Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 139 : Saba Alkamah 24


__ADS_3

Alka mendekati Pak Kades, Pak Kades langsung menyabetnya dengan sebilah pisau yang diselipkan sebelumnya di bagian belakang celananya.


Kena!


Wajah Alka berdarah, pipinya kena sabetan pisau dapur yang cukup besar. Pak Kades tertawa melihat itu.


“Kau pikir aku akan diam saja saat menghadapi anak iblis sepertimu?” ucap Pak Kades. Sementara kapak yang Alka lempar tadi sudah dia cabut dari kakinya, darah mengalir dari kakinya. Tangannya masih memegang pisau yang telah terlumuri darah Alka. Dia lupa, darah itu adalah darah anak iblis, yang membawa petaka.


Alka mengusap pipinya yang telah terluka. Ternyata luka itu membuat pipinya robek cukup dalam, Alka tidak takut mati. Dia masih terus mendekati Pak Kades, sementara Pak Kades masih terus mengacungkan pisaunya.


“Kau takut, kenapa mundur?” Alka bertanya sambil tertawa. Tawanya membuat siapapun bergidik, karena untuk anak umur lima tahun, dimana pipinya robek karena pisau, seharusnya ekspresinya adalah takut dan menangis. Tapi, dia malah tertawa cekikikan.


“Mundur kau, atau kutusuk!” Pak Kades terus saja mencoba menyerangnya. Alka tidak mundur sedikit pun. Dia tidak akan menyerah, kalau semudah itu dia menyerah, tentu mayat-mayat gosong di belakangnya akan hidup lagi, karena mereka mati sia-sia.


Alka maju dengan cara berlari, kakinya yang masih pendek karena saat ini dia memang hanya anak lima tahun, membuat dia harus mengambil langkah besar untuk bisa menyerang Pak Kades, tapi sebelumnya dia sudah mengambil kapaknya.


Kapak itu dia sabet ke perut Pak Kades, Pak Kades tidak bisa menghindar, dalam waktu sekejap dia rubuh. Pipi Alka yang robek, tidak ada apa-apanya, karena perut yang robek milik Pak Kades itu jauh lebih dalam.


Alka tertawa kembali, dia terlihat puas. Tapi setelah dia tertawa terbahak-bahak melihat Pak Kades yang jatuh terduduk sembari memegang perutnya yang hampir bolong, bolong karena luka robek yang cukup lebar dan dalam, menangis. Ya, Alka menangis seperti anak kecil.


“Tidak seharusnya kau membunuh ibu dan ayahku, hanya mereka yang aku miliki, aku tidak punya siapapun! seharusnya paling tidak kau melepasku dengan ibuku, kami akan pergi. Hingga tidak akan banyak nyawa yang aku habisi. Karena ambisimu, semua orang mati!” Alka menangis dengan kencang.


“Kau pikir ketakutan setiap saat, ketakutan kalau pemerintah pusat akan tahu bahwa seorang anak kecil lah yang membuat desa ini makmur lagi, bukan aku yang merupakan kepala desanya, itu enak. Kau tahu, bahkan ketika ayahmu ikut dalam perjamuan antar kepala desa dan dia tersenyum saat semua orang memujiku karena begitu hebat membangun desa, aku tidak tersinggung. Aku tahu, senyum itu adalah senyum mengolok. Ayahmu melakukan itu karena tahu, semua kemakmuran ini karena seorang anak kecil sepertimu!


Yang salah adalah kau, seharusnya kau tidak pernah hadir di desa ini dan menjadikan semua orang terlena dengan kemamuran yang ternyata memiliki akhir.


Aku sudah begitu banyak merencakan pembunuhan terhadapmu. Aku menyantetmu, tapi jin yang bertugas menyantet bilang, kau bahkan terlalu gelap darinya. Aku mengutus orang untuk membunuhmu, tapi lagi-lagi gagal, padahal mereka sudah berhasil mengendap ke rumahmu. Katanya, kau terlihat sangat menakutkan saat akan dibunuh. Wajahmu berubah menjadi bersisik dan mereka tidak bisa bergerak padahal jarak kau dan orang suruhanku itu cukup jauh.


