
Setelah mimpi itu terjadi, setiap hari selama satu minggu kakak selalu mimpi yang sama, dia bahkan kurang tidur karena ketakutan.
Tapi perlahan mimpi itu tidak intens, dalam waktu tiga bulan ini, mimpi itu hanya muncul sesekali, kakak juga tidak penasaran lagi dengan kamar itu, tapi tetap saja, kakak merasa ketakutan.
Mami dan papi tidak bergitu sadar dengan perubahan prilaku kakak yang tadinya pendiam semenjak kematian adiknya, jadi lebih sering marah-marah karena terkadang kurang tidur ketika mimpi itu sesekali datang.
Bahkan perkara piringnya salah aja dia bisa membanting piring itu, orang tuanya, tak terlalu peduli, karena anehnya, semenjak mereka memeliha anak ambar itu, usaha mereka menjadi naik, toko emas begitu laku, padahal lokasinya di paling pojok pasar, orang pasti sudah dihadang duluan ketika hendak membeli emas oleh toko emas di depan itu.
Tapi entah kenapa, sekarang semua orang seperti tidak melihat toko emas lain selain toko emas milik mami.
Semua orang yang hendak membeli emas selalu saja berjalan ke arah toko emas mami tanpa ragu, mami mulai merasa bahwa, ini karena anak ambar yang dia pelihara, anaknya yang sudah meninggal dan dipanggil lagi dalam wujud ruh. Diberi kamar, tempat tidur dan pakaian yang layak. Serta perhatian yang bahkan jauh lebih besar dari perhatiannya pada anak yang masih hidup.
Toko emas itu berkembang pesat, begitu juga dengan pekerjaan papi, dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai kepala produksi karena ditawari modal oleh seorang pengusaha yang melihat betapa bagus hasil kerja dari barang yang diproduksi oleh perusahaan tempat papi kerja. Pengusaha itu menyelidiki bahwa ternyata pekerjaan papi yang membuat barang itu menjadi sempurna.
Makanya dia menawari papi untuk membuka pabrik sendiri dengan modal darinya, lalu keuntungan akan dibagi dua dengan persyaratan bahwa papi yang akan menjalankan pabrik.
Pabrik yang baru buka selama 2 bulan itu berkembang sangat pesat di luar nalar, bagaimana tidak, barang produksinya di bulan pertama harus menambah jumlah karena permintaan yang begitu banyak.
Pada suatu malam akhirnya mereka berdua berdiskusI.
“Toko emas mami lagi ramai, Pi.”
“Pabrik Papi juga sekarang lagi nambah jumlah produksi, anak-anak ngeluh karena capek mesti lembur, Papi mungkin bakal nambah pegawai.”
“Eh Pi, ambil orang dari sini aja ya Pi, biar tetangga kita yang nganggur, entah suami atau anaknya bisa pada punya pekerjaan, nggak ada salahnya bagi-bagi rejeki.”
“Iya, nanti Mami kasih tahu para tetangga deh, mungkin Papi butuh 3 orang untuk kerja.”
“Iya, nanti Mami tanyain ada yang butuh kerjaan nggak. Tapi Pi, sebenarnya ada yang mau Mami bicarain.”
“Kenapa?” papi bertanya.
Mereka berdua sedang di meja makan, malam sudah lumayan larut, kakak tidak pulang, dia menginap di rumah teman, karena katanya ada tugas yang harus segera di selesaikan.
Padahal kakak sedang ingin tidur nyenyak, dia percaya bahwa rumah itu yang membuat dia selalu bermimpi tentang adiknya.
“Ini soal anak ambar kita, Pi.” Mami berbisik, takut pembantu dengar.
“Kenapa anak ambar kita?” Papi khawatir.
“Nggak kok, nggak apa, dia baik-baik saja selama semua kebutuhannya kita penuhi. Tapi aku merasa bahwa semenjak memeliharanya, memenuhi kebutuhannya dan memberikan perhatian dengan baik seperti layaknya dia masih hidup, aku merasa bahwa, semua kebutuhan kita terpenuhi dengan baik, malah kadang berlebihan.
Toko emas laku keras, pabrikmu yang baru buka juga sudah sangat berkembang, aku merasa bahwa urusan kita yang lancar itu, karena kita memelihara anak ambar dengan baik dan benar.”
