
“Apa yang kakek bicarakan tadi sampai Mama lama sampai ke mobilnya?” Hartino bertanya saat mamanya menyetir ke arah pulang, tadi memang mamanya lama balik ke mobil saat Hartino minta pulang.
“Kakek bilang Har harus kuat, Har anak hebat, pasti bisa menghadapi masalah ini, nanti kakek bantu dari jauh.”
“Bantu apa? doa? mereka selalu begitu, katanya sayang sama Mama dan Har, katanya memihak kita, tapi papa tetap pergi tuh ke perempuan lain!”
“Jangan salahkan kesalahan orang lain pada yang lainnya Nak, kakek dan nenekmu orang baik,selama ini mereka membantu menopang kehidupan kita.”
“Ya, itu kewajiban karena papa nggak mau kasih kita uang, lagian, orang tua mama juga kasih uang buat kita, lebih banyak malah.”
Mamanya menepi, dia kaget anaknya tahu itu.
“Kamu tahu darimana kalau opa dan oma kasih uang lebih banyak ke kita?”
“Setiap kali mereka datang, mama pasti bahagia, lalu mama pasti baru pergi ke super market, beli baju Har dan baju mama, itu pasti karena opa dan oma kasih uang lebih banyak.”
“Nak, Mama bahagia kalau opa dan oma datang itu karena mereka orang tua Mama, jadi mama bahagia kalau mereka datang, soal kita belanja setelah mereka datang, itu karena kebetulan aja, Nak, oma dan opa serta kakek dan nenek sama kok, mereka selalu memberi kita uang yang cukup untuk hidup, walau Mama juga bekerja, tapi mereka membantu kita dengan seimbang.”
“Ini yang Har nggak suka, Mama selalu belain mereka, belain kakek dan nenek, bahkan belain papa yang udah ninggalin kita, Har malu Ma, kenapa Har hidup tanpa papa, setiap kali orang diantar papanya, Har sedih, Har pengen nangis, Har ….”
“Har dengar, Har itu anak lelaki, Har harus kuat, Mama nggak punya siapapun kelak selain Har, kalau Har lemah nanti siapa yang jaga kita semua? masalah Papa ninggalin kita, itu bukan sepenuhnya salah papa, ada juga salahnya Mama, Mama tidak bisa membuat papa tetap tinggal bersama kita, jadi mari kita terima nasib ini bersama Nak, jangan tinggalin Mama kayak Papa pergi ya, Mama nggak akan bisa bertahan kalau Har juga pergi.” Mamanya memeluk.
“Maafin Har Ma, Har nggak maksud nyalahin Mama, Har sayang banget sama Mama dan nggak akan ninggalin Mama sampai kapanpun, Mama juga bantuin Har lewatin mimpi buruk ini ya.”
“Ya sayangku, kita akan bersama terus ya, jalani hidup sampai nanti kamu siap berumah tangga, tapi itu masih jauh, sekarang kamu harus bersama Mama terus.” Mamanya melepas pelukan dan akhirnya mereka pulang, saat pulang ternyata sudah ada tamu.
“Kau rupanya.” Mamanya Har menyapa dengan wajah dingin, dia bahkan meninggalkan perempuan itu dan buru-buru memasukkan Har ke rumah lalu menutup pintunya.
Tamu itu sudah duduk di bangku di halaman dengan gaya sok angkuh, padahal dulu hanya pegawai suaminya, dia hanya seorang pelayan dari toko matrial suaminya.
“Kau memang berhasil masuk ke dalam rumah tangga kami an menghancurkannya, tapi bukan berarti kau boleh datang seenaknya ke rumahku.”
“Aku tidak akan lama-lama, aku juga malas melihat wajahmu, sama seperti suamiku yang malas melihat wajahmu. Aku ke sini hanya ingin memperingatimu, jangan sering datang ke rumah mertuaku.”
“Apa hakmu melarang, aku mengantar cucunya untuk bertemu kakek dan neneknya.”
“Itu cuma alasan, kau meminta uang bukan?”
“Kalaupun iya, itu bukan urusanmu, yang menjadi urusanmu sebenarnya adalah, nafkah untuk anakku, tapi aku tahu, kau yang melarang papanya Har memberi uang bukan? jadi tak heran kalau kakek dan neneknya menggantikan peran papanya yang dinodai oleh perempuan rendah sepertimu.”