Kau tahu, bahkan pelayan yang aku tugaskan untuk meracunimu malah sakit, tapi kau, kau masih saja hidup.


Dari sana aku tahu, kalau kau bukan manusia. Aku tidak mampu membunuhmu, aku bahkan hampir menyerah dan bersiap jika rahasia tetang desa ini terbongkar sehingga aku takkan dihargai lagi oleh pemerintah pusat. Tapi, tiba-tiba petir itu datanga dan menyambar tukang tenda, ditambah katanya kau melihat setan gosong itu di rumahmu, dari sanalah aku merasa Tuhan telah memberiku jalan, jalan untuk bisa menghabisimu.


Fitnah, aku akan membuat fitnah yang sangat kejam, walau aku harus kehilangan orangku yang paling setia karena dia memihak ayahmu, beruntung dia bodoh, dia percaya saja begitu aku katakan bahwa juragan datang karena mau agar aku membantunya membakarmu bersama warga.


Kau tahu, betapa polosnya orangku itu, dia percaya dan begitu ketakutan menghampiri ayahmu dengan berita palsu itu.” Pak Kades tertawa lagi, didetik menunggu kematian, dia merasa tidak perlu membela diri, memang dia yang melakukan semuanya.


“Kau tahu, aku tidak perduli denganmu, ayah dan ibuku juga, mereka sangat mengagumimu, tapi instingku menangkap, bahwa kau bukan orang baik. Sayang, ayah dan ibu angkatku orang yang terlalu polos, mereka percaya saja padamu.


Ayahku yang tidak bersalah harus menahan sakit dibakar hidup-hidup, begitu juga ibuku, maka aku akan membuatmu merasakannya juga.”


Pak Kades masih belum mati, dia sedang menunggu sakaratul maut karena darah sudah keluar dari perutnya dalam jumlah yang banyak.


Alka pergi ke dapur mencari korek api dan minyak tanah, karena pada tahun itu kompor masih berbahan bakar minyak tanah, jadi setiap rumah pasti memiliki minyak tanah di rumahnya.


Dia megambil jirigen minyak tanah yang masih terisi penuh itu dan kembali menemui Pak Kades.


Dengan ekspresi datar, Alka menyiram minyak tanah itu ke tubuh Pak Kades. Pak Kades diam saja, dia tidak mampu bergerak lagi, bahkan tidak mampu meminta pertolongan atau memohon, siapa juga yang akan menolong dia, semua orang takut pada seorang anak umur limat tahun itu, Saba Alkamah, anak seorang jin dengan ilmu tinggi.


Alka membakar Pak Kades dari bawah kakinya. Pak Kades terlihat kesakitan, perlahan api itu naik ke atas tubuhnya, dari kaki, ke paha, bagian perutnya yang telah robek, hingga api itu menjadi lebih leluasa masuk ke dalam organ tubuhnya melalui celah robekan di perut, membakar apa saja yang dia lewati.


Alka beranjak keluar, masih dengan jerigen minyak tanah dan juga korek api. Dia menyiram lantai yang dia lewati lalu membakar rumah itu, rumah Pak Kades yang dekat dengan hutan itu.


Lalu setelahnya, dia beranjak ke rumah sebelah Pak Kades, dia masuk ke rumah itu, rumah dimana orang-orang kepercayaan Pak Kades tinggal, mereka semua bersembunyi padahal tuannya baru saja dihabisi, oleh anak umur lima tahun.

__ADS_1


Lima orang laki-laki itu seperti anak ayam kehilangan induknya, mereka berlarian menghindar. Tapi sayang, Alka telah mengelilingi rumah itu dengan api, sehingga tidak ada yang bisa lari keluar. Alka mendekati mereka satu persatu, merobek perut mereka satu-persatu dengan kuku panjangnya yang entah sejak kapan tumbuh. Rambutnya yang dulu sering dikuncir dua oleh ibunya itu, sekarang telah berantakan, rambut panjangnya yang berantakan, ditambah gaun tidurnya yang berwarna putih dan sudah koyak di berbagai sisi dan banyak noda hitam karena terkena asap dari api yang dia buat dihadapan mayat-mayat itu, membuat Alka telah terlihat sempurna sebagai anak jelmaan iblis.


