Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 137 : Saba Alkamah 22


__ADS_3

Ibu angkatnya Alka sangat marah melihat itu, karena lelaki itu adalah yang tadi siang membantu mengubur ayah angkatnya Alka, sedang lelaki satunya terlihat sibuk membisiki warga, dua orang lelaki yang siang itu dijamu dengan kopi dari tangan ibu angkatnya Alka, bagaimana mungkin dia sekarang berteriak agar Alka dibakar!


“Aku mohon, Alka hanya anak kecil, dia anak baik, dia anak ramah, penurut, tidak pernah sekalipun dia menyusahkanku dan suami. Yang terjadi pada suamiku dan tukang tenda itu adalah kecelakaan yang mungkin terjadi juga di desa lain, aku mohon kalian harus berpikir jenih. Anak ini baru berumur lima tahun dan bisa melakukan hal keji semacam itu.” Ibu angkatnya Alka bersujud agar semua warga yang memegang obor mau membiarkan mereka pergi.


Lalu dia melanjutkan permohonannya.


“Kami akan pergi sekarang, kami akan pergi meninggalkan desa ini, aku mohon, lepaskan kami.”


“Jangan biarkan dia pergi! jangan biarkan dia lolos, aku saksinya, anak itu tidak menangis saat ayahnya mati tersambar petir, anak itu selalu bicara sendiri. Dia pasti berbicara dengan iblis yang mungkin saja ayahnya. Dia anak iblis!” Seorang wanita berteriak dan membuat semua orang semakin ingin membakar Alka.


“Ka-kau! kau adalah pelayanku, kau orang kepercayaan kami, kenapa kau ….”


“Dengar! Kalian dengar bukan? aku orang kepercayaan mereka, aku selalu disamping mereka berdua, jadi aku tahu yang sebenarnya, dia tidak menangis ketika ayahnya meninggal, tidak takut ketika tukang tenda itu tersambar petir, bahkan dia bisa berbicara dengan iblis, sudah kubilang, anak itu harus dibakar! Bakar dia, bakar!”


“Tega kau! kau seharusnya menjaga kami, aku menjamu dan juga keluargamu selama ini, karena Alka tanah di pekarangan rumahmu subur, karena Alka kau dan keluargamu hidup enak, kenapa kau sekarang sejahat ini?” Ibu angkatnya Alka sungguh sangat putus asa dan kecewa, dia tidak takut sedikitpun pada ancaman semua orang, yang dia takutkan adalah kalau Alka sampai celaka.


“Bo-bohong!” ada nada ragu dalam perkataan pelayannya itu, jelas dia sempat bergetar ketika diingatkan tentang semua kebaikan yang keluarga Alka lakukan padanya. Tapi uang membuat dia kehilangan hati nurani.


Ibunya Alka menarik Alka masuk kembali ke dalam rumah, dia menutup pintunya dan mendorong meja yang paling berat sendirian untuk menahan pintu.


Tapi karena berat, meja itu tidak bergerak sedikitpun, sementara terdengar orang-orang mulai berisik, ada yang ingin melanjutkan membakar Alka, ada juga yang ingin tidak melanjutkan.


Ibunya Alka masih berusaha mendorong meja untuk menahan pintu, berat sekali, saat dia hampir putus asa, meja itu bergerak, lebih ringan dibanding sebelumnya, ibunya Alka lega, tapi saat dia menyadari bahwa Alka yang menarik meja itu dari sebrangnya, ibunya meenutup mata sebagai tanda, bahwa dia sebenarnya tahu, Alka bukan orang biasa. Tapi, dia menolak dengan keras bahwa Alka adalah keturunan iblis.


“Meja sudah menghalangi pintu, pintu di dobrak tapi tidak berhasil terbuka karena meja itu terbuat dari kayu jati yang sangat tebal dan berat, setidaknya pintu itu bisa menahan orang untuk masuk.


“Ayo kita harus pergi dari pintu belakang, kita lari ke hutan Nak.”


“Bu, mulai sekarang kita pisah jalan.”


Ibunya tahu bahwa Alka cerdas, tapi ucapan ini terlalu dewasa bagi anak seumuran dia.