Perempuan itu tiba menampar wajah mamanya Har cukup keras setelahnya dia hanya tersenyum sini.
Mamanya Har menatap perempuan itu, mendekatkan wajahnya, perempuan itu mundur, dia bersiap jika mamanya Har akan menamparnya balik, tapi tidak dilakukan.
“Kau tahu, kau bisa masuk penjara dengan pasal berlapis, pertama perzinahan, kedua masuk ke rumah orang tanpa izin, itu melanggar hak privacy terakhir kau melukaiku, aku akan visum, mumpung pipiku masih merah, lalu aku akan menambah sedikit beberapa luka di tubuhku agar hukumanmu semakin banyak.
“Ka-kau perempuan gila.”
“Aku tadinya benar-benar akan melepaskanmu perempuan busuk,” mamanya Har berkata dengan mata melotot tapi dengan tutur kata yang sangat rapih walau penuh penekanan, “tapi aku berubah pikiran, kau berani menampar wajahku dan ikut campur soal hubungan Har dan kakek neneknya, aku tidak akan tinggal diam, bukankah kau tahu, aku adalah seorang Master Hukum, suamiku bahkan jauh lebih bodoh dariku.
Aku selama ini membiarkan kalian karena aku berpegang pada, jika suami tidak menginginkanku lagi, artinya aku tidak perlu berjuang, tapi kau sudah masuk ke ranah paling privasiku, aku akan pastikan, kau dan suamimu akan jadi gelandangan.” Mamanya Har benar-benar berubah, dia yang tadinya terlihat lembut saat berbicara pada anaknya, ternyata adalah perempuan yang cukup menakutkan, karena itu wanita yang menamparnya tadi jadi gemetar, padahal mamanya Har hanya berbicara tidak menggunakan tangan sama sekali, dia bermaksud untuk pergi dan berdiri, tapi sebelum dia pergi, tiba-tiba mamanya Har membenturkan kepalanya di meja dengan sangat keras, lalu dia berteriak.
“Tolong!!! tolong.” Dia berteriak sambil berlari ke luar, tadinya sepi, tapi setelah mendengar suara teriakan dari mamanya Har, tetangga tiba-tiba berdatangan, wanita itu menjadi pucat pasi, dia yang tadinya berlagak angkuh menjadi takut, dia bermaksud lari, tapi sebelum lari mamanya Har berteriak.
“Dia sudah menamparku, membenturkan kepalaku di meja, lihat, kepalaku berdarah, dia adalah perempuan yang merebut suamiku sehingga aku dan Har harus berpisah dengan suamiku, dia bermaksud membunuhku, tolong aku, tolong aku.”
Mamanya Har benar-benar sangat berbeda, dia tidak terlihat seperti sebelumnya, dia terlihat manipulatif dan sangat licik.
“Ti-tdak, dia bohong, aku tidak melakukannya, aku tidak melakukannya.” Wanita itu hendak lari, tapi warga laki-laki menangkapnya, tubuhnya disentuh tanpa permisi oleh beberapa orang.
Mereka tiba di kantor Polisi, mamanya Har masih terus menangis, darah di dahinya belum mengering, mereka bersiap untuk visum.
__ADS_1
“Ada apa ini?” seorang lelaki bertanya dan menghampiri wanita itu, mamanya Har tersenyum, dia menatap lelaki itu dan memberikan senyum yang licik.
“Dia memfitnahku Mas, dia jedotin kepalanya sendiri ke meja, terus dia teriak-teriak minta tolong, aku nggak apa-apain dia, dia fitnah aku.” semua warga yang masih ada berteriak menyorakinya, bahkan ada yang berteriak sumpah serapah kata kotor untuk mengatai perempuan itu.
Papanya Har diam, lalu bertanya, “Kau di rumah dia ngapain?” Tepat seperti apa yang mamanya Har inginkan.
“Aku, aku cuma mau dia nggak sering-sering ke rumah orang tuamu, aku tidak suka, jadi aku menegurnya.”