Mayat lima orang anak buah Pak Kades itu bergelimpangan dan kejang-kejang, karena tubuhnya dibakar hidup-hidup. Alka benar-benar sudah gelap mata, hingga dia tidak pandang bulu lagi, saat keluar, dia melihat beberapa orang yang berusaha memadamkan api, dia mengejar orang itu untuk dibakar, beberapa selamat, beberapa kena api, walau akhirnya berhasil diselamatkan oleh warga lain yang selamat.


Alka lalu berjalan, sepanjang jalan orang terus menghindarinya, takut akan kena imbas akan kemarahannya.


Alka berjalan masuk ke hutan, di hutan itu dia melihat ada sebuah gua kecil yang tidak terlalu dalam, tapi gua itu tertutupi oleh semak belukar, Alka menarik-narik semak belukar itu dengan tangannya yang berkuku panjang. Setelah membersihkan gua itu dia masuk, tempat yang gelap dan pengap. Tapi, cukup melindungi tubuh kecilnya, walau gua itu tidak terlalu dalam.


Alka duduk karena kelelahan, berkelahi dan telah membantai banyak orang membuatnya capek. Perlahan dia merebahkan tubuhnya dengan kaki meringkuk.


Air mata jatuh dari kedua matanya.


“Ibu, aku ingin dipeluk.” Alka berkata begitu, dia sangat merindukan ibu yang katanya ibu angkat itu, tapi tentu ibu yang sebenarnya telah merawatnya dengan sepenuh hati.


“Ayah, Alka lapar, lapar sekali.” Alka kembali berkata walau tidak ada seorangpun yang datang kepadanya untuk memeluk dan memberinya makan.


Tidak lama Alka tertidur, dalam tidurnya dia bermimpi.


“Alka … Alka sayang … bangun Nak.” Usapan hangat dan lembut ke kepalanya membangunkan Alka dalam mimpinya.


Alka membuka mata, dia kaget karena gua berubah menjadi terang benderang. Tapi yang membuat dia kaget adalah, ada ibunya di sana, Alka bahkan sedang tidur di pangkuan ibunya.


“Ibu, Ibu Alka takut, Bu.” Alka memeluk ibunya.


“Nak, dengar, apapun yang mereka katakan dan apapun yang kau lakukan saat ini, adalah salah. Kau harus berubah, Alka anak ibu adalah anak baik. Ibu dan ayah bisa pergi meninggalkanmu. Tapi, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Alka, karena Alka anak baik, Alka bukan anak iblis. Alka harus menebus kesalahan itu, Alka harus hidup dengan baik dan menjadi anak yang bermanfaat bagi banyak orang.”


“Ibu, Alka takut, Alka ingin ikut ibu dan ayah.”


“Nak,” tiba-tiba ayahnya sudah di hadapannya juga, “kamu masih harus tetap di sini, kamu harus berbuat sebanyak mungkin kebaikan agar Tuhan memaafkan Alka dan memberi Alka kesempatan hidup lebih baik lagi. Ibu dan Ayah akan selalu sayang Alka, ingat itu ya Nak.”


Setelah kecupan dan pelukan hangat itu Alka terbangun, suasana disekitarnya kembali gelap, Alka mengelap air mata yang tadi jatuh karena ia menangis.


Alka terbangun dan sadar, tadi hanya mimpi, mimpi yang begitu indah, andai dia bisa terjebak selamanya ke dalam mimpi itu, tapi tidak, sayangnya, dia harus terbangun.


Sudah pagi ternyata, Alka melihat ke luar, dia lapar, dia hendak mencari makan, mungkin daun atau jika beruntung akan bertemu yang jauh lebih baik.


Alka berjalan terus ke dalam hutan, dia mencari daun yang bisa dimakan, kalau dulu ibunya selau memasak untuknya dan ayahnya selalu membelikan semua yang dia mau, sekarang  Alka harus mencari sendiri makannya. Daun dan ranting yang bisa dia hisap karena haus.


Setelah merasa sudah cukup, Alka kembali ke gua, dia tidak ingin kembali ke desa atau pergi jauh dari desa. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, karena saat ini yang dia inginkan hanya tetap berada di desa ini, bersama kenangan orang tua angkatnya.


