki? Sendal jepitlah minimal.”
“Ga, kalau pakai sendal nanti kita nggak akan dipercaya, karena mereka pasti akan anggap kita pembohong, ingat ini, kita harus masuk secara lembut, pastikan mereka percaya kita.”
“Yaudah, jadi dukun aja sekalian!”
“Kau pikir keluarga itu nggak punya dukun pegangan? Pasti sudah punya, apalagi Badrun sudah meninggal dunia dengan cara yang aneh dan sekarang anak lelakinya punya gejala seperti Badrun, mana mungkin mereka tak punya orang pintar yang sudah menjaga mereka selama ini, orang itu pasti sudah dipercaya turun temurun, kita nggak bisa ujug-ujug datang dan menawarkan jasa, itu akan terasa seperti penipu yang memanfaatkan keadaan.”
“Iya sih, masuk akal, tapi Ep, lihat deh, adikmu ini sepertinya memang memiliki keinginan tersembunyi sebagai pemain teater, masa sekarang kita berdua mau jadi gembel.”
“Musafir!”
“Kalian masih terlihat keren kok, jangan lupa bawa karung ya.” Aep yang sedari tadi hanya melihat saja dan sibuk dengan bukunya, tak terlalu peduli, mereka sedang di ruang tamu rumah Mulyana.
“Ep!” Dirga tahu, Aep sedang mencemooh mereka berdua.
“Wah ide bagus tuh, karung dibuat tas gitu ya, biasanya musafir selalu begitu kan?”
“Ep, rasanya aku ingin memukulmu!” Dirga masih kesal.
Mulyana sibuk mencari karung untuk difungsikan sebagai karung, dari sini kalian tahu kan, berasal dari mana sifat sungguh-sungguh Aditia yang selalu tak malu melakukan apapun saat harus berurusan dengan kasus? Mulyana memang sangat sungguh-sungguh jika mengerjakan kasus.
“Ga, ayo, biar aku saja yang pakai karung, tapi alas kaki, tetap tak pakai ya, biar kita keliatan musafir yang profesional, kau tahulah kalau kita berjalan sejauh itu di tengah terik matahari, lalu berjalan ke rumah Badrun dengan wajah kesakitan dan kulit gelap karena sinar matahari, maka kita akan dianggap benar-benar musafir yang butuh pertolongan.”
“Terserah kau saja!” Dirga kesal, tapi tak ingin mundur, karena penting bagi dia untuk ikut, dia selalu suka memecahkan kasus bersama Mulyana, itung-itung latihan, sebelum dia benar-benar menangani kasus kriminal sebagai Polisi. Memang tak dapat dipungkiri, kemampuan Dirga yang luar biasa hebat di Kepolisian, sedikit banyak berasal dari latihan ini, cara kerja Dirga menjadi lebih terarah dan terstruktur.
Latihan memang selalu membuat orang mahir, Aditia bahkan melakukan ini dari umurnya masih sangat belia, tak heran sekarang dia memimpin kawanan, bukan karena dia anak dari Mulyana, ayah angkat kawanan, tapi dia memang pantas, kalian setuju?
Mereka berdua berjalan ke rumah Badru, benar-benar berjalan tak menggunakan kendaraan apapun, butuh waktu 2 jam berjalan untuk mereka sampai di rumah itu.
Dirga sudah seperti ikan yang dijemur, kulitnya menghitam akibat paparan matahari selama 2 jam berturut-turut, sedang Mulyana yang notabene kulitnya lebih putih, kulitanya tak menghitam sama sekali, tapi memang tersirat lelah yang sangat hebat karena perjalanan itu.
“Kita mulai ya.” Mulyana lalu mengetuk gerbang rumah itu, tak lama kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya.
__ADS_1
“Bentar ya, diambilin beras dulu.” Wanita itu berteriak dari dalam rumah, orang kaya memang banyak yang dermawan, sepertinya itu istrinya Pak Badrun, karena kalau pembantu, pasti sudah mengusir karena tak punya kuasa untuk memberikan beras dan penampilannya juga cukup rapih sebagai wanita yang sudah lansia.
Tak lama kemudian wanita itu keluar dengan membawa beberapa kantung, mungkin isinya beras dan bahan makanan.
Membuka gerbang sedikit, wanita itu menyodorkan plastik yang dia bawa, “Ini, ada uang juga sedikit ya, doain supaya keluarga saya sehat selalu.” Perkataan kalut dari seorang ibu, terasa sekali, maka dititik ini, Mulyana bisa langsung memanipulasi keadaan, dia memang lumayan jago melakukan hal seperti itu.