“Babah kan juga bilang, bahwa itu salah satu keuntungan kita memelihara anak ambar, urusan kita dipenuhi, malah Papi juga pernah dengan bahwa anak ambar itu juga bisa kita … bisiki, jika saja kita ingin orang lain celaka.”
“Pi! Nggak ada kita mau celakain orang pakai anak sendiri, anak ambar itu bukan kita adopsi, tapi memang anak kita sendiri. Jadi jangan bicara yang aneh-aneh deh.”
“Bukan gitu, Mi. Papi hanya kasih tahu aja, besok-besok kalau ada yang jahat sama kita pakai jalur ghaib juga pasti ga bisa, karena kita punya anak ambar.”
“Udah cukup Pi, pokoknya itu anak kita, kita merawat dia selayaknya masih hidup, urusan kita dipermudah hanya bonus saja.”
“Iya Mi, Papi bersyukur karena kita akhirnya memilih memanggil anak kita yang telah tiada dan menjadiakannya anak ambar, jika saja kita tak melakukannya, mungkin keluarga kita akan terpuruk.”
“Iya Pi, tapi ada satu hal lagi yang mengganggu, ini soal anak sulung kita.”
“Kenapa anak itu?” Papi bertanya.
“Dia terlihat mulai marah-marah terus, apa dia mulai curiga dengan kamar itu?”
“Dia marah-marah karena kuliahnya yang mungkin semakin sulit, sudahlah jangan pikirkan hal yang tidak terjadi, kita harus fokus pada usaha, aku ingin bangun rumah ini jadi dua lantai, lalu membeli mobil baru agar keluarga kita bisa hidup lebih baik lagi.”
“Iya Pi, tapi nggak ada salahnya kita kadang duduk bertiga dan bicara.”
“Kau lakukan saja yang menurumu benar, Mi, Papi percaya Mami.”
“Iya Pi, kita pasti bisa melewati ini semua ya Pi, anak kita sudah lengkap.”
…
__ADS_1
“Mami Papi udah pergi kerja, Mbak?” Kakak bertanya pada pembantu baru, Mami mengambil lagi pembantu baru untuk bantu masak, karena mami semakin tak punya waktu di rumah karena toko emas sangat ramai.
“Iya Non, udah pergi kerja.”
“Kamu ambilin saya sepatu ya.” Kakak meminta pembantunya mengambilkan sepatu.
Tak lama pembantu itu membawa sepatu kakak dan menaruh sepatu itu di kakinya.
“Bi, kamu punya kunci kamar itu?” Kakak bertanya. Kamar yang dia maksud adalah kamar yang selalu dikunci itu, kamar anak ambar.
“Tidak, yang pegang kunci itu mbak yang udah lama kerja di sini.” Pembantu baru itu memberitahu.
“Oh gitu, yaudah. Ini makan saya sudah selesai, saya mau berangkat kuliah, kamu tolong bersihin ya piring saya, sama nanti siang saya pulang sama temen-temen saya, tolong buatkan makanan ya, yang gampang aja, nugget atau ayam goreng.”
“Iya Non.”
Lalu kakak pergi kuliah dengan diantar oleh supir, supir itu juga baru dipekerjakan, untuk mengantar kakak kuliah, setelah supir mengantar papi ke pabri dan mami ke toko emas, dia pulang untuk mengantar kakak pergi kuliah.
“Non langsung ke kampus?” Supir bertanya.
“Iya ke kampus.”
Mobil melaju ke kampus.
Begitu sampai kampus, kakak bertemu dengan semua teman-temannya, mereka senang melihat kakak, karena kakak adalah orang yang sangat royal pada teman-temannya. Sering menjajani dan sering mengajak ke rumah untuk belajar bersama, saat di rumah mereka diberi makanan dan jajanan yang enak.
“Jadi hari ini ke rumahmu lagi?” salah satu teman kakak bertanya, mereka memang sering sekali ke rumah itu.
“Jadi dong, gue udah suruh bibi masak buat kita.” Wah asik tuh.
Mereka lalu mulai untuk masuk kelas karena mata kuliah akan dimulai.
Saat mata kuliah sudah mulai, kakak mengikuti pelajaran dengan tekun, tapi di tengah-tengah penjelasan, kakak rasanya harus ke toilet, akhirnya kakak izin ke toilet.
Dia ke toilet sendirian, toilet kampus ini ada di setiap sudut kampus, dua toilet pada setiap lantai, baik untuk laki-laki dan perempuan.