Malam tiba, Alka merasa lapar lagi, tapi dia menahannya saja, karena dia malas keluar, dia menahan laparnya lalu berusaha tidur.


Tapi Alka tidak bisa tidur, karena dia mendengar suara-suara aneh, suara yang memanggil namanya.


“Alkaaa … Alka … Alka ….” Alka terbangun, dia keluar dari guanya, mengikuti suara ke arah desa.


Saat kembali ke desa, desa terasa sepi, gelap dan tidak ada satupun orang di sana.


Alka bingung, suara siapa itu, tanpa terasa dia terus berjalan dan akhirnya kembali ke rumahnya yang dulu, rumah dimana dia dan orang tua angkatnya bercengkrama, dari jauh, Alka melihat ada siluet hitam di depan rumahnya. Dia berlari, karena siluet hitam itu terlihat seperti ibunya.


Saat sudah dekat, benar, tenyata ibunya.


“Ibu!”

__ADS_1


“Iya Nak.” Ibunya memeluk Alka.


Mereka berdua masuk rumah, suasa rumah menjadi terang benderang, ruang tamu, karpet mahal, lalu dia di bawa oleh ibunya ke meja makan, di sana sudah ayahnya sedang duduk bersiap makan malam.


“Ayah!”


“Alka syang, sini makan dulu Nak, kamu pasti lapar kan?” ayahnya berkata.


Alka duduk di samping ayahnya dan melihat wajah teduh itu, ayahnya memberikan piring kosong padanya dan menyuapkan nasi serta lauk pauk pada Alka.


“Makan yang banyak ya sayang.” Ibunya juga sudah di meja makan, mereka bertiga makan malam seperti biasa, Alka sangat senang, dengan lahap dia makan yang sudah dimasak oleh ibunya dan disediakan ayahnya.


Alka penuh senyum sembari menyuap makannya.


“Enak Nak?” Ibunya bertanya.


“Enak Yah, makasih ya.”


“Enak dagingnya?” ayahnya bertanya lagi.


Alka mengangguk.


“Mau tambah lagi Nak?” Ayahnya menyodorkan lauk yang masih ada di piring Alka.


“Enggak Yah, ini sudah cukup, masih ada kok.”ALka menunjuk piringnya.


“Kenapa makannya sedikit sekali Nak?”


“Alka senang ketemu Ayah dan Ibu lagi.”


“Yakin nggak mau nambah Nak?” ibunya bertanya. Pertanyaan yang sama seperti ayahnya.


“Iya Bu, nggak mau nambah.”


“Tapi … kan dagingnya masih banyak.” Ibunya terlihat kecewa.


“Ini cukup Bu.”


“Kalau memang ini cukup, lalu kenapa kau membakar daging-daging sebanyak itu, kita akan kesulitan menghabiskannya.”  Ibunya tertawa terbahak-bahak, ayahnya juga ikut tertawa.


Alka terdiam, dia kaget karena ibunya tidak pernah tertawa seperti itu, ibu dan ayahnya tidak pernah tertawa dengan mengerikan seperti itu.


“I-ibu, A-ayah.” Alka memanggil perlahan.


Ibu dan ayahnya menoleh, wajah teduh itu berubah menjadi wajah yang menakutkan, wajah yang perlahan gosong, dua orang dihadapannya menjadi gosong dan masih terus tetawa dengan melengking.


“Si-siapa kalian!” Alka berteriak pada dua orang gosong itu, jelas ini bukan orang tuanya, dia juga bingung, kenapa dia bisa lupa bahwa ibu dan ayahnya telah tiada.


“Kami? Kami ayah dan ibumu Nak, sini makan lagi.” Dua orang gosong itu mengajaknya makan.


“Tidak! Tidak mau!” Alka bangun dari kursi.


“Kenapa? apa dagingnya terlalu gosong, makanya kau tidak mau makan?” tanya salah satu dari dua orang yang gosong itu.

__ADS_1


Alka melihat ke piringnya, piring yang tadinya berisi nasi dan lauk, berubah menjadi piring yang berisi daging gosong, daging yang sangat hitam.


Alka kaget, dia berusaha lari, tapi pintu telah ditutup, dua orang gosong tadi tertawa dan mulai mendekatinya.


__ADS_2