“Bu, bilang pada anak lelakinya, ini dosa masa lalu, harus diputus dulu, baru dia akan sembuh.” Mulyana menatap ibu itu, Ibu Badrun terlihat terkejut, karena hanya segelintir orang tahu soal dosa anaknya. Dalam pandangan Ibu Badrun, musafir ini orang yang … sakti.
Ini alasannya Mulyana memilih menjadi musafir ketimbang gembel atau pengemis, karena musafir melakukan perjalanan biasanya bukan karena dia butuh uang, justru melakukan perjalanan untuk menguatkan sisi spiritual, makanya banyak musafir dianggap orang yang sakti.
Sebagai ibu yang sudah mengusahakan ke banyak dukun, bahkan dukun pegangan keluarga mereka saja gagal, omongan musafir ini terasa seperti oase di padang pasir, yang merupakan tanah luas atas penderitaannya sebagai istri yang harus kehilangan suami dan juga sekarang harus menanggung sakit melihat anaknya yang ikut menjadi gila seperti ayahnya.
“Dosa masa lalu?” Ibu Badrun bingung.
“Ini memang pekerjaan ghaib, tapi percayalah, bukan hanya bisa ditangkal oleh ritual tolak bala, tapi harus diselesaikan dulu akarnya.” Berkat semua informasi yang Mulyana dapatkan, dari pelatih di tempat pelatihan kepolisian itu, tentang mayat wanita dan affair dari anaknya Pak Badrun, lalu dari para warga rumah belakang komplek ini, maka Mulyana jadi terlihat sakti, karena tahu semuanya, padahal ini hanya masalah informasi yang didapatkan dengan tepat saja, maka kalian sebagai orang yang membaca tulisanku, kita sama-sama belajar, jangan mudah tertipu oleh perkataan orang, kita harus buktikan sendiri, apalagi langsung menilai seseorang sakti atau tidak, itu sangat berbahaya.
Beruntung Ibu Badrun ketemunya Mulyana, tapi banyak dari kita, malah ketemu orang jahat yang tujuannya hanya untuk menipu dan memanfaatkan kesulitan kita saja.
“Bagaimana kau tahu kalau kami selalu gagal? Kami memang sedang ada masalah, anakku menjadi gila seperti dikerjai orang.” Ibu Badrun masuk perangkap.
“Tolak bala hanya langkah pencegahan, bukan langkah penyembuhan, kalau mau sembuh, harus mencari penyakitnya, itu dulu yang dibenerin, baru bisa dilakukan ritual yang tepat.” Mulyana mencoba meyakinkan lagi.
“Aku harus melihat anakmu dulu Bu, aku ingin melihat, seberapa kuat dia dikuasai … maaf, saya harus segera pergi!” Mulyana sengaja menahan omongan dan jual mahal, hal ini membangkitkan kepercayaan si ibu menjadi semakin tinggi, karena orang yang tidak memaksa akan cenderung terlihat tulus, padahal Mulyana sedang melakukan strategi, walau memang dia lakukan untuk tujuan baik, mungkin ini kenapa Tuhan memuluskan siasatnya.
“Saya mohon Mas, tolong keluarga kami, kami sudah habis-habisan, saya nggak mau kehilangan lagi, saya mohon.” Di titik ini, Mulyana sudah berhasil.
“Tapi ini terlalu bahaya untuk kami, Bu.” Dirga mencoba membantu Mulyana dengan membuat ibu itu semakin tergantung pada mereka berdua dan akhirnya mau melakukan apapun.
“Aku akan bayar sebanyak yang kalian sebutkan, aku akan lakukan apapun!” Ibu Badrun terlihat sangat gusar karena takut dua pemuda musafir itu pergi.
“Jangan menghina kami begitu, perjanalan kami sudah sangat jauh, lihat kaki kami luka parah, kami memang meminta bantuan ibu secara sukarela untuk beras dan lain-lain ini, tapi jika membantu kami tak pernah pamrih, kita pergi saja Mul.” Dirga membuat keadaan semakin baik untuk mereka.
“Baiklah, maaf, aku tidak akan membicarakan upah, maaf, tolong kami Mas.” Ibu itu membujuk dan bahkan memegang bahu Mulyana agar tak pergi.