“Dasar perempuan murahan! masa cucu dilarang ketemu kakek neneknya!” teriak seorang warga, puas sekali rasanya mamanya Har mendengar itu, apa yang ingin dia ucapkan sudah diwakilkan oleh orang lain, tidak perlu mengotori tangan untuk menghadapi kuman seperti ini.
“Kau seharusnya tidak ke rumah itu, aku sudah bersamamu, apa itu tidak cukup!” Papanya Har tampak marah, wanita perebut suami orang itu terdiam, dia tahu, kemanapun arah bicaranya, dia sudah kalah telak, dia menyesal datang ke rumah mamanya Har hari ini dan menampar wajahnya.
“Tapi aku benar tidak jedotin dia ke meja Mas, aku hanya menamparnya.”
“Bohong, itu buktinya keningnya berdarah, bilang nampar doang bisa nggak di terusin tuh laporannya, karena nggak ada bekas pukulan, dasar perempuan jahat!” teriak salah satu warga lagi.
“Cukup tenang! sekarang Ibu mau buat laporan atau diselesaikan secara damai?” tanya Polisi.
“Saya akan lanjutkan laporan ini Pak Polisi, tadinya saya akan membiarkannya, walau wanita ini sudah memporak-porandakan rumah tangga saya, saya ingin hidup tenang dengan anak saya, saya sudah melepas suami saya, kami sudah bercerai dengan proses yang sangat cepat, tapi dia datang, menampar saya lalu menarik rambut saya, setelahnya membenturkan kepala saya di meja, dia tahu bahwa saya hanya perempuan lemah, seorang ibu rumah tangga.”
“Bohong Pak, dia itu Master Hukum, dia licik, dia mengancam akan melaporkan saya lalu menjebak saya seperti itu.”
“Ini bukan sedang diskusi atau berdebat Bu, kalau ibu ini membuat laporan maka anda akan kami periksa berdasarkan bukti, untuk penyerangan, bukti visum cukup.” Polisi menjelaskan, sementara semua orang senang dan bertepuk tangan.
“Tapi Pak, saya benar tidak melakukannya, dia itu licik.”
“Bohong Pak, mamanya Har ini orangnya lembut, baik sama tetangga, dia nggak pernah meninggikan suara pada siapapun, dia selalu baik, bahkan kalau ada orang yang nggak baik ke dia, dia selalu balas dengan hal baik, siapa tuh, ibu warung yang judes, yang tadinya musuhan sama mamanya Har?” seorang warga bertanya, “ ibu warung itu sering banget hina-hina mamanya Har janda, tapi ketika akhirnya anaknya mau kuliah nggak ada uang, dibantu sama mamanya Har, akhirnya dia jadi malu dan minta maaf, mamanya Har terkenal sangat-sangat baik, dia itu malaikat, makanya pas di selingkuhin suaminya, dai cuma diam, tapi kalau dia sudah lapor, artinya sudah sangat keterlaluan Pak, mohon dibantu, kasihan dia cuma berdua sama anaknya, kalau nggak percaya, tanya aja sama anaknya, dia bisa aja jadi saksi atas penyerangan itu.”
Mamanya Har terdiam, hal yang tidak dia sangka kalau Har akan diseret dalam masalah ini, dia tidak mau Har ke sini, dia tidak ingin Har menjadi tahu dirinya yang sebenarnya.
“Har anak saya, tidak lihat kejadian itu Pak, dia sudah saya masukkan ke rumah, saya takut wanita ini menyerang anak saya, makanya saya masukkan dia, jangan panggil Pak, dia masih anak-anak.”
“Tidak Pak, tadi saya lihat dia mengintip di jendela, kita harus memanggil anak itu.” Wanita perebuat suami orang itu berkata, dia sepertinya tahu kalau Har bisa saja menjadi jalan keluarnya, anak itu pasti tidak akan berbohong, dia melihat Har mengintip di jendela tadi dari awal perbincangan, sebelum dia menampar mamanya.
“Ya Pak, saya setuju, Har masih kecil, jangan bawa dia kesini.” Papanya ikut berkata, dia tidak mau anaknya menjadi saksi.
“Mas, tapi dia itu saksiku satu-satunya, aku mohon, dia itu ….”
“Aku akan menjadi saksi Pak Polisi, aku melihat kejadiannya.” Seorang anka muncul, dia diberikan jalan oleh orang-orang untuk bisa menembus kerumunan.