“Jangan kau bicara sembarangan, sekalipun benar bahwa kau adalah anak iblis, tidak akan pernah aku melepasmu, aku tidak perduli, aku ibumu, akan selalu begitu, saat aku menemukanmu, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku.”


“Ibu, aku mencintaimu, ayah bilang aku harus pergi meninggalkanmu.”


“Tidak, kau salah! kenapa aku mengajakmu pergi malam ini juga, karena semalam aku bermimpi bertemu ayahmu, dalam mimpi itu dia berkata bahwa, aku harus pergi membawamu, jadi maksud dari kata pergi dan ibu, bukanlah pergi dari ibu, tapi pergi bersama ibu. Kau salah Nak, aku harus melindungimu, itu yang ayahmu inginkan dan aku akan melaksanakannya.”


Alka menatap ibunya dia ragu, tapi itu masuk akal.


“Denga baik-baik, karena mereka sudah menuduh kita, maka kau tidak dilarang lagi untuk menunjukan kemampuanmu, sekarang jika terlalu berbahaya untukmu, maka kau harus melawan, aku mengizinkanmu melawan mereka untuk melindungi dirimu sendiri.”


“Ibu maafkan aku, maafkan aku.” Alka memeluk ibunya dan menangis tersedu.

__ADS_1


Setelahnya mereka pergi lewat pintu belakang melewati pekarangan, ada beberapa orang yang sadar dan mengejar mereka ke pekarangan belakang, Alka dan ibunya terus berlari dengan kencang. Ibunya merasa bahwa bukan dia yang menarik Alka untuk lari, tapi Alka yang menarik tubuhnya untuk berlari, jadi langkahnya lebih ringan.


Alka dan ibunya berlari ke arah jalan besar setelah menembus perkebunan warga lain dari pekarangan rumahnya, mereka merasa hampir bisa lepas dari warga yang murka dengan fitnah itu.


“Ayo Nak, cepat Nak, kita harus segera meninggalkan desa ini.” Alka dan ibunya berlari terus hingga sudah tiba di jalan besar, tapi saat sudah tiba di jalan besar, sebuah mobil datang entah dari mana dan langsung menabrak mereka berdua, Alka dan ibunya terpelanting.


Mereka berdua masih hidup, tapi ... sulit bergerak karena tabrakan itu.


Gelap perlahan berubah menjadi samar, lalu terang.


Alka melihat ibunya mulai sadar.


“Alka! Alka!” Ibunya berteriak, dia tidak bisa bergerak, tangannya diikat.


“Aku di sini Bu.” Alka berteriak, dia ada disamping ibunya dengan jarak satu langkah.


Mereka ternyata  telah diangkut kembali ke rumahnya.


Alka terikat pada bangku sama seperti ibunya. Kaki, tangan dan tubuh mereka diikat, kalau ibunya pakai tali rapia, sedang Alka pakai rantai, anak itu akan disiksa nanti.


Warga berkumpul mengelilingi mereka berdua, anak dan ibu yang tidak memiliki hubungan darah itu ditangkap karena dituduh memiliki ilmu sihir yang menyebabkan desa kembali terkena sial.


Padahal, apa yang mereka lakukan itu, layaknya persembahan pada iblis, seperti ingin menumbalkan anak lima tahun.


“Kita akan membakar anak ini.” Seorang peria datang mendekati mereka berdua yang terikat.


“Pak ... Pak Kades.” Ibunya Alka menangis, dia sadar, bahwa ini adalah ulahnya, dua orang yang tadi membantu penguburan adalah dua orang yang diutus oleh Pak Kades dan juga sekaligus yang berteriak lantang tadi tentang membakar Alka.


“Aku harus membuat desa ini kembali makmur, semua orang sepakat menghukum sumber dari kesialan desa ini, makanya, anak iblis ini harus dimusnahkan.”


“Benar rupanya kata Alka, bahwa pepatah di Negeri kita ini sungguh sangat bagus. Srigala berbulu domba, itu sungguh julukan yang tepat untukmu, kau bilang akan melindungi kami, tapi kaulah yang menyebabkan semua ini bukan? kau yang membunuh suamiku juga?!”  Ibunya Alka histeris, Alka mendengar itu langsung melihat Pak Kades dengan tatapan marah, amarahnya memuncak.