“Baiklah, kami memang tak mau dibayar, tapi untuk bagian akan lakukan apapun, itu perlu aku minta, karena mungkin ini pertaruhannya besar, bukan soal uang.” Mulyana berkata dengan serius.
“Baik, aku akan lakukan apapun.” Ibu Badrun terlihat lega karena dua musafir yang baru saja dia kenal mau menolong.
“Kalau begitu antar kami ke rumah anakmu.” Mulyana berkata.
“Wah, kalian bahkan tahu anakku tidak di rumah ini, kalian memang sakti.” Dirga menahan ketawa, karena sebenarnya informasi ini mereka dapatkan kemarin saat jadi tukang sayur, ibu-ibu di belakang itu memang sangat berguna.
__ADS_1
Dirga menyenggol lengan Dirga agar tak tertawa, karena takut Ibu Badrun jadi curiga.
Setelah memanggil pembantunya untuk tutup gerbang, mereka bertiga akhirnya pergi menggunakan mobil, Ibu Badrun menyetir sendiri, sungguh ibu-ibu sosialita pada zamannya, bahkan dia masih mampu menyetir sendiri.
Keluar komplek perumahan, butuh waktu 20 menit untuk sampai rumah anaknya Pak Badrun itu.
Ibu Badrun masuk setelah pintu gerbang dibuka oleh seorang lelaki, dia adalah supir anaknya.
Ibu Badrun keluar bersama Mulyana dan Dirga.
Mereka disambut oleh seorang wanita yang sangat cantik, dia adalah istri anaknya Pak Badrun.
“Ini Mulyana dan Dirga, mereka musafir yang akan menolong kita.”
“Tapi, Bu.” Sang menantu mencoba untuk menolak, mungkin karena sudah terlalu banyak dukun yang dibawa mertuanya.
“Sudah! Antar kami ke kamar suamimu.” Ibu Badrun mengipas tangannya, pertanda agar menantunya diam dan menurut saja.
Menantu yang terlihat cantik berwajah teduh itu terliaht sedih dan akhirnya terpaksa mengantar, Mulyana dan Dirga saling pandang, mereka tahu, wanita ini yang dikhianati oleh suaminya.
Mereka diantar ke sebuah kamar di lantai 1, kamar itu gelap begitu dibuka, si istri lalu menyalakan lampu dan terlihatlah di dalamnya ada seorang pria yang tangan dan kakinya diikat, dia tidur meringkuk.
“Harus diikat karena kalau tidak, dia akan mengamuk dan berlari ke lapangan itu, seperti suamiku.” Ibu Badrun menjelaskan tanpa diminta.
“Siapa nama anakmu?” Mulyana bertanya.
“Prayoga, panggil Yoga saja.”
Mulyana mendekati Yoga dan membaca mantra tanpa terdengar jelas, karena dia membacakannya dengan berbisik.
Saat Mulyana semakin mendekat, Yoga tiba-tiba duduk, padahal kaki dan tangannya diikat, mantra yang diucapkan Mulyana adalam mantra pendeteksi jin, mantra khusus Kharisma Jagat, di mana setiap dibacakan, jin yang di dalam tubuh seseorang akan bereaksi, karena mantra itu adalah … mengajak bertarung, jin itu makhluk yang tidak suka ditantang, cara ini selalu berhasil, tapi reaksi Yoga hanya duduk dan terdiam.
“Yoga … dia menunggumu di bangku itu, makanya kau selalu berlari ke sana kan? Ada janji yang belum kau tunaikan.”
Yoga lalu mengamuk dan hendak menyerang Mulyana, walau dia terikat, dia menggunakan seluruh tenaganya untuk menyerang Mulyana, Mulyana lalu memgang ubun-ubunnya, mengucapkan mantra gendam, Yoga terdiam dan … “Tidurlah, kita akan selesaikan semuanya.”
Yoga seketika tertidur, Bu Badrun takjub melihat kemampuan itu, karena tidak ada yang pernah mampu menenangkan anaknya sejauh ini.
“Aku ingin tahu semuanya, aku ingin tahu ceritanya lengkapnya, maka aku akan bantu, seperti janji ibu, bahwa akan lakukan apapun, maka aku ingin ceritanya, ingin seluruh ceritanya secara lengkap, jangan ditutupi, karena kalau ada yang ditutupi, langkahku akan salah, apa bisa?” Mulyana berbicara pada Bu Badrun dan istrinya Yoga.
Ibu Badrun mengangguk, sementara istrinya Yoga terdiam, ada sorot aneh dalam matanya.
__ADS_1