Kakak memilik kamar mandi di sudut kiri, begitu masuk kamar mandi, dia melihat ada satu orang perempuan yang sedang mencuci tangan, beberapa bilik tertutup artinya ada orang di toilet itu.
Kakak akhirnya melakukan keperluannya di kamar mandi itu, setelah selesai dia lalu membersihkan diri dan juga klosetnya, setelah itu buru-buru keluar untuk cuci tangan, tapi alangkah kagetnya dia, karena ternyata kamar mandinya kosong, semua bilik terbuka, tidak ada wanita yang sedang mencuci tangan di sana, padahal kakak merasa bahwa dia melakukan keperluannya di toilet tadi itu sangat cepat, tidak terlalu lama, lalu kenapa semua orang sudah pergi dengan serentak, walau merasa aneh, kakak akhirnya berlari ke wastafel dan hendak mencuci tangannya.
Dia membuka air keran dan melihat ke arah kaca, untuk memastikan bahwa keringatnya tidak terlalu terlihat karena tadi buru-buru ke kamar mandi, lalu melihat ke arah sabun tangan, tapi aneh, pantulan pada kaca itu tidak mengikuti gerakannya melihat ke arah lain, tapi masih tetap melihat ke arah depan ketika kakak mengaca tadi.
Kakak tidak sadar dan berusaha menggapai sabun tangan, setelah mendapatkan sabun tangan itu dia mencuci tangannya dan melihat kembali ke arah kaca dan baru tersadar, bahwa pantulannya aneh! Pantulan itu bukan memantulkan dirinya, tapi memantulkan bayangan lain.
Bayangan dirinya yang sedang menyeringai melihat ke arah dia lalu berkata ... “Aku mau pinjam baju putihnya Ci.” Pantulan itu berkata dengan berbisik.
Kakak mendengar itu langsung terhenyak mundur, pakaian yang dia pakai juga sudah berganti menjadi baju warna putih, baju yang ... wakt itu diperebutkan bersama adiknya. Kakak berusaha membuka baju itu tapi tidak bisa, baju itu semakin ketat dan juga tiba-tiba bajunya jadi penuh noda darah, pantulan dari kaca yang menyeringai itu juga penuh darah, kepalanya terbelah walau masih menyatu, itu adalah pantulannya tapi berwujud seperti adiknya dulu setelah kecelakaan.
Kakak berteriak histeris, dia ketakutan tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dia terus berusaha untuk melepas bajunya tapi tidak sanggup, dia berusaha melepasnya dan ketika akhirnya baju itu lepas, tiba-tiba dia melihat keadaan kamar mandi berbeda.
Semua orang melihat ke arahnya, kamar mandi itu tepat seperti ketika dia datangi, ada seorang perempuan mencuci tangan di wastafel, beberapa bilik tertutup karena ada isinya, sedang ada juga yang keluar melihat keadaan.
Sementara dirinya sendiri sudah dalam keadaan melepas baju dan branya terlihat semua orang, walau semuanya perempuan, tetap saja itu memalukan.
Kakak mengambil bajunya, memakai baju itu dan berlari ke kelas.
Begitu masuk ke kelas, kakak mengambil tasnya, lalu minta izin ke unit kesehatan kampus karena merasa tidak enak badan. Dosen mengizinkan.
Dia berlari ke arah unit kesehatan kampus itu dan masuk.
Di sana ada petugasnya, dia bertanya kenapa kakak ke sana.
“Nggak enak badan Bu, ini pusing sekali rasanya.” Kakak berbohong, dia hanya masih butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi barusan.
Ibu penjaga ruangan itu lalu mempersilahkan kakak untuk berbaring dan memberikannya obat sakit kepala, kakak disuruh tidur dulu sebelum nanti diizinkan pulang.
Kakak menurutinya dan meminum obat itu dan berbaring di ranjang yang tersedia, hanya ada 1 ranjang di sana.
Tidak lama kemudian kakak tertidur ....
__ADS_1
“Kan aku udah bilang, masukkan dulu baru kamu hias! Kok bodoh sih, malah hias dulu nasinya, nanti kalau mau dimasukin ke kotak makannya bakal berantakan lagi.” Kakak berteriak pada adiknya.
Adiknya diam lalu menuruti kakaknya, dia mengambil kotak makannya dan memasukkan nasi baru ke sana dan mulai menghias.