“Lihat, wanita ini telah dicuci otaknya oleh anak umur lima tahun, kalau bukan anak iblis, apa julukan yang tepat untuk anak ini? aku sudah katakan pada kalian, bahwa aku bahkan kecelakaan karena membantu mengurus jenazah ayahnya, sepanjang perjalanan dari lokasi tersambar petir ayahnya, dia tidak menangis sedikitpun, anak ini sungguh tidak perduli walau telah membunuh orang yang dia sebut ayah.


Apa kalian pikir dia akan berbelaskasihan pada kalian? Dia akan menghabisi kalian begitu mendapatkan kesempatan!” Pak Kades sekarang memprovokasi semua orang untuk menjalankan rencananya, dia ingin Alka dibakar hidup-hidup.


“Bakar! bakar anak itu!”


Pria lainnya maju ke depan, dia membawa jerigen isi minyak tanah itu dan mengguyur tubuh Alka dengan minyak tersebut. Alka tidak gentar, dia menatap dengan tajam pada pria yang mengguyurnya dengan jerigen minya tanah itu.


“Kau yang membunuh ayahku bukan?” tanyanya. Dia bertanya pada pria itu, wajahnya sangat dia ingat sebagai orang yang membantu mengubur ayahnya beberapa hari lalu.


Pria itu membungkuk dan membisikkan sesuatu, hingga semua orang tidak bisa mendengarnya.

__ADS_1


“Ya, aku yang membakar tubuh ayahmu, kau tahu permintaan terakhirnya? dia memohon padaku untuk melepaskanmu,” bisiknya.


Hati Alka terasa panas, sakit sekali hatinya, dia membayangkan betapa sakitnya tubuh ayahnya yang dibakar.


“Aku bersumpah, kau akan merasakan hal yang sama, seperti apa yang ayahku rasakan!” Alka berteriak.


“Dia mengancamku, anak iblis ini mengancamku,” pria yang membunuh ayah angkatnya Alka itu kembali memfitnah Alka, “Kalian dengar kan, dia bilang akan membuatku merasakan apa yang ayahnya rasakan, dia akan mengirim petir untuk menyambarku, seperti yang dia lakukan pada ayahnya. Kita harus cepat membakarnya, kalau tidak, dia akan membuat kita semua mati!” Pria itu berpura-pura ketakutan, saat menghadap penduduk, tapi saat menghadap Alka dia tersenyum jahat.


Alka memandangnya lekat, dia sedang menimbang, langkah apa yang harus dia lakukan tapi tidak beresiko mencelakai penduduk lain yang bodoh, kesalah semua penduduk adalah, mereka bodoh, menelan mentah-mentah apa yang orang suruhan Pak Kades katakan.


Bodoh memang sudah mendarah daging bagi warga di desa ini, betapa mudahnya membuat mereka membenci dan menyuakai suatu hal. Hal yang menguntungkan mereka tentunya.


Saat Alka sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk melepaskan diri, tiba-tiba seorang warga melempar obornya ke arah Alka, tepat saat itu juga, ibunya menjatuhkan dirinya ke samping, sehingga tubuhnya mendorong kursi dan juga tubuh Alka dari lemparan api, Alka selamat, tapi ... ibunya tidak, obor itu tepat mengenai wajah ibunya, apinya menyambar dengan cepat karena ibunya jatuh tepat di genangan minyak, sementara kaki Alka berhasil jatuh di tempat yang aman. Tepat seperti apa yang ibunya inginkan, dia ingin anaknya terhindar dari api, apa yang dia lakukan tidak sia-sia.


Alka selamat karena tertubruk tubuh ibu angkatnya yang sengaja dia jatuhkan kesamping itu, tubuhnya memang terikat dan tidak bisa lepas dari bangku, tapi dia masih mampu menjatuhkan dirinya.


Alka histeris menangis melihat wajah ibunya terbakar, merambat api itu menjalar ke seluruh tubuh ibunya, tidak ada yang menolong, semua warga terdiam, ada yang ketakutan, ada yang menatap kosong, ada yang menyesal, tapi terlambat, wajah-wajah itu nanti akan merasakan panas yang sama, seperti yang ibunya rasakan.


Alka sudah tidak punya siapapun saat ini, ibunya yang tadinya masih bergerak, sekarang tidak bergerak sama sekali, Alka yang tadi masih histeris dan memohon pertolongan menjadi diam, wajahna menjadi dingin, sangat dingin hingga air mata tiba-tiba berhenti, dia tahu, sekarang dia benar-benar tidak mau mengendalikan dirinya lagi.


Alka berusaha dengan sekuat tenaga melepas ikatan rantai di tubuhnya, dia menggunakan segenap kekuatan yang tersisa dari tubuhnya untuk melepas rantai itu, satu persatu rantai itu mulai ada yang lepas. Warga yang masih terkejut dengan terbakar ibunya Alka, tidak memperhatikan bahwa Alka hampir melepaskan tubuhna dari ikatan.


Saat ikatan rantai itu berhasil lepas, Alka berdiri, semua kaget. Aka berdiri tepat di samping ibunya yang terbakar, Alka mencoba untuk memadamkan api di tubuh ibunya dengan tangannya, dia tidak menangis sama sekali.


“Kalian bilang aku iblis?” suara Alka berubah menjadi sangat berat, suaranya persis seperti seorang anak yang kerasukan, suaranya sangat berat dan seperti bergema.


Warga mundur, mereka takut dan ragu menyisakan Pak Kades, dua orang lelaki anak buahnya dan pelayan ruamh Alka yang merupakan pengasuhnya dulu.


“Sudah kubilang, anak itu memang iblis!” Pak Kades mencoba untuk kembali meyakinkan warga agar tetap pada rencana, yaitu membakar Alka.


“Ya, aku memang iblis, aku lahir dari rahim seorang manusia dan berayahkan jin hutan yang sangat menakutkan! Aku akan membuat kalian semua membayar dendamku, karena berani menyentuh keluargaku.” Suara Alka masih berat dan sangat menakutkan, wajahnya juga perlahan berubah, tumbuh sisik di wajahnya itu, sisik yang membuat semua orang menjadi yakin, bahwa Alka memang bukan manusia biasa.


Alka yang telah mematikan api di tubuh ibunya, mengangkat tubuh ibunya yang masih terasa panas karen api itu. Semua warga yang melihatnya mulai histeris, karena bocah lima tahun itu kuat mengangkat ibunya sendirian dan menahan panas api dari tubuh ibunya.


Alka menaruh tubuh ibunya di halaman rumah, halaman yang dulu meraka gunakan untuk bercengkrama, menyuapi makan dan saling bersenda gurau, Alka menatap ibunya.


“Ibu, kau bilang padaku, kalau mereka berbahaya, aku boleh menggunakan membalas bukan? maka aku akan membalas mereka seperti apa yang kau dan ayah rasakan, aku mencintaimu Bu.” Alka mencium wajah gosong ibunya, dia lalu berbalik.


Semua warga mundur lagi takut, karena tubuh Alka sebagian telah berubah bersisik, suaranya juga semakin berat.


“Bakar dia atau dia yang akan membakar kita!” Pak Kades berteriak, dua anak buahnya maju dan hendak membakar Alka, satu memegang jerigen minyak tanah, satunya memegan obor.


Mereka berdua bersiap untuk membakar Alka, tapi belum siap melempar minyak dan apinya, Alka sudah berlari dan berdiri tepat dihadapan dua pria ini, Alka memegan jerigen minyak dan obornya dengan kedua tangannya, kakinya ... mengambang! Reflek dua orang itu melihat hal tersebut langsung melepas apa yang mereka pegan dan hendak lari, tapi terlambat, Alka menyiram mereka dengan minyak tanah dan membakar mereka dalam hitungan detik, suasana menjadi ricuh, semua orang melihat itu langsung berlarian ke segala arah, mereka tahu, Alka benar-benar telah kesetanan atau memang dia setannya.

__ADS_1


Alka membidik satu persatu warga desa, dia sudah menargetkan, tidak akan ada satupun yang akan lolos.


__ADS_2