“Har, nggak Nak, jangan Nak, Har nggak usah ikutan masalah ini ya, Har ….”
“Nggak Ma, Har harus bicara yang sebenarnya terjadi.” Mamnya Har pucat, dia tahu anaknya tidak akan berbohong, dia pasti akan mengatakan apa yang dia lihat, dia itu anak yang jujur danpolos.
“Har, mama mohon, jangan ikutan ya.” Mamanya menangis, wanita itu terlihat senang dengan menyembunyikan senyumnya,
“Har lihat saat mama ditampar Pak Polisi.”
“Jadi benar mamamu ditampar?” Pak Polisi memastikan lagi.
“Bukan hanya ditampar Pak, Har juga lihat dia menarik rambut mama dan membenturkannya ke meja sangat keras, mama berdarah, Har mau bantu mama keluar, tapi Har lihat dia bawa pisau besar, Har takut Pak, jadi Har bersembunyi, Har nggak nolongin mama, maafin Har ya Ma.”
Mamanya bingung, wajahnya yang tadinya khawatir berubah menjadi curiga.
“I-iya Nak.” Mamanya Har memeluk Har.
“Kan tadi Har janji, nggak akan pernah ninggalin Mama.” Har membisikkan kata itu, mamanya terdiam, walau ini menolongnya, dia tetap tidak suka kalau anaknya menjadi pembohong.
“Pisau besar? coba periksa badan sama tasnya, kalau pisau itu ketemu, ini tidak bisa dilaporkan lagi sebagai penyerangan atau perbuatan tidak menyenangkan, ini bisa dilaporkan atas percobaan pembunuhan.”
Wanita Itu terdiam, dia kaget Hartino ikut mengarang seperti mamanya, tapi dia tidak takut karena dia tidak membawa pisau besar, jadi dia tidak takut.
__ADS_1
“Ya, perikaslah, aku tidak membawa pisau itu, anak sama mamanya sama aja, tukang bohong!” Teriak perempuan itu.
“Ada Pak, ini pisaunya.”Seorang Polisi Wanita berkata, dia membawa pisau besar dengan sarung tangan.
“Ketemu di mana?” tanya Pak Polisi.
“Di tas perempuan ini Pak, itu yang ada di bangku itu.”
“I-itu bukan milikku, itu bukan punyaku, mereka menjebak saya Pak, mereka pembohong, mereka berdua menjebak saya,”
“Aku tidak pernah memintamu datang ke rumahku, lalu bagaimana kau menuduh anak sekecil Hard an aku yang lemah ini bisa menjebakmu yang bahkan kedatangannya saja aku tidak tahu.” Mamanya Har tidak mau kalah.
“Pak, dia itu Master Hukum, dia pintar, dia bisa saja membuat rencana mendadak begitu melihatku ke rumahnya, dia ini perempuan jahat.”
“Elu yang jahat, dasar perempuan murahan!” Warga berteriak kembali, mereka tidak terima mamanya Har dihina.
“Saya memang Master hukum Pak, tapi saya telah menjadi ibu rumah tangga karena permintaan mantan suami saya, saya nurut dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja, saya tidak punya kemampuan seperti yang dia katakana, seperti yang Bapak Polisi tahu, bahwa saya ke sini dengan bukti, bukankah itu cara kerjanya hukum Pak? saya punya bukti, sudah cukup keluarga kami dihancurkan, sudah cukup kami diam, saya mohon Pak, beri keadilan pada saya dan anak saya Pak.” Mamanya Har menutup laporan dengan kata-kata yang sangat menyentuh, dia tahu akan menang.
Wanit itu akhirnya diperiksa, mamanya Har hendak pulang dengan Har, sementara warga sudah pergi, mereka pulang dengan perasaan senang, telah menghukum wanita kotor.
“Aku mohon, cabut laporannya.” Papanya Har mengejar mereka ke luar kantor Polisi.
“Har, duluan ke mobil ya.” Mamanya meminta Har ke mobil duluan.
“Ya.” Har hendak ke mobil, tapi papanya menyapa.
“Har, peluk papa dulu ya, udah lama kita nggak ketemu.”
“Maaf Pak, saya sudah tidak punya papa lagi, saya hanya punya mama, permisi Pak.” Har membuat papanya kaget, dia terlihat sedih dengan perubahan prilaku Har yang terlihat dingin, padahal dia adalah anak tampan yang sangat ramah dan hangat.
“Kau mengajarinya untuk membenciku?”
“Kau tidak berhak bertanya, andai aku punya kesempatan ingin rasanya membuatmu tidak hanya dibenci tapi aku seorang ibu yang tahu mana yang baik dan buruk untuk anakkku, aku sudah mencoba selalu membuatnya memaafkanmu, tapi sikapmu yang membuat kebenciannya semakin bertambah.”
“Terserahlah, aku minta kamu cabut laporannya, kau mau uang kan? kau mau berapa?” Lelaki ini bukannya minta maaf malah berlaku kasar.
“Kau pikir aku orang miskin, kau tahu kan ayah dan ibuku pemilik kantor hukum tersohor di Negeri ini? aku tidak butuh uang recehmu, bukankah matrialmu juga tidak berjalan lancar?” Mamanya menghina.
“Darimana kau tahu?”
“Apa yang aku tidak tahu? bahkan kedatangan perempuan itu saja sudah aku prediksi sehingga aku bersiap, lalu dia masuk perangkap.” Mamanya Har tertawa.
“Kau, kau memang menjebaknya?” Papanya Har kaget, dia merasa sangat mengenal mantan istrinya itu, tapi sekarang dia merasa tidak mengenalnya.
“Kau tidak curiga kenapa bisni matrialmu sangat lancar padahal baru buka dulu? kau tidak curiga, bagaimaan mungkin pelangganmu percaya menitipkan uang padamu padahal matrialmu baru buka? kau tidak curiga, kenapa setelah kita bercerai, semua pelangganmu satu-persatu pergi?”
“Apa maksudmu, apakah kau ….”
“Kau itu dulu lelaki polos, kau memang kaya, tidak pintar tapi kerja keras, dulu kau sangat polos dan bertanggung jawab, aku sangat suka itu, tapi ternyata keberhasilanmu yang secuil itu membautmu lupa, kau memacari pegawai rendahan di matrialmu itu, dasar bodoh, maka semua bantuanku, aku cabut. Baiklah, aku cuma mau katakana sebagai kata perpisahan, uangmu itu hanya receh bagiku, kau dan wanita itu akan masuk penjara, tunggu dan lihat apa yang akan aku lakukan untuk kalian, padahal sebelumnya aku benar-benar akan memafkan kalian, tapi sepertinya wanita bodoh itu tidak tahu lawannya.
Mamanya Har meningalkan mantan suaminya yang hanya bisa melongo, dia merasa tidak mengenal mantan istri yang sudah dia nikahi selama delapan tahun itu, dia pikir mamanya Har adalah perempuan bodoh yang hanya bergelar Master Hukum karena banyak uang, bukan karena cerdas, tapi hari ini dia baru tahu, telah meninggalkan berlian hanya untuk lumpur, dia menyesal, betapa terlihat cantiknya mamanya Har saat ini, tapi semua terlambat.
_______________________________
Catatan Penulis :
Maafkan aku ya, aku membuat part ini nggak ada horor-horornya, aku cuma mau kalian relate ke kasus sebelumnya, kasus peletnya Ratih di mana Har menentang agar tidak terjadi perceraian, karena Har adalah anak hasil perceraian, dia tahu betapa beratnya menjadi anak dalam keluarga yang berantakan, malu dan sedih.
Part ini aku dedikasikan untuk para istri sah yang disingkirkan oleh wanita buruk hati, aku ingin kalian wanita yang saat ini merasakan sakit itu, tegakkan kepalamu, berjalanlah dengan anggun, kalian itu hebat, kalian ditinggalkan bukan karena kalian buruk tapi karena kalian dijauhkan dengan yang terburuk dalam hidup kalian, walau akhirnya kalian tidak menemukan lelaki lain lagi, tapi setidaknya, kalian itu menjalani hidup dengan hebat, bermanfaatlah untuk orang banyak agar kalian tahu, bahwa lelaki itu hanya debu di pinggiran jendela.
Maaf ya, yang nggak terlalu suka part ini skip aja.
__ADS_1
Makasih ya.