“Tuh lihat, Cici betul kan, jadinya rapih.”
Adik tertawa dengan berbisik, tapi aneh, kenapa tubuh adik terlihat lebih besar dari yang kakak ingat, ini seperti bukan anak umur 10 tahun, cici memperhatikan lagi, adik masih tertawa berbisik.
“Cici benar, cici benar! Cici benar! Cici benar! Cici benar!” adik berteriak begitu sembari menatap kakak dengan wajah yang hancur berantakan, seperti yang tadi di lihat pada pantulan kaca, kakak berteriak dan terbangun.
“Kenapa? kamu kenapa?” Penjaga ruangan membangunkan kakak padahal baru saja kakak terlelap.
“Nggak kenapa-kenapa, cuma mimpi.” Kakak bersyukur itu mimpi, bukan seperti tadi, tapi tetap saja terasa nyata.
“Yaudah kamu butuh obat lagi? ini minum obatnya, biar nggak sakit, karena kalau ditabrak truk itu rasanya sakit Cici ....” Kakak kaget karena ibu penjaga ruangan wajahnya menjadi mengerikan seperti dalam mimpinya, kakak mundur dan jatuh dari ranjang di ruangan itu.
“Hei! kamu kenapa?” Ibu penjaga ruangan telah kembali dengan tampilan sebelumnya, bukan tampilan mengerikan lagi, kakak bingung, karena detik sebelumnya kakak melihat ibu penjaga ruangan itu terlihat sangat mengerikan.
Kakak menjadi tidak percaya pada siapapun, dia akhirnya memilih lari keluar ruangan dan berlari menuju gerbang kampus, dia berlari dengan sangat kencang, lalu menaiki ojek yang mangkal di sana.
“Pak anter saya ke ....”
“Cici mau kemana?” Abang ojek itu berkata dengan suara adiknya, wajahnya juga perlahan menjadi mengerikan seperti ibu penjaga ruangan itu dan juga pantulan kaca di kamar mandi itu.
Kakak seketika lompat turun dari motor dan berlari.
“Lah, kenapa tuh cewek, kok malah lompat turun, untung belum jalan nih motor.” Tukang ojek itu terkejut karena kakak tidak jadi naik, melompat turun saat tukang ojek hendak melajukan motornya dan berlari seperti habis liat setan.
Kakak duduk di halte dengan tubuh gemetar, ketakutan dan tidak tahu harus bagaimana, dia mengeluarkan telepon pintar dengan logo huruf B itu, menelpon rumah dan meminta di jempur supir di halte depan kampus.
Tidak lama supir datang menjemputnya.
“Pak cepat, saya mau pulang.”
“Tapi jemput papi dulu Non, Papi tadi minta dijemput pulang, tapi saya ke sini dulu jemput non sekalian jalan.”
“Terserah!” Kakak berteriak menahan tangis.
Supir kaget dan melajukan mobilnya, kakak duduk di bangku ke mepet ke pintu dan tidak mau melihat ke arah manapun, dia ketakutan.
Begitu sampai pabrik, papinya sudah di depan lobby pabrik dan langsung naik.
“Kamu pulang cepat?” Papi bertanya.
Kakak hanya mengangguk, mereka berdua duduk di bangku barisan kedua.
Selama perjalanan, kakak hanya terus menutup wajahnya dengan tas tidak mau melihat ke arah manapun.
“Kamu kenapa? sakit?” Papi bertanya dna hendak memegang kening kakak, kakak diam saja.
“Kamu demam!” Papi kaget karena anaknya demam dan sangat terasa di tanganya.
Kakak diam saja, masih menahan tangis, dia meminta supir untuk mengantar mereka ke klinik.
“Aku mau pulang saja Pi.” Kakak menolak ke klinik padahal klinik tidak jauh dari rumah.
“Sebentar saja, biar Dokter periksa.”
“Nggak mau! aku mau pulang saja!” Kakak berteriak, papinya kaget dan malu karena supir melihat anaknya membentak papinya.
“Kita pulang saja.” Papi memerintahkan supir untuk pulang, sementara kakak membenamkan wajahnya pada tas dan menangis.
________________________________
Catatan Penulis :
Siapa yang mau Triple up? Komentar ya, ini up yang kedua loh.
Jangan lupa like ya, trus ikuti akun noveltoonku.
__ADS_1
Makasih